Tuesday, 7 March 2017

Janda dan keibuannya


Aku punya tetangga. Ia seorang perempuan dengan 6 orang anak. Beberapa pekerjaan ia lakoni, untuk menghidupi keluarga. Menjadi pemulung, bercocok tanam, dan selebihnya aku tidak tahu. Ia kerjakan itu semua, demi anak-anaknya agar tumbuh dewasa.

Bapaknya? Ia biadab. Setelah ia menuangkan air cintanya kepada sang istri dan melahirkan 6 buah cinta, menghilang. Ia tinggalkan anak-istri, demi perempuan lain. (Ini berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat).

Kondisi ini yang membuat sang janda banting tulang tiap hari. Tak kenal lelah ia bekerja. Namun meski demikian, ia tetap bisa mencurahkan hati dan perhatiannya kepada anak-anaknya. Jadilah dua anak terakhir tetap bisa mengenyam pendidikan.

Tadi kebetulan janda tersebut kebetulan mampir di rumahku. Bersama dengan ibu yang sedang menguliti mlinjo dan ditemani satu ibu muda, janda tersebut bercerita. Katanya, anak terakhirnya yang kini sekolah di SMA, kehilangan STNK. Namun sang anak tidak jujur kalau dirinya habis terkena musibah. Ia jujur ketika merasa terdesak.

Dari cerita sederhana tersebut, pembicaraan mulai melebar. Janda itu bercerita, bahwa motor anaknya selalu ia lap (bersihkan) tiap kali mau berangkat sekolah.

"Eman temen yah (sayang banget sampeyan sama anak sampeyan" kata ibu muda.

"Pas SMP malah pite sing dielapi (Sewaktu SMP sepedanya yang dibersihkan" ujar laki-laki belasab tahun, yang ikut nimbrung.

Si janda, kemudian beli susu kotak, untuk dikasihkan ke anak saudaranya. Ia menyodorkan uang 5rbu ke saya.

Ketika ia sedang memberi susu kotak tersebut ke rumah saudara di sebelah rumahku, ibu muda tak mau kehilangan momen untuk ngrumpi.

"Sama anaknya sayang banget ya dia. Motor saja ia yang bersihkan, padahal anaknya sudah SMA. Kasihan kalau sampai anaknya nakal" katanya ke ibuku.

Karena dasarnya ibuku lebih suka mendengarkan daripada bicara, ia hanya mengiyakan saja. Dan hal itu tak berlangsung lama. Karena yang sedang dibicarakan datang, mengambil kembalian uang. Kareba harga susu kotak 2.500, ia minta kembalian 2.500 dalam bentuk es tea jus seharga 1.000 dan susu sachet cokelat seharga 1.500. Ia kemudian pulang ke rumahnya, tentu saja, untuk bergerak (baca: bekerja).

Jika kau agamawan, tolong jangan lihat dia dari sudut pandang syariat. Ia tak berjilbab. Pakai kaos lengan pendek dan celana pendek. Tentu, tidak memenuhi syariat Islam, yang mengatur bahwa aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

Jika kau melihat dengan kaca mata syariat, tanpa memperhatikan aspek lainnya, tentu dengan mudah kau akan melabeli janda tersebut sebagai muslimah yang tidak tau aturan. Atau label "muslimah ndableg". Atau yang lebih sadis lagi, "perempuan tak tau aturan". Kemudian, kau berusaha untuk menceramahinya, agar segera bertaubat dan berhijab.

Aku tidak bisa bayangkan jika sampai kau tega melabeli janda itu dengan label-label negatif. Bayangkan perjuangannya membesarkan anak-anaknya, sendirian! Sang bapak yang biadab, pergi meneteskan air cintanya ke perempuan lain. Seakan-akan, habis manis sepah dibuang.

Aku juga tak bisa bayangkan, bagaimana gemuruh hatinya, ketika sang mantan suami mampir ke rumahnya. Betapa hancur pastinya, hati dan batinnya.

Samar-samar aku ingat, salah seorang anaknya pernah berujar kepada adiknya. "Besok ketika kau sudah besar, kau akan tahu kebencian kami kepada bapak!"

Kau mau bicara syariat, wahai agamawan? Hanya akan menyakiti hatinya, dan perjuangannya. Bisakah kita menilai orang jangan sepotong-sepotong. Misalnya, orang yang shalat tapi sosialnya buruk, dan orang yang tidak shalat tapi sosialnya bagus dan bisa memberikan manfaat ke orang lain. Bisakah kita mendudukkan mereka sejajar? Kalau bicara soal dosa dan pahala, bukankah itu urusan Tuan kita, Allah?

Yah. Begitulah. Hidup memang kejam sekaligus romantis. Kejam bagi mereka (dan kita) yang merasa suci, karena harus mengumpulkan tenaga untuk membid'ah-bid'ahkan, mengkafir-kafirkan, dan upaya berat lainnya. Romantis, bagi mereka (dan kita) yang dikaruniai kaca mata enam dimensi, yang bisa digunakan untuk melihat bermacam-macam warna dalam satu tubuh. Betapa romantisnya kita, yang memiliki warna berbeda, namun tetap bisa bersama. Aku dan kamu, suatu saat akan melebur menjadi kita. Semoga..

Jadi, aku ini nulis apa ya?

Hormat saya,
Tetangga si janda yang keibuan.
Waluyorejo 7 Maret 2017
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...