Sunday, 31 July 2016

Sastra Petani


sumber gambar: kumpulanspasi.wordpress.com

Butuh seharian panas-panasan di sawah untuk mengumpulkan Rp 40.000,-. Ini buruh tani laki-laki. Untuk perempuan, selisih lima ribu lebih rendah. Tentu saja, uang segitu tak cukup untuk biaya sehari-hari, terlebih jika punya anak yang sekolah.

Beberapa hari lalu, saya berkesempatan untuk ikut bercocok tanam di sawah. Waktu itu hari Jum'at. Ini kejadian di sawah bapak yang mempekerjakan dua lelaki tua untuk menanam kacang tanah. Saya dan adik dilibatkan untuk bekerja di sawah, karena bapak mengajar di SD. Liburan panjang anak-anaknya digunakan bapak untuk melatih anaknya untuk kerja.

Karena Jumat, jam kerja hanya sampai pukul 11, kemudian dilanjut setelah duhur, jam satu. Tapi waktu itu, bapak hanya memperkerjakan mereka berdua setengah hari. Sisanya akan diselesaikan sendiri.

Bukan bagian ini yang menarik. Saya melihat, dari komunikasi yang terjalin antar buruh tani. Menarik, karena umpatan dan segala hal yang terucap, penuh dengan misteri. Sampai saya tak bisa memahami makna dari ucapan mereka. Mereka saling balas dengan kode. Kerap juga, mereka melontarkan ujaran yang bernilai filosofis dan nasihat bijak.

Ada satu-dua ujaran yang sepertinya saya paham.

Awalnya, ujaran ini terlontar lantaran kondisi jalan di sekitar dusun sedang dalam pembangunan, maka tak bisa dilalui kendaraan. Semacam sumpah serapah lah.

"Ora ana dalan sing kepenak (nggak ada jalan yang enak)"

"Dalan anak ya kepenak (jalan anak ya enak)"

Paham, bukan? Itulah sepenggal obrolan dua buruh tani yang terekam saya saat menemani mereka bekerja di sawah.

Memang leluconnya berbau selangkangan. Tapi begitulah yang buruh tani lakukan untuk menghibur diri di tengah sergapan panas-letih karena sengatan matahari.

Jadi saya pikir, menarik untuk menggali musabab kebiasaan petani yang saling-serang dengan umpatan. Atau mungkin, sudah ada yang meneliti soal sastra petani (pesisir)? Mengingat begitu tinggi, dalam ukuran saya, nilai sastra yang terkandung di setiap ujaran mereka. Karena sangat disayangkan jika kekayaan local wisdom ini hilang tertiup angin.

Jogja,31 Juli 2016

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Saturday, 30 July 2016

Raden




Ini cerita seorang sahabat, yang pada tahun 2016 terhitung sudah 5 tahun lebih mengais rejeki di Negeri Jiran. Ia remaja yang setelah menamatkan jenjang MTs langsung terjun ke dunia kerja. Orangnya tinggi dan kurus, tapi siapa sangka dalam tubuh kurus tersebut terpendam semangat dan ketekunan luar biasa.

Ceritanya, ia di tahun 2009 dinyatakan lulus dari Madrasah Tsanawiyah Wathoniyah Islamiyah, Karangduwur, Petanahan, Kebumen. Sekolah ini terbilang memiliki banyak muatan pelajaran agama Islam. Setiap siswa di sekolah ini, tentu tak asing dengan aktivitas hafalan dan tak jauh dari bahasa arab. Entah besar atau kecil, tetap ada pengaruh yang membekas dalam diri siswa setelah lulus. Ini yang saya amati ada dalam diri sahabat yang akan saya ceritakan.

Lulus MTs, ia meneruskan 'belajar' (karena belajar tak harus di bangku sekolah) di Bandung. Bukan dalam lembaga pendidikan, melainkan di dunia kerja. Ia bercerita, berkali-kali pindah tempat kerja di Bandung, karena tak nyaman. Ia juga sempat menganggur, barangkali karena belum menemukan kenyamanan dalam bekerja.

Ia oleh sebagian kawannya dipanggil Raden, atau Den. Panggilan ini ia dapat ketika bekerja di Malaysia, di perkebunan yang mengurusi tanaman hias. Malaysia jadi tempat ia 'belajar' setelah di Bandung karena mungkin tidak krasan.

Menariknya, Raden ini cukup suka dengan aktivitas membaca. Saya amati dalam dua tahun belakangan, ia suka buku-buku bertema keislaman dan keluarga. Jika ingat surat al-'Alaq ayat satu, tentu orang ini berupaya mengamalkannya. Perintah 'membaca', baik sadar atau tidak, oleh Raden sudah diamalkan. Ya, buktinya kesukaannya membaca buku itu dan membaca (niteni) lingkungan sekitar.

Kecintaannya pada buku, terlihat ketika di tahun 2015 ia saya ajak ke Jogja, untuk refreshing dan mampir ke toko buku. Soal buku apa yang ia beli, saya tidak ingat. Yang jelas, ada semangat yang memancar dalam dirinya dan seolah ia berkata dalam diam; aku haus buku bacaan dan harus tetap belajar.

Seingat saya, selama 'belajar' di Malaysia ia tiga kali pulang dan saya bisa menemuinya. Tahun 2014, 2015 dan 2016. Tahun 2014, memang ada kenangan menarik yang berhasil kami ukir, bertiga bersama satu lagi teman saya yang bernama Herman. Kami berkunjung ke Jogja naik motor, untuk menelusuri bukit Gunung Api Purba. Bertiga kami kesitu, dan iseng-iseng buat video via ponsel. Video tersebut saya upload di Youtube. Ini kenangan di tahun 2014, yang berhasil kami abadikan. Selain itu yang cukup berkesan, Raden mengantuk ketika dibonceng dengan motor. Sehingga, ketika kami pulang (waktu itu sudah malam) saya lihat Raden sudah K.O. di jok belakang, tidur dengan tubuh miring ke kanan, seakan mau jatuh.

Tahun 2015, di suasana lebaran, kami bertiga juga berkunjung ke Jogja. Waktu itu hari Senin. Rencananya, kami akan berkunjung ke Benteng Vredeburg, di jalan Malioboro. Hanya saja, waktu itu tutup. Setiap senin memang tutup. Sehingga, niat mau bikin video yang kedua kalinya gagal. Untuk pelampiasan, kami belanja celana jeans di pasar Bringharjo. Saya dan Herman beli celana, sementara Raden beli baju untuk adik kecilnya.

