Paling tidak, empat tahun kamu yang mahasiswa bisa menikmati keistimewaan Jogja. Status kemahasiswaa itu yang membikin kamu terlihat keren. Tapi apa iya cuma itu yang mau kamu banggakan: sebatas status?
Hoi, mahasiswa itu status yang mulia. Coba saya carikan status atau profesi apa yang lebih mulia (baca: stategis) untuk mendukung perkembangan skill, karakter, dan pengalaman serta keilmuan selain status mahasiswa!
Kamu mahasiswa yang secara otomatis punya tanggungjawab moral mengabdi ke masyarakat. Bukan cuma berlomba tinggi-tinggian IPK atau nilai! Rugi kamu kalau cuma itu yang dikejar! Ironis, naif, celaka!
Katanya, manusia itu dikatakan baik ketika mau dan mampu memberi manfaat kepada sesama makhluk Tuhan. Apa benar mengejar nilai dan IPK itu bermanfaat bagi sesama? Nilai dan IPK kan bisa dengan mudah dibeli. Kamu datangi saja dosennya, berbaik-baiklah sama dia. Atau kalau perlu, datangi rumahnya. Dapatlah kamu nilai dan IPK tinggi. (Ini berdasar omongan dosen saya di UIN).
Ada hal yang lebih penting dan bermanfaat untuk masa depanmu, bung, nona! Ukhti, akhi!
Kamu dalam usia produktif! 18-25 tahun. Apa iya kamu rela usia produktif ini disia-siakan begitu saja! Saya jamin, jika demikian, tepat setelah kamu memakai toga, artinya kamu menyumbang satu orang pengangguran terdidik. Tidak punya skill, pengalaman, relasi, dan sebagainya. (Paling tidak itu yang kini saya takutkan terjadi pada saya hehe).
Awal mula saya menjadi mahasiswa di Jogja, begitu cupunya tak tahu apa-apa. Pengalaman organisasi di MA belum maksimal. Juga, minim info soal kampus. Seolah, saya katak yang baru keluar dari tempurung.
Ini juga, saya kira, yang akan dialami alumni MA tempat kita belajar, ketika keluar kota untuk kuliah atau kerja. Atau untuk terjun ke masyarakat. Apa kamu tega melihat itu terjadi pada adik-adikmu?
Tentu, ada dua keuntungan yang didapat jika kita ingin berbagi pengalaman dan membimbing mereka. Pertama, untuk kita, sebagai media belajar dan menambah pengalaman. Kedua, untuk mereka, terbekali wawasan dan pengalaman dari kakak-kakak yang kuliah. Bonusnya, tentu kita jadi bisa menjalin silaturahmi dengan sesama alumni dan siswa di barat sana.
Saya kira, alumni Jogja punya keunggulan dalam hal skill dan pengalaman organisasi. Soal agama, biarlah diserahkan ke madrasah. Karena, bagaimanapun kita, tidak cukup membekali hidup dengan ilmu agama. Tapi yang lebih penting, membekali diri agar terampil hidup di masyarakat, agar praktik beragama kita lebih maksimal dan santun.
Terakhir, saya rindu kumpul dengan kalian. Mendengar cerita, pengalaman, dan ide kreatif yang muncul dari batok kepala kalian. Semoga kalian juga rindu dengan kenangan yang dulu sempat kita ukir bersama.
Jogja, September 2016
Saturday, 3 September 2016
Binsiman
Web Developer
Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Cuma Membaca Danarto
Judul Buku : Adam Ma’rifat Penulis : Danarto Penerbit : Basabasi Cetakan : I, November 201...
No comments:
Post a Comment