Monday, 4 September 2017
Perempuan dan Pertanian
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Monday, 28 August 2017
Sorot Mata
Seusai Maghrib, aku pulang dari jamaah di mushala, ditemani oleh dua keponakanku. Mereka berumur 6 dan 4,5 tahun. Tidak jelas apa motif kedua anak kecil itu ikut pulang ke rumahku. Hanya saja, sepintas aku melihat sorotan matanya, seakan ada duka yang cukup mendalam, tapi tak diungkapkan dengan kata-kata. Melalui matanya yang berkaca-kaca, seolah ia berkata; aku kesepian dan terasing!!
Mungkinkah kesepian juga melanda anak kecil di bawah 10 tahun? Aku tidak tahu, tapi itu mungkin saja terjadi. Anak tak tau caranya untuk berkeluh kesah, selain menangis dan merengek.
Kedua ponakanku, yang 6 tahun adalah perempuan kelas 1 SD, sedangkan yang 4,5 tahun berkelamin laki-laki. Yang perempuan amat ceria, begitu juga yang laki-laki. Namun, keceriaan keponakanku yang lelaki seakan tertutup oleh kedukaannya. Entah apa yang menjadi sebab. Dan aku baru memerhatikan perubahan tersebut tadi.
Keponakan lelakiku adalah seorang anak yang hidup di lingkungan keluarga rumit. Si bapak kandung, maksud hati mengekspresikan kasih sayangnya, malah disambut cemoohan oleh sang istri atau mertuanya. Pun si istri merasa sebal dengan suaminya, yang dalam pandangannya kurang bertanggung jawab. Dua pandangan yang sulit dikompromikan. Semakin rumit, karena kedua-duanya secara pendidikan amat kurang.
Keponakan lelakiku seakan-akan kehilangan sosok ayah. Karenanya, tiap kali aku pulang ke kampung, ia menyambut ku seakan diriku adalah ayahnya.
Keterasingan dan kesepian keponakan lelakiku yang aku baca dari sorot matanya, tentu terjadi karena berbagai kemungkinan sebab. Dan dalam kesimpulan sederhana ku, selain kondisi keluarga yang rumit, juga alam lingkungan yang kian mengasingkan. Dunia modern telah merenggut ruang sosial anak. Mereka dibelenggu oleh teknologi, sehingga merasa malas atau bahkan jijik untuk sebatas bermain dalam arena kenyataan berpijak tanah. Tangan-tangan mereka telah terikat teknologi.
Aku melihat sorot matanya, lalu membayangkan betapa kasihannya keponakanku ini. Ia tidak bisa menikmati apa yang dulu aku rasakan. Ia tak bisa menjelajahi dunia kecil lingkungan sekitar. Namun ia masih untung, memiliki ibu yang cerewet dan tak kenal malu (dalam arti positif). Sang ibu selalu mengajarinya ketegaran, dan kebaikan-kebaikan. Meski tidak jarang ia membentak, tapi dalam rangka mendidik.
Kalau Rendra pernah bercuit, bahwa suatu kesia-siaan belajar filsafat, sastra, dan keilmuan keren lainnya, tapi merasa terasing ketika memijakkan kaki di kampung halamannya. Mungkinkah, keponakanku merasa asing dengan lingkungannya, tanpa lebih dulu belajar ilmu-ilmu keren? Ah, keponakanku, memang tak ada dunia yang indah dan bisa dinikmati sepuasnya selain dunia imajinasi. Berimajinasilah sepuasnya, keponakanku, agar kau bisa hidup bahagia...!!!
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Friday, 26 May 2017
Fabel dan Investasi Bacaan
Awal puasa menjadi akhir dari upayaku menelanjangi cerita klasik/ dongeng yang mirip-mirip dengan kisah 1001 malam. Ditulis oleh Ramsay Wood, dengan judul Fabel tentang Pertikaian dan intrik; Kalila dan Dimna 2.
Menarik dibaca, karena cukup ringan namun perlu direnungkan dalam-dalam. Menjadi njlimet, karena penuturannya bersambung dan selalu ada cerita di balik cerita. Terkadang, satu dongeng berisi dua sampai tiga dongeng lainnya.
Maka dari itu, jika fokus pada sistematika pendongengan, akan sulit mengambil pesan moralnya. Maka, aku mencoba untuk membacanya perkisah, dengan tetap memperhatikan keterkaitan antar dongeng.
Ini kali kedua aku membaca fabel, setelah Binatangisme-nya Gorge Orwell. Kuakui, lebih gampang memahami Gorge Orwell daripada Ramsay Wood. Aku pikir, perbedaan kesulitan memahami yang aku alami, terletak pada cara penyampaian penulis; Gorge Orwell dengan satu tema utuhnya, sementara Ramsay Wood lebih condong pada "kumpulan dongeng" yang ia rangkai secara berantai. Dan tentu saja, kemampuanku yang terbatas mengikuti alur penceritaannya.
Satu hal yang menarik dalam Fabelnya Ramsay Wood, adalah bahwa dongeng akan selalu dibutuhkan untuk menanamkan nilai moral. Dan berbeda dongeng lisan dengan tulisan. Untuk usia anak, khususnya, amat perlu digalakkan gerakan dongeng. Dan aku sangat bersyukur ada orang-orang yang peduli, untuk menjadi pendongeng bagi anak-anak bangsa; baik melalui lembaga taman al-qur'an, taman baca, maupun inovasi lainnya.
Orang dewasa kita terlalu kanak-kanak, jadi tak memahami kebutuhan anak. Mereka memperlakukan sang anak dengan tanpa pikir panjang; seperti apa dampak yang muncul. Namun, aku yakin, pendidikan akan merubah pandangan hidup orang dewasa agar lebih dewasa. Dan jangan pahami pendidikan di sini sebagai proses belajar di lembaga, dengan gajaran ijazah di akhir episode. Apapun yang berkaitan dengan proses belajar (membaca, diskusi, majelis ilmu, dll) merupakan bentuk 'anti mainstream' dari belajar, yang justru amat diperlukan.
Kembali ke dongeng, muncul pertanyaan di benakku; kok tradisi bercerita mulai ditinggalkan ya? Sewaktu bocah, usia dini, kerap aku dengar cerita dari mulut ke mulut. Meski bernuansa mistis. Sekarang, diganti dengan ngrumpi tentang sinetron.
Aku berangan-angan, jika anak sebelum tidur selalu diceritai dongeng, akan jadi apa dia? Karakter seperti apa yang terbentuk?
Karenanya, aku tidak tahan untuk tidak mengajak kepada kawan, agar memulai investasi dongeng semenjak dini. Sederhana; agar kelak bisa mendidik kader masa depan yang lebih baik. Invesati bacaan, pikirku, jauh lebih penting ketimbang investasi financial.
Ramadhan1 2017
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Wednesday, 17 May 2017
Dikritik Mimpi
Entah apa yang melatarinya, mimpi itu bisa datang begitu saja, dengan samar-samar. Mimpi itu juga telah mengambil setting moment yang dekat denganku.
Tiga ranah yang masih teringat jelas dalam kepalaku: whatsApp, idealisme-pragmatisme, diriku.
Mimpi itu kurang lebih terjadi pukul 10-an pagi.
Dalam mimpi itu, aku bangun dari tidur lalu melihat whatsApp. Di sebuah grup, ada perbincangan mengenai diriku. Sepintas aku baca, beberapa anggota mengkritisi diriku dengan mengatakan bahwa diriku telah terjangkiti pragmatisme. Ada perdebatan sengit (yang sayangnya samar-samar) di grup tersebut, dan beberapa kubu saling debat.
Satu hal yang aku tangkap, ada seorang anggota yang mengatakan "Imron tetap idealis". Dan satu kata lainnya, samar-samar dan berdasarkan ijtihadku, "kakak yang sudah pragmatis".
Kata "Imron tetep idealis" merujuk pada diriku yang dulu, di pertengahan aktif organisasi. Aku rasai betul memang, dahulu, semangat muda menggelora. Meski tak terlibat di banyak aksi, secara sikap aku terlibat. Apa yang keluar dari mulut birokrat, sampah semua. Jadi, tak ada pemerintahan yang baik. Tiap kebijakan sarat dengan nuansa politis dan bisnis.
Sementara kata "kakak yang sudah pragmatis", merujuk pada diriku di akhir umur sebagai mahasiswa. Memang, di akhir umur ini, aku merasakan betul desakan pragmatisme. Yang awalnya anti proyek, jadi berpikir ulang untuk menerima sebuah proyek. Yang awalnya suka menghadiri forum diskusi dan aksi, kini melentur. Inikah yang dikritik mimpi tadi?
