Ini cerita seorang sahabat, yang pada tahun 2016 terhitung sudah 5 tahun lebih mengais rejeki di Negeri Jiran. Ia remaja yang setelah menamatkan jenjang MTs langsung terjun ke dunia kerja. Orangnya tinggi dan kurus, tapi siapa sangka dalam tubuh kurus tersebut terpendam semangat dan ketekunan luar biasa.
Ceritanya, ia di tahun 2009 dinyatakan lulus dari Madrasah Tsanawiyah Wathoniyah Islamiyah, Karangduwur, Petanahan, Kebumen. Sekolah ini terbilang memiliki banyak muatan pelajaran agama Islam. Setiap siswa di sekolah ini, tentu tak asing dengan aktivitas hafalan dan tak jauh dari bahasa arab. Entah besar atau kecil, tetap ada pengaruh yang membekas dalam diri siswa setelah lulus. Ini yang saya amati ada dalam diri sahabat yang akan saya ceritakan.
Lulus MTs, ia meneruskan 'belajar' (karena belajar tak harus di bangku sekolah) di Bandung. Bukan dalam lembaga pendidikan, melainkan di dunia kerja. Ia bercerita, berkali-kali pindah tempat kerja di Bandung, karena tak nyaman. Ia juga sempat menganggur, barangkali karena belum menemukan kenyamanan dalam bekerja.
Ia oleh sebagian kawannya dipanggil Raden, atau Den. Panggilan ini ia dapat ketika bekerja di Malaysia, di perkebunan yang mengurusi tanaman hias. Malaysia jadi tempat ia 'belajar' setelah di Bandung karena mungkin tidak
krasan.
Menariknya, Raden ini cukup suka dengan aktivitas membaca. Saya amati dalam dua tahun belakangan, ia suka buku-buku bertema keislaman dan keluarga. Jika ingat surat al-'Alaq ayat satu, tentu orang ini berupaya mengamalkannya. Perintah 'membaca', baik sadar atau tidak, oleh Raden sudah diamalkan. Ya, buktinya kesukaannya membaca buku itu dan membaca (
niteni) lingkungan sekitar.
Kecintaannya pada buku, terlihat ketika di tahun 2015 ia saya ajak ke Jogja, untuk refreshing dan mampir ke toko buku. Soal buku apa yang ia beli, saya tidak ingat. Yang jelas, ada semangat yang memancar dalam dirinya dan seolah ia berkata dalam diam; aku haus buku bacaan dan harus tetap belajar.
Seingat saya, selama 'belajar' di Malaysia ia tiga kali pulang dan saya bisa menemuinya. Tahun 2014, 2015 dan 2016. Tahun 2014, memang ada kenangan menarik yang berhasil kami ukir, bertiga bersama satu lagi teman saya yang bernama Herman. Kami berkunjung ke Jogja naik motor, untuk menelusuri bukit Gunung Api Purba. Bertiga kami kesitu, dan iseng-iseng buat video via ponsel. Video tersebut saya upload di Youtube. Ini kenangan di tahun 2014, yang berhasil kami abadikan. Selain itu yang cukup berkesan, Raden mengantuk ketika dibonceng dengan motor. Sehingga, ketika kami pulang (waktu itu sudah malam) saya lihat Raden sudah K.O. di jok belakang, tidur dengan tubuh miring ke kanan, seakan mau jatuh.
Tahun 2015, di suasana lebaran, kami bertiga juga berkunjung ke Jogja. Waktu itu hari Senin. Rencananya, kami akan berkunjung ke Benteng Vredeburg, di jalan Malioboro. Hanya saja, waktu itu tutup. Setiap senin memang tutup. Sehingga, niat mau bikin video yang kedua kalinya gagal. Untuk pelampiasan, kami belanja celana jeans di pasar Bringharjo. Saya dan Herman beli celana, sementara Raden beli baju untuk adik kecilnya.
Untuk mengabadikan momen, kami berfoto-foto ria di daerah Kepatihan, Gedung Dinas Gubernur DIY, seusai shalat Asar di masjid. Karena hanya itu yang bisa kami lakukan. Tentu, habis foto kami cap cus balik ke kampung asal, Waluyorejo, Puring, Kebumen. Ini kenangan kloter kedua kami main di Jogja.
Dan tahun ini, 2016, kami tak ada keinginan lagi membuat video. Hanya ada keinginan muncak, tapi belum tercapai. Saya juga sempat kaget plus takjub, bahwa Raden pulang kampung untuk mengikat pujaan hatinya, yang ia panggil ninine, untuk menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Ini di luar dugaan saya.
Di tahun ini pula, kami mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Saya dengan urusan kuliahnya. Herman dengan pertanian dan teman-temannya. Sementara Raden dengan sawahnya yang begitu dicintainya. Meski begitu, tetap saja cintanya pada ninine lebih tinggi dibanding pada sawahnya. hehe
Tentu saja, ini membuat kami kesulitan berkumpul. Hasilnya, ada sedikit acara bersama yang kami lakukan, ke Pantai Kali Gajah, tidur di Mushola di Pantai Suwuk, dan ngobrol di rumah kakeknya Raden sampai larut. Tidak terlalu muluk-muluk lah pokoknya. Sekali, saya (dan saya yang lain) juga sempat main bareng Raden dan ninine. Kenangan-kenangan kecil coba kami bangun, untuk dirangkai menjadi sesuatu yang bermakna, untuk diambil hikmahnya.
Waktu yang begitu singkat, hingga kami tak bisa banyak mengukir kenangan (sejarah) melebihi yang saya sebutkan tadi. Masih ada beberapa hal yang ingin kami lakukan bersama, tapi waktu dengan pedangnya, memangkas harapan tersebut.
Tapi beginilah, dan saya jadi belajar, bahwa hidup akan terasa begitu singkat, jika dijalaninya dengan suka cita. Tapi jika demikian, bukan kekecewaan yang membekas, melainkan harapan untuk bertemu kembali di masa yang akan datang.
Pramoedya Ananta Toer, sastrawan kelas dunia, mengatakan bahwa segala yang terucap akan binasa tertiup angin. Tapi, apapun yang tertulis, akan abadi selamanya, dan menjadi catatan sejarah serta dikenang masyarakat. Saya tunggu ukiran sejarah kita di masa yang akan datang. Semoga, perjalananmu ke Negeri Jiran, selamat sampai tujuan dan diberi keberkahan.
Saya tunggu kabar baiknya. Selamat berjuang, sobat!
Waluyorejo, 30 Juli 2016