![]() |
| sumber gambar: |
Pak Umar, pimpinan Dinas Kebudayaan DIY, menceritakan pengalaman selama ia kuliah di Jogja, dalam acara Selendang Sutera, (22/07/2016).
Saya, katanya, lebih suka tinggal di tengah-tengah permukiman warga daripada di asrama. Alasannya jelas, agar bisa berbaur dengan warga setempat.
Ini yang membuat aku tertarik degan sosok beliau. Jiwa sosialnya tinggi. Mampu berbaur dengan masyarakat setempat. Ini tentu menjadi nilai plus bagi beliau, yang sedikit bayak mengantarkan ia menjadi seorang pimpinan. Tempaan selama kuliah di masyarakat, cukup berpengaruh terhadap program-program yang ia buat. Buktinya, ada pasar kangen di Taman Budaya Yogya (tby) setiap tahunnya (meski aku tidak tahu siapa pencetusnya). Ada ratusan stand makanan dan pakaian serta berbagai karya seni dipajang di sana. Yang tentu melibatkan masyarakat Jogja. Pertunjukan kesenian semacam ketoprak juga ada di sana.
Memang sudah seharusnya, orang kuliahan tidak hanya mengisi ruang pengangguran di Indonesia yang sesak-padat-merayap. Namun sebaliknya, mengurai, atau minimal tidak menambah angka pengangguran. Kasihan bangsa ini. Disedot terus air susunya, tapi tak pernah sejahtera rakyatnya. Belum lagi, perut buncit para pejabat, yang berisi uang pajak, tanah, dan keringat wong cilik yang diperas habis. Yang punya keringat melarat, yang buncit makin buncit. Kasihan bumi pertiwi, terbebani manusia-manusia buncit; terlal berat kiranya.
Jangan sangka perut buncit itu goblok. Mereka pintar, dab! Tapi ya begitu, kepintaran hanya mereka gunakan untuk mengelabuhi wong cilik yang buta politik, buta hukum,terlebih buta aksara.
Pendidikan mereka tentu tinggi. Skill juga jangan ditanyakan lagi. Tapi itu loh, mereka itu gedebog pisang atau orang sih? Punya jantung tapi tak ada hatinya.
Aku, kata Pak Umar, kuliah bukan untuk pandai. Tapi belajar dewasa, bagaimana hidup di tengah masyarakat.
Tentu aku sepakat jika demikian. Kuliah bukan untuk pandai, tapi dewasa. Dewasa berarti mampu mempertanggungjawabkan segala tingkah dan laku. Ini yang sulit. Terlebih, beban tugas dosen yang tidak ada putus-putusnya. Tapi bukankah mengerjakan tugas dosen juga bagian dari bentuk tanggungjawab orang kuliahan? Atau mungkin, tak cukup sebatas pemenuhan tugas dosen, melainkan ada kriteria tugas apa saja yang mesti digarap? Tugas yang memiliki nilai manfaat bagi diri dan lingkungan misalnya.
Tentu itu terserah masing-masing individu. Hanya saja, perlu tahu dulu tujuan kuliah kita untuk apa? Ini yang menentukan perjalanan kita ke depannya. Dan sialnya, sampai sekarang aku dibuat bingung dengan pertanyaan ini.
Menarik yang disampaikan Pak Umar; kuliah agar dewasa dan bisa hidup di lingkungan masyarakat. Dan barangkali ini bisa diteladani. Karena, semangat semacam ini akan terus mengingatkan kita untuk belajar terus-menerus, dan tidak mencerabut dari masyarakat. Segala yang kita pelajari, diperuntukkan untuk terampil hidup di masyarakat. Sehingga, bisa melihat kebutuhan masyarakat.
Jadi sekarang, tujuanmu kuliah itu untuk apa, dab?
Jogja, 23 Juli 2016

No comments:
Post a Comment