Untuk mengabadikan momen, kami berfoto-foto ria di daerah Kepatihan, Gedung Dinas Gubernur DIY, seusai shalat Asar di masjid. Karena hanya itu yang bisa kami lakukan. Tentu, habis foto kami cap cus balik ke kampung asal, Waluyorejo, Puring, Kebumen. Ini kenangan kloter kedua kami main di Jogja.

Dan tahun ini, 2016, kami tak ada keinginan lagi membuat video. Hanya ada keinginan muncak, tapi belum tercapai. Saya juga sempat kaget plus takjub, bahwa Raden pulang kampung untuk mengikat pujaan hatinya, yang ia panggil ninine, untuk menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Ini di luar dugaan saya.

Di tahun ini pula, kami mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Saya dengan urusan kuliahnya. Herman dengan pertanian dan teman-temannya. Sementara Raden dengan sawahnya yang begitu dicintainya. Meski begitu, tetap saja cintanya pada ninine lebih tinggi dibanding pada sawahnya. hehe

Tentu saja, ini membuat kami kesulitan berkumpul. Hasilnya, ada sedikit acara bersama yang kami lakukan, ke Pantai Kali Gajah, tidur di Mushola di Pantai Suwuk, dan ngobrol di rumah kakeknya Raden sampai larut. Tidak terlalu muluk-muluk lah pokoknya. Sekali, saya (dan saya yang lain) juga sempat main bareng Raden dan ninine. Kenangan-kenangan kecil coba kami bangun, untuk dirangkai menjadi sesuatu yang bermakna, untuk diambil hikmahnya.

Waktu yang begitu singkat, hingga kami tak bisa banyak mengukir kenangan (sejarah) melebihi yang saya sebutkan tadi. Masih ada beberapa hal yang ingin kami lakukan bersama, tapi waktu dengan pedangnya, memangkas harapan tersebut.

Tapi beginilah, dan saya jadi belajar, bahwa hidup akan terasa begitu singkat, jika dijalaninya dengan suka cita. Tapi jika demikian, bukan kekecewaan yang membekas, melainkan harapan untuk bertemu kembali di masa yang akan datang.

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan kelas dunia, mengatakan bahwa segala yang terucap akan binasa tertiup angin. Tapi, apapun yang tertulis, akan abadi selamanya, dan menjadi catatan sejarah serta dikenang masyarakat. Saya tunggu ukiran sejarah kita di masa yang akan datang. Semoga, perjalananmu ke Negeri Jiran, selamat sampai tujuan dan diberi keberkahan.

Saya tunggu kabar baiknya. Selamat berjuang, sobat!

Waluyorejo, 30 Juli 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Friday, 29 July 2016

Senyuman


sumber gambar: modifikasi dua sumber

Saya punya nenek dari pihak bapak yang sudah meninggal ketika saya kelas enam SD, tahun 2006. Dari pihak ibu, saya juga punya nenek yang sampai kini Alhamdulillah masih sehat, dan paling tidak masih bisa melihat dan membuat nenek tersenyum. Senyuman yang khas.
Sementara kakek, kebetulan dari pihak ibu maupun bapak, sama-sama tidak punya. Karena sudah meninggal sejak ibu dan bapak masih usia dini, masih kecil. Jadi, saya ceritakan saja yang berkaitan dengan nenek.

Ini soal pesona senyuman seorang nenek. Saya rasakan, ketika ada nenek (dan kakek) tersenyum, seolah adem ayem tentrem.
Ini yang menjadi pertanyaan saya. Apa bedanya senyuman nenek dengan seorang gadis cantik atau remaja lelaki tampan? Tentu kamu pernah toh, lihat remaja tersenyum. Kadang kamu ungkapkan kekaguman dengan istilah; manis, senyumanmu mengalihkan perhatianku, dan sebagainya.

Jika disuruh memilih, saya kira, banyak yang menanti senyuman gadis manis ketimbang nenek yang sudah reot. Tentulah, senyuman daun muda terlihat lebih seger. Tapi jika bicara soal ketulusan, atau semacamnya, tulus mana antara mengagumi senyuman gadis atau nenek?

Saya, lelaki yang tertarik dengan gadis, ketika melihat senyumannya, ada rasa ingin memiliki secara pribadi. Saya menginginkan senyumanmu, gadis, beserta dirimu. Hal inilah yang saya rasakan ketika melihat senyuman gadis manis. Nggak nguatin.

Perasaan ingin memiliki lantaran senyuman, tentu muncul karena kita punya nafsu. Nafsu butuh pelampiasan, dan kepemilikan adalah salah satu bentuk pelampiasan nafsu. Dan senyuman gadis yang begitu manis, kerap membuat lawan jenis berimajinasi yang cukup liar. Itu senyuman gadis dan efek lingkungan yang dimunculkan.

Ingin memiliki menjadi efek yang muncul dalam diri saya, ketika melihat senyuman gadis. Berbeda efeknya ketika saya melihat senyuman seorang nenek. Rasa iba sekaligus bahagia, kerap menyusup diam-diam dalam hati, sepersekian detik setelah melihat nenek tersenyum. Sama sekali, tak ada keinginan untuk memiliki senyuman itu. Hanya mengagumi, betapa indah, terlebih yang mencipta penyebab keindahan tersebut.

Selain itu, tak ada hasrat menggebu-gebu untuk memilikinya. Karena tak ada sesuatu yang menarik dalam diri sang nenek, kecuali senyuman itu sendiri.

Mungkinkah senyuman seorang nenek adalah senyuman yang otentik; asli. Senyuman yang bisa menimbulkan munculnya sisi kemanusiaan dalam diri manusia. Siapa yang bisa menahan untuk tidak merasa iba atau adem ketika melihat nenek tersenyum.

Dan pada akhirnya, banyak istilah (meski bias gender) yang kerap muncul dari kekaguman (atau nafsu?) seorang kepada lawan jenisnya. Karena lelaki, jadi saya menggunakan sudut pandang laki-laki. Banyak yang mengagumi bahwa gadis itu senyumannya manis, menggoda, sampai tak sadar kalau celananya makin sesak.

Dan bagi saya, senyuman terindah adalah senyuman nenek. Senyuman yang mampu mendatangkan ketentraman dan rasa belas kasihan. Dan untuk membuatnya tersenyum, yang mudalah kuncinya. Mari berlomba mengukir senyuman di wajah nenek, sebelum tergoda senyuman gadis. Haha.

Waluyorejo, 29 Juli 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Thursday, 28 July 2016

Kaki Tohir


sumber gambar: health.detik.com

Sekira waktu dhuhur, bapak, ibu, saya, dan kakak sepupu saya serta anaknya sedang bersantai di teras rumah. Sembari memilah biji kacang tanah untuk ditanam hari Jum'at depan. Kami asyik masyuk berbincang, ngalor ngidul tanpa arah tapi cukup membuat suasana hangat.

Seorang laki-laki tua, dari kejauhan terlihat membawa pentung (berukuran kecil) berjalan menghampiri. Ia dikenal kurang suka berbincang, tapi pada waktu itu ia datang untuk bergabung di teras rumah. Paling tidak itu sangkaan awal saya, ibu, dan bapak.

Ia membuka bercakapan dengan suara berat dan bergetar, seolah sedang menahan suatu beban yang berat. Penasaran, saya lihat raut mukanya. Terlihat menyala dengan mata sedikit berair, seolah sedang menahan amarah. Dan beberapa detik saya amati, mulai terlihat niatnya. Ini saya simpulkan dari raut muka dan cara bicara serta sesuatu yang ia sampaikan. Ia, Kaki Tohir, mau melabrak bapak.

Ia merasa tersinggung ketika beberapa waktu lalu, bapak mengatai ia "main terus, ya?" kepada Kaki Tohir. Ia juga bercerita, bahwa bapak pernah mengatai "kayak nggak doyan makan, ya". Padahal, perkataan yang terakhir ini tidak pernah dikatakan bapak. Hanya, barangkali, diimbuhi Kaki Tohir, karena memang sudah tua dan bsa jadi agak pikun. Kesulitan mengingat suatu peristiwa atau tidak mampu membedakan suatu peristiwa. Karena tua juga, mungkin membuat ia mudah tersinggung.

Saya dan ibu menjauh dari bapak dan Kaki Tohir yang sedang tegang. Kaki Tohir tidak mau kalah. Meski sudah dijelaskan duduk perkaranya, tetap saja ia tida mau menerima apa yang dijelaskan bapak. Ia tetap menyalahkan bapak, karena sudah 'menghina' dengan mengatai dua perkataan tersebut di atas.

Bahkan ia berkata dengan nada marah "memangnya kamu ngasih makan saya? Sejauh ini, anak-anak saya tidak pernah ada yang berbuat begitu pada saya. Kecuali satu, Mujiran, tapi aku tidak takut padanya."

Tidak ingin persoalan berlarut, bapak berkali-kali minta maaf pada Kaki Tohir. Meski sampai mereka berdua berpisah, permohonan maaf bapak tidak diterima. Hanya pemakluman yang bapak lakukan waktu itu.

"Kamu minta maaf pada dirimu sendiri. Tidak mengulangi perbuatan yang kemarin."

Dan lagi-lagi, bapak hanya bisa memaklumi. Karena Kaki Tohir memang sudah tua. Dari kejadian ini, bapak.yakin bahwa Kaki Tohir sedang ada masalah dengan keluarga, anak-anaknya. "Ini buat peringatan, karena bapak sudah mulai tua" kata ibu dengan tertawa.

Dan berapa  lama setelah kejadian, bapak dihampiri seorang tetangga, yang katanya bertemu Kaki Tohir dan diceritai bahwa dirinya telah melabrak bapak. "Aku kes ndomaih Siman," katanya.

Waluyorejo, 28 Juli 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Linear (1)


sumber gambar: www.merdeka.com

Sudah pernah saya tuliskan soal linearitas beberapa waktu lalu. Yaitu, suatu hal yang berada dalam garis lurus. Tulisan sebelumnya, saya ceritakan kebimbangan pribadi soal ketegasan dalam memilih perihal linear atau tidak dalam mengembangkan diri. Tentunya, sebagai mahasiswa. Yang di satu sisi, ada tuntutan profesi sesuai jurusan yang dipilih. Sementara di sisi lain, pengalaman akademik maupun non-akademik memberi ruang berpikir untuk tetap dalam koridor (jurusannya) atau mengikuti kesenangan diri dalam suatu hal, semisal kegiatan sosial.

Tapi tadi, ketika saya meladeni seorang ibu muda beranak dua yang membeli Es, ada kegelisahan ibu tersebut yang ia ceritakan. Anak keduanya yang sekolah di SD IT, merasa kebingungan ketika menemui perbedaan ajaran agama di tempat ia ngaji. Ia sekolah di lembaga yang dekat dengan model Muhammadiyah. Sementara tempat ngajinya cukup kental dengan nuansa ke-NU-an. Ibu muda tersebut khawatir, jika anaknya kebingungan memilih dua hal yang berbeda untuk dijadikan pegangan hidup. Maka, ia berencana untuk memindah anaknya ke tempat ngaji yang seideologi (sepaham) dengan SDnya. Alasannya, agar kelak anak tidak kebingungan untuk memilih nilai-nilai keislaman yang akan dijadikan sebagai prinsip.

Ini linear menurut hemat saya. Dan tentu, alasan demikian sangat logis, karena anak seusia SD belum bisa dengan mudah membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Melalui nilai-nilai keteladananlah, anak bisa belajar memahami apa itu baik dan apa itu buruk.

Saya tentu setuju soal linearitas dalam kasus ini. Untuk membekali anak prinsip akidah yang kuat, diperlukan perencanaan pendidikan yang jelas. Pertentangan-pertentangan soal pengalaman agama, dalam kasus ini, diminimalisir. Ini untuk menghindarkan anak agar tidak kebingungan. Sementara untuk menanamkan toleransi anak menanggapi perbedaan di lingkungan, bisa dilakukan secara bertahap. Yang jelas, harus ada satu prinsip yang dipegang anak.

Ini yang membuat saya insaf, bahwa satu teori tidak bisa memecahkan berbagai persoalan hidup. Ada pertimbangan lain yang patut diperhatikan. Misalnya, aspek psikologis, lingkungan, dan sebagainya. Jika ini sudah dipertimbangkan, bolehlah kemudian digunakan teorinya.

Dan dari curhat hati ibu muda tersebut, saya jadi mengerti satu hal; masyarakat desa di lingkungan saya mulai sadar betapa penting pendidikan agama untuk anak. Ini langkah kecil, berawal dari keluarga, yang akan membawa perubahan besar kelak di masa depan. Semoga.

Waluyorejo, 27 Juli 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Wednesday, 27 July 2016

Hutan Mangrove


sumber gambar: piknikasik.com

Berempat saya berkunjung ke Hutan Mangrove, daerah Pantai Logending, Kebumen. Di awal pintu masuk, per orang ditarik Rp 4.500,- untuk registrasi. Saya masuk, dan menuju terpal yang berada di tepi sungai. Di situlah, motor saya diparkir dengan harga Rp 4.000,-. Turun dari motor dan baru saja melangkah berapa meter, seorang laki-laki parubaya dengan rambut disemir orange, menyalami saya. Ia menanyakan apakah saya dan teman-teman ingin berkunjung ke hutan Mangrove.

