Monday, 28 August 2017
Sorot Mata
Seusai Maghrib, aku pulang dari jamaah di mushala, ditemani oleh dua keponakanku. Mereka berumur 6 dan 4,5 tahun. Tidak jelas apa motif kedua anak kecil itu ikut pulang ke rumahku. Hanya saja, sepintas aku melihat sorotan matanya, seakan ada duka yang cukup mendalam, tapi tak diungkapkan dengan kata-kata. Melalui matanya yang berkaca-kaca, seolah ia berkata; aku kesepian dan terasing!!
Mungkinkah kesepian juga melanda anak kecil di bawah 10 tahun? Aku tidak tahu, tapi itu mungkin saja terjadi. Anak tak tau caranya untuk berkeluh kesah, selain menangis dan merengek.
Kedua ponakanku, yang 6 tahun adalah perempuan kelas 1 SD, sedangkan yang 4,5 tahun berkelamin laki-laki. Yang perempuan amat ceria, begitu juga yang laki-laki. Namun, keceriaan keponakanku yang lelaki seakan tertutup oleh kedukaannya. Entah apa yang menjadi sebab. Dan aku baru memerhatikan perubahan tersebut tadi.
Keponakan lelakiku adalah seorang anak yang hidup di lingkungan keluarga rumit. Si bapak kandung, maksud hati mengekspresikan kasih sayangnya, malah disambut cemoohan oleh sang istri atau mertuanya. Pun si istri merasa sebal dengan suaminya, yang dalam pandangannya kurang bertanggung jawab. Dua pandangan yang sulit dikompromikan. Semakin rumit, karena kedua-duanya secara pendidikan amat kurang.
Keponakan lelakiku seakan-akan kehilangan sosok ayah. Karenanya, tiap kali aku pulang ke kampung, ia menyambut ku seakan diriku adalah ayahnya.
Keterasingan dan kesepian keponakan lelakiku yang aku baca dari sorot matanya, tentu terjadi karena berbagai kemungkinan sebab. Dan dalam kesimpulan sederhana ku, selain kondisi keluarga yang rumit, juga alam lingkungan yang kian mengasingkan. Dunia modern telah merenggut ruang sosial anak. Mereka dibelenggu oleh teknologi, sehingga merasa malas atau bahkan jijik untuk sebatas bermain dalam arena kenyataan berpijak tanah. Tangan-tangan mereka telah terikat teknologi.
Aku melihat sorot matanya, lalu membayangkan betapa kasihannya keponakanku ini. Ia tidak bisa menikmati apa yang dulu aku rasakan. Ia tak bisa menjelajahi dunia kecil lingkungan sekitar. Namun ia masih untung, memiliki ibu yang cerewet dan tak kenal malu (dalam arti positif). Sang ibu selalu mengajarinya ketegaran, dan kebaikan-kebaikan. Meski tidak jarang ia membentak, tapi dalam rangka mendidik.
Kalau Rendra pernah bercuit, bahwa suatu kesia-siaan belajar filsafat, sastra, dan keilmuan keren lainnya, tapi merasa terasing ketika memijakkan kaki di kampung halamannya. Mungkinkah, keponakanku merasa asing dengan lingkungannya, tanpa lebih dulu belajar ilmu-ilmu keren? Ah, keponakanku, memang tak ada dunia yang indah dan bisa dinikmati sepuasnya selain dunia imajinasi. Berimajinasilah sepuasnya, keponakanku, agar kau bisa hidup bahagia...!!!
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment