![]() |
| sumber gambar: |
Sudah pernah saya tuliskan soal linearitas beberapa waktu lalu. Yaitu, suatu hal yang berada dalam garis lurus. Tulisan sebelumnya, saya ceritakan kebimbangan pribadi soal ketegasan dalam memilih perihal linear atau tidak dalam mengembangkan diri. Tentunya, sebagai mahasiswa. Yang di satu sisi, ada tuntutan profesi sesuai jurusan yang dipilih. Sementara di sisi lain, pengalaman akademik maupun non-akademik memberi ruang berpikir untuk tetap dalam koridor (jurusannya) atau mengikuti kesenangan diri dalam suatu hal, semisal kegiatan sosial.
Tapi tadi, ketika saya meladeni seorang ibu muda beranak dua yang membeli Es, ada kegelisahan ibu tersebut yang ia ceritakan. Anak keduanya yang sekolah di SD IT, merasa kebingungan ketika menemui perbedaan ajaran agama di tempat ia ngaji. Ia sekolah di lembaga yang dekat dengan model Muhammadiyah. Sementara tempat ngajinya cukup kental dengan nuansa ke-NU-an. Ibu muda tersebut khawatir, jika anaknya kebingungan memilih dua hal yang berbeda untuk dijadikan pegangan hidup. Maka, ia berencana untuk memindah anaknya ke tempat ngaji yang seideologi (sepaham) dengan SDnya. Alasannya, agar kelak anak tidak kebingungan untuk memilih nilai-nilai keislaman yang akan dijadikan sebagai prinsip.
Ini linear menurut hemat saya. Dan tentu, alasan demikian sangat logis, karena anak seusia SD belum bisa dengan mudah membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Melalui nilai-nilai keteladananlah, anak bisa belajar memahami apa itu baik dan apa itu buruk.
Saya tentu setuju soal linearitas dalam kasus ini. Untuk membekali anak prinsip akidah yang kuat, diperlukan perencanaan pendidikan yang jelas. Pertentangan-pertentangan soal pengalaman agama, dalam kasus ini, diminimalisir. Ini untuk menghindarkan anak agar tidak kebingungan. Sementara untuk menanamkan toleransi anak menanggapi perbedaan di lingkungan, bisa dilakukan secara bertahap. Yang jelas, harus ada satu prinsip yang dipegang anak.
Ini yang membuat saya insaf, bahwa satu teori tidak bisa memecahkan berbagai persoalan hidup. Ada pertimbangan lain yang patut diperhatikan. Misalnya, aspek psikologis, lingkungan, dan sebagainya. Jika ini sudah dipertimbangkan, bolehlah kemudian digunakan teorinya.
Dan dari curhat hati ibu muda tersebut, saya jadi mengerti satu hal; masyarakat desa di lingkungan saya mulai sadar betapa penting pendidikan agama untuk anak. Ini langkah kecil, berawal dari keluarga, yang akan membawa perubahan besar kelak di masa depan. Semoga.
Waluyorejo, 27 Juli 2016

No comments:
Post a Comment