Monday, 4 September 2017

Perempuan dan Pertanian


Perempuan desa yang baik selalu diidentikan dengan yang lembut dan jika ia seorang istri, menurut pada suami menjadi tanda kemuliaannya. Ini kemudian menimbulkan pembagian kerja; ada yang di ranah domestik, ada pula di ranah publik. Di domestik biasanya perempuan, dan publik bagian laki-laki.
Bagi kita yang lahir dan hidup di desa, tentu sudah mafhum. Bahwa perempuan biasanya merasa tidak pantas ketika menemani suami dalam menjamu tamu. Lebih merasa pantas ketika istri hanya menyediakan minuman dan makanan, jamuan untuk tamu. Selebihnya, ia kembali kepada aktivitas rutinnya, memasak, mencuci atau bahkan mengurus anak yang rewel.
Itu citra perempuan di desa, yang masih kuat tradisi patriarkhinya. Meski, tidak bisa ditampik juga bahwa perempuan desa berkontribusi di ranah publik. Keluarga petani, biasanya suami dan istri sama-sama bekerja di sawah. Si istri masih dibebani dengan tugas rumah, meski oleh mereka dilakukan secara sukarela, karena memang berkeyakinan hal itu sudah menjadi tugasnya dan bukti kesetiaannya kepada suami.
Namun, tahukan kita bahwa di balik diamnya sang istri, tersembul pemberontakan sederhana. Pemberontakan itu urung mereka sampaikan ke kaum lelaki, karena menurut mereka, suara perempuan tidak ada harganya.
Adalah Kasini, perempuan sekaligus istri yang umurnya sudah 50an tahun. Badannya masih kuat dan pecandu kopi. Kopi diminum bukan untuk dinikmati, melainkan sebagai suplemen untuk menjaga agar tubuh tetap tegak seharian, untuk mencari nafkah.
Ia berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan, bahkan sering kekurangan. Kerap ia berhutang kepada tetangga, lalu dibayar dengan tenaga. Atau ia menanam sayuran dan tanaman pertanian lain, dengan modal utang. Jika gagal panen, utang pun belum bisa dibayar. ia harus mondar mandir mencari pinjaman ke tetangga.
Di suatu siang yang cukup terik, ia bersamaku memanen lenca di sawah. Ia tipikal perempuan pencerita, yang selalu update seputar isu tetangga. Waktu itu, ia bercerita tentang jual-beli sawah yang tengah ia panen hasilnya.
Ia bercerita mengenai ‘bodohnya’ lelaki dalam bertransaksi jual beli. Ini bermula dari seorang suami yang menawarkan sawahnya kepada calon pembeli, namun pembeli dibebaskan untuk memilih sawah mana yang mau dibeli. Tentu saja, pembeli yang cerdik memilih sawah yang aksesnya gampang. Maka dipilihlah sawah dekat jalan. Transaksi ini tidak melibatkan sang istri penjual tanah.
Beberapa waktu kemudian, Kasini berkesempatan untuk berbincang dengan istri penjual tanah tersebut. Sang istri komplain mengenai ketidakcerdikkan suaminya dalam transaksi jual beli. Ya jelas saja, yang namanya pembeli ingin dirinya untung, karenanya pilih sawah yang dekat dengan jalan. Coba kalau saya yang jual, kata istri itu kira-kira, tentu tidak aku bebaskan ia memilih. Aku tawarkan sawah yang aku ingin jual.
Dalam hal ide, kata Kasini kepadaku, perempuan memang cerdik. Tapi dalam kehidupan sosial, suara perempuan selalu dinomorsekiankan. Inilah yang diyakini Kasini, sekaligus ia menyadari ketidakberdayaan perempuan desa di hadapan lelaki.
Aku belum menelusuri apa sebab kecerdikan perempuan melebihi laki-laki. Aku hanya mendengar dari analisis sederhana petani perempuan tua yang amat sederhana. Bahwa dia menyadari potensi perempuan, namun memilih untuk menyerah dalam memperjuangkan buah dari potensi tersebut.
Hidup di bawah kuasa lelaki, tidak membuat ia mati. Ketidakberdayaannya menjadi alasannya untuk hidup. Meski hidup dengan gali lobang tutup lobang, selama ada sawah, ia akan tetap hidup. Sawah adalah lambang dari kehidupan, dan petani adalah perawat sekaligus spesies yang amat tergantung dengan tanah.
Aku khawatir rencana menjadikan Kebumen selatan sebagai kawasan industri, akan merenggut banyak lahan hidup para petani. Petani sudah susah, tolong jangan ditambah susah dengan perebutan lahan dengan semena-mena. Perempuan petani juga sudah menderita, jangan buat ia makin menderita dengan direnggutnya lahan pertanian suami-suami mereka. Mereka hidup dalam kemiskinan, hasil taninya hanya untuk mengenyangkan pemilik modal dan kaum kota.

Ini soal perempuan, yang tidak bisa lepas dari pertanian. Pertanian butuh sawah, dan sawah butuh petani untuk merawatnya. 
Philokopi, 00.18 05/9/17
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 28 August 2017

Sorot Mata




Seusai Maghrib, aku pulang dari jamaah di mushala, ditemani oleh dua keponakanku. Mereka berumur 6 dan 4,5 tahun. Tidak jelas apa motif kedua anak kecil itu ikut pulang ke rumahku. Hanya saja, sepintas aku melihat sorotan matanya, seakan ada duka yang cukup mendalam, tapi tak diungkapkan dengan kata-kata. Melalui matanya yang berkaca-kaca, seolah ia berkata; aku kesepian dan terasing!!

Mungkinkah kesepian juga melanda anak kecil di bawah 10 tahun? Aku tidak tahu, tapi itu mungkin saja terjadi. Anak tak tau caranya untuk berkeluh kesah, selain menangis dan merengek.

Kedua ponakanku, yang 6 tahun adalah perempuan kelas 1 SD, sedangkan yang 4,5 tahun berkelamin laki-laki. Yang perempuan amat ceria, begitu juga yang laki-laki. Namun, keceriaan keponakanku yang lelaki seakan tertutup oleh kedukaannya. Entah apa yang menjadi sebab. Dan aku baru memerhatikan perubahan tersebut tadi.

Keponakan lelakiku adalah seorang anak yang hidup di lingkungan keluarga rumit. Si bapak kandung, maksud hati mengekspresikan kasih sayangnya, malah disambut cemoohan oleh sang istri atau mertuanya. Pun si istri merasa sebal dengan suaminya, yang dalam pandangannya kurang bertanggung jawab. Dua pandangan yang sulit dikompromikan. Semakin rumit, karena kedua-duanya secara pendidikan amat kurang.

Keponakan lelakiku seakan-akan kehilangan sosok ayah. Karenanya, tiap kali aku pulang ke kampung, ia menyambut ku seakan diriku adalah ayahnya.