Oiya, untuk mencapai hutan Mangrove, diperlukan perjalanan sekira 3 menit menggunakan kapal kecil bermesin, kapal nelayan. Ada dua paket yang ditawarkan. Pertama paket langsung ke track, Rp 15.000,-/orang. Kedua, paket telusur, Rp 25.000,-/orang. Jika memilih paket telusur, tentu kita bisa menikmati keindahan hutan Mangrove dari atas kapal, berkeliling. Hanya saja, waktu itu saya memilih paket kesatu, langsung ke track (jembatan di sela-sela pohon Mangrove). Alasannya cukup klasik; uang menipis.

Saya rasakan kesejukan ketika melewati jembatan kayu yang membelah perut hutan Mangrove. Di akar-akar pohon Mangrove, terlihat beberapa biota air payau hidup tenteram, tak ada yang mengusik. Ada juga beberapa ikan yang menempel di akar Mangrove, ikan yang bisa meloncat dan berjalan di daratan. Nama ikannya belum tahu, sobat bisa searching di internet. Beberapa kepiting juga terlihat sedang bersantai, mengeringkan badannya. Juga ikan-ikan kecil yang berenang bergerombol, seolah sedang menikmati keindahan dan kenyamanan yang dibawa Mangrove.

Ini luar biasa, karena baru pertama kali saya berkunjung ke sini. Pernah beberapa hari lalu, saya berkunjung ke Pantai Congot, Kulon Progo. Atau tepatnya di Jembatan Mangrove yang melintang di sela tambak udang yang kosong. Pohon-pohon Mangrove di situ memang tumbuh subur, namun air di bawahnya surut, sehingga tak terlalu sedap dipandang. Dan setelah saya main ke Mangrove Kebumen, di Logending, jauh sekali perbedaannya. Nampak jauh elegan Mangrove di Kebumen daripada di Pantai Congot Kulonprogo.

Satu hal yang membuat saya kagum, adalah kebersihannya yang di jaga. Berbeda dengan Mangrove di Kulonprogo, yang masih banyak ditemukan sampah plastik berserakan di sela-sela pohon Mangrove. Sangat disayangkan, karena keindahan Mangrove harus pudar dengan kehadiran sampah yang dibawa pengunjung.

Bukan bermaksud membandingkan, tapi sangat disayangkan jika Mangrove yang memiliki fungsi, salah satunya, mencegah abrasi, dipenuhi sampah. Padahal banyak makhluk hidup yang menggantungkan masa depannya di Mangrove.

Kembali ke Mangrove sekitar Logending. Ini nyata. Saya coba ceritakan apa yang dilihat oleh mata saya.
Sejauh mata memandang, di setiap sela Mangrove dan rute telusur kapal pengunjung yang membelah perut hutan Mangrove, tidak terlihat sampah plastik. Hanya ada sampah daun magrove dan beberapa ranting pohon, yang tentu mudah membusuk dan bisa menjadi sumber makanan biota di Mangrove. Beberapa titik jembatan juga disediakan tempat sampah.

Di tengah hutan Mangrove, ada 2 rumah kayu dan satu rumah sedang di bangun. Rumah kayu pertama, kerap digunakan untuk menurunkan dan menaikkan penumpang. Sementara yang kedua, untuk sekadar melepas lelah, karena letaknya jauh ke dalam, tak ada akses kapal ke sana.

Saya masuk ke rumah kayu pertama. Dua lantai. Di lantai pertama, saya dapati beberapa poster soal Mangrove. Juga beberapa pihak yang berkontribusi dalam mengelola hutan tersebut.

Dari poster tersebut, saya jadi merasa ingin menanam Mangrove di pantai selatan rumah. Kebetulan ada air payau, sungai yang mengalir ke laut. Sangat cocok untuk ditanami Mangrove. Selain untuk upaya konservasi pantai selatan dari abrasi, juga menyediakan tempat refreshing berbasis lingkungan alam untuk masyarakat. Juga, jika memang berhasil, untuk menambah pendapatan warga setempat.

Bahkan sempat ada keinginan, menemui kades untuk membicarakan soal ini. Karena saya melihat potensi obyek wisata yang luar biasa. Siapapun kamu, yang punya ide, pengalaman, atau saran, tentu sangat saya tunggu. Karena bagaimanapun juga, saya jatuh cinta dengan hutan Mangrove di Logending, dan ingin memboyongnya ke Desa Waluyorejo.

Akhirul kalam, semoga dikabulkan.

Waluyorejo, 26 Juli 2016

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Bapak


sumber gambar: kumpulankaryapuisi.blogspot.kr

Saya ceritakan, harapan seorang bapak yang dipikulkan pada pundak anaknya. Harapan ini yang sangat mewarnai keputusan bapak memilih lembaga pendidikan yang mampu mengantarkan anaknya pada gerbang harapan tersebut. Saya patut bersyukur, karena semangat bapak untuk menjadikan anaknya sesuai harapan bapak, menjadikan saya bisa mengenyam pendidikan yang baik.

Sedikit saya ceritakan tentang bapak, biar nanti mudah mengidentifikasikan harapan bapak dari anaknya. Bapak adalah anak terakhir dari tiga bersaudara, satu-satunya anak laki-laki. Tinggal di daerah pesisir, dengan hanya seorang ibu, karena bapaknya sudah meninggal sebelum bapak bisa mengenali wajahnya.

Ibunya bapak orangnya keras dan pekerja keras. Dalam pandangan ibunya, bapak mendingan kerja saja daripada sekolah, untuk membantu perekonomian keluarga yang pas-pasan. Tapi entah apa yang membuat bapak keras kepala untuk tetap sekolah. Meski sempat berhenti dua tahun ketika kelas empat, ia tak malu melanjutkan sekolahnya. Katanya ketika bercerita kepada saya, selama dua tahun tak sekolah, ia merasa sadar bahwa pendidikan itu penting. Dari kesadaran ini, ia terdorong untuk back to school.

Tentu saja, ia menjadi murid tua di sekolahnya, SD. Bahkan oleh tetangganya kerap diejek dengan olokan "wis tua tesih sekolah bae (sudah tua masih saja sekolah)". Tapi olokan tersebut justru mempertebal iman bapak, bahwa pendidikan itu penting. Terlebih, ia memiliki cita-cita menjadi guru.

