Sunday, 30 April 2017
Min Dulu dan Kini
Namaku Min. Kini umurku 19 tahun. Pendiam dan pemalu itu sifatku. Semenjak kecil. Aku pikir, karena pengaruh pendidikan orang tua; meski tidak berlebihan, tapi aku merasa sedikit dimanjakan.
Aku ingat, sewaktu belum akil baligh, punya pikiran aneh. Dan ini berkaitan dengan reproduksi manusia. Waktu itu, barangkali usiaku masih SD, sulit memahami apa itu reproduksi? Bagaimana ibu melahirkan anaknya? Dan bagaimana proses menjadi bayi di perut ibu? Aku masih bingung.
Aku hidup di lingkungan yang agak bergejolak. Bergejolak dalam artian, lingkungan kurang bagus untuk pertumbuhan anak. Pemuda-pemuda sukanya mabuk. Dan sebagian, suka menonton film biru. Aku saja, tahu istilah BF (blue film) ketika kelas enam, secara tidak sengaja.
Terpikir juga olehku, proses pertemuan laki-laki dan perempuan, hingga melahirkan bayi. Aku masih ingat kini, dulu pernah berimajinasi seperti apa berhubungan intim. Alih-alih menikmati imajinasi tersebut, aku justru merasa jijik.
Aku kemudian berandai-andai; kenapa harus berhubungan intim untuk mendapatkan anak? Kenapa tidak dari tabung saja, anak itu dilahirkan?
Di lain waktu, terpikir juga olehku proses bertemunya alat kelamin laki-laki dan perempuan. Karena aku lelaki, jadi terpikir olehku; kok jadi yang dimasukkan potongan daging kecil (klitoris) perempuan ke lubang yang ada di penis. Sakit nggak ya?
Pikiran-pikiran itu muncul begitu saja di usia SD. Dan hal itu berhasil membuatku bingung.
Seiring berjalannya waktu, aku kian berkembang pengetahuannya. Ternyata, kenapa laki-laki dan perempuan harus berkumpul untuk menghasilkan anak, selain untuk kenikmatan mereka, juga proses pembuahan. Tak bakal bisa tanpa bersatunya alat vital laki-laki dan perempuan kemudian melahirkan anak.
Dan entah dorongan apa yang membuat diriku berubah 180%. Yang awalnya jijik dengan imajinasi tersebut, kini menginginkannya. Ingin merasakan proses dalam melahirkan anak, dari awal pembuahan sampai akhir. Ini perubahan yang besar.
Pun dengan imajinasiku, bahwa yang memasukkan adalah perempuan; klitoris ke lubang yang ada di alat vital laki-laki. Ternyata salah. Aku baru tahu, setelah belajar di sekolah, bahwa yang bentindak sebagai 'wadah cocok tanam' adalah perempuan. Daging kecil yang ada di alat vital perempuan, membuka untuk menerima alat vital laki-laki, lalu terjadilah pembuahan.
Aku, Min, menceritakan ini padamu, tak lain untuk wawasan saja. Bahwa anak kecil cukup kesulitan membayangkan proses diciptakan dan dikeluarkan dirinya dari perut ibu. Pemahaman itu semakin terang seiring pertumbuhan dan perkembangan anak. Tanpa diajari, aku telah mencari informasi di berbagai sumber; teman, internet, buku, dll. Dan sebenarnya, ini menjadi tugas orang tua. Bahwa pendidikan seks sejak dini amat penting, untuk membekali anak.
Keputusan yang aku pilih (mencari info di luar lingkungan keluarga) amatlah beresiko. Bayangkan saja jika aku bertemu dengan teman atau artikel yang menjerumuskan; tentu aku tidak sampai ke pemahaman sebenarnya terkait proses reproduksi.
Aku, meski keluarga tidak memberikan pendidikan seks secara tersurat, tapi mereka telah membekaliku pendidikan moral-agama. Barangkali, ini yang menuntunku. Terjerumus itu manusiawi, tapi bangkit dari keterjerumusan adalah perlu, bahkan suatu keharusan.
Aku Min, dan kini telah tumbuh dewasa. Info negatif dan positif tentang reproduksi telah memenuhi cangkang kepalaku. Dan ini berawal dari kegelisahan 'polosku' saat di usia SD.
Jogja April 2017
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment