Thursday, 27 April 2017

Janji Indah (PRdCM)


1943. Tahun ketika Jepang terdesak dengan serangan bertubi-tubi oleh Tentara Sekutu. Ini yang menyebabkan tentara Dai Nippon kesulitan mengirim wanita pemuas seks serdadu dari Jepang, Cina, dan Korea. Sebagai gantinya, gadis Indonesialah yang menjadi incarannya.

Jepan ini cerdik, sekaligus biadab. Cerdik karena membalut kepentingan kejinya dengan janji pendidikan. Mereka mengumumkan, meski tidak secara resmi, kepada masyarakat Indonesia agar mau mengirimkan anak gadisnya untuk disekolahkan di Tokyo dan Shonanto (Singapura). Mereka menggunakan Sendenbu (Barisan Propaganda/Jawatan Propaganda) untuk menyampaikan 'janji manis' mereka kepada masyarakat. Janji manis, akan menyekahkan perawan remaja dengan gratis.

Sendenbu ini memerintahkan Pangreh Praja (bupati) untuk menyampaikan janji manis Jepang kepada camat. Camat kepada lurah, dan lurah kepada masyarakat. Agar masyarakat mau mengirim anak gadisnya ke Jepang, para lurah memberi teladan dengan cara mengirimkan anak gadisnya. Alasan lain, karena para lurah takut jabatannya terancam, jika tidak berhasil menyampaikan janji suci Jepang.

Meski, dari sekian Pangreh Praja, ada satu yang punya pikiran maju (kritis) dan dengan siasatnya, ia mengembalikan empat perawan remaja kepada keluarganya. Pangreh Praja itu berasal dari Banyumas. Ini hanya segelintir. Selebihnya, tunduk.

Bisa dibayangkan, nasib perawan remaja masa itu. Sebagian memang ada yang sukarela berangkat memenuhi panggilan Jepang. Namun mayoritas, berangkat dengan berat hati dan penuh rasa takut; takut kena marah orang tua. Meski, sebagian besar masyarakat -sebenarnya- tidak terlalu menggubris janji manis Jepang. Masyarakat sudah terlalu cerdas untuk dibodohi. Ketaatan mereka hanya didorong oleh rasa takut pada Jepang; yang gemar menebar teror.

Dan benarlah, hingga Jepang menyerah pada sekutu, perawan remaja yang dulu dikirim ke Jepang banyak yang hilang tiada kabar. Sebagian ada yang bisa pulang ke kampung, di pelukan keluarga. Namun kebanyakan, tidak bisa pulang dengan alasan keterbatasan dana, malu, dan sebagainya.

Ini yang saya katakan biadab. Jepang, telah merenggut kehidupan perawan remaja dari keluarganya, dan cita-citanya yang tinggi.

Mereka, setelah disesap sarinya, dibuang begitu saja. Tanpa pesangon untuk digunakan pulang ke kampung.

Bukunya Pram: Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer.
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...