Keterasingan dan kesepian keponakan lelakiku yang aku baca dari sorot matanya, tentu terjadi karena berbagai kemungkinan sebab. Dan dalam kesimpulan sederhana ku, selain kondisi keluarga yang rumit, juga alam lingkungan yang kian mengasingkan. Dunia modern telah merenggut ruang sosial anak. Mereka dibelenggu oleh teknologi, sehingga merasa malas atau bahkan jijik untuk sebatas bermain dalam arena kenyataan berpijak tanah. Tangan-tangan mereka telah terikat teknologi.

Aku melihat sorot matanya, lalu membayangkan betapa kasihannya keponakanku ini. Ia tidak bisa menikmati apa yang dulu aku rasakan. Ia tak bisa menjelajahi dunia kecil lingkungan sekitar. Namun ia masih untung, memiliki ibu yang cerewet dan tak kenal malu (dalam arti positif). Sang ibu selalu mengajarinya ketegaran, dan kebaikan-kebaikan. Meski tidak jarang ia membentak, tapi dalam rangka mendidik.

Kalau Rendra pernah bercuit, bahwa suatu kesia-siaan belajar filsafat, sastra, dan keilmuan keren lainnya, tapi merasa terasing ketika memijakkan kaki di kampung halamannya. Mungkinkah, keponakanku merasa asing dengan lingkungannya, tanpa lebih dulu belajar ilmu-ilmu keren? Ah, keponakanku, memang tak ada dunia yang indah dan bisa dinikmati sepuasnya selain dunia imajinasi. Berimajinasilah sepuasnya, keponakanku, agar kau bisa hidup bahagia...!!!
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Friday, 26 May 2017

Fabel dan Investasi Bacaan



Awal puasa menjadi akhir dari upayaku menelanjangi cerita klasik/ dongeng yang mirip-mirip dengan kisah 1001 malam. Ditulis oleh Ramsay Wood, dengan judul Fabel tentang Pertikaian dan intrik; Kalila dan Dimna 2.

Menarik dibaca, karena cukup ringan namun perlu direnungkan dalam-dalam. Menjadi njlimet, karena penuturannya bersambung dan selalu ada cerita di balik cerita. Terkadang, satu dongeng berisi dua sampai tiga dongeng lainnya.

Maka dari itu, jika fokus pada sistematika pendongengan, akan sulit mengambil pesan moralnya. Maka, aku mencoba untuk membacanya perkisah, dengan tetap memperhatikan keterkaitan antar dongeng.

Ini kali kedua aku membaca fabel, setelah Binatangisme-nya Gorge Orwell. Kuakui, lebih gampang memahami Gorge Orwell daripada Ramsay Wood. Aku pikir, perbedaan kesulitan memahami yang aku alami, terletak pada cara penyampaian penulis; Gorge Orwell dengan satu tema utuhnya, sementara Ramsay Wood lebih condong pada "kumpulan dongeng" yang ia rangkai secara berantai. Dan tentu saja, kemampuanku yang terbatas mengikuti alur penceritaannya.

Satu hal yang menarik dalam Fabelnya Ramsay Wood, adalah bahwa dongeng akan selalu dibutuhkan untuk menanamkan nilai moral. Dan berbeda dongeng lisan dengan tulisan. Untuk usia anak, khususnya, amat perlu digalakkan gerakan dongeng. Dan aku sangat bersyukur ada orang-orang yang peduli, untuk menjadi pendongeng bagi anak-anak bangsa; baik melalui lembaga taman al-qur'an, taman baca, maupun inovasi lainnya.

Orang dewasa kita terlalu kanak-kanak, jadi tak memahami kebutuhan anak. Mereka memperlakukan sang anak dengan tanpa pikir panjang; seperti apa dampak yang muncul. Namun, aku yakin, pendidikan akan merubah pandangan hidup orang dewasa agar lebih dewasa. Dan jangan pahami pendidikan di sini sebagai proses belajar di lembaga, dengan gajaran ijazah di akhir episode. Apapun yang berkaitan dengan proses belajar (membaca, diskusi, majelis ilmu, dll) merupakan bentuk 'anti mainstream' dari belajar, yang justru amat diperlukan.

Kembali ke dongeng, muncul pertanyaan di benakku; kok tradisi bercerita mulai ditinggalkan ya? Sewaktu bocah, usia dini, kerap aku dengar cerita dari mulut ke mulut. Meski bernuansa mistis. Sekarang, diganti dengan ngrumpi tentang sinetron.

Aku berangan-angan, jika anak sebelum tidur selalu diceritai dongeng, akan jadi apa dia? Karakter seperti apa yang terbentuk?

Karenanya, aku tidak tahan untuk tidak mengajak kepada kawan, agar memulai investasi dongeng semenjak dini. Sederhana; agar kelak bisa mendidik kader masa depan yang lebih baik. Invesati bacaan, pikirku, jauh lebih penting ketimbang investasi financial.

Ramadhan1 2017
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Wednesday, 17 May 2017

Dikritik Mimpi




Entah apa yang melatarinya, mimpi itu bisa datang begitu saja, dengan samar-samar. Mimpi itu juga telah mengambil setting moment yang dekat denganku.

Tiga ranah yang masih teringat jelas dalam kepalaku: whatsApp, idealisme-pragmatisme, diriku.

Mimpi itu kurang lebih terjadi pukul 10-an pagi.

Dalam mimpi itu, aku bangun dari tidur lalu melihat whatsApp. Di sebuah grup, ada perbincangan mengenai diriku. Sepintas aku baca, beberapa anggota mengkritisi diriku dengan mengatakan bahwa diriku telah terjangkiti pragmatisme. Ada perdebatan sengit (yang sayangnya samar-samar) di grup tersebut, dan beberapa kubu saling debat.

Satu hal yang aku tangkap, ada seorang anggota yang mengatakan "Imron tetap idealis". Dan satu kata lainnya, samar-samar dan berdasarkan ijtihadku, "kakak yang sudah pragmatis".

Kata "Imron tetep idealis" merujuk pada diriku yang dulu, di pertengahan aktif organisasi. Aku rasai betul memang, dahulu, semangat muda menggelora. Meski tak terlibat di banyak aksi, secara sikap aku terlibat. Apa yang keluar dari mulut birokrat, sampah semua. Jadi, tak ada pemerintahan yang baik. Tiap kebijakan sarat dengan nuansa politis dan bisnis.

Sementara kata "kakak yang sudah pragmatis", merujuk pada diriku di akhir umur sebagai mahasiswa. Memang, di akhir umur ini, aku merasakan betul desakan pragmatisme. Yang awalnya anti proyek, jadi berpikir ulang untuk menerima sebuah proyek. Yang awalnya suka menghadiri forum diskusi dan aksi, kini melentur. Inikah yang dikritik mimpi tadi?

Aku jadi teringat klasifikasi dalam penulisan atau penilaian sejarah dalam kaitannya pemikiran tokoh. Ada dikotomi dalam hal itu; pemikiran Muda dan Tua. Benarkah aku masuk ke dalam dikotomi itu? Kalau iya, betapa naifnya diriku. Sampai mimpipun mencibirku dari dimensi yang berbeda.

