![]() |
| sumber gambar: |
Menjadi kebimbangan saya ketika dengar istilah linear. Dalam dunia akademik, linearitas sempat digaung-gaungkan untuk dijadikan pilihan ketika ingin mengambil S2 atau S3. Itu jika ingin menjadi tenaga ahli atau dosen.
Di luar dunia formal-akademik, saya juga bimbang untuk menjatuhkan pilihan terhadap bidang yang ingin didalami. Saya kuliah di jurusan pendidikan, tapi tidak tertarik dengan isu-isu pendidikan melebihi ketertarikan saya pada isu sosial kemasyarakatan. Setidaknya, ini terjadi setelah saya membaca roman legendaris milik Pramoedya Ananta Toer.
Saya calon sarjana pendidikan dengan embel-embel I(slam) di belakangnya. Tapi bukan pendidikan dan keislaman yang membuat saya tertarik untuk mendalami keduanya. Malah melenceng, saya lebih suka bergulat dengan isu sosial. Meski kapasitas otak saya belum mumpuni jika disandingkan dengan aktivis sosial atau kiri, tapi ada keinginan untuk bisa turut menyisingkan lengan baju bareng rakyat. Lagi-lagi, isu pendidikan dan keislaman satu tingkat lebih rendah di bawah isu sosial. Ini sangat bertentangan dengan semangat saya beberapa tahun yang lalu ketika menjadi pelajar berseragam abu-abu dan saat-saat awal di perkuliahan. Waktu itu, saya lebih suka belajar soal manajemen diri dan kesalehan individu.
Ini yang membuat saya bimbang. Ada yang mengatakan, bahwa tak mungkin sarjana pendidikan didengar omongannya ketika bicara soal sosial. Ada juga seorang kawan yang bilang, saya termasuk orang yang menolak dikotomi dalam bentuk apapun. Juga ikut membuat saya bingung, seorang yang diproyeksikan jadi dokter, malah membelot menjadi tukang propaganda dan pemberontak pemerintah Hindia Belanda. Siapa lagi kalau bukan Tirto Adi Soerjo. Ia bahkan menjadi aktor kebangkitan pers nasional di Nusantara, dengan Medan Priyayi sebagai produk jurnalistiknya. Sebelumnya juga sudah aktif mengisi rubrik sastra di Sunda Berita. Dia sekolah di bidang kedokteran, tapi dunia jurnalistiklah yang ia pilih sampai akhir hayatnya yang tragis. Ini kan tidak linear?
Kalau mengacu ke kamus besar bahasa Indonesia, linear punya arti terletak pada satu garis lurus. Contohnya, ketika saya kuliah S1 di pendidikan, ya S2nya harus di pendidikan juga. Berada dalam satu garis lurus, untuk melahirkan seorang ahli.
Saya semakin bimbang ketika lambat laun menemukan bukti bahwa tak harus linear untuk berkarya. Seorang sarjana Pendidikan Bahasa Arab UIN Jogja saja bisa menulis buku soal sejarah Islam, dan diterbitkan di Gramedia Pustaka. Ini kan tidak linear. Seharusnya sarjana Sejarah Kebudayaan Islamlah yang menulisnya. Tapi begitulah kenyataannya, ia sarjana pendidikan, tapi karyanya malah berkait dengan sejarah Islam.
Ada juga, seorang kawan yang konsisten dengan jurusan yang ia ambil di kampus. Ia jurusan perbandingan agama, dan yang ia geluti di luar kampus juga tak jauh-jauh dari isu tersebut. Ini baru linear. Hasilnya, dalam pandanganku, luar biasa. Ia berhasil menggawangi salah satu web milik Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Semenjak jadi mahasiswa, saya coba beberapa bidang untuk didalami. Mulai dari pendidikan anak, kemudian beralih ke jurnalistik, dan sekarang tertarik pada isu sosial. Tentu saja, dari langkah tersebut, saja jadi tak bisa mendalami satupun dari ketika bidang itu. Hanya berhasil mempelajari kulitnya.
Persoalan yang saya rasakan sebenarnya simpel;saya harus linear atau tidak? Pertanyaan ini yang membuat otak saya terkuras untuk sekadar memikirkannya. Saya sudah mencoba resensi semenjak 2013. Tapi di awal 2016 mulai kendur. Hingga pertengahan tahun lewat, tak ada lima karya tembus ke media massa. Padahal, di tahun 2015 saya pernah satu bulan tembus 5 karya ke koran.
Saya masih bimbang dan belum bisa menjawab pertanyaan; kamu linear atau tidak?
Di sela saya berpikir, muncul pikiran bahwa sepertinya saya takut tak punya masa depan yang baik. Saya berat untuk tidak linear lantaran takut tak bersaing di dunia kerja. Karena kini, utamanya profesi dosen, diutamakan yanh linear. Guru juga demikian, harus sesuai dengan yang dibutuhkan sekolah.
Jika disimpulkan, tentu saya akan mengatakan; jika memang linearitas membuatmu tak nyaman dan terbelenggu, buat apa dipaksaan. Linear atau tidak, itu kan hanya sebentuk alat, maka naif sekali kiranya kita menjadi budak sebuah alat. Titik pentingnya, linear atau tidak tak jadi masalah. Yang jelas, apapun itu yang bisa membuatmu menyenangi dan menikmati yang kamu kerjakan, kerjakanlah tanpa ragu.
Jadi, mau linear atau tidak hidupmu, itu pilihan. Yang jelas, nikmati saja apa yang kamu kerjakan, dan saya percaya, kata hati patut diikuti. Tak baik memaksa hati untuk mencintai suatu hal, sementara hal tersebut sudah menyengsarakanmu. Tapi, hatipun (perasaan) bisa terkecoh. Maka dari itu banyak cewek tersakiti lantaran mendahulukan perasaan di atas logika. Dan laki-laki, yang diklaim pengguna logika terbanyak, akan lebih kejam jika meniadakan timbangan perasaan. Lebih-lebih jika telah terhegemoni logika bisnis; pasti kacau.
Jadi, logika dan perasaan memang harus seiring sejalan. Sehingga tak terkecoh dengan linearitas dan kebalikannya.
Oiya, kata kawanku, banyak membaca itu tak baik. Hanya akan membuatmu semakin bingung. Tapi bagi saya, membaca justru membuatmu bisa menemukan apa yang dibutuhkan olehmu. Meski butuh waktu panjang dan penuh liku, untuk sekadar menjabarkan jawaban dari pertanyaan; siapa diriku sebenarnya?
Yang ditulis akan abadi, dan yang terucap akan binasa. Yang hanya tertulis akan abadi di batok kepala, tapi yang diaplikasikan akan beranak pinak dan memberi manfaat bagi orang lain.
Cuma menulis memang gampang. Tapi mau menulis saja adalah sebuah keberanian.
Terakhir, semoga bisa menjadi manusia yang bisa memberikan manfaat bagi makhluk Tuhan lainnya.
Jogja, 25 Juli 2016

No comments:
Post a Comment