Saturday, 23 July 2016

Pantai Laguna Waluyorejo


gambar: Suasana Kaligajah di waktu pagi 

Beberapa waktu lalu, Pantai Laguna di Desa Waluyorejo sempat booming. Pasalnya, keindahan sungai yang mengalir ke laut, dihiasi dengan rumput yang tumbuh di sekelilingnya. Ditambah, pohon cemara laut yang tak jauh dari lokasi, .mempercantik suasana.

Pantai Laguna, oleh masyarakat sekitar lebih dikenal Kali Gajah atau bedahan. Ada yang mengatakan bahwa nama Kaligajah diambil dari bentuk kalinya, yang berbentuk gajah jika dilihat dari atas. Sementara nama 'bedahan' barangkali karena aliran air sungai ke laut, yang hanya terjadi saat dan beberapa saat setelah musim hujan.

Jika kamu searching di internet, tentu akan mendapati pesona eksotis dari Kaligajah ini. Sangat menggiurkan untuk kamu yang suka selfie atau foto-foto. Ditemani deburan ombak dan gemercik air sungai, cukup romantis untuk perpadu kasih (tapi hati-hati nanti diintip warga setempat).

Oleh anak-anak setempat yang lahir tahun 80-90an kerap digunakan untuk mandi. Itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Aku sendiri terakhir mandi disitu ketika seumuran MTs. Selebihnya tidak.

Aku akui airnya sangat jernih. Bahkan jika 'mbedah' ke laut, ada beberapa jenis ikan yang aku kira berasal dari laut. Aku sangat kagum dengan ikan-ikan tersebut. Bahkan sewaktu SD, aku seharian mancing dan mandi di Kaligajah. Meski cuma dapat ikan satu dan kulit wajah yang mengelupas (karena panas sekali hawanya, dan aku mandi dalam keadaan panas; bayangkan saja gelas dingin dituang air panas). Tapi waktu itu aku benar-benar menikmatinya.

Kejernihan dan 'kemurnian' Kaligajah kian tercemar semenjak keberadaan tambak udang. Limbah dari tambak udang dibuang ke sungai, sehingga membikin air sungai bau, meski secara kasat mata airnya jernih.

Lebaran kemarin,aku coba menelusuri Kaligajah bersama dua sahabatku. Di bantaran sungai yang agak jauh dari bibir pantai, ditumbuhi eceng gondok tidak terkontrol. Aku lihat ada tiga ekor ikan sepat yang melintas di air, dengan dasar sungai yang keruh dan menjijikan.

Salah satu sahabatku mengajak untuk melintasi aliran sungai itu. Dengan dasar sungai yang dangkal dan penuh lumpur limbah tambak udang. Begitu kaki masuk dan melangkah di sungai, terasa menginjak tai manusia; lembek dan 'mblesek' hampir sampai lutut. Kalau kamu pernah injak tai manusia, tentu bisa merasakan apa yang kakiku alami waktu itu.

Ironis memang, karena keindahan yang dulu pernah aku nikmati, perlahan hilang. Kurangnya kesadaran pemilik tambak udang untuk menjaga lingkungan. Potensi wisata belum disadari masyarakat setempat, sehingga upaya pelestarian lingkungan tidak ada.

Silahkan bagi kamu yang penasaran keindahan Pantai Laguna, bisa berkunjung.

Jogja, 23 Juli 2016


Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...