Untuk selanjutnya, memang menjadi tugasku dalam merespon mimpi itu; akankah aku jadikan bunga tidur (angin lalu), pesan (instrumen instropeksi), atau Wahyu (seperti mimpinya para nabi). Tapi tentu, untuk kemungkinan ketiga tidaklah mungkin, karena siapalah diriku bisa memiliki mimpi sedemikian mulianya. Toh, kenabian sudah ditutup.

Jogja 2017 Mei 18
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Gara-gara Orang Baik




Tak selamanya menjadi baik itu baik pula efek yang ditimbulkan. Sebagai misal, lelaki desa yang selalu rajin beribadah, lalu masyarakat generasi tua menjadikanya teladan. Sehingga para orang tua di desa gemar membandingkan anaknya dengan anak yang baik tadi.

Pembandingan memang menyakitkan. Bayangkan saja, kita dibandingkan dengan orang lain, sementara setiap kita punya kelebihannya masing-masing. Contoh, anak yang baik itu rajin ibadah, tapi apakah iya sosialnya baik? Belum tentu.

Ini yang tidak disadari oleh orang tua. Pembandingan yang dilakukan terus menerus, justru akan membuat sekat antara anaknya dan anak yang baik itu. Lebih lanjut, menumbuhkan dengki dalam diri anak. Dampaknya, sikap si anak kepada anak baik itu, yang mengarah pada kejelekan.

Lantas ini salah siapa? Atau dengan bahasa lain, apa yang harus dilakukan?

Tentu kita tak bisa menyalahkan satu di antara ketiganya. Mari kita korek satu-satu.
Orang baik: motif ia berbuat baik tentu tak bisa disalahkan. Ia berbuat baik karena tahu, bahwa hanya dengan kebaikan dia bisa mencapai kebahagiaan. Bahagia dunia dan akhirat. Dengan kebaikan pula, ia bisa puas. Jadi antara dirinya dan kebaikan seakan sudah menyatu. Ibadah yang ia lakukan, membuatnya nyaman dan jika ditinggalkan membuat gelisah.

Lantas ketika ia dijadikan teladan, lalu justru membuat orang (anak) yang 'dipaksa' meneladani oleh orang tuanya, apa yang harus ia lakukan? Aku pikir tak ada yang bisa dilakukan, kecuali terus melakukan kebaikan. Menyambung silaturahmi dengan orang yang benci dengan kita, kualitasnya lebih baik. Tapi kalau belum bisa, cukup dengan tampakkan wajah berseri atau senyum, ketika bertemu dengan orang yang benci kita.

Orang tua: aku yakin, motif orang tua pasti baik. Ia ingin memberikan motivasi ke anaknya agar bisa lebih baik lagi, dengan menampilkan teladan tadi. Namun perlu disadari, seringkali motivasi dari luar justru menjadi tekanan luar biasa bagi siapapun. Apalagi anak, dan orang tua yang menekan.

Perlu diingat juga, bagi orang tua, bahwa setiap anak dilahirkan berbeda. Sekali-kali lihatlah sisi putihnya si anak, jangan melulu titik hitamnya.

Ketika sampai kepada pemahaman bahwa setiap anak berbeda dan memiliki kekurangan-kelebihan masing-masing, baru dialog sehat bisa berjalan. Kalaupun si orang tua ingin menghadirkan si teladan tadi, maka hadirkanlah dalam suasana dialog, bukan ceramah. Misalnya dengan pertanyaan "Menurutmu si Anu kayak apa si orangnya?"

Dengan demikian, bukan penilaian orang tua yang dijadikan teladan, melainkan penilaian anak itu sendiri. Orang tua akan tahu, penilaian anaknya terhadap sosok teladan. Dan tentu, jika demikian, anak akan berpikir lebih sehat untuk mengambil sikap; melawan atau menerima dengan menyaring dulu.

Anak yang dibanding-bandingkan: pembandingan memang menyakitkan. Tapi anak perlu tahu bahwa tak ada orang tua waras yang ingin kejelekan buat anaknya. Prinsip ini, jika dipegang, kita akan lebih bijak dalam merespon apa pun perkaan orang tua.

Dalam kasus pembandingan di atas, kita memang harus 'lebih dewasa' dari orang tua. Artinya, jangan mudah tersulut emosi dan nilailah orang tua atas dasar positive thinking; barangkali orang tua luput, kalau setiap anak itu beda.

Dan bagi kita, yang berada di posisi luar lingkaran, bisa menyaksikan layaknya sinetron. Sinetron yang mencerdaskan tentunya.. Begitu...

Jogja 2017 Mei
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Sunday, 30 April 2017

Min Dulu dan Kini



Namaku Min. Kini umurku 19 tahun. Pendiam dan pemalu itu sifatku. Semenjak kecil. Aku pikir, karena pengaruh pendidikan orang tua; meski tidak berlebihan, tapi aku merasa sedikit dimanjakan.

Aku ingat, sewaktu belum akil baligh, punya pikiran aneh. Dan ini berkaitan dengan reproduksi manusia. Waktu itu, barangkali usiaku masih SD, sulit memahami apa itu reproduksi? Bagaimana ibu melahirkan anaknya? Dan bagaimana proses menjadi bayi di perut ibu? Aku masih bingung.

Aku hidup di lingkungan yang agak bergejolak. Bergejolak dalam artian, lingkungan kurang bagus untuk pertumbuhan anak. Pemuda-pemuda sukanya mabuk. Dan sebagian, suka menonton film biru. Aku saja, tahu istilah BF (blue film) ketika kelas enam, secara tidak sengaja.

Terpikir juga olehku, proses pertemuan laki-laki dan perempuan, hingga melahirkan bayi. Aku masih ingat kini, dulu pernah berimajinasi seperti apa berhubungan intim. Alih-alih menikmati imajinasi tersebut, aku justru merasa jijik.

Aku kemudian berandai-andai; kenapa harus berhubungan intim untuk mendapatkan anak? Kenapa tidak dari tabung saja, anak itu dilahirkan?

Di lain waktu, terpikir juga olehku proses bertemunya alat kelamin laki-laki dan perempuan. Karena aku lelaki, jadi terpikir olehku; kok jadi yang dimasukkan potongan daging kecil (klitoris) perempuan ke lubang yang ada di penis. Sakit nggak ya?

Pikiran-pikiran itu muncul begitu saja di usia SD. Dan hal itu berhasil membuatku bingung.

Seiring berjalannya waktu, aku kian berkembang pengetahuannya. Ternyata, kenapa laki-laki dan perempuan harus berkumpul untuk menghasilkan anak, selain untuk kenikmatan mereka, juga proses pembuahan. Tak bakal bisa tanpa bersatunya alat vital laki-laki dan perempuan kemudian melahirkan anak.

Dan entah dorongan apa yang membuat diriku berubah 180%. Yang awalnya jijik dengan imajinasi tersebut, kini menginginkannya. Ingin merasakan proses dalam melahirkan anak, dari awal pembuahan sampai akhir. Ini perubahan yang besar.

Pun dengan imajinasiku, bahwa yang memasukkan adalah perempuan; klitoris ke lubang yang ada di alat vital laki-laki. Ternyata salah. Aku baru tahu, setelah belajar di sekolah, bahwa yang bentindak sebagai 'wadah cocok tanam' adalah perempuan. Daging kecil yang ada di alat vital perempuan, membuka untuk menerima alat vital laki-laki, lalu terjadilah pembuahan.

