Saturday, 4 February 2017

Multitasking



Satu keyakinan idealis saya, bahwa manusia bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Setidaknya, itu yang saya jadikan sebagai penghibur, untuk menyelesaikan pekerjaan yang amat menumpuk. Meski, dari beberapa orang yang saya temui, menceritakan pengalamannya tentang prinsip idealis mereka, yang berakhir tragis. Mereka bercerita bahwa butuh fokus (melepas satu-dua pekerjaan untuk mengerjakan satu pekerjaan) agar pekerjaan bisa selesai. Butuh totalitas!
Sebenarnya, saya juga punya pengalaman bahwa konsep ideal manusia bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu, kandas di jalan. Hal itu saya dapat dari hidup berorganisasi. Dalam pengalaman itu, saya melepas beberapa organisasi untuk mengurus satu organisasi. Ini pengkhianatan saya kepada diri saya sendiri, yang telah bersusah payah untuk mempertahankan pribadi multitasking.
Akan tetapi, saya tidak cukup yakin bahwa pengalaman itu juga berlaku di masa sekarang, masa yang sedang dan akan saya lalui. Bukankah lubang yang sama jangan sampai menjebak kita? Dan hanya orang-orang terpilih yang mampu melampaui batas dirinya. Apakah kegagalan saya untuk mengerjakan banyak hal dalam satu waktu merupakan batas diri saya? Jika iya, maka tugas saya selanjutnya adalah melampaui batasan itu. Jika saya memang orang terpilih, tentu dengan mudah maupun sulit, bisa melampaui batas diri.
Saya memang butuh fokus untuk menghasilkan sesuatu yang maksimal. Namun, ini persoalan manajemen. Kegagalan saya di masa lalu merupakan kegagalan manajemen. Maka di masa ini dan yang akan datang, manajemen saya harus diupgrade. Dengan demikian, saya bisa melewati rintangan saya yang sebenarnya amat sederhana.
Kelabilan saya juga menjadi tantangan. Manajemen kacau karena pribadi yang labil. Dan jangan mengambinghitamkan “siklus kehidupan” untuk memaafkan diri sendiri. Sama halnya jangan menjadikan proses sebagai alasan lambatnya perkembangan kita.
Saya tidak bisa menghindari kehidupan yang monoton. Akan ada tugas yang menumpuk yang siap menanti saya. Di masa kini telah terlihat tiga sampai empat tugas yang menumpuk. Entah nanti di masa depan. Tentunya itu misteri yang amat menarik. Hadapi atau lari terbirit-birit dari kenyataan. Hadapi, hanya ada dua hal yang bisa saya dapat, kegagalan dan keberhasilan. Dan satu lagi, kenikmatan. Saya lebih suka yang terakhir. Karena kenikmatan akan mengalahkan rasa gagal dan berhasil. Apapun yang membuat saya menikmati, akan membuat saya bahagia.
Dan jika yang saya pilih adalah lari terbirit-birit, hanya akan tersandung di jalanan. Tersandung yang menghinakan. Karena sandungan tersebut sama sekali tiada artinya. Dan tidak menutup kemungkinan, keterbirit-biritan saya akan mengantarkan saya ke dalam lubang kuburan sendiri.
Maka tak ada pilihan lain selain hadapi. Hadapilah, dengan penuh penghayatan. Saya rindu dengan kenikmatan...
4/2/2017 Jogja

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...