Lulus SD, bapak melanjutkan ke Madrasah Mamba'ul Ulum (MMU), setingkat SMP. Jarak sekolahnya dengan rumah sekira 5 kilo meter. Dari nama sekolahnya saja sudah kelihatan, bapak mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan agama (milik NU). Ketika kelas dua, ia bergabung dengan OSIS. Alasannya, agar bisa tidur di sekretariat.

Dari MMU, lulus, bapak melanjutkan ke Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat dengan SMA. Namun tak semudah yang dikira, sempat ada kesulitan yang membuat bapak putar otak. Untuk masuk ke PGA, bapak musti bayar Rp 60.000,-. Padahal, waktu itu bapak sama sekali tidak punya uang. Ia ceritakan kepada ibunya, bahwa ia (diam-diam) daftar PGA dan butuh biaya untuk registrasi.

Mendengar tutur anaknya, ibunya, namanya Kasini dan akrab dipanggil Sarimpi, menangis. "Lah kowe sekolah, mbayare karo apa? (Lah kamu sekolah, bayarnya pake apa?" ujarnya sesaat setelah bapak bercerita.

Bapak sempat bingung. Maka ia nekat mendatangi calon gurunya di PGA. Ia memberanikan diri untuk meminjam uang padanya. Dan darinya, bapak mendapat pinjaman Rp 30.000. Dan tanpa sepengetahuan bapak, ibu Kasini menjual pedetnya (anak sapi), laku Rp 75.000,-. Uang itu bapak pakai untuk menyelesaikan registrasi. Sisanya, ia gunakan untuk membayar kos, karena jarak rumah dengan sekolahnya sekira 17 kilo meter.
Cerita bapak ini sering diulang-ulang dikisahkan pada anak-anaknya. Saya sendiri merasa salut, dengan perjuangan bapak. Ia juga kerap berujar, bahwa dirinya tidak mau melihat anaknya mengalami nasib sama dengan bapaknya. Makanya, bapak sangat memperhatikan pendidikan anaknya.

Kini, bapak menjadi guru PNS di SD Pasir, Kec. Ayah, Kab. Kebumen. Untuk jadi PNS pun, bapak menunggu 20 tahun sembari mengabdi sebagai guru honorer. Ia diangkat ketika kursi Bupati Kebumen diduduki oleh Mbak Rustriningsih. Makanya tak heran bapak sesekali pernah bercerita, bahwa mbak Rustri sangat besar jasanya pada bapak.

Saya kira dari pengalaman bapak ini, sehingga beliau begitu memperhatikan pendidikan anaknya. Juga profesinya sebagai guru PNS, mendorong bapak untuk mendorong anaknya agar menjadi guru. Buktinya, sudah dari MTs, saya 'dicekoki' bapak untuk masuk ke jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Jogja.
Sebelum saya masuk UIN, bapak menitipkan saya di MTs dan MA Wathoniyah Islamiyah (MWI) Karangduwur untuk belajar agama. Bapak memilih sekolah tersebut agar anaknya memiliki bekal agama yang kuat. Karena, waktu itu, MWI menjadi sekolah berbasis agama Islam favorit oleh sebagian kalangan.
Sebelum di MWI, bapak menyekolahkan saya di lembaga pendidikan umum, SD dan TKnya umum semua. Ini karena, menurutku, belum ada TK dan SD berbasis Islam di lingkungan saya. Kalau ada, sudah pasti bapak menyekolahkan saya di lembaga pendidikan agama Islam.

Ini yang menarik, bapak mengharap anaknya menjadi guru (agama) dengan membekali anaknya terlebih dahulu soal agama. Jadi benar-benar terencana.

Lulus MWI saya langsung mengikuti tes seleksi masuk perguruan tinggi. Empat kali saya ikut, baru bisa masuk UIN. SNMPTN, SPMBPTAIN, reguler 1 dan reguler 2 UIN. Awalnya saya memilih PAI sebagai pilihan favorit. Tapi karena tak tembus, banting setir pilih PGMI di reguler 2. Dan di sela keputusasaan, saya diterima di PGMI UIN. Di lembar pengumuman, saya berada di urutan nomor empat dari 25 calon mahasiswa yang diterima.

Ijtihad bapak membuahkan hasil. Ia mampu mengantarkan anaknya untuk tetap berada di jalur pendidikan. Sekarang, tergantung saya mau diapakan ijtihad bapak ini. Saya sudah menjadi mahasiswa semester 8 di UIN, dan saya yakin bapak dan ibu sangat mengharapkan agar saya cepat-cepat wisuda. Namun sampai sekarang, judulpun belum ada.

Setiap kali saya pulang ke rumah, terlebih menjelang hari besar agama Islam ('Idul Adha) selalu bapak meminta saya untuk mencarikan materi khutbah.

Kebumen, 26 Juli 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 25 July 2016

Linear


sumber gambar: www.catalystgamelabs.com

Menjadi kebimbangan saya ketika dengar istilah linear. Dalam dunia akademik, linearitas sempat digaung-gaungkan untuk dijadikan pilihan ketika ingin mengambil S2 atau S3. Itu jika ingin menjadi tenaga ahli atau dosen.

Di luar dunia formal-akademik, saya juga bimbang untuk menjatuhkan pilihan terhadap bidang yang ingin didalami. Saya kuliah di jurusan pendidikan, tapi tidak tertarik dengan isu-isu pendidikan melebihi ketertarikan saya pada isu sosial kemasyarakatan. Setidaknya, ini terjadi setelah saya membaca roman legendaris milik Pramoedya Ananta Toer.

Saya calon sarjana pendidikan dengan embel-embel I(slam) di belakangnya. Tapi bukan pendidikan dan keislaman yang membuat saya tertarik untuk mendalami keduanya. Malah melenceng, saya lebih suka bergulat dengan isu sosial. Meski kapasitas otak saya belum mumpuni jika disandingkan dengan aktivis sosial atau kiri, tapi ada keinginan untuk bisa turut menyisingkan lengan baju bareng rakyat. Lagi-lagi, isu pendidikan dan keislaman satu tingkat lebih rendah di bawah isu sosial. Ini sangat bertentangan dengan semangat saya beberapa tahun yang lalu ketika menjadi pelajar berseragam abu-abu dan saat-saat awal di perkuliahan. Waktu itu, saya lebih suka belajar soal manajemen diri dan kesalehan individu.