Aku, Min, menceritakan ini padamu, tak lain untuk wawasan saja. Bahwa anak kecil cukup kesulitan membayangkan proses diciptakan dan dikeluarkan dirinya dari perut ibu. Pemahaman itu semakin terang seiring pertumbuhan dan perkembangan anak. Tanpa diajari, aku telah mencari informasi di berbagai sumber; teman, internet, buku, dll. Dan sebenarnya, ini menjadi tugas orang tua. Bahwa pendidikan seks sejak dini amat penting, untuk membekali anak.

Keputusan yang aku pilih (mencari info di luar lingkungan keluarga) amatlah beresiko. Bayangkan saja jika aku bertemu dengan teman atau artikel yang menjerumuskan; tentu aku tidak sampai ke pemahaman sebenarnya terkait proses reproduksi.

Aku, meski keluarga tidak memberikan pendidikan seks secara tersurat, tapi mereka telah membekaliku pendidikan moral-agama. Barangkali, ini yang menuntunku. Terjerumus itu manusiawi, tapi bangkit dari keterjerumusan adalah perlu, bahkan suatu keharusan.

Aku Min, dan kini telah tumbuh dewasa. Info negatif dan positif tentang reproduksi telah memenuhi cangkang kepalaku. Dan ini berawal dari kegelisahan 'polosku' saat di usia SD.

Jogja April 2017
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Thursday, 27 April 2017

Rahasia Umum yang Tak Pernah Diselidiki (PRdCM)



Sebelum aku menulis ini, sebenarnya sudah hampir selesai tulisannya. Tapi karena aplikasi eror, hilanglah datanya. Sehingga, memang harus bersabar untuk menulis ulang dan coba ingat-ingat yang telah dituliskan.

Aku merasa perlu menulis ulang bab dua dalam buku Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer (PRdCM), tak lain untuk diriku sendiri. Agar, kelak bisa lebih mudah mengingat-ingat investasi bacaan yang telah aku bangun susah payah. Jika kalian tertarik dan merasa ini perlu, tak ada larangan untuk membaca. Hanya saja, mohon maaf kalau nanti dalam pemaparannya membingungkan dan sulit dipahami.

Bab dua karya Pram ini bercerita tentang asal perawan remaja yang digunakan alat pemuas seks serdadu Jepang. Mereka berasal dari daerah yang dekat dengan 'pusat pemerintahan', yakni kota besar, madya, kecil, dan kampung dekat kota. Hal ini karena, kualitas perawan remaja lebih unggul dibanding dengan mereka yang berada di kampung pelosok. Mereka yang berada di pelosok telah dimiskinkan Jepang dengan mendominasi hasil panen para petani dan laki-lakinya dijadikan roomusha. Kelaparan pun merajalela. Maka bisa dibayangkan kondisi fisik dan psikis perawan remajanya; tentu tidak menarik serdadu Jepang. Tapi bersyukurlah mereka, karena tidak menjadi korban kebiadaban Jepang.

Kota yang terdata oleh penulis adalah Prambanan, Kudus, Brebes, dan Purworejo. Selebihnya tugas kita sebagai generasi penerus, untuk mengungkap korban kebiadaban Jepang; dengan terus menggali data dari setiap pelosok negeri.

Sebagaimana dalam bab 'Janji Indah' bahwa perawan remaja dijanjikan mendapat pendidikan di Tokyo dan Singapura, sebagai persiapan sumber daya manusia terdidik kelak ketika Indonesia merdeka (versi Dai Nippon). Dan kita tahu kebusukan Jepang ketika ia menyerah ke sekutu. Bahwa janji indah itu hanya kedok, untuk melampiaskan nafsu birahi serdadu Jepang.

Perawan remaja, setelah Jepang menyerah, dilepaskan begitu saja. Mereka dalam keadaan memprihatinkan, tak bisa pulang kampung. Ada yang karena alasan dana, ada pula karena pertimbangan beban moral; berangkat dengan tujuan belajar agar pulang bisa menjadi orang terdidik, kenyataannya mereka hanya dimanfaatkan, dieksploitasi tubuhnya oleh Jepang.

Silakan kalau mau sejenak membayangkan. Bagaimana perasaan mereka? Kondisi jiwa dan fisiknya? Ketika cita-cita luhur mereka, dinodai oleh kebiadaban Fasisme-militerisme Jepang waktu itu.

Soal berapa angka perawan remaja yang dijadikan alat pemuas seks serdadu Jepang, dari pihak Jepang sendiri tidak memberikan keterangan. Ini memang sengaja. Mereka sengaja mengumumkan janji indah mereka secara tidak resmi, barangkali, agar tidak bisa terlacak kejahatan mereka.

Sebenarnya, rakyat Indonesia, semenjak kekalahan Diponegoro, amat loyal dengan pemerintah. Jika saja Jepang datang hanya untuk menggantikan Belanda, tentu rakyat tidak curiga. Namun, baru satu tahun lewat, Jepang telah menunjukkan mukanya yang garang, yang hobi melakukan teror. Orang-orang terdidik (dari umuran SMP ke atas) di daerah Kalimantan, dibunuh, untuk memudakan upaya men-Jepang-kan masyarakat.

Meski demikian, ada segelintir orang dari tubuh fasis yang peduli dengan nasib rakyat Indonesia. Ia adalah Laksamana Angkatan Laut Tadashi Maeda. Namun, bukan berarti kejahatan Jepang terhapus begitu saja karena kebaikan segelintir orangnya.

April 2017
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Janji Indah (PRdCM)


1943. Tahun ketika Jepang terdesak dengan serangan bertubi-tubi oleh Tentara Sekutu. Ini yang menyebabkan tentara Dai Nippon kesulitan mengirim wanita pemuas seks serdadu dari Jepang, Cina, dan Korea. Sebagai gantinya, gadis Indonesialah yang menjadi incarannya.

Jepan ini cerdik, sekaligus biadab. Cerdik karena membalut kepentingan kejinya dengan janji pendidikan. Mereka mengumumkan, meski tidak secara resmi, kepada masyarakat Indonesia agar mau mengirimkan anak gadisnya untuk disekolahkan di Tokyo dan Shonanto (Singapura). Mereka menggunakan Sendenbu (Barisan Propaganda/Jawatan Propaganda) untuk menyampaikan 'janji manis' mereka kepada masyarakat. Janji manis, akan menyekahkan perawan remaja dengan gratis.

Sendenbu ini memerintahkan Pangreh Praja (bupati) untuk menyampaikan janji manis Jepang kepada camat. Camat kepada lurah, dan lurah kepada masyarakat. Agar masyarakat mau mengirim anak gadisnya ke Jepang, para lurah memberi teladan dengan cara mengirimkan anak gadisnya. Alasan lain, karena para lurah takut jabatannya terancam, jika tidak berhasil menyampaikan janji suci Jepang.