Aku jadi teringat klasifikasi dalam penulisan atau penilaian sejarah dalam kaitannya pemikiran tokoh. Ada dikotomi dalam hal itu; pemikiran Muda dan Tua. Benarkah aku masuk ke dalam dikotomi itu? Kalau iya, betapa naifnya diriku. Sampai mimpipun mencibirku dari dimensi yang berbeda.
Untuk selanjutnya, memang menjadi tugasku dalam merespon mimpi itu; akankah aku jadikan bunga tidur (angin lalu), pesan (instrumen instropeksi), atau Wahyu (seperti mimpinya para nabi). Tapi tentu, untuk kemungkinan ketiga tidaklah mungkin, karena siapalah diriku bisa memiliki mimpi sedemikian mulianya. Toh, kenabian sudah ditutup.
Jogja 2017 Mei 18
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Gara-gara Orang Baik
Tak selamanya menjadi baik itu baik pula efek yang ditimbulkan. Sebagai misal, lelaki desa yang selalu rajin beribadah, lalu masyarakat generasi tua menjadikanya teladan. Sehingga para orang tua di desa gemar membandingkan anaknya dengan anak yang baik tadi.
Pembandingan memang menyakitkan. Bayangkan saja, kita dibandingkan dengan orang lain, sementara setiap kita punya kelebihannya masing-masing. Contoh, anak yang baik itu rajin ibadah, tapi apakah iya sosialnya baik? Belum tentu.
Ini yang tidak disadari oleh orang tua. Pembandingan yang dilakukan terus menerus, justru akan membuat sekat antara anaknya dan anak yang baik itu. Lebih lanjut, menumbuhkan dengki dalam diri anak. Dampaknya, sikap si anak kepada anak baik itu, yang mengarah pada kejelekan.
Lantas ini salah siapa? Atau dengan bahasa lain, apa yang harus dilakukan?
Tentu kita tak bisa menyalahkan satu di antara ketiganya. Mari kita korek satu-satu.
Orang baik: motif ia berbuat baik tentu tak bisa disalahkan. Ia berbuat baik karena tahu, bahwa hanya dengan kebaikan dia bisa mencapai kebahagiaan. Bahagia dunia dan akhirat. Dengan kebaikan pula, ia bisa puas. Jadi antara dirinya dan kebaikan seakan sudah menyatu. Ibadah yang ia lakukan, membuatnya nyaman dan jika ditinggalkan membuat gelisah.
Lantas ketika ia dijadikan teladan, lalu justru membuat orang (anak) yang 'dipaksa' meneladani oleh orang tuanya, apa yang harus ia lakukan? Aku pikir tak ada yang bisa dilakukan, kecuali terus melakukan kebaikan. Menyambung silaturahmi dengan orang yang benci dengan kita, kualitasnya lebih baik. Tapi kalau belum bisa, cukup dengan tampakkan wajah berseri atau senyum, ketika bertemu dengan orang yang benci kita.
Orang tua: aku yakin, motif orang tua pasti baik. Ia ingin memberikan motivasi ke anaknya agar bisa lebih baik lagi, dengan menampilkan teladan tadi. Namun perlu disadari, seringkali motivasi dari luar justru menjadi tekanan luar biasa bagi siapapun. Apalagi anak, dan orang tua yang menekan.
Perlu diingat juga, bagi orang tua, bahwa setiap anak dilahirkan berbeda. Sekali-kali lihatlah sisi putihnya si anak, jangan melulu titik hitamnya.
Ketika sampai kepada pemahaman bahwa setiap anak berbeda dan memiliki kekurangan-kelebihan masing-masing, baru dialog sehat bisa berjalan. Kalaupun si orang tua ingin menghadirkan si teladan tadi, maka hadirkanlah dalam suasana dialog, bukan ceramah. Misalnya dengan pertanyaan "Menurutmu si Anu kayak apa si orangnya?"
Dengan demikian, bukan penilaian orang tua yang dijadikan teladan, melainkan penilaian anak itu sendiri. Orang tua akan tahu, penilaian anaknya terhadap sosok teladan. Dan tentu, jika demikian, anak akan berpikir lebih sehat untuk mengambil sikap; melawan atau menerima dengan menyaring dulu.
