Beberapa
waktu lalu, Pantai Laguna di Desa Waluyorejo sempat booming. Pasalnya,
keindahan sungai yang mengalir ke laut, dihiasi dengan rumput yang tumbuh di
sekelilingnya. Ditambah, pohon cemara laut yang tak jauh dari lokasi,
.mempercantik suasana.
Pantai
Laguna, oleh masyarakat sekitar lebih dikenal Kali Gajah atau bedahan. Ada yang
mengatakan bahwa nama Kaligajah diambil dari bentuk kalinya, yang berbentuk
gajah jika dilihat dari atas. Sementara nama 'bedahan' barangkali karena aliran
air sungai ke laut, yang hanya terjadi saat dan beberapa saat setelah musim
hujan.
Jika
kamu searching di internet, tentu akan mendapati pesona eksotis dari Kaligajah
ini. Sangat menggiurkan untuk kamu yang suka selfie atau foto-foto. Ditemani
deburan ombak dan gemercik air sungai, cukup romantis untuk perpadu kasih (tapi
hati-hati nanti diintip warga setempat).
Oleh
anak-anak setempat yang lahir tahun 80-90an kerap digunakan untuk mandi. Itu
terjadi beberapa tahun yang lalu. Aku sendiri terakhir mandi disitu ketika seumuran
MTs. Selebihnya tidak.
Aku
akui airnya sangat jernih. Bahkan jika 'mbedah' ke laut, ada beberapa jenis
ikan yang aku kira berasal dari laut. Aku sangat kagum dengan ikan-ikan
tersebut. Bahkan sewaktu SD, aku seharian mancing dan mandi di Kaligajah. Meski
cuma dapat ikan satu dan kulit wajah yang mengelupas (karena panas sekali
hawanya, dan aku mandi dalam keadaan panas; bayangkan saja gelas dingin dituang
air panas). Tapi waktu itu aku benar-benar menikmatinya.
Kejernihan
dan 'kemurnian' Kaligajah kian tercemar semenjak keberadaan tambak udang.
Limbah dari tambak udang dibuang ke sungai, sehingga membikin air sungai bau,
meski secara kasat mata airnya jernih.
Lebaran
kemarin,aku coba menelusuri Kaligajah bersama dua sahabatku. Di bantaran sungai
yang agak jauh dari bibir pantai, ditumbuhi eceng gondok tidak terkontrol. Aku
lihat ada tiga ekor ikan sepat yang melintas di air, dengan dasar sungai yang
keruh dan menjijikan.
Salah
satu sahabatku mengajak untuk melintasi aliran sungai itu. Dengan dasar sungai
yang dangkal dan penuh lumpur limbah tambak udang. Begitu kaki masuk dan
melangkah di sungai, terasa menginjak tai manusia; lembek dan 'mblesek' hampir
sampai lutut. Kalau kamu pernah injak tai manusia, tentu bisa merasakan apa
yang kakiku alami waktu itu.
Ironis
memang, karena keindahan yang dulu pernah aku nikmati, perlahan hilang.
Kurangnya kesadaran pemilik tambak udang untuk menjaga lingkungan. Potensi wisata
belum disadari masyarakat setempat, sehingga upaya pelestarian lingkungan tidak
ada.
Silahkan
bagi kamu yang penasaran keindahan Pantai Laguna, bisa berkunjung.
Jogja,
23 Juli 2016

No comments:
Post a Comment