Friday, 15 April 2016

“Tidak” Itu Madu, Sementara “Iya” Racunnya


sumber gambar: kisahmotivasihidup.blogspot.com

Oleh Imron Binsiman
Masih terasa begitu jelas di telingaku, perjuangan minke (tokoh utama dalam Roman Bumi Manusia) menghadapi bandit-bandit Eropa. Isterinya yang dirampas secara tidak wajar, membuat sayatan luka semakin menganga. Bahkan minke sendiri tak kuasa membayangkan keindahan bidadarinya yang begitu rapuh. Minke, pejuang tak kenal lelah, lantaran suntikan madu yang selalu mengalir dari mulut seorang Nyai. Nyai yang merasa dirinya tak perlu menggantungkan diri pada seorang lelaki. Perusahaan pun ia jalankan sendiri, dibantu istri minke sewaktu hidup, jauh sebelum mengenal minke.

Ancaman datang silih berganti. Baik dari jalur hukum, psikologis, dan segala ancaman, mengguyur bak hujan yang tiada hentinya. Yang kemudian menyebabkan banjir. Tapi untung, minke memiliki perahu layar, meski kecil, untuk mempertahankan diri agar tetap bisa berlayar, menikmati rasa sakit yang kian menyayat, yang selalu saja dilakukan pemerintah kolonial waktu itu.

Aku sempat berpikir: betapa tegar seorang muda yang bernama minke ini. Hanya satu yang bisa ia lakukan, karena tak memiliki tangan cukup kuat untuk merubah keadaan: lawan meski hanya dengan mulut. Ya, minke melawan. Itu yang barangkali ingin ia tunjukkan pada bangsa di mana pun di kolong langit. Ditindas dengan berbagai aturan hukum yang berbelit-belit: lawan. Selalu saja supremasi Barat melemahkan langkah-gerak kita: lawan. Lawan. Lawan. Dan lawan. Itu kata yang sempat terucap, dan selalu saja menjadi kekuatan baru Minke.

Melawan, itu terjadi berabad-abad lamanya. Lawan juga yang mampu membuat pemerintah kelabakan. Pemerintah kelabakan? Ya, takut kalau-kalau apa yang sudah diperjuangkan, harta-benda, kekuasaan, sirna begitu saja hanya karena embrio Lawan kian tumbuh subur. Lawan, itu pula yang sempat terucap dari bibir seorang pejuang kebebasan: Wiji Tukul, yang sekarang entah ada di mana pakaian dan yang terbalut dalam pakaian itu.

Lawan, begitu sulit lidahku ini mengelukan. Entah apa yang menyebabkan. Atau mungkin karena aku terlalu taat untuk menjadi seorang lelaki, manusia. Entahlah. Meski banyak juga yang selalu menggaung—gaungkan, untuk berani mengatakan tidak pada apa yang aku tidak sukai. Atau apa yang menurut takaran pikirku tak sesuai, atau tak menguntungkan, atau membahayakan. Entahlah, terlalu lama aku tak dengar kata  ‘tidak’ dari dalam sanubariku.

Tidak, telah mampu membuat yang di singgasana sana terusik. Tidak juga yang kerap membuat yang mapan merasa terancam. Tapi, untuk para pemakai caping dan cangkul di pundaknya, seolah tak asing lagi dengan kata tidak. Entahlah, mungkin itu hanya khayalku saja. kenyataanya, toh jarang yang berani mengatakan tidak. Hanya dengan selembar kertas hijau bergambar pahlawan, sirna sudah ‘tidak’ di pikiran aku, dan pemakai caping.

“Iya”, selalu saja yang digembor-gemborkan para penguasa dan yang memiliki akses untuk berkuasa. “iya” yang telah membuat gunung di Timikia, Papua, berubah menjadi jurang curam, dengan robot-robot yang digerakan manusia sebagai isinya. Betapa pasir di daerah pesisir pantai di purworejo, kian menyusut dan membuat warga gelisah, hanya karena “iya”.

Sakti memang, “iya” itu. Dan celakanya, aku masih saja mengagung-agungkan “iya”. Apa yang bisa diharapkan “iya” jika memang itu membuat menderita, bukan hanya diri, juga orang lain. “iya” begitu terasa tak ada baiknya. Pembunuh massal peradaban bangsa. Itu “iya” yang biasa digunakan oleh mereka pemilik modal dan jabatan.

Aku juga sempat berpikir: kenapa kok harus ada kata “iya” ya di dunia ini. Padahal lebih banyak manfaatnya tidak daripada “iya”. Dengan adanya tidak di tengah-tengah mereka yang suka berkata “iya”, itu akan memberikan efek positif. “iya” itu racun, dan tidak itu madunya. Begitu yang dikatakan salah satu band Indonesia.

Yogyakarta, 28/‏رجب/‏1436, ‏12:07:16 ص

Hanya karena kosong kepala yang sebuah ini, yang membuat aku terdorong untuk membuka tulisan ini. tulisan yang berbulan-bulan hampir membusuk. Kondisi diri yang kian kehilangan arah, kebingungan sampai pada keterputusasaan, selalu menjadi bayangan menakutkan. Aku percaya, setiap orang punya potensinya sendiri-sendiri. Bapak sering berpesan, dengan mengutip ayat Allah: Inna Ma’al ‘Usyry Yusro. Tentu, aku mempercayai bahwa tak bakal Tuhan itu tega memikulkan beban ke hamba-Nya melebihi kemampuannya. Hanya saja, untuk menginternalisasikan nilai tersebut, dalam kehidupan sehari-hari sangatlah sulit. Bukan mustahil!

Tiba-tiba teringat dengan perkataan bijak Bahrudin Jusuf Habibie, ketika diundang dalam acara Mata Najwa. Ia, di tahun 1999 ditolak laporan pertanggungjawabannya oleh MPR. Menghadapi hal tersebut, BJ Habibie hanya berujar: saya bersyukur, bisa menjalankan tugas negara sesuai dengan kemampuan saya.

Di tengah-tengah kekosongan, juga persiapan mendaki Gunung Merbabu, aku sempatkan menulis. Menulis tanpa arah dan tujuan, hanya ingin mengurangi beban yang berjubel di kepala. Itu saja sebenarnya, niatku. Putus asa, kecewa, menyesal, takut pada diri sendiri adalah hal yang wajar. Namun jangan jadikan kewajaran itu sebagai alasan untuk menyerah dengan keadaan.

“Memang wajar, tapi kurang ajar kalau kau tak segera beralih dari tempat dudukmu” suara gaib yang lemah, mengingatkan. Sekian.  
Dalam keadaan lelah, ini kutulis.

Yogyakarta, 15 April 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...