Satu keyakinan idealis saya, bahwa manusia bisa
mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Setidaknya, itu yang saya jadikan
sebagai penghibur, untuk menyelesaikan pekerjaan yang amat menumpuk. Meski,
dari beberapa orang yang saya temui, menceritakan pengalamannya tentang prinsip
idealis mereka, yang berakhir tragis. Mereka bercerita bahwa butuh fokus
(melepas satu-dua pekerjaan untuk mengerjakan satu pekerjaan) agar pekerjaan
bisa selesai. Butuh totalitas!
Sebenarnya, saya juga punya pengalaman bahwa konsep
ideal manusia bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu, kandas di jalan.
Hal itu saya dapat dari hidup berorganisasi. Dalam pengalaman itu, saya melepas
beberapa organisasi untuk mengurus satu organisasi. Ini pengkhianatan saya
kepada diri saya sendiri, yang telah bersusah payah untuk mempertahankan
pribadi multitasking.
Akan tetapi, saya tidak cukup yakin bahwa pengalaman
itu juga berlaku di masa sekarang, masa yang sedang dan akan saya lalui.
Bukankah lubang yang sama jangan sampai menjebak kita? Dan hanya orang-orang
terpilih yang mampu melampaui batas dirinya. Apakah kegagalan saya untuk
mengerjakan banyak hal dalam satu waktu merupakan batas diri saya? Jika iya,
maka tugas saya selanjutnya adalah melampaui batasan itu. Jika saya memang orang
terpilih, tentu dengan mudah maupun sulit, bisa melampaui batas diri.
Saya memang butuh fokus untuk menghasilkan sesuatu
yang maksimal. Namun, ini persoalan manajemen. Kegagalan saya di masa lalu
merupakan kegagalan manajemen. Maka di masa ini dan yang akan datang, manajemen
saya harus diupgrade. Dengan demikian, saya bisa melewati rintangan saya yang
sebenarnya amat sederhana.
Kelabilan saya juga menjadi tantangan. Manajemen
kacau karena pribadi yang labil. Dan jangan mengambinghitamkan “siklus kehidupan”
untuk memaafkan diri sendiri. Sama halnya jangan menjadikan proses sebagai
alasan lambatnya perkembangan kita.
Saya tidak bisa menghindari kehidupan yang monoton.
Akan ada tugas yang menumpuk yang siap menanti saya. Di masa kini telah
terlihat tiga sampai empat tugas yang menumpuk. Entah nanti di masa depan.
Tentunya itu misteri yang amat menarik. Hadapi atau lari terbirit-birit dari
kenyataan. Hadapi, hanya ada dua hal yang bisa saya dapat, kegagalan dan
keberhasilan. Dan satu lagi, kenikmatan. Saya lebih suka yang terakhir. Karena
kenikmatan akan mengalahkan rasa gagal dan berhasil. Apapun yang membuat saya
menikmati, akan membuat saya bahagia.
Dan jika yang saya pilih adalah lari terbirit-birit,
hanya akan tersandung di jalanan. Tersandung yang menghinakan. Karena sandungan
tersebut sama sekali tiada artinya. Dan tidak menutup kemungkinan,
keterbirit-biritan saya akan mengantarkan saya ke dalam lubang kuburan sendiri.
Maka tak ada pilihan lain selain hadapi. Hadapilah,
dengan penuh penghayatan. Saya rindu dengan kenikmatan...
4/2/2017 Jogja
No comments:
Post a Comment