Anak yang dibanding-bandingkan: pembandingan memang menyakitkan. Tapi anak perlu tahu bahwa tak ada orang tua waras yang ingin kejelekan buat anaknya. Prinsip ini, jika dipegang, kita akan lebih bijak dalam merespon apa pun perkaan orang tua.
Dalam kasus pembandingan di atas, kita memang harus 'lebih dewasa' dari orang tua. Artinya, jangan mudah tersulut emosi dan nilailah orang tua atas dasar positive thinking; barangkali orang tua luput, kalau setiap anak itu beda.
Dan bagi kita, yang berada di posisi luar lingkaran, bisa menyaksikan layaknya sinetron. Sinetron yang mencerdaskan tentunya.. Begitu...
Jogja 2017 Mei
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Sunday, 30 April 2017
Min Dulu dan Kini
Namaku Min. Kini umurku 19 tahun. Pendiam dan pemalu itu sifatku. Semenjak kecil. Aku pikir, karena pengaruh pendidikan orang tua; meski tidak berlebihan, tapi aku merasa sedikit dimanjakan.
Aku ingat, sewaktu belum akil baligh, punya pikiran aneh. Dan ini berkaitan dengan reproduksi manusia. Waktu itu, barangkali usiaku masih SD, sulit memahami apa itu reproduksi? Bagaimana ibu melahirkan anaknya? Dan bagaimana proses menjadi bayi di perut ibu? Aku masih bingung.
Aku hidup di lingkungan yang agak bergejolak. Bergejolak dalam artian, lingkungan kurang bagus untuk pertumbuhan anak. Pemuda-pemuda sukanya mabuk. Dan sebagian, suka menonton film biru. Aku saja, tahu istilah BF (blue film) ketika kelas enam, secara tidak sengaja.
Terpikir juga olehku, proses pertemuan laki-laki dan perempuan, hingga melahirkan bayi. Aku masih ingat kini, dulu pernah berimajinasi seperti apa berhubungan intim. Alih-alih menikmati imajinasi tersebut, aku justru merasa jijik.
Aku kemudian berandai-andai; kenapa harus berhubungan intim untuk mendapatkan anak? Kenapa tidak dari tabung saja, anak itu dilahirkan?
Di lain waktu, terpikir juga olehku proses bertemunya alat kelamin laki-laki dan perempuan. Karena aku lelaki, jadi terpikir olehku; kok jadi yang dimasukkan potongan daging kecil (klitoris) perempuan ke lubang yang ada di penis. Sakit nggak ya?
Pikiran-pikiran itu muncul begitu saja di usia SD. Dan hal itu berhasil membuatku bingung.
Seiring berjalannya waktu, aku kian berkembang pengetahuannya. Ternyata, kenapa laki-laki dan perempuan harus berkumpul untuk menghasilkan anak, selain untuk kenikmatan mereka, juga proses pembuahan. Tak bakal bisa tanpa bersatunya alat vital laki-laki dan perempuan kemudian melahirkan anak.
Dan entah dorongan apa yang membuat diriku berubah 180%. Yang awalnya jijik dengan imajinasi tersebut, kini menginginkannya. Ingin merasakan proses dalam melahirkan anak, dari awal pembuahan sampai akhir. Ini perubahan yang besar.
Pun dengan imajinasiku, bahwa yang memasukkan adalah perempuan; klitoris ke lubang yang ada di alat vital laki-laki. Ternyata salah. Aku baru tahu, setelah belajar di sekolah, bahwa yang bentindak sebagai 'wadah cocok tanam' adalah perempuan. Daging kecil yang ada di alat vital perempuan, membuka untuk menerima alat vital laki-laki, lalu terjadilah pembuahan.
Aku, Min, menceritakan ini padamu, tak lain untuk wawasan saja. Bahwa anak kecil cukup kesulitan membayangkan proses diciptakan dan dikeluarkan dirinya dari perut ibu. Pemahaman itu semakin terang seiring pertumbuhan dan perkembangan anak. Tanpa diajari, aku telah mencari informasi di berbagai sumber; teman, internet, buku, dll. Dan sebenarnya, ini menjadi tugas orang tua. Bahwa pendidikan seks sejak dini amat penting, untuk membekali anak.
Keputusan yang aku pilih (mencari info di luar lingkungan keluarga) amatlah beresiko. Bayangkan saja jika aku bertemu dengan teman atau artikel yang menjerumuskan; tentu aku tidak sampai ke pemahaman sebenarnya terkait proses reproduksi.
Aku, meski keluarga tidak memberikan pendidikan seks secara tersurat, tapi mereka telah membekaliku pendidikan moral-agama. Barangkali, ini yang menuntunku. Terjerumus itu manusiawi, tapi bangkit dari keterjerumusan adalah perlu, bahkan suatu keharusan.
Aku Min, dan kini telah tumbuh dewasa. Info negatif dan positif tentang reproduksi telah memenuhi cangkang kepalaku. Dan ini berawal dari kegelisahan 'polosku' saat di usia SD.
Jogja April 2017
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Thursday, 27 April 2017
Rahasia Umum yang Tak Pernah Diselidiki (PRdCM)
Sebelum aku menulis ini, sebenarnya sudah hampir selesai tulisannya. Tapi karena aplikasi eror, hilanglah datanya. Sehingga, memang harus bersabar untuk menulis ulang dan coba ingat-ingat yang telah dituliskan.
Aku merasa perlu menulis ulang bab dua dalam buku Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer (PRdCM), tak lain untuk diriku sendiri. Agar, kelak bisa lebih mudah mengingat-ingat investasi bacaan yang telah aku bangun susah payah. Jika kalian tertarik dan merasa ini perlu, tak ada larangan untuk membaca. Hanya saja, mohon maaf kalau nanti dalam pemaparannya membingungkan dan sulit dipahami.
Bab dua karya Pram ini bercerita tentang asal perawan remaja yang digunakan alat pemuas seks serdadu Jepang. Mereka berasal dari daerah yang dekat dengan 'pusat pemerintahan', yakni kota besar, madya, kecil, dan kampung dekat kota. Hal ini karena, kualitas perawan remaja lebih unggul dibanding dengan mereka yang berada di kampung pelosok. Mereka yang berada di pelosok telah dimiskinkan Jepang dengan mendominasi hasil panen para petani dan laki-lakinya dijadikan roomusha. Kelaparan pun merajalela. Maka bisa dibayangkan kondisi fisik dan psikis perawan remajanya; tentu tidak menarik serdadu Jepang. Tapi bersyukurlah mereka, karena tidak menjadi korban kebiadaban Jepang.
Kota yang terdata oleh penulis adalah Prambanan, Kudus, Brebes, dan Purworejo. Selebihnya tugas kita sebagai generasi penerus, untuk mengungkap korban kebiadaban Jepang; dengan terus menggali data dari setiap pelosok negeri.
Sebagaimana dalam bab 'Janji Indah' bahwa perawan remaja dijanjikan mendapat pendidikan di Tokyo dan Singapura, sebagai persiapan sumber daya manusia terdidik kelak ketika Indonesia merdeka (versi Dai Nippon). Dan kita tahu kebusukan Jepang ketika ia menyerah ke sekutu. Bahwa janji indah itu hanya kedok, untuk melampiaskan nafsu birahi serdadu Jepang.
Perawan remaja, setelah Jepang menyerah, dilepaskan begitu saja. Mereka dalam keadaan memprihatinkan, tak bisa pulang kampung. Ada yang karena alasan dana, ada pula karena pertimbangan beban moral; berangkat dengan tujuan belajar agar pulang bisa menjadi orang terdidik, kenyataannya mereka hanya dimanfaatkan, dieksploitasi tubuhnya oleh Jepang.
Silakan kalau mau sejenak membayangkan. Bagaimana perasaan mereka? Kondisi jiwa dan fisiknya? Ketika cita-cita luhur mereka, dinodai oleh kebiadaban Fasisme-militerisme Jepang waktu itu.
Soal berapa angka perawan remaja yang dijadikan alat pemuas seks serdadu Jepang, dari pihak Jepang sendiri tidak memberikan keterangan. Ini memang sengaja. Mereka sengaja mengumumkan janji indah mereka secara tidak resmi, barangkali, agar tidak bisa terlacak kejahatan mereka.
Sebenarnya, rakyat Indonesia, semenjak kekalahan Diponegoro, amat loyal dengan pemerintah. Jika saja Jepang datang hanya untuk menggantikan Belanda, tentu rakyat tidak curiga. Namun, baru satu tahun lewat, Jepang telah menunjukkan mukanya yang garang, yang hobi melakukan teror. Orang-orang terdidik (dari umuran SMP ke atas) di daerah Kalimantan, dibunuh, untuk memudakan upaya men-Jepang-kan masyarakat.
