Tuesday, 13 September 2016

Bisikan Menantu


Minggu besok, ada tetangga saya yang menikah. Berbagai persiapan telah dimulai jauh-jauh hari. Termasuk, meminta bantuan tetangga untuk jadi jubus (tukang bantu). Juga beberapa sarahan sudah disiapkan untuk diserahkan calon pengantin putri.

Namun moment yang seharusnya diliputi awan bahagia tiba-tiba mendung. Mendung meski belum pecah menjadi petir dan hujan.

Mendung itu datang dari orang tua calon pengantin yang secara etika, oleh menantunya (karena orang tua tersebut punya 3 anak, dan Minggu besok pernikahan terakhir kali untuk keluarga tersebut) dipandang kurang baik. Sehingga, tetangga yang dimintai bantuan merasa 'kurang diuwongke'. Karena, cara memohon bantuannya tidak langsung ke rumahnya, melainkan di mesjid maupun warung yang ia miliki. Ini, yang secara etika kurang baik dalam pandangan menantunya.

Menantunya juga bercerita, bahwa dirinya ketika dinikahkan dengan anaknya merasa kurang puas dengan 'mas kawinnya'. Bukan persoalan mewah atau tidak, tapi besar mas kawin biasanya (menurut saya) menjadi tolok ukur seberapa besar suami menghormati dan menghargai istri. Ini yang oleh menantu tersebut tidak dirasakan ketika dirinya menikah.

Belajar dari pengalaman tersebut, si menantu tidak mau terulang pada bakal calon istri kakak suaminya. Terlebih, calon istrinya orang berpendidikan, magister hukum. Tentunya, pernikahan dan segalanya harus 'setingkat lebih tinggi' dari dirinya dulu.

Ia juga mengakui, dirinya agak kecewa dengan perayaan pernikahannya dulu. Namun ia pendam dalam-dalam, dan tak mau terulang pada siapapun. Terlebih kakak suaminya.

Namun lagi-lagi, suara menantu tak ada tajinya. Bagai angin berlalu saja.

Kebumen 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 12 September 2016

Gradasi




Setiap perayaan Idul Adha, budaya di dukuh saya adalah makan-makan setelah memotong hewan kurban. Biasanya, acara makan-makan setelah daging kurban sudah mulai 'ditimbang' dan didata orang-orang yang akan diberi jatah. Adapun menu andalan, gulai kambing dan sambel kacang.

Perayaan yang jatuh pada hari senin kemarin, juga tak jauh beda dengan tahun lalu. Menu makanan tetap saja. Hanya saja, jumlah hewan kurban sapi yang berubah. Dulu satu, kemarin dua.

Saya bersama beberapa lelaki lintas umur makan kloter kedua. Setelah bergelut dengan daging kambing ya baunya kambing banget.

Seusai makan saya diajak tetangga untuk merampungkan pekerjaan: membagi daging kurban. Tapi siapa sangka, saya ditahan Kecup (sebut saja begitu). Kecup adalah tetangga saya yang cukup terkenal kesupelannya. Karena karakternya ini, banyak orang kenal dia.

Saya tahu bahwa ia memiliki jiwa seni tinggi ketika mendengar pengalaman hidupnya di tanah rantau. Ceritanya, ia bekerja di percetakan di Semarang. Percetakan tersebut mendapat order untuk memperbanyak soal ujian dari SD hingga sertifikasi guru.

Ia dipercaya bosnya karena kinerjanya bagus. Hingga akhirnya, ia diberi kesempatan untuk kuliah gratis selama dua tahun. Merasa kesempatan tak datang dua kali, barangkali, ia ambil tawaran itu. Ia pilih jurusan grafika.

Ia jelaskan perpaduan warna di setiap desain pakaian, rumah, hingga daun. Dan yang membuat saya tertarik sekaligus kagum adalah penjelasannya tentang desain warna pada daun.

Allah, kata Kecup, memang menciptakan daun dengan gradasi warna yang pas. Coba kamu cari daun. Daun ini (sambil memetik daun tanaman hias) warna hijau, gradasi di tengahnya hijau muda. Nggak mungkin merah. Karena hijau gradasinya ya tidak jauh dari warna tersebut.

Saya berpikir, kok bisa sampai Kecup berpikiran