Thursday, 28 July 2016

Kaki Tohir


sumber gambar: health.detik.com

Sekira waktu dhuhur, bapak, ibu, saya, dan kakak sepupu saya serta anaknya sedang bersantai di teras rumah. Sembari memilah biji kacang tanah untuk ditanam hari Jum'at depan. Kami asyik masyuk berbincang, ngalor ngidul tanpa arah tapi cukup membuat suasana hangat.

Seorang laki-laki tua, dari kejauhan terlihat membawa pentung (berukuran kecil) berjalan menghampiri. Ia dikenal kurang suka berbincang, tapi pada waktu itu ia datang untuk bergabung di teras rumah. Paling tidak itu sangkaan awal saya, ibu, dan bapak.

Ia membuka bercakapan dengan suara berat dan bergetar, seolah sedang menahan suatu beban yang berat. Penasaran, saya lihat raut mukanya. Terlihat menyala dengan mata sedikit berair, seolah sedang menahan amarah. Dan beberapa detik saya amati, mulai terlihat niatnya. Ini saya simpulkan dari raut muka dan cara bicara serta sesuatu yang ia sampaikan. Ia, Kaki Tohir, mau melabrak bapak.

Ia merasa tersinggung ketika beberapa waktu lalu, bapak mengatai ia "main terus, ya?" kepada Kaki Tohir. Ia juga bercerita, bahwa bapak pernah mengatai "kayak nggak doyan makan, ya". Padahal, perkataan yang terakhir ini tidak pernah dikatakan bapak. Hanya, barangkali, diimbuhi Kaki Tohir, karena memang sudah tua dan bsa jadi agak pikun. Kesulitan mengingat suatu peristiwa atau tidak mampu membedakan suatu peristiwa. Karena tua juga, mungkin membuat ia mudah tersinggung.

Saya dan ibu menjauh dari bapak dan Kaki Tohir yang sedang tegang. Kaki Tohir tidak mau kalah. Meski sudah dijelaskan duduk perkaranya, tetap saja ia tida mau menerima apa yang dijelaskan bapak. Ia tetap menyalahkan bapak, karena sudah 'menghina' dengan mengatai dua perkataan tersebut di atas.

Bahkan ia berkata dengan nada marah "memangnya kamu ngasih makan saya? Sejauh ini, anak-anak saya tidak pernah ada yang berbuat begitu pada saya. Kecuali satu, Mujiran, tapi aku tidak takut padanya."

Tidak ingin persoalan berlarut, bapak berkali-kali minta maaf pada Kaki Tohir. Meski sampai mereka berdua berpisah, permohonan maaf bapak tidak diterima. Hanya pemakluman yang bapak lakukan waktu itu.

"Kamu minta maaf pada dirimu sendiri. Tidak mengulangi perbuatan yang kemarin."

Dan lagi-lagi, bapak hanya bisa memaklumi. Karena Kaki Tohir memang sudah tua. Dari kejadian ini, bapak.yakin bahwa Kaki Tohir sedang ada masalah dengan keluarga, anak-anaknya. "Ini buat peringatan, karena bapak sudah mulai tua" kata ibu dengan tertawa.

Dan berapa  lama setelah kejadian, bapak dihampiri seorang tetangga, yang katanya bertemu Kaki Tohir dan diceritai bahwa dirinya telah melabrak bapak. "Aku kes ndomaih Siman," katanya.

Waluyorejo, 28 Juli 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...