Meski demikian, ada segelintir orang dari tubuh fasis yang peduli dengan nasib rakyat Indonesia. Ia adalah Laksamana Angkatan Laut Tadashi Maeda. Namun, bukan berarti kejahatan Jepang terhapus begitu saja karena kebaikan segelintir orangnya.
April 2017
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Janji Indah (PRdCM)
Jepan ini cerdik, sekaligus biadab. Cerdik karena membalut kepentingan kejinya dengan janji pendidikan. Mereka mengumumkan, meski tidak secara resmi, kepada masyarakat Indonesia agar mau mengirimkan anak gadisnya untuk disekolahkan di Tokyo dan Shonanto (Singapura). Mereka menggunakan Sendenbu (Barisan Propaganda/Jawatan Propaganda) untuk menyampaikan 'janji manis' mereka kepada masyarakat. Janji manis, akan menyekahkan perawan remaja dengan gratis.
Sendenbu ini memerintahkan Pangreh Praja (bupati) untuk menyampaikan janji manis Jepang kepada camat. Camat kepada lurah, dan lurah kepada masyarakat. Agar masyarakat mau mengirim anak gadisnya ke Jepang, para lurah memberi teladan dengan cara mengirimkan anak gadisnya. Alasan lain, karena para lurah takut jabatannya terancam, jika tidak berhasil menyampaikan janji suci Jepang.
Meski, dari sekian Pangreh Praja, ada satu yang punya pikiran maju (kritis) dan dengan siasatnya, ia mengembalikan empat perawan remaja kepada keluarganya. Pangreh Praja itu berasal dari Banyumas. Ini hanya segelintir. Selebihnya, tunduk.
Bisa dibayangkan, nasib perawan remaja masa itu. Sebagian memang ada yang sukarela berangkat memenuhi panggilan Jepang. Namun mayoritas, berangkat dengan berat hati dan penuh rasa takut; takut kena marah orang tua. Meski, sebagian besar masyarakat -sebenarnya- tidak terlalu menggubris janji manis Jepang. Masyarakat sudah terlalu cerdas untuk dibodohi. Ketaatan mereka hanya didorong oleh rasa takut pada Jepang; yang gemar menebar teror.
Dan benarlah, hingga Jepang menyerah pada sekutu, perawan remaja yang dulu dikirim ke Jepang banyak yang hilang tiada kabar. Sebagian ada yang bisa pulang ke kampung, di pelukan keluarga. Namun kebanyakan, tidak bisa pulang dengan alasan keterbatasan dana, malu, dan sebagainya.
Ini yang saya katakan biadab. Jepang, telah merenggut kehidupan perawan remaja dari keluarganya, dan cita-citanya yang tinggi.
Mereka, setelah disesap sarinya, dibuang begitu saja. Tanpa pesangon untuk digunakan pulang ke kampung.
Bukunya Pram: Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer.
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Tuesday, 25 April 2017
Ibnu Kaldun; Politikus Gagal yang Menjadi Ilmuwan
Ibnu Kaldun dalam temuan empirisnya di Afrika Utara, menyimpulkan bahwa pergantian dinasti dan kekuasaan terjadi dalam siklus waktu tiga generasi, yaitu 120 tahun. Tentu, siklus ini belum tentu berlaku di negara lain. Temuan inilah yang membuat Ibnu Kaldun dituduh, berpaham pesimisme. Mestinya, kata Syafi'i Maarif, ini dibaca dalam bingkai pandangan positif (hal. 53). Artinya, pada dasarnya Ibnu Kaldun bukanlah seorang pesimis, melainkan temuannya yang memaksa dirinya berkesimpulan demikian (sudah saya jelaskan di muka). Terlepas dari itu semua, saya tetap sepakat dengan tiga pantangan yang jika dilanggar penguasa akan menjadi alamat senjalakanya; keangkuhan, kemewahan, dan kerakusan.
Ibnu Kaldun, di awal kariernya dikenal sebagai politikus, yang amat oportunis. Ia berkali-kali mengkhianati atasan, demi nafsu politiknya. Namun, kegagalan demi kegagalan ia alami, dan inilah yang membuat dirinya bermanuver menjadi seorang ilmuwan. Ia tinggalkan dunia politik yang panas dan penuh intrik, lalu menceburkan dirinya pada aktivitas keilmuan; ia kemudian dikenal sebagai perintis awal ilmu sosial modern (abad ke-14), jauh sebelum ilmuwan Barat di abad ke-19 menemukan teori-teori sosial.