Ini yang membuat saya bimbang. Ada yang mengatakan, bahwa tak mungkin sarjana pendidikan didengar omongannya ketika bicara soal sosial. Ada juga seorang kawan yang bilang, saya termasuk orang yang menolak dikotomi dalam bentuk apapun. Juga ikut membuat saya bingung, seorang yang diproyeksikan jadi dokter, malah membelot menjadi tukang propaganda dan pemberontak pemerintah Hindia Belanda. Siapa lagi kalau bukan Tirto Adi Soerjo. Ia bahkan menjadi aktor kebangkitan pers nasional di Nusantara, dengan Medan Priyayi sebagai produk jurnalistiknya. Sebelumnya juga sudah aktif mengisi rubrik sastra di Sunda Berita. Dia sekolah di bidang kedokteran, tapi dunia jurnalistiklah yang ia pilih sampai akhir hayatnya yang tragis. Ini kan tidak linear?

Kalau mengacu ke kamus besar bahasa Indonesia, linear punya arti terletak pada satu garis lurus. Contohnya, ketika saya kuliah S1 di pendidikan, ya S2nya harus di pendidikan juga. Berada dalam satu garis lurus, untuk melahirkan seorang ahli.

Saya semakin bimbang ketika lambat laun menemukan bukti bahwa tak harus linear untuk berkarya. Seorang sarjana Pendidikan Bahasa Arab UIN Jogja saja bisa menulis buku soal sejarah Islam, dan diterbitkan di Gramedia Pustaka. Ini kan tidak linear. Seharusnya sarjana Sejarah Kebudayaan Islamlah yang menulisnya. Tapi begitulah kenyataannya, ia sarjana pendidikan, tapi karyanya malah berkait dengan sejarah Islam.

Ada juga, seorang kawan yang konsisten dengan jurusan yang ia ambil di kampus. Ia jurusan perbandingan agama, dan yang ia geluti di luar kampus juga tak jauh-jauh dari isu tersebut. Ini baru linear. Hasilnya, dalam pandanganku, luar biasa. Ia berhasil menggawangi salah satu web milik Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Semenjak jadi mahasiswa, saya coba beberapa bidang untuk didalami. Mulai dari pendidikan anak, kemudian beralih ke jurnalistik, dan sekarang tertarik pada isu sosial. Tentu saja, dari langkah tersebut, saja jadi tak bisa mendalami satupun dari ketika bidang itu. Hanya berhasil mempelajari kulitnya.

Persoalan yang saya rasakan sebenarnya simpel;saya harus linear atau tidak? Pertanyaan ini yang membuat otak saya terkuras untuk sekadar memikirkannya. Saya sudah mencoba resensi semenjak 2013. Tapi di awal 2016 mulai kendur. Hingga pertengahan tahun lewat, tak ada lima karya tembus ke media massa. Padahal, di tahun 2015 saya pernah satu bulan tembus 5 karya ke koran.

Saya masih bimbang dan belum bisa menjawab pertanyaan; kamu linear atau tidak?

Di sela saya berpikir, muncul pikiran bahwa sepertinya saya takut tak punya masa depan yang baik. Saya berat untuk tidak linear lantaran takut tak bersaing di dunia kerja. Karena kini, utamanya profesi dosen, diutamakan yanh linear. Guru juga demikian, harus sesuai dengan yang dibutuhkan sekolah.

Jika disimpulkan, tentu saya akan mengatakan; jika memang linearitas membuatmu tak nyaman dan terbelenggu, buat apa dipaksaan. Linear atau tidak, itu kan hanya sebentuk alat, maka naif sekali kiranya kita menjadi budak sebuah alat. Titik pentingnya, linear atau tidak tak jadi masalah. Yang jelas, apapun itu yang bisa membuatmu menyenangi dan menikmati yang kamu kerjakan, kerjakanlah tanpa ragu.

Jadi, mau linear atau tidak hidupmu, itu pilihan. Yang jelas, nikmati saja apa yang kamu kerjakan, dan saya percaya, kata hati patut diikuti. Tak baik memaksa hati untuk mencintai suatu hal, sementara hal tersebut sudah menyengsarakanmu. Tapi, hatipun (perasaan) bisa terkecoh. Maka dari itu banyak cewek tersakiti lantaran mendahulukan perasaan di atas logika. Dan laki-laki, yang diklaim pengguna logika terbanyak, akan lebih kejam jika meniadakan timbangan perasaan. Lebih-lebih jika telah terhegemoni logika bisnis; pasti kacau.

Jadi, logika dan perasaan memang harus seiring sejalan. Sehingga tak terkecoh dengan linearitas dan kebalikannya.

Oiya, kata kawanku, banyak membaca itu tak baik. Hanya akan membuatmu semakin bingung. Tapi bagi saya, membaca justru membuatmu bisa menemukan apa yang dibutuhkan olehmu. Meski butuh waktu panjang dan penuh liku, untuk sekadar menjabarkan jawaban dari pertanyaan; siapa diriku sebenarnya?

Yang ditulis akan abadi, dan yang terucap akan binasa. Yang hanya tertulis akan abadi di batok kepala, tapi yang diaplikasikan akan beranak pinak dan memberi manfaat bagi orang lain.

Cuma menulis memang gampang. Tapi mau menulis saja adalah sebuah keberanian.
Terakhir, semoga bisa menjadi manusia yang bisa memberikan manfaat bagi makhluk Tuhan lainnya.

Jogja, 25 Juli 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Sunday, 24 July 2016

Sarjana



sumber gambar: news.okezone.com

Sarjana, dari dulu terkenal dengan seorang berusia muda yang banyak wawasan namun miskin praktik. Banyak wawasan, karena selama empat tahun (atau lebih) ditempa oleh berbagai lingkungan. Dosen menyumbang lingkungan akademik yang cukup baik. Teman sejawat menyumbang wawasan popular. Juga asal teman sejawat yang dari beraneka suku, memperkaya wawasan mahasiswa. Belum lagi di Jogja, begitu bnyak komunitas, baik yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, seni, dan lainnya, menawarkan pandangan hidup beragam. Sekaligus sebagai wadah buat mahasiswa, sesuai hobi mereka. Referensi juga banyak terdapat di Jogja, dibuktikan dengan adanya perpustakaan daerah yang merupakan terbesar se Asia Tenggara. Juga peninggalan sejarah dan budaya Jogja tempo doeloe, membikin siapa saja mendapat wawasan lebih. Lebih lebih mahasiswa (yang haus pengetahuan). Berangkat dari kenyataan ini, saya menyimpulkan bahwa sarjana merupakan agen penuh wawasan.

Hanya saja, seperti yang sudah disebutkan, mahasiswa kurang banyak melakukan praktik di lapangan. Apa yang ia peroleh, membusuk di kepala. Ini yang membuat angka sarjana menganggur mencapai 12 juta (A. Ferry (ed),2012). Ironis memang, tapi ini nyata dan harus cepat-cepat dicarikan solusinya.

