Thursday, 27 April 2017

Rahasia Umum yang Tak Pernah Diselidiki (PRdCM)



Sebelum aku menulis ini, sebenarnya sudah hampir selesai tulisannya. Tapi karena aplikasi eror, hilanglah datanya. Sehingga, memang harus bersabar untuk menulis ulang dan coba ingat-ingat yang telah dituliskan.

Aku merasa perlu menulis ulang bab dua dalam buku Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer (PRdCM), tak lain untuk diriku sendiri. Agar, kelak bisa lebih mudah mengingat-ingat investasi bacaan yang telah aku bangun susah payah. Jika kalian tertarik dan merasa ini perlu, tak ada larangan untuk membaca. Hanya saja, mohon maaf kalau nanti dalam pemaparannya membingungkan dan sulit dipahami.

Bab dua karya Pram ini bercerita tentang asal perawan remaja yang digunakan alat pemuas seks serdadu Jepang. Mereka berasal dari daerah yang dekat dengan 'pusat pemerintahan', yakni kota besar, madya, kecil, dan kampung dekat kota. Hal ini karena, kualitas perawan remaja lebih unggul dibanding dengan mereka yang berada di kampung pelosok. Mereka yang berada di pelosok telah dimiskinkan Jepang dengan mendominasi hasil panen para petani dan laki-lakinya dijadikan roomusha. Kelaparan pun merajalela. Maka bisa dibayangkan kondisi fisik dan psikis perawan remajanya; tentu tidak menarik serdadu Jepang. Tapi bersyukurlah mereka, karena tidak menjadi korban kebiadaban Jepang.

Kota yang terdata oleh penulis adalah Prambanan, Kudus, Brebes, dan Purworejo. Selebihnya tugas kita sebagai generasi penerus, untuk mengungkap korban kebiadaban Jepang; dengan terus menggali data dari setiap pelosok negeri.

Sebagaimana dalam bab 'Janji Indah' bahwa perawan remaja dijanjikan mendapat pendidikan di Tokyo dan Singapura, sebagai persiapan sumber daya manusia terdidik kelak ketika Indonesia merdeka (versi Dai Nippon). Dan kita tahu kebusukan Jepang ketika ia menyerah ke sekutu. Bahwa janji indah itu hanya kedok, untuk melampiaskan nafsu birahi serdadu Jepang.

Perawan remaja, setelah Jepang menyerah, dilepaskan begitu saja. Mereka dalam keadaan memprihatinkan, tak bisa pulang kampung. Ada yang karena alasan dana, ada pula karena pertimbangan beban moral; berangkat dengan tujuan belajar agar pulang bisa menjadi orang terdidik, kenyataannya mereka hanya dimanfaatkan, dieksploitasi tubuhnya oleh Jepang.

Silakan kalau mau sejenak membayangkan. Bagaimana perasaan mereka? Kondisi jiwa dan fisiknya? Ketika cita-cita luhur mereka, dinodai oleh kebiadaban Fasisme-militerisme Jepang waktu itu.

Soal berapa angka perawan remaja yang dijadikan alat pemuas seks serdadu Jepang, dari pihak Jepang sendiri tidak memberikan keterangan. Ini memang sengaja. Mereka sengaja mengumumkan janji indah mereka secara tidak resmi, barangkali, agar tidak bisa terlacak kejahatan mereka.

Sebenarnya, rakyat Indonesia, semenjak kekalahan Diponegoro, amat loyal dengan pemerintah. Jika saja Jepang datang hanya untuk menggantikan Belanda, tentu rakyat tidak curiga. Namun, baru satu tahun lewat, Jepang telah menunjukkan mukanya yang garang, yang hobi melakukan teror. Orang-orang terdidik (dari umuran SMP ke atas) di daerah Kalimantan, dibunuh, untuk memudakan upaya men-Jepang-kan masyarakat.

Meski demikian, ada segelintir orang dari tubuh fasis yang peduli dengan nasib rakyat Indonesia. Ia adalah Laksamana Angkatan Laut Tadashi Maeda. Namun, bukan berarti kejahatan Jepang terhapus begitu saja karena kebaikan segelintir orangnya.

April 2017
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...