Wednesday, 17 May 2017

Gara-gara Orang Baik




Tak selamanya menjadi baik itu baik pula efek yang ditimbulkan. Sebagai misal, lelaki desa yang selalu rajin beribadah, lalu masyarakat generasi tua menjadikanya teladan. Sehingga para orang tua di desa gemar membandingkan anaknya dengan anak yang baik tadi.

Pembandingan memang menyakitkan. Bayangkan saja, kita dibandingkan dengan orang lain, sementara setiap kita punya kelebihannya masing-masing. Contoh, anak yang baik itu rajin ibadah, tapi apakah iya sosialnya baik? Belum tentu.

Ini yang tidak disadari oleh orang tua. Pembandingan yang dilakukan terus menerus, justru akan membuat sekat antara anaknya dan anak yang baik itu. Lebih lanjut, menumbuhkan dengki dalam diri anak. Dampaknya, sikap si anak kepada anak baik itu, yang mengarah pada kejelekan.

Lantas ini salah siapa? Atau dengan bahasa lain, apa yang harus dilakukan?

Tentu kita tak bisa menyalahkan satu di antara ketiganya. Mari kita korek satu-satu.
Orang baik: motif ia berbuat baik tentu tak bisa disalahkan. Ia berbuat baik karena tahu, bahwa hanya dengan kebaikan dia bisa mencapai kebahagiaan. Bahagia dunia dan akhirat. Dengan kebaikan pula, ia bisa puas. Jadi antara dirinya dan kebaikan seakan sudah menyatu. Ibadah yang ia lakukan, membuatnya nyaman dan jika ditinggalkan membuat gelisah.

Lantas ketika ia dijadikan teladan, lalu justru membuat orang (anak) yang 'dipaksa' meneladani oleh orang tuanya, apa yang harus ia lakukan? Aku pikir tak ada yang bisa dilakukan, kecuali terus melakukan kebaikan. Menyambung silaturahmi dengan orang yang benci dengan kita, kualitasnya lebih baik. Tapi kalau belum bisa, cukup dengan tampakkan wajah berseri atau senyum, ketika bertemu dengan orang yang benci kita.

Orang tua: aku yakin, motif orang tua pasti baik. Ia ingin memberikan motivasi ke anaknya agar bisa lebih baik lagi, dengan menampilkan teladan tadi. Namun perlu disadari, seringkali motivasi dari luar justru menjadi tekanan luar biasa bagi siapapun. Apalagi anak, dan orang tua yang menekan.

Perlu diingat juga, bagi orang tua, bahwa setiap anak dilahirkan berbeda. Sekali-kali lihatlah sisi putihnya si anak, jangan melulu titik hitamnya.

Ketika sampai kepada pemahaman bahwa setiap anak berbeda dan memiliki kekurangan-kelebihan masing-masing, baru dialog sehat bisa berjalan. Kalaupun si orang tua ingin menghadirkan si teladan tadi, maka hadirkanlah dalam suasana dialog, bukan ceramah. Misalnya dengan pertanyaan "Menurutmu si Anu kayak apa si orangnya?"

Dengan demikian, bukan penilaian orang tua yang dijadikan teladan, melainkan penilaian anak itu sendiri. Orang tua akan tahu, penilaian anaknya terhadap sosok teladan. Dan tentu, jika demikian, anak akan berpikir lebih sehat untuk mengambil sikap; melawan atau menerima dengan menyaring dulu.

Anak yang dibanding-bandingkan: pembandingan memang menyakitkan. Tapi anak perlu tahu bahwa tak ada orang tua waras yang ingin kejelekan buat anaknya. Prinsip ini, jika dipegang, kita akan lebih bijak dalam merespon apa pun perkaan orang tua.

Dalam kasus pembandingan di atas, kita memang harus 'lebih dewasa' dari orang tua. Artinya, jangan mudah tersulut emosi dan nilailah orang tua atas dasar positive thinking; barangkali orang tua luput, kalau setiap anak itu beda.

Dan bagi kita, yang berada di posisi luar lingkaran, bisa menyaksikan layaknya sinetron. Sinetron yang mencerdaskan tentunya.. Begitu...

Jogja 2017 Mei
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...