Meski, dari sekian Pangreh Praja, ada satu yang punya pikiran maju (kritis) dan dengan siasatnya, ia mengembalikan empat perawan remaja kepada keluarganya. Pangreh Praja itu berasal dari Banyumas. Ini hanya segelintir. Selebihnya, tunduk.

Bisa dibayangkan, nasib perawan remaja masa itu. Sebagian memang ada yang sukarela berangkat memenuhi panggilan Jepang. Namun mayoritas, berangkat dengan berat hati dan penuh rasa takut; takut kena marah orang tua. Meski, sebagian besar masyarakat -sebenarnya- tidak terlalu menggubris janji manis Jepang. Masyarakat sudah terlalu cerdas untuk dibodohi. Ketaatan mereka hanya didorong oleh rasa takut pada Jepang; yang gemar menebar teror.

Dan benarlah, hingga Jepang menyerah pada sekutu, perawan remaja yang dulu dikirim ke Jepang banyak yang hilang tiada kabar. Sebagian ada yang bisa pulang ke kampung, di pelukan keluarga. Namun kebanyakan, tidak bisa pulang dengan alasan keterbatasan dana, malu, dan sebagainya.

Ini yang saya katakan biadab. Jepang, telah merenggut kehidupan perawan remaja dari keluarganya, dan cita-citanya yang tinggi.

Mereka, setelah disesap sarinya, dibuang begitu saja. Tanpa pesangon untuk digunakan pulang ke kampung.

Bukunya Pram: Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer.
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 25 April 2017

Ibnu Kaldun; Politikus Gagal yang Menjadi Ilmuwan


Tiga hal yang oleh Ibnu Kaldun menjadi peringatan bagi para penguasa; keangkuhan, kemewahan, dan kerakusan. Tiga hal ini, jika ada dalam sebuah sistem pemerintahan (atau mungkin sistem keluarga termasuk?) menjadi alamat senjakalanya.

Ibnu Kaldun dalam temuan empirisnya di Afrika Utara, menyimpulkan bahwa pergantian dinasti dan kekuasaan terjadi dalam siklus waktu tiga generasi, yaitu 120 tahun. Tentu, siklus ini belum tentu berlaku di negara lain. Temuan inilah yang membuat Ibnu Kaldun dituduh, berpaham pesimisme. Mestinya, kata Syafi'i Maarif, ini dibaca dalam bingkai pandangan positif (hal. 53). Artinya, pada dasarnya Ibnu Kaldun bukanlah seorang pesimis, melainkan temuannya yang memaksa dirinya berkesimpulan demikian (sudah saya jelaskan di muka). Terlepas dari itu semua, saya tetap sepakat dengan tiga pantangan yang jika dilanggar penguasa akan menjadi alamat senjalakanya; keangkuhan, kemewahan, dan kerakusan.

Ibnu Kaldun, di awal kariernya dikenal sebagai politikus, yang amat oportunis. Ia berkali-kali mengkhianati atasan, demi nafsu politiknya. Namun, kegagalan demi kegagalan ia alami, dan inilah yang membuat dirinya bermanuver menjadi seorang ilmuwan. Ia tinggalkan dunia politik yang panas dan penuh intrik, lalu menceburkan dirinya pada aktivitas keilmuan; ia kemudian dikenal sebagai perintis awal ilmu sosial modern (abad ke-14), jauh sebelum ilmuwan Barat di abad ke-19 menemukan teori-teori sosial.

Ditulis berdasar pada penelitian Ahmad Syafi'i Ma'arif, buku ini amat bergizi. Ini merupakan hasil dari penelitian kualitatif-analitis, dengan merujuk pada referensi-referensi koleksi perpustakaan Institut Kajian Islam Universitas McGill, Kanada. Dari sini, hemat saya, kualitas buku bisa ditimbang.

Melalui buku ini, Syafi'i Ma'arif coba mengkaji secara kritis karya-karya sarjana kontemporer tentang Ibnu Kaldun selama jangka waktu 60 tahun terakhir (penelitian ini sepertinya dilakukan pada 1995, kemudian dikemas dalam bentuk buku pada 1996 oleh Gema Insani Press).

Adapun obyek kajiannya adalah karya fenomenalnya; al-Muqaddimah, sebuah karya klasik yang dinilai memuat dimensi modern dalam ilmu-ilmu sosial (hal. ix).

Hasil penelitian ini, menemukan bahwa ada dua arus besar soal kajian tentang Ibnu Kaldun; sarjana yang mengkritik Ibnu Kaldun dengan paham pesimismenya, sementara lainnya menyimpulkan betapa cerdasnya Ibnu Kaldun, merumuskan teori sosial pada abad ke-14.

Meski tipis, hanya 54 halaman (tidak termasuk daftar pustaka dan indeks), tapi cukup representatif sebagai "puzzle" awal untuk mengapresiasi kontribusi Ilmuwan Muslim untuk dunia. Sekaligus, mengikis "logika kolonial" yang kerap memosisikan Barat sebagai sesuatu yang suci dan tinggi, sehingga lupa akan potensi diri; baik secara individu berbangsa Indonesia maupun individu muslim. Selamat membaca!

Buku: Ahmad Syafi'i Ma'arif, Ibnu Kaldun Dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996)

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 7 March 2017

Janda dan keibuannya


Aku punya tetangga. Ia seorang perempuan dengan 6 orang anak. Beberapa pekerjaan ia lakoni, untuk menghidupi keluarga. Menjadi pemulung, bercocok tanam, dan selebihnya aku tidak tahu. Ia kerjakan itu semua, demi anak-anaknya agar tumbuh dewasa.

Bapaknya? Ia biadab. Setelah ia menuangkan air cintanya kepada sang istri dan melahirkan 6 buah cinta, menghilang. Ia tinggalkan anak-istri, demi perempuan lain. (Ini berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat).

Kondisi ini yang membuat sang janda banting tulang tiap hari. Tak kenal lelah ia bekerja. Namun meski demikian, ia tetap bisa mencurahkan hati dan perhatiannya kepada anak-anaknya. Jadilah dua anak terakhir tetap bisa mengenyam pendidikan.

Tadi kebetulan janda tersebut kebetulan mampir di rumahku. Bersama dengan ibu yang sedang menguliti mlinjo dan ditemani satu ibu muda, janda tersebut bercerita. Katanya, anak terakhirnya yang kini sekolah di SMA, kehilangan STNK. Namun sang anak tidak jujur kalau dirinya habis terkena musibah. Ia jujur ketika merasa terdesak.

Dari cerita sederhana tersebut, pembicaraan mulai melebar. Janda itu bercerita, bahwa motor anaknya selalu ia lap (bersihkan) tiap kali mau berangkat sekolah.

"Eman temen yah (sayang banget sampeyan sama anak sampeyan" kata ibu muda.

"Pas SMP malah pite sing dielapi (Sewaktu SMP sepedanya yang dibersihkan" ujar laki-laki belasab tahun, yang ikut nimbrung.

Si janda, kemudian beli susu kotak, untuk dikasihkan ke anak saudaranya. Ia menyodorkan uang 5rbu ke saya.

Ketika ia sedang memberi susu kotak tersebut ke rumah saudara di sebelah rumahku, ibu muda tak mau kehilangan momen untuk ngrumpi.

"Sama anaknya sayang banget ya dia. Motor saja ia yang bersihkan, padahal anaknya sudah SMA. Kasihan kalau sampai anaknya nakal" katanya ke ibuku.

Karena dasarnya ibuku lebih suka mendengarkan daripada bicara, ia hanya mengiyakan saja. Dan hal itu tak berlangsung lama. Karena yang sedang dibicarakan datang, mengambil kembalian uang. Kareba harga susu kotak 2.500, ia minta kembalian 2.500 dalam bentuk es tea jus seharga 1.000 dan susu sachet cokelat seharga 1.500. Ia kemudian pulang ke rumahnya, tentu saja, untuk bergerak (baca: bekerja).

Jika kau agamawan, tolong jangan lihat dia dari sudut pandang syariat. Ia tak berjilbab. Pakai kaos lengan pendek dan celana pendek. Tentu, tidak memenuhi syariat Islam, yang mengatur bahwa aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

Jika kau melihat dengan kaca mata syariat, tanpa memperhatikan aspek lainnya, tentu dengan mudah kau akan melabeli janda tersebut sebagai muslimah yang tidak tau aturan. Atau label "muslimah ndableg". Atau yang lebih sadis lagi, "perempuan tak tau aturan". Kemudian, kau berusaha untuk menceramahinya, agar segera bertaubat dan berhijab.

Aku tidak bisa bayangkan jika sampai kau tega melabeli janda itu dengan label-label negatif. Bayangkan perjuangannya membesarkan anak-anaknya, sendirian! Sang bapak yang biadab, pergi meneteskan air cintanya ke perempuan lain. Seakan-akan, habis manis sepah dibuang.

Aku juga tak bisa bayangkan, bagaimana gemuruh hatinya, ketika sang mantan suami mampir ke rumahnya. Betapa hancur pastinya, hati dan batinnya.

Samar-samar aku ingat, salah seorang anaknya pernah berujar kepada adiknya. "Besok ketika kau sudah besar, kau akan tahu kebencian kami kepada bapak!"

Kau mau bicara syariat, wahai agamawan? Hanya akan menyakiti hatinya, dan perjuangannya. Bisakah kita menilai orang jangan sepotong-sepotong. Misalnya, orang yang shalat tapi sosialnya buruk, dan orang yang tidak shalat tapi sosialnya bagus dan bisa memberikan manfaat ke orang lain. Bisakah kita mendudukkan mereka sejajar? Kalau bicara soal dosa dan pahala, bukankah itu urusan Tuan kita, Allah?

Yah. Begitulah. Hidup memang kejam sekaligus romantis. Kejam bagi mereka (dan kita) yang merasa suci, karena harus mengumpulkan tenaga untuk membid'ah-bid'ahkan, mengkafir-kafirkan, dan upaya berat lainnya. Romantis, bagi mereka (dan kita) yang dikaruniai kaca mata enam dimensi, yang bisa digunakan untuk melihat bermacam-macam warna dalam satu tubuh. Betapa romantisnya kita, yang memiliki warna berbeda, namun tetap bisa bersama. Aku dan kamu, suatu saat akan melebur menjadi kita. Semoga..

Jadi, aku ini nulis apa ya?

Hormat saya,
Tetangga si janda yang keibuan.
Waluyorejo 7 Maret 2017
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Saturday, 4 March 2017

Kisah Munaqosah


"Arti nama fulan apa?"
Satu pertanyaan awal dari seorang dosen penguji munaqosah. Saya sedikit tergelitik dan merasa aneh; membuka ujian munaqasah dengan pertanyaan tak terduga.

Tapi kemudian, saat si fulan memaparkan makna dari namanya, kemudian direspon penguji, saya baru paham bahwa hal tersebut merupakan penjelasan paling mudah untuk menguliti judul skripsinya. Yang menggunakan istilah internalisasi; penghayatan pada nama diri dan judul skripsi.

Kebetulan, makna dibalik fulan adalah nrimo. Dan ini yang dijadikan oleh penguji untuk kembali menguliti logika peneliti. Sikap peneliti terhadap objek penelitian. Tanggungjawab peneliti atas buah karyanya. Dan sejauh mana peneliti menikmati proses penelitian. Atau karena makna nrimo tersebut? Sehingga apa yang ia kerjakan kurang maksimal, dan nrimo dengan pedoman 'sing penting rampung'. Nilai jelek tak masalah yang penting lulus. Atau meminjam istilah seorang mamah muda ketua prodi, skripsi itu yang penting selesai. Setidaknya itu yang saya dengar dari kawan, yang mendengar secara langsung dari si pemilik istilah tersebut.

Jogja 22/02/2017
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Pikirkan Masak-masak sebelum Berjuang di Organisasi





Aku kira tak ada wadah terbaik bagi mahasiswa selain organisasi. Organisasi apapun itu. Yang jelas, di dalamnya terdiri dari berbagai kepala yang warna-warni. Sehingga isinya pun berwarna.

Sering dengan beragamnya warna tersebut, memercikkan konflik berkepanjangan. Konflik redam saat anggotanya memiliki i’tikad baik untuk memperbaikinya. Menyingkirkan sejenak egoisme dirinya. Mengorbankan waktu dan tenaga untuk memikirkan alternatif solusinya. Dan berbagai hal tidak menyenangkan lainnya, yang justru harus dilakukan.

Jika kau mau hidup nyaman, silakan saja nikmati uang jajanmu untuk berbelanja di Mall. Kemudian selfielah dengan produk kapitalis asing biar terlihat keren. Jadilah budak mereka yang taat, niscaya kau akan bahagia.

Atau jika kau mau terkenal, dekatilah orang-orang besar yang ada di menara gading sana. Jilatlah kaki-kaki mereka dengan lidah lembutmu, biar mereka merasa nyaman. Niscaya, kau akan terkenal. Dan kau akan mendapat modal dari mereka. Meski sebenarnya, kau tetap berada di bawah alas kaki mereka. Meski tanpa kau sadari. Inikah yang namanya hegemoni? Entahlah, aku juga tidak tahu. Barangkali kau perlu tanya Gramchi di alam barzakh sana.

Selama hidup di organisasi, aku tak pernah merasa bahagia, kecuali sepintas lalu. Bahagia seakan-akan enggan masuk ke dalam dinamika organisasi. Bahkan sebaliknya, sakit hatilah yang aku dapat dan kekecewaan-kekecewaan lain. Bukan hanya kecewa pada kawan seperjuangan yang hilang entah ke mana. Bukan pula kekecewaan pada mereka yang tak kuasa untuk mengangkat beban berat di pudaknya. Melainkan, kekecewaan terbesar adalah kepada diri sendiri. Diri yang tak becus mengurus organisasi. Diri yang tak punya inisiatif untuk melakukan pendekatan-pendekatan kepada kawan seperjuangan. Diri yang secara wawasan organisasi amat minim. Jadi diri (mencoba) memaklumi kawan-kawan seperjuangan yang hilang entah kemana. Meski di sisi lain, sikap “mundur teratur” kawan seperjuangan juga membuatku kecewa.

Kecewa adalah hak segala manusia, dari jenis apapun. Namun, putus asa hanyalah milik mereka yang menyerah dan merasa ciut ketika melihat gunung sebesar matahari runtuh di hadapannya. Padahal, itu hanya fatamorgana dan hasil bentukan persepsi kita, yang mutlak disihir oleh pikiran negatif.

Cerita organisasi adalah cerita tentang perjuangan. Organisasi hanya bisa menjanjikan kesengsaraan dan kemelaratan. Hanya menjanjikan kekecewaan dan kesakit hatian. Itu saja. Lebih tidak.

Maka, jika kau memang ingin mengembangkan potensimu (saja), saranku jangan masuk ke dalam organisasi. Penulis bisa hebat hanya dengan belajar otodidak. Membaca karya-karya penulis berkualitas dari berbagai belahan dunia. Jadilah ia penulis andal.

Akan tetapi, jika ada sedikit saja keinginan untuk menularkan semangat berkarya kepada kawan-kawan tersayang, cobalah ikut organisasi. Meski harus diingat, bahwa ikut organisasi hanya akan membuang-buang waktu saja. Terlebih organisasi yang hidup malu mati segan. Tentu semakin sia-sialah waktumu dibuang. Hanya kelelahan yang kau dapat.

Maka, pikirkanlah matang-matang jika ingin masuk organisasi. Aku adalah termasuk korban ambisi diri yang tak terkendali. Ambisinya (dalam pandanganku) tak ada salahnya, karena membawa misi perbaikan. Namun, kapasitas diri yang minim, yang membuat realisasi ambisi tersebut ambyar. Akhirnya, aku kecewa dengan kaburnya kawan-kawan seperjuangan, sekaligus mereka (barangkali) juga kecewa dengan diriku yang tak becus merawat hubungan dengan mereka. Bahkan bisa jadi, mereka juga kecewa karena sewaktu di organisasi, hanya dimanfaatkan tenaganya saja, bukan orangnya secara utuh. Hanya skillnya yang diambil, sementara sisi kemanusiaannya jarang tersentuh. Inilah yang menurutku membuat mereka kompak “mundur teratur”. Karena ketidaknyamanan dalam sebuah organisasi, membuat orang enggan pula untuk berjuang.

Maka bukan saatnya lagi saling menyalahkan dan melakukan alibi. Tak ada pihak yang mutlak salah, pun sebaliknya.

Jika egoisme masih dominan dalam diri seseorang, sulit baginya untuk berbagi dengan orang lain. Termasuk, berbagi kesakitan. Berbagi kebahagiaan. Dan, berbagi amanah organisasi.

Perjuangan masih panjang. Diam saja pengkhianatan, apalagi mundur?

Jogja, 4 Maret 2017
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Saturday, 4 February 2017

Sekali Membaca “Orang Asing”




Otakku cukup terkuras untuk mencerna jalan cerita dan karakter dalam Orang Asing-nya Albert Camus. Di dalamnya diceritakan kehidupan seorang pekerja kantoran bernama Meusult. Sejak pertama aku membaca dan mengamati tokoh pertama, seolah-olah sedang membaca manusia datar-tak berperasaan. Sulit untuk memahami karena aku sebagai pribadi, belum pernah merasakan apa yang dirasakan Meusult. Atau lebih tepatnya, konsepsi tentang hidupku berbeda jauh dengan Meusult.

Jika aku mencari-cari Albert Camus di dunia google, aku dapatkan ia sebagai penganut filsafat absurdisme, yang memandang hidup sebagai aktivitas yang sia-sia. karena pada akhirnya, manusia akan mati, entah kapan. Aku secara pribadi belum memahami betul apa itu filsafat absurdisme. Dengan sedikit pemahaman ini, aku coba pahami penggalan-penggalan cerita dalam novel kecil ini.

Di beberapa ungkapan tokoh utama, bahkan diungkapan yang pertama ketika aku membaca, terlihat bahwa semangat untuk hidup amatlah datar. Tidak ada hal yang ingin ia capai dalam hidup. Menikah sama saja dengan tidak menikah. Menjadi kepala sama saja dengan menjadi karyawan. Karena hidup hanyalah itu-itu saja, tidak lebih.

Ini menjadi wawasan baru untuk diriku. Bahwa di luar sana, ada orang-orang berpandangan semacam ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan, Aku dengan tanpa disadari, mengamalkan pandangan absurdisme ketika berada dalam posisi bosan. Bahwa hidup ini hanyalah rutinitas yang tiada berujung, kecuali kematian.

Memang, novel lahir tidak terlepas dari kondisi sosial-ekonomi-politik pada masanya. Pun dengan novel yang baru aku baca ini. Ia lahir berkat Perang Dunia. Di mana tak ada harapan untuk hidup. Nyawa tidak ada harganya sekali. Bangunan-bangunan hancur tak bisa ditinggali. Keporakporandaan selalu mewarnai hari-hari orang-orang tersebut. Maka, dari hidup yang sulit sekali untuk melihat masa depan, muncullah keputusasaan, dan hilang harapan.

Dari sini kemudian aku merasa beruntung, karena lahir dalam rahim Islam. Dibesarkan pula di lingkungan Islam dan pendidikan pun sangat bernuansa Islam. Meski aku bukan ahli dari ilmu-ilmu dan amalan-amalan yang dianjurkan Islam, tapi setidaknya keimananku terhadap hari pembalasan menyelamatkanku dari pandangan absurdisme ini. Di sisi lain, aku menyadari bahwa hidup memang sebatas rutinitas. Akan tetapi, keyakinanku akan adanya kampung abadi setelah dunia, menjadi semacam semangat untuk hidup. Karena (berdasar dogma agama –dan saya meyakini) satu-satunya harapan hidup tanpa rutinitas yang membosankan adalah kampung akhirat.

Maka selama hidup, aku mesti mempersiapkan bekal untuk menikmati indahnya kampung akhirat. Pemberontakan dari rutinitas adalah dengan cara mengisinya dengan apa yang kita senangi. Aktivitas yang ketika dilakukan, akan memunculkan rasa bahagia dalam diri. Ini adalah pemberontakan kecil dari rutinitas hidup. Dan dalam ajaran yang aku percayai kebenarannya, hidup di dunia diistilahkan sebagai aktivitas menanam. Apapun yang aku tanam di dunia, hasilnya nanti akan dipetik di akhirat. Ini yang bisa dipahami bagi orang Islam (meski aku tidak berani dan tidak pantas untuk mengklaim keimananku sudah bagus). Iman yang membuat kita hidup, dan terlepas dari abdsurditas kehidupan di dunia.

Albert Camus, di bukunya juga mengkritik para penegak hukum yang mencampur adukkan agama dengan keputusan yang diambil. Meusult yang tidak percaya adanya Tuhan, dan tidak ingin mendapat capaian-capaian yang lebih baik dalam hidupnya (Hidup dijalani layaknya air mengalir), karena membunuh divonis pancung. Ia divonis sebagai manusia yang berdosa karena jiwanya kosong. Dan di akhir putusannya, Jaksa mengatakan bahwa hukuman pancung Meusult mengatasnamakan rakyat Prancis. Novel ini mengkritik hukuman mati.

4/2/2017 Jogjakarta


Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Multitasking



Satu keyakinan idealis saya, bahwa manusia bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Setidaknya, itu yang saya jadikan sebagai penghibur, untuk menyelesaikan pekerjaan yang amat menumpuk. Meski, dari beberapa orang yang saya temui, menceritakan pengalamannya tentang prinsip idealis mereka, yang berakhir tragis. Mereka bercerita bahwa butuh fokus (melepas satu-dua pekerjaan untuk mengerjakan satu pekerjaan) agar pekerjaan bisa selesai. Butuh totalitas!
Sebenarnya, saya juga punya pengalaman bahwa konsep ideal manusia bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu, kandas di jalan. Hal itu saya dapat dari hidup berorganisasi. Dalam pengalaman itu, saya melepas beberapa organisasi untuk mengurus satu organisasi. Ini pengkhianatan saya kepada diri saya sendiri, yang telah bersusah payah untuk mempertahankan pribadi multitasking.
Akan tetapi, saya tidak cukup yakin bahwa pengalaman itu juga berlaku di masa sekarang, masa yang sedang dan akan saya lalui. Bukankah lubang yang sama jangan sampai menjebak kita? Dan hanya orang-orang terpilih yang mampu melampaui batas dirinya. Apakah kegagalan saya untuk mengerjakan banyak hal dalam satu waktu merupakan batas diri saya? Jika iya, maka tugas saya selanjutnya adalah melampaui batasan itu. Jika saya memang orang terpilih, tentu dengan mudah maupun sulit, bisa melampaui batas diri.
Saya memang butuh fokus untuk menghasilkan sesuatu yang maksimal. Namun, ini persoalan manajemen. Kegagalan saya di masa lalu merupakan kegagalan manajemen. Maka di masa ini dan yang akan datang, manajemen saya harus diupgrade. Dengan demikian, saya bisa melewati rintangan saya yang sebenarnya amat sederhana.
Kelabilan saya juga menjadi tantangan. Manajemen kacau karena pribadi yang labil. Dan jangan mengambinghitamkan “siklus kehidupan” untuk memaafkan diri sendiri. Sama halnya jangan menjadikan proses sebagai alasan lambatnya perkembangan kita.
Saya tidak bisa menghindari kehidupan yang monoton. Akan ada tugas yang menumpuk yang siap menanti saya. Di masa kini telah terlihat tiga sampai empat tugas yang menumpuk. Entah nanti di masa depan. Tentunya itu misteri yang amat menarik. Hadapi atau lari terbirit-birit dari kenyataan. Hadapi, hanya ada dua hal yang bisa saya dapat, kegagalan dan keberhasilan. Dan satu lagi, kenikmatan. Saya lebih suka yang terakhir. Karena kenikmatan akan mengalahkan rasa gagal dan berhasil. Apapun yang membuat saya menikmati, akan membuat saya bahagia.
Dan jika yang saya pilih adalah lari terbirit-birit, hanya akan tersandung di jalanan. Tersandung yang menghinakan. Karena sandungan tersebut sama sekali tiada artinya. Dan tidak menutup kemungkinan, keterbirit-biritan saya akan mengantarkan saya ke dalam lubang kuburan sendiri.
Maka tak ada pilihan lain selain hadapi. Hadapilah, dengan penuh penghayatan. Saya rindu dengan kenikmatan...
4/2/2017 Jogja

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 30 January 2017

Beda Istilah, Beda Respon





Merubah sistem budaya yang telah mengakar amat sulit. Karena, sebuah budaya sudah meresap ke alam bawah sadar, dan akan ditentang habis-habisan bagi siapa saja yang ingin merubahnya. Seakan terusik batin dan akalnya.

Ini yang terjadi pada lembaga pendidikan di almamater saya. Sebenarnya, perubahannya tidak terlalu besar, tapi cukup mendasar. Yaitu, memisah antara siswa laki-laki dan perempuan, menjadi dua kelas yang berbeda. Jika dalam dunia pendidikan ada model klasifikasi siswa berdasarkan kemampuan akademiknya. Kira-kira, seperti itulah yang diterapkan dalam almamater saya. Yang berbeda hanyalah, klasifikasi yang termaktub dalam referensi-referensi berdasar pada kemampuan akademik. Sedangkan di almamater saya dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Alasannya, yang berhasil memunculkan kontroversi, adalah persoalan agama; haram hukumnya bercampur antara laki-laki dan perempuan. Dan langkah yang diambil ini, menurut saya, merupakan bagian dari langkah preventif agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Akan tetapi, seperti yang saya sebutkan tadi, alasan bernuansa agamis justru menimbulkan pro kontra dari wali siswa dan siswanya. Alasan halal-haram terbukti tidak mampu meredam kekhawatiran dan memuluskan misi almamater saya; misi untuk mendidik siswanya agar lebih “Islami”. Hal ini memberikan pelajaran bagi kita, bahwa bukan persoalan nilai-nilai kebaikan yang disampaikan, melainkan metode penyampaiannya, yang menjadi pertimbangan masyarakat apakah mau menerima atau tidak. Penjelasan yang logis amat dibutuhkan, untuk meyakinkan masyarakat terkait misi kita. Dan tentu, menurut saya, ini juga yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw. dalam menyebarkan agama Islam; Beliau dakwah bilhikmah.

Agaknya ini yang dilakukan oleh pimpinan generasi berikutnya. Atau saya lebih senang menyebut sebagai generasi muda. Muda dalam artian mampu membaca situasi dan kondisi yang terjadi. Melalui kondisi tersebut, beliau coba membuka pikiran untuk mencari solusi untuk memuluskan misi. Agama, tidak disampaikan secara dogmatis, melainkan penjelasan yang logis. Beliau menggunakan istilah pendidikan; meski menurut logika saya pribadi kurang tepat. Beliau menjelaskan, bahwa pemisahan kelas berdasar jenis kelamin semata untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif. Menurut beliau, pemisahan ini bisa membantu siswa lebih fokus dalam belajar; tidak ada tuntutan berdandan agar terlihat lebih cantik atau tampan, karena dorongan untuk menarik perhatian lawan jenis.

Melalui penjelasan yang (menurutnya) logis, ternyata tidak ada yang melakukan penolakan.  Guru dan siswa sepakat diperlakukannya pemisahan antara laki-laki dan perempuan. Tapi, saya juga belum melakukan konfirmasi ke siswa-siswanya. Karena, ketika saya mengisi sebuah acara di salah satu lembaga pendidikan yang masih satu naungan Yayasan. Bahwa mereka sebenarnya merasa keberatan. Hanya saja, mereka tidak berani untuk mengungkapkan keberatannya.

Terlepas dari itu, saya melihat bahwa strategi yang dilakukan kepala madrasah amat menarik. Sama halnya dengan perdebatan apakah pancasila itu islami atau tidak. Strateginya ibarat pancasila, sementara isinya adalah nilai-nilai keislaman.

Jogja, Akhir Januari 2017
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...