Pelaku usaha yang sukses mengatakan kalau ingin mengurai persoalan ini, pendidikan wirausaha harus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan formal dan non-formal. Pendidikan wirausaha penting, untuk menumbuhkan jiwa baja dan berani mencoba dalam diri peserta didik. Dan ini akan lebih baik jika dimulai dari pendidikan dini, utamanya dalam keluarga. Karena jiwa wirausaha muncul lantaran dukungan lingkungan, pendidikan dan keluarga.

Tapi pertanyaannya; bagaimana untuk membekali para sarjana atau mahasiswa jiwa wirausaha, sementara pendidikan yang telah didapat jauh dari semangat jiwa wirausaha? Boro-boro pendidikan di sekolah, keluarga saja mendorong untuk menjadi pegawai kantoran yang lebih mapan. Ini menjadi kompleks, karena seperti merobohkan bangunan mindset yang terlanjur bercokol, mengganti dengan pandangan baru soal wirausaha dan pegawai kantor.

Melihat usia mahasiswa, seharusnya sudah mampu melihat dan mengkritisi diri sendiri. Apa yang perlu dikembangkan dan ditebas habis. Apa yang baik untuk dirinya dan mangancam keberlangsungan hidupnya.

Menghadapi ketakutan pada diri sendiri sungguh sulit, setidaknya itu yang aku alami. Ada semacam ketakutan-ketakutan yang membayangi setiap putusan yang aku ambil. Hingga berkali-kali, menghambat eksekusi dari ide yang ada di kepala. Maka banyak, mahasiswa yang memiliki ide cemerlang, tak bisa apa-apa. Ini karena ketidakbiasaan mahasiswa mengambil resiko di setiap putusannya.
Memang, ada beberapa mahasiswa yang aku amati, memiliki daya juang yang besar. Di samping berkuliah, juga berkreasi dengan membuat bunga berbahan flanel, berjualan koran, kerja part time, dan usaha kecil lainnya. Aku salut dengan teman-teman semacam ini. Paling tidak, punya keinginan berjuang untuk bisa mandiri di Jogja. Atau minimal, mengurangi.beban financial keluarga.

Namun timbul permasalahan lagi; apakah sebagai mahasiswa sudah siap atau mampu mengabdi ke masyarakat? Artinya, bukan sekadar menjadikan diri mandiri tapi juga berkontribusi di masyarakat. Soal apa bentuk kontribusinya beragam, bisa dalam bentuk bakti sosial ataupun pemberdayaan masyarakat. Berjuang bersama masyarakat tertindas untuk mengusir borjuis-kapitalis yang mencaplok lahan subur pertanian mereka untuk didirikan pabrik semen di atasnya. Sudahkan agenda kemasyarakatan ini dijadikan tujuan utama seorang sarjana mengecap bangku kampus? Menjadikan pengalaman kerja atau usaha selama menjadi mahasiswa sebagai pijakan untuk menguatkan financial. Lalu, dengan financial dan kepedulian serta kreativitas sarjana, bisa membikin berubahan di masyarakat. Ini tentu sulit, tapi paling tidak dijadikan agenda jangka panjang oleh seorang sarjana, yang tentu pernah menjabat sebagai 'agen of change'.

Beri tepuk tangan bagi teman-teman yang sudah berjuang untuk memperkuat financial mereka. Ada harapan di pundak kalian, untuk membuat perubahan di masyarakat. Karena, bagaimanapun juga, pengabdian butuh kekuatan financial. Berjuang untuk masyarakat, juga berjuang untuk diri sendiri. Semoga, para sarjana muda dan tua, punya agenda kemasyarakatan di benaknya.

Tulisan ini memperkuat asumsi (atau fakta?) bahwa (penulis) mahasiswa memang pandai berkoar (melalui tulisan) tapi entah praktik di lapangan.

Jogja, 22-23 Juli 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Saturday, 23 July 2016

Kuliah


sumber gambar: callmefadh.wordpress.com


Pak Umar, pimpinan Dinas Kebudayaan DIY, menceritakan pengalaman selama ia kuliah di Jogja, dalam acara Selendang Sutera, (22/07/2016).

Saya, katanya, lebih suka tinggal di tengah-tengah permukiman warga daripada di asrama. Alasannya jelas, agar bisa berbaur dengan warga setempat.

Ini yang membuat aku tertarik degan sosok beliau. Jiwa sosialnya tinggi. Mampu berbaur dengan masyarakat setempat. Ini tentu menjadi nilai plus bagi beliau, yang sedikit bayak mengantarkan ia menjadi seorang pimpinan. Tempaan selama kuliah di masyarakat, cukup berpengaruh terhadap program-program yang ia buat. Buktinya, ada pasar kangen di Taman Budaya Yogya (tby) setiap tahunnya (meski aku tidak tahu siapa pencetusnya). Ada ratusan stand makanan dan pakaian serta berbagai karya seni dipajang di sana. Yang tentu melibatkan masyarakat Jogja. Pertunjukan kesenian semacam ketoprak juga ada di sana.

Memang sudah seharusnya, orang kuliahan tidak hanya mengisi ruang pengangguran di Indonesia yang sesak-padat-merayap. Namun sebaliknya, mengurai, atau minimal tidak menambah angka pengangguran. Kasihan bangsa ini. Disedot terus air susunya, tapi tak pernah sejahtera rakyatnya. Belum lagi, perut buncit para pejabat, yang berisi uang pajak, tanah, dan keringat wong cilik yang diperas habis. Yang punya keringat melarat, yang buncit makin buncit. Kasihan bumi pertiwi, terbebani manusia-manusia buncit; terlal berat kiranya.

Jangan sangka perut buncit itu goblok. Mereka pintar, dab! Tapi ya begitu, kepintaran hanya mereka gunakan untuk mengelabuhi wong cilik yang buta politik, buta hukum,terlebih buta aksara.

Pendidikan mereka tentu tinggi. Skill juga jangan ditanyakan lagi. Tapi itu loh, mereka itu gedebog pisang atau orang sih? Punya jantung tapi tak ada hatinya.

Aku, kata Pak Umar, kuliah bukan untuk pandai. Tapi belajar dewasa, bagaimana hidup di tengah masyarakat.

Tentu aku sepakat jika demikian. Kuliah bukan untuk pandai, tapi dewasa. Dewasa berarti mampu mempertanggungjawabkan segala tingkah dan laku. Ini yang sulit. Terlebih, beban tugas dosen yang tidak ada putus-putusnya. Tapi bukankah mengerjakan tugas dosen juga bagian dari bentuk tanggungjawab orang kuliahan? Atau mungkin, tak cukup sebatas pemenuhan tugas dosen, melainkan ada kriteria tugas apa saja yang mesti digarap? Tugas yang memiliki nilai manfaat bagi diri dan lingkungan misalnya.

Tentu itu terserah masing-masing individu. Hanya saja, perlu tahu dulu tujuan kuliah kita untuk apa? Ini yang menentukan perjalanan kita ke depannya. Dan sialnya, sampai sekarang aku dibuat bingung dengan pertanyaan ini.

Menarik yang disampaikan Pak Umar; kuliah agar dewasa dan bisa hidup di lingkungan masyarakat. Dan barangkali ini bisa diteladani. Karena, semangat semacam ini akan terus mengingatkan kita untuk belajar terus-menerus, dan tidak mencerabut dari masyarakat. Segala yang kita pelajari, diperuntukkan untuk terampil hidup di masyarakat. Sehingga, bisa melihat kebutuhan masyarakat.

Jadi sekarang, tujuanmu kuliah itu untuk apa, dab?

Jogja, 23 Juli 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Kemanusiaan



Sumber gambar: paintingofaheart.blogspot.com


"Aku memilih dia karena kasihan, sudah mengeluarkan banyak uang. Soal desa mau dibawa ke mana, itu tak penting"

Ujaran seorang simbah yang ditirukan cucunya, saat aku ajak dia berbincang soal desa. Ini sekaligus melunturkan asumsiku bahwa orang desa memilih kepalanya karena uang. Semakin besar uang yang kamu gelontorkan semakin banyak suara yang memihak padamu. Itu asumsi awalku.

Tapi, satu argumen simbah ini, benar-benar tak aku duga sebelumnya. Bukan karena uang ia memilih kepala desa; melainkan belas kasihan dirinyalah alasannya. Memang, uang menjadi media yang membuat masyarakat yang mendapat kucurannya merasa belas kasihan. Tapi bukan berarti karena alasan uang, seorang memilih pemimpin. Uang hanyalah perantara, sementara rasa belas kasihan merupakan kekuatan besar yang dengan mudah mendorongnya untuk menjatuhkan sebuah pilihan. Belas kasihan, yang menurutku dekat dengan semangat kemanusiaan(?)

Demi menyelamatkan mental calon pemimpin desa, seorang simbah memberikan suaranya. Untuk menyelamatkan financial calo pemimpin. Ini kemanusiaan. Dan tak ada yang bisa menyatukan manusia selain kemanusiaan itu sendiri. Tapi, dalam pandanganku yang masih berstatus mahasiswa ini, ada yang tidak tertangkap dalam diri simbah; kemanusiaan yang lebih besar dan berjangka waktu panjang.

Tentu, jika berangkat dari yang simbah lakukan ini, tak lain semacam menyelamatkan satu orang, tapi mengancam keselamatan rakyat. Ini kemanusiaan, tapi mengingkari kemanusiaan yang adil dan beradab.

Aku sendiri tak paham apa itu kemanusiaan. Kemanusiaan itu muncul dari dalam hati (baca: perasaan saja) atau melewati ruang pikir? Tepatnya, aku tak tahu kemanusiaan yang sebenarnya itu seperti apa. Pikirku hanya bisa menafsirkan bahwa kemanusiaan adalah sebentuk kepedulian yang timbul akibat belas kasihan. Itu saja.

Dan simbah ini telah memperjuangkan kemanusiaan(?)

Aula Dinas Kebudayaan DIY, 22 Juli 2016.
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Pantai Laguna Waluyorejo


gambar: Suasana Kaligajah di waktu pagi 

Beberapa waktu lalu, Pantai Laguna di Desa Waluyorejo sempat booming. Pasalnya, keindahan sungai yang mengalir ke laut, dihiasi dengan rumput yang tumbuh di sekelilingnya. Ditambah, pohon cemara laut yang tak jauh dari lokasi, .mempercantik suasana.

Pantai Laguna, oleh masyarakat sekitar lebih dikenal Kali Gajah atau bedahan. Ada yang mengatakan bahwa nama Kaligajah diambil dari bentuk kalinya, yang berbentuk gajah jika dilihat dari atas. Sementara nama 'bedahan' barangkali karena aliran air sungai ke laut, yang hanya terjadi saat dan beberapa saat setelah musim hujan.

Jika kamu searching di internet, tentu akan mendapati pesona eksotis dari Kaligajah ini. Sangat menggiurkan untuk kamu yang suka selfie atau foto-foto. Ditemani deburan ombak dan gemercik air sungai, cukup romantis untuk perpadu kasih (tapi hati-hati nanti diintip warga setempat).

Oleh anak-anak setempat yang lahir tahun 80-90an kerap digunakan untuk mandi. Itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Aku sendiri terakhir mandi disitu ketika seumuran MTs. Selebihnya tidak.

Aku akui airnya sangat jernih. Bahkan jika 'mbedah' ke laut, ada beberapa jenis ikan yang aku kira berasal dari laut. Aku sangat kagum dengan ikan-ikan tersebut. Bahkan sewaktu SD, aku seharian mancing dan mandi di Kaligajah. Meski cuma dapat ikan satu dan kulit wajah yang mengelupas (karena panas sekali hawanya, dan aku mandi dalam keadaan panas; bayangkan saja gelas dingin dituang air panas). Tapi waktu itu aku benar-benar menikmatinya.

Kejernihan dan 'kemurnian' Kaligajah kian tercemar semenjak keberadaan tambak udang. Limbah dari tambak udang dibuang ke sungai, sehingga membikin air sungai bau, meski secara kasat mata airnya jernih.

Lebaran kemarin,aku coba menelusuri Kaligajah bersama dua sahabatku. Di bantaran sungai yang agak jauh dari bibir pantai, ditumbuhi eceng gondok tidak terkontrol. Aku lihat ada tiga ekor ikan sepat yang melintas di air, dengan dasar sungai yang keruh dan menjijikan.

Salah satu sahabatku mengajak untuk melintasi aliran sungai itu. Dengan dasar sungai yang dangkal dan penuh lumpur limbah tambak udang. Begitu kaki masuk dan melangkah di sungai, terasa menginjak tai manusia; lembek dan 'mblesek' hampir sampai lutut. Kalau kamu pernah injak tai manusia, tentu bisa merasakan apa yang kakiku alami waktu itu.

Ironis memang, karena keindahan yang dulu pernah aku nikmati, perlahan hilang. Kurangnya kesadaran pemilik tambak udang untuk menjaga lingkungan. Potensi wisata belum disadari masyarakat setempat, sehingga upaya pelestarian lingkungan tidak ada.

Silahkan bagi kamu yang penasaran keindahan Pantai Laguna, bisa berkunjung.

Jogja, 23 Juli 2016


Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...