Aku kira tak ada wadah terbaik bagi mahasiswa selain
organisasi. Organisasi apapun itu. Yang jelas, di dalamnya terdiri dari
berbagai kepala yang warna-warni. Sehingga isinya pun berwarna.
Sering dengan beragamnya warna tersebut, memercikkan
konflik berkepanjangan. Konflik redam saat anggotanya memiliki i’tikad baik
untuk memperbaikinya. Menyingkirkan sejenak egoisme dirinya. Mengorbankan waktu
dan tenaga untuk memikirkan alternatif solusinya. Dan berbagai hal tidak
menyenangkan lainnya, yang justru harus dilakukan.
Jika kau mau hidup nyaman, silakan saja nikmati uang
jajanmu untuk berbelanja di Mall. Kemudian selfielah dengan produk
kapitalis asing biar terlihat keren. Jadilah budak mereka yang taat, niscaya kau
akan bahagia.
Atau jika kau mau terkenal, dekatilah orang-orang besar
yang ada di menara gading sana. Jilatlah kaki-kaki mereka dengan lidah
lembutmu, biar mereka merasa nyaman. Niscaya, kau akan terkenal. Dan kau akan
mendapat modal dari mereka. Meski sebenarnya, kau tetap berada di bawah alas
kaki mereka. Meski tanpa kau sadari. Inikah yang namanya hegemoni? Entahlah,
aku juga tidak tahu. Barangkali kau perlu tanya Gramchi di alam barzakh sana.
Selama hidup di organisasi, aku tak pernah merasa
bahagia, kecuali sepintas lalu. Bahagia seakan-akan enggan masuk ke dalam
dinamika organisasi. Bahkan sebaliknya, sakit hatilah yang aku dapat dan
kekecewaan-kekecewaan lain. Bukan hanya kecewa pada kawan seperjuangan yang
hilang entah ke mana. Bukan pula kekecewaan pada mereka yang tak kuasa untuk
mengangkat beban berat di pudaknya. Melainkan, kekecewaan terbesar adalah
kepada diri sendiri. Diri yang tak becus mengurus organisasi. Diri yang tak
punya inisiatif untuk melakukan pendekatan-pendekatan kepada kawan
seperjuangan. Diri yang secara wawasan organisasi amat minim. Jadi diri
(mencoba) memaklumi kawan-kawan seperjuangan yang hilang entah kemana. Meski di
sisi lain, sikap “mundur teratur” kawan seperjuangan juga membuatku kecewa.
Kecewa adalah hak segala manusia, dari jenis apapun.
Namun, putus asa hanyalah milik mereka yang menyerah dan merasa ciut ketika
melihat gunung sebesar matahari runtuh di hadapannya. Padahal, itu hanya fatamorgana
dan hasil bentukan persepsi kita, yang mutlak disihir oleh pikiran negatif.
Cerita organisasi adalah cerita tentang perjuangan.
Organisasi hanya bisa menjanjikan kesengsaraan dan kemelaratan. Hanya
menjanjikan kekecewaan dan kesakit hatian. Itu saja. Lebih tidak.
Maka, jika kau memang ingin mengembangkan potensimu
(saja), saranku jangan masuk ke dalam organisasi. Penulis bisa hebat hanya
dengan belajar otodidak. Membaca karya-karya penulis berkualitas dari berbagai
belahan dunia. Jadilah ia penulis andal.
Akan tetapi, jika ada sedikit saja keinginan untuk
menularkan semangat berkarya kepada kawan-kawan tersayang, cobalah ikut
organisasi. Meski harus diingat, bahwa ikut organisasi hanya akan
membuang-buang waktu saja. Terlebih organisasi yang hidup malu mati segan.
Tentu semakin sia-sialah waktumu dibuang. Hanya kelelahan yang kau dapat.
Maka, pikirkanlah matang-matang jika ingin masuk
organisasi. Aku adalah termasuk korban ambisi diri yang tak terkendali.
Ambisinya (dalam pandanganku) tak ada salahnya, karena membawa misi perbaikan.
Namun, kapasitas diri yang minim, yang membuat realisasi ambisi tersebut
ambyar. Akhirnya, aku kecewa dengan kaburnya kawan-kawan seperjuangan,
sekaligus mereka (barangkali) juga kecewa dengan diriku yang tak becus merawat
hubungan dengan mereka. Bahkan bisa jadi, mereka juga kecewa karena sewaktu di
organisasi, hanya dimanfaatkan tenaganya saja, bukan orangnya secara utuh.
Hanya skillnya yang diambil, sementara sisi kemanusiaannya jarang tersentuh.
Inilah yang menurutku membuat mereka kompak “mundur teratur”. Karena
ketidaknyamanan dalam sebuah organisasi, membuat orang enggan pula untuk berjuang.
Maka bukan saatnya lagi saling menyalahkan dan
melakukan alibi. Tak ada pihak yang mutlak salah, pun sebaliknya.
Jika egoisme masih dominan dalam diri seseorang, sulit
baginya untuk berbagi dengan orang lain. Termasuk, berbagi kesakitan. Berbagi
kebahagiaan. Dan, berbagi amanah organisasi.
Perjuangan masih panjang. Diam saja pengkhianatan,
apalagi mundur?
Jogja,
4 Maret 2017
No comments:
Post a Comment