Otakku cukup terkuras untuk mencerna jalan cerita
dan karakter dalam Orang Asing-nya Albert Camus. Di dalamnya diceritakan
kehidupan seorang pekerja kantoran bernama Meusult. Sejak pertama aku membaca
dan mengamati tokoh pertama, seolah-olah sedang membaca manusia datar-tak
berperasaan. Sulit untuk memahami karena aku sebagai pribadi, belum pernah
merasakan apa yang dirasakan Meusult. Atau lebih tepatnya, konsepsi tentang
hidupku berbeda jauh dengan Meusult.
Jika aku mencari-cari Albert Camus di dunia google,
aku dapatkan ia sebagai penganut filsafat absurdisme, yang memandang hidup
sebagai aktivitas yang sia-sia. karena pada akhirnya, manusia akan mati, entah
kapan. Aku secara pribadi belum memahami betul apa itu filsafat absurdisme.
Dengan sedikit pemahaman ini, aku coba pahami penggalan-penggalan cerita dalam
novel kecil ini.
Di beberapa ungkapan tokoh utama, bahkan diungkapan
yang pertama ketika aku membaca, terlihat bahwa semangat untuk hidup amatlah
datar. Tidak ada hal yang ingin ia capai dalam hidup. Menikah sama saja dengan
tidak menikah. Menjadi kepala sama saja dengan menjadi karyawan. Karena hidup
hanyalah itu-itu saja, tidak lebih.
Ini menjadi wawasan baru untuk diriku. Bahwa di luar
sana, ada orang-orang berpandangan semacam ini. Bahkan tidak menutup
kemungkinan, Aku dengan tanpa disadari, mengamalkan pandangan absurdisme ketika
berada dalam posisi bosan. Bahwa hidup ini hanyalah rutinitas yang tiada
berujung, kecuali kematian.
Memang, novel lahir tidak terlepas dari kondisi
sosial-ekonomi-politik pada masanya. Pun dengan novel yang baru aku baca ini.
Ia lahir berkat Perang Dunia. Di mana tak ada harapan untuk hidup. Nyawa tidak
ada harganya sekali. Bangunan-bangunan hancur tak bisa ditinggali.
Keporakporandaan selalu mewarnai hari-hari orang-orang tersebut. Maka, dari
hidup yang sulit sekali untuk melihat masa depan, muncullah keputusasaan, dan
hilang harapan.
Dari sini kemudian aku merasa beruntung, karena
lahir dalam rahim Islam. Dibesarkan pula di lingkungan Islam dan pendidikan pun
sangat bernuansa Islam. Meski aku bukan ahli dari ilmu-ilmu dan amalan-amalan
yang dianjurkan Islam, tapi setidaknya keimananku terhadap hari pembalasan
menyelamatkanku dari pandangan absurdisme ini. Di sisi lain, aku menyadari
bahwa hidup memang sebatas rutinitas. Akan tetapi, keyakinanku akan adanya
kampung abadi setelah dunia, menjadi semacam semangat untuk hidup. Karena
(berdasar dogma agama –dan saya meyakini) satu-satunya harapan hidup tanpa
rutinitas yang membosankan adalah kampung akhirat.
Maka selama hidup, aku mesti mempersiapkan bekal
untuk menikmati indahnya kampung akhirat. Pemberontakan dari rutinitas adalah
dengan cara mengisinya dengan apa yang kita senangi. Aktivitas yang ketika
dilakukan, akan memunculkan rasa bahagia dalam diri. Ini adalah pemberontakan
kecil dari rutinitas hidup. Dan dalam ajaran yang aku percayai kebenarannya,
hidup di dunia diistilahkan sebagai aktivitas menanam. Apapun yang aku tanam di
dunia, hasilnya nanti akan dipetik di akhirat. Ini yang bisa dipahami bagi
orang Islam (meski aku tidak berani dan tidak pantas untuk mengklaim keimananku
sudah bagus). Iman yang membuat kita hidup, dan terlepas dari abdsurditas
kehidupan di dunia.
Albert Camus, di bukunya juga mengkritik para
penegak hukum yang mencampur adukkan agama dengan keputusan yang diambil.
Meusult yang tidak percaya adanya Tuhan, dan tidak ingin mendapat
capaian-capaian yang lebih baik dalam hidupnya (Hidup dijalani layaknya air
mengalir), karena membunuh divonis pancung. Ia divonis sebagai manusia yang
berdosa karena jiwanya kosong. Dan di akhir putusannya, Jaksa mengatakan bahwa
hukuman pancung Meusult mengatasnamakan rakyat Prancis. Novel ini mengkritik
hukuman mati.
4/2/2017 Jogjakarta
No comments:
Post a Comment