![]() |
| sumber gambar: |
Sarjana, dari dulu terkenal dengan seorang berusia muda yang banyak wawasan namun miskin praktik. Banyak wawasan, karena selama empat tahun (atau lebih) ditempa oleh berbagai lingkungan. Dosen menyumbang lingkungan akademik yang cukup baik. Teman sejawat menyumbang wawasan popular. Juga asal teman sejawat yang dari beraneka suku, memperkaya wawasan mahasiswa. Belum lagi di Jogja, begitu bnyak komunitas, baik yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, seni, dan lainnya, menawarkan pandangan hidup beragam. Sekaligus sebagai wadah buat mahasiswa, sesuai hobi mereka. Referensi juga banyak terdapat di Jogja, dibuktikan dengan adanya perpustakaan daerah yang merupakan terbesar se Asia Tenggara. Juga peninggalan sejarah dan budaya Jogja tempo doeloe, membikin siapa saja mendapat wawasan lebih. Lebih lebih mahasiswa (yang haus pengetahuan). Berangkat dari kenyataan ini, saya menyimpulkan bahwa sarjana merupakan agen penuh wawasan.
Hanya saja, seperti yang sudah disebutkan, mahasiswa kurang banyak melakukan praktik di lapangan. Apa yang ia peroleh, membusuk di kepala. Ini yang membuat angka sarjana menganggur mencapai 12 juta (A. Ferry (ed),2012). Ironis memang, tapi ini nyata dan harus cepat-cepat dicarikan solusinya.
Pelaku usaha yang sukses mengatakan kalau ingin mengurai persoalan ini, pendidikan wirausaha harus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan formal dan non-formal. Pendidikan wirausaha penting, untuk menumbuhkan jiwa baja dan berani mencoba dalam diri peserta didik. Dan ini akan lebih baik jika dimulai dari pendidikan dini, utamanya dalam keluarga. Karena jiwa wirausaha muncul lantaran dukungan lingkungan, pendidikan dan keluarga.
Tapi pertanyaannya; bagaimana untuk membekali para sarjana atau mahasiswa jiwa wirausaha, sementara pendidikan yang telah didapat jauh dari semangat jiwa wirausaha? Boro-boro pendidikan di sekolah, keluarga saja mendorong untuk menjadi pegawai kantoran yang lebih mapan. Ini menjadi kompleks, karena seperti merobohkan bangunan mindset yang terlanjur bercokol, mengganti dengan pandangan baru soal wirausaha dan pegawai kantor.
Melihat usia mahasiswa, seharusnya sudah mampu melihat dan mengkritisi diri sendiri. Apa yang perlu dikembangkan dan ditebas habis. Apa yang baik untuk dirinya dan mangancam keberlangsungan hidupnya.
Menghadapi ketakutan pada diri sendiri sungguh sulit, setidaknya itu yang aku alami. Ada semacam ketakutan-ketakutan yang membayangi setiap putusan yang aku ambil. Hingga berkali-kali, menghambat eksekusi dari ide yang ada di kepala. Maka banyak, mahasiswa yang memiliki ide cemerlang, tak bisa apa-apa. Ini karena ketidakbiasaan mahasiswa mengambil resiko di setiap putusannya.
Memang, ada beberapa mahasiswa yang aku amati, memiliki daya juang yang besar. Di samping berkuliah, juga berkreasi dengan membuat bunga berbahan flanel, berjualan koran, kerja part time, dan usaha kecil lainnya. Aku salut dengan teman-teman semacam ini. Paling tidak, punya keinginan berjuang untuk bisa mandiri di Jogja. Atau minimal, mengurangi.beban financial keluarga.
Namun timbul permasalahan lagi; apakah sebagai mahasiswa sudah siap atau mampu mengabdi ke masyarakat? Artinya, bukan sekadar menjadikan diri mandiri tapi juga berkontribusi di masyarakat. Soal apa bentuk kontribusinya beragam, bisa dalam bentuk bakti sosial ataupun pemberdayaan masyarakat. Berjuang bersama masyarakat tertindas untuk mengusir borjuis-kapitalis yang mencaplok lahan subur pertanian mereka untuk didirikan pabrik semen di atasnya. Sudahkan agenda kemasyarakatan ini dijadikan tujuan utama seorang sarjana mengecap bangku kampus? Menjadikan pengalaman kerja atau usaha selama menjadi mahasiswa sebagai pijakan untuk menguatkan financial. Lalu, dengan financial dan kepedulian serta kreativitas sarjana, bisa membikin berubahan di masyarakat. Ini tentu sulit, tapi paling tidak dijadikan agenda jangka panjang oleh seorang sarjana, yang tentu pernah menjabat sebagai 'agen of change'.
Beri tepuk tangan bagi teman-teman yang sudah berjuang untuk memperkuat financial mereka. Ada harapan di pundak kalian, untuk membuat perubahan di masyarakat. Karena, bagaimanapun juga, pengabdian butuh kekuatan financial. Berjuang untuk masyarakat, juga berjuang untuk diri sendiri. Semoga, para sarjana muda dan tua, punya agenda kemasyarakatan di benaknya.
Tulisan ini memperkuat asumsi (atau fakta?) bahwa (penulis) mahasiswa memang pandai berkoar (melalui tulisan) tapi entah praktik di lapangan.
Jogja, 22-23 Juli 2016

No comments:
Post a Comment