Ditulis berdasar pada penelitian Ahmad Syafi'i Ma'arif, buku ini amat bergizi. Ini merupakan hasil dari penelitian kualitatif-analitis, dengan merujuk pada referensi-referensi koleksi perpustakaan Institut Kajian Islam Universitas McGill, Kanada. Dari sini, hemat saya, kualitas buku bisa ditimbang.
Melalui buku ini, Syafi'i Ma'arif coba mengkaji secara kritis karya-karya sarjana kontemporer tentang Ibnu Kaldun selama jangka waktu 60 tahun terakhir (penelitian ini sepertinya dilakukan pada 1995, kemudian dikemas dalam bentuk buku pada 1996 oleh Gema Insani Press).
Adapun obyek kajiannya adalah karya fenomenalnya; al-Muqaddimah, sebuah karya klasik yang dinilai memuat dimensi modern dalam ilmu-ilmu sosial (hal. ix).
Hasil penelitian ini, menemukan bahwa ada dua arus besar soal kajian tentang Ibnu Kaldun; sarjana yang mengkritik Ibnu Kaldun dengan paham pesimismenya, sementara lainnya menyimpulkan betapa cerdasnya Ibnu Kaldun, merumuskan teori sosial pada abad ke-14.
Meski tipis, hanya 54 halaman (tidak termasuk daftar pustaka dan indeks), tapi cukup representatif sebagai "puzzle" awal untuk mengapresiasi kontribusi Ilmuwan Muslim untuk dunia. Sekaligus, mengikis "logika kolonial" yang kerap memosisikan Barat sebagai sesuatu yang suci dan tinggi, sehingga lupa akan potensi diri; baik secara individu berbangsa Indonesia maupun individu muslim. Selamat membaca!
Buku: Ahmad Syafi'i Ma'arif, Ibnu Kaldun Dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996)
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Tuesday, 7 March 2017
Janda dan keibuannya
Bapaknya? Ia biadab. Setelah ia menuangkan air cintanya kepada sang istri dan melahirkan 6 buah cinta, menghilang. Ia tinggalkan anak-istri, demi perempuan lain. (Ini berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat).
Kondisi ini yang membuat sang janda banting tulang tiap hari. Tak kenal lelah ia bekerja. Namun meski demikian, ia tetap bisa mencurahkan hati dan perhatiannya kepada anak-anaknya. Jadilah dua anak terakhir tetap bisa mengenyam pendidikan.
Tadi kebetulan janda tersebut kebetulan mampir di rumahku. Bersama dengan ibu yang sedang menguliti mlinjo dan ditemani satu ibu muda, janda tersebut bercerita. Katanya, anak terakhirnya yang kini sekolah di SMA, kehilangan STNK. Namun sang anak tidak jujur kalau dirinya habis terkena musibah. Ia jujur ketika merasa terdesak.
Dari cerita sederhana tersebut, pembicaraan mulai melebar. Janda itu bercerita, bahwa motor anaknya selalu ia lap (bersihkan) tiap kali mau berangkat sekolah.
"Eman temen yah (sayang banget sampeyan sama anak sampeyan" kata ibu muda.
"Pas SMP malah pite sing dielapi (Sewaktu SMP sepedanya yang dibersihkan" ujar laki-laki belasab tahun, yang ikut nimbrung.
Si janda, kemudian beli susu kotak, untuk dikasihkan ke anak saudaranya. Ia menyodorkan uang 5rbu ke saya.
Ketika ia sedang memberi susu kotak tersebut ke rumah saudara di sebelah rumahku, ibu muda tak mau kehilangan momen untuk ngrumpi.
"Sama anaknya sayang banget ya dia. Motor saja ia yang bersihkan, padahal anaknya sudah SMA. Kasihan kalau sampai anaknya nakal" katanya ke ibuku.
Karena dasarnya ibuku lebih suka mendengarkan daripada bicara, ia hanya mengiyakan saja. Dan hal itu tak berlangsung lama. Karena yang sedang dibicarakan datang, mengambil kembalian uang. Kareba harga susu kotak 2.500, ia minta kembalian 2.500 dalam bentuk es tea jus seharga 1.000 dan susu sachet cokelat seharga 1.500. Ia kemudian pulang ke rumahnya, tentu saja, untuk bergerak (baca: bekerja).
