Wednesday, 7 September 2016

Serial Wiro Sableng


Semasa SD dulu, saya sangat suka dengan film serial Wiro Sableng 212. Saking sukanya, sampai punya kapak mainan mirip milik Wiro.

Film serial Wiro Sableng bercerita soal kehidupan dunia persilatan. Sangat kental nuansa jawa dan keislamannya. Namun sayang, film-film semacam Anak Jalanan mampu menggeres jam tayang Wiro Sableng. Atau mungkin, memang sudah bukan zamannya lagi film-film yang mengangkat soal persilatan? Masyarakat modern lebih suka hidup hedon, yang akan dimanfaatkan oleh bisnis perfilman sebagai aset berharga. Jadilah, film disesuakan dengan keinginan pasar (masyarakat) yang secara tidak langsung juga mempengaruhi gaya hidup. Film yang bertolak dari kehidupan orang Jakarta, mengisi dunia pertelevisian yang disaksikan di seluruh penjuru Nusantara.

Beberapa hari lalu saya berkunjung ke kos seorang sahabat. Ia tanpa sengaja bercerita soal koleksi buku sisa baksos. Iseng, saya meminta diri untuk memilah-milih buku-buku tersebut sebagai bahan bacaan. Salah satunya, buku tentang Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 karya Bastian Tito. Saya tertarik pada buku ini, untuk bernostalgia masa kecil. Penasaran dengan kehebatan penulisnya, hingga mampu melahirkan karya yang diminati hampir seluruh masyarakat Indonesia kala itu.

Serial yang saya pinjam bercerita soal "balas dendam" seorang pendekar yang ayahnya dibunuh dengan keji, 18 tahun lalu. Pandu namanya, pendekar yang 18 tahun lalu diperebutkan dunia pesilatan, lantaran garis takdirnya. Perebutan tersebut dimenangkan oleh Datuk Perpatih Alam Sati dari Gunung Merapi Andalas.

Pandu di bawah bimbingan gurunya tumbuh menjadi pendekar sakti. Ia semedi begitu lama di dalam gua, yang menetes di atas kepalanya butiran salju cair, hingga membikin rambut panjangnya putih dan basah.

18 tahun sudah umur Pandu, dan oleh gurunya disuruh berkelana. Sebelum pergi, Pandu diberi tahu asal-usul dirinya. Ini membuat dirinya memiliki arah-tujuan jelas dalam kelananya: mencari pembunuh ayahnya.

Dalam penulisan buku memang bayak kecacatan. Dari salah ketik sampai halaman. Namun itu wajar dalam ukuran saya, mengingat tahun penulisannya. Meski demikian, menarik untuk dibaca. Meskipun ceritanya tak jauh-jauh beda dengan cerita serupa: menuntut balas dendam.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...