Tuesday, 25 April 2017

Ibnu Kaldun; Politikus Gagal yang Menjadi Ilmuwan


Tiga hal yang oleh Ibnu Kaldun menjadi peringatan bagi para penguasa; keangkuhan, kemewahan, dan kerakusan. Tiga hal ini, jika ada dalam sebuah sistem pemerintahan (atau mungkin sistem keluarga termasuk?) menjadi alamat senjakalanya.

Ibnu Kaldun dalam temuan empirisnya di Afrika Utara, menyimpulkan bahwa pergantian dinasti dan kekuasaan terjadi dalam siklus waktu tiga generasi, yaitu 120 tahun. Tentu, siklus ini belum tentu berlaku di negara lain. Temuan inilah yang membuat Ibnu Kaldun dituduh, berpaham pesimisme. Mestinya, kata Syafi'i Maarif, ini dibaca dalam bingkai pandangan positif (hal. 53). Artinya, pada dasarnya Ibnu Kaldun bukanlah seorang pesimis, melainkan temuannya yang memaksa dirinya berkesimpulan demikian (sudah saya jelaskan di muka). Terlepas dari itu semua, saya tetap sepakat dengan tiga pantangan yang jika dilanggar penguasa akan menjadi alamat senjalakanya; keangkuhan, kemewahan, dan kerakusan.

Ibnu Kaldun, di awal kariernya dikenal sebagai politikus, yang amat oportunis. Ia berkali-kali mengkhianati atasan, demi nafsu politiknya. Namun, kegagalan demi kegagalan ia alami, dan inilah yang membuat dirinya bermanuver menjadi seorang ilmuwan. Ia tinggalkan dunia politik yang panas dan penuh intrik, lalu menceburkan dirinya pada aktivitas keilmuan; ia kemudian dikenal sebagai perintis awal ilmu sosial modern (abad ke-14), jauh sebelum ilmuwan Barat di abad ke-19 menemukan teori-teori sosial.

Ditulis berdasar pada penelitian Ahmad Syafi'i Ma'arif, buku ini amat bergizi. Ini merupakan hasil dari penelitian kualitatif-analitis, dengan merujuk pada referensi-referensi koleksi perpustakaan Institut Kajian Islam Universitas McGill, Kanada. Dari sini, hemat saya, kualitas buku bisa ditimbang.

Melalui buku ini, Syafi'i Ma'arif coba mengkaji secara kritis karya-karya sarjana kontemporer tentang Ibnu Kaldun selama jangka waktu 60 tahun terakhir (penelitian ini sepertinya dilakukan pada 1995, kemudian dikemas dalam bentuk buku pada 1996 oleh Gema Insani Press).

Adapun obyek kajiannya adalah karya fenomenalnya; al-Muqaddimah, sebuah karya klasik yang dinilai memuat dimensi modern dalam ilmu-ilmu sosial (hal. ix).

Hasil penelitian ini, menemukan bahwa ada dua arus besar soal kajian tentang Ibnu Kaldun; sarjana yang mengkritik Ibnu Kaldun dengan paham pesimismenya, sementara lainnya menyimpulkan betapa cerdasnya Ibnu Kaldun, merumuskan teori sosial pada abad ke-14.

Meski tipis, hanya 54 halaman (tidak termasuk daftar pustaka dan indeks), tapi cukup representatif sebagai "puzzle" awal untuk mengapresiasi kontribusi Ilmuwan Muslim untuk dunia. Sekaligus, mengikis "logika kolonial" yang kerap memosisikan Barat sebagai sesuatu yang suci dan tinggi, sehingga lupa akan potensi diri; baik secara individu berbangsa Indonesia maupun individu muslim. Selamat membaca!

Buku: Ahmad Syafi'i Ma'arif, Ibnu Kaldun Dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996)

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...