Jika kau agamawan, tolong jangan lihat dia dari sudut pandang syariat. Ia tak berjilbab. Pakai kaos lengan pendek dan celana pendek. Tentu, tidak memenuhi syariat Islam, yang mengatur bahwa aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.
Jika kau melihat dengan kaca mata syariat, tanpa memperhatikan aspek lainnya, tentu dengan mudah kau akan melabeli janda tersebut sebagai muslimah yang tidak tau aturan. Atau label "muslimah ndableg". Atau yang lebih sadis lagi, "perempuan tak tau aturan". Kemudian, kau berusaha untuk menceramahinya, agar segera bertaubat dan berhijab.
Aku tidak bisa bayangkan jika sampai kau tega melabeli janda itu dengan label-label negatif. Bayangkan perjuangannya membesarkan anak-anaknya, sendirian! Sang bapak yang biadab, pergi meneteskan air cintanya ke perempuan lain. Seakan-akan, habis manis sepah dibuang.
Aku juga tak bisa bayangkan, bagaimana gemuruh hatinya, ketika sang mantan suami mampir ke rumahnya. Betapa hancur pastinya, hati dan batinnya.
Samar-samar aku ingat, salah seorang anaknya pernah berujar kepada adiknya. "Besok ketika kau sudah besar, kau akan tahu kebencian kami kepada bapak!"
Kau mau bicara syariat, wahai agamawan? Hanya akan menyakiti hatinya, dan perjuangannya. Bisakah kita menilai orang jangan sepotong-sepotong. Misalnya, orang yang shalat tapi sosialnya buruk, dan orang yang tidak shalat tapi sosialnya bagus dan bisa memberikan manfaat ke orang lain. Bisakah kita mendudukkan mereka sejajar? Kalau bicara soal dosa dan pahala, bukankah itu urusan Tuan kita, Allah?
Yah. Begitulah. Hidup memang kejam sekaligus romantis. Kejam bagi mereka (dan kita) yang merasa suci, karena harus mengumpulkan tenaga untuk membid'ah-bid'ahkan, mengkafir-kafirkan, dan upaya berat lainnya. Romantis, bagi mereka (dan kita) yang dikaruniai kaca mata enam dimensi, yang bisa digunakan untuk melihat bermacam-macam warna dalam satu tubuh. Betapa romantisnya kita, yang memiliki warna berbeda, namun tetap bisa bersama. Aku dan kamu, suatu saat akan melebur menjadi kita. Semoga..
Jadi, aku ini nulis apa ya?
Hormat saya,
Tetangga si janda yang keibuan.
Waluyorejo 7 Maret 2017
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Saturday, 4 March 2017
Kisah Munaqosah
Satu pertanyaan awal dari seorang dosen penguji munaqosah. Saya sedikit tergelitik dan merasa aneh; membuka ujian munaqasah dengan pertanyaan tak terduga.
Tapi kemudian, saat si fulan memaparkan makna dari namanya, kemudian direspon penguji, saya baru paham bahwa hal tersebut merupakan penjelasan paling mudah untuk menguliti judul skripsinya. Yang menggunakan istilah internalisasi; penghayatan pada nama diri dan judul skripsi.
Kebetulan, makna dibalik fulan adalah nrimo. Dan ini yang dijadikan oleh penguji untuk kembali menguliti logika peneliti. Sikap peneliti terhadap objek penelitian. Tanggungjawab peneliti atas buah karyanya. Dan sejauh mana peneliti menikmati proses penelitian. Atau karena makna nrimo tersebut? Sehingga apa yang ia kerjakan kurang maksimal, dan nrimo dengan pedoman 'sing penting rampung'. Nilai jelek tak masalah yang penting lulus. Atau meminjam istilah seorang mamah muda ketua prodi, skripsi itu yang penting selesai. Setidaknya itu yang saya dengar dari kawan, yang mendengar secara langsung dari si pemilik istilah tersebut.
Jogja 22/02/2017
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Pikirkan Masak-masak sebelum Berjuang di Organisasi
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Saturday, 4 February 2017
Sekali Membaca “Orang Asing”
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Multitasking
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Monday, 30 January 2017
Beda Istilah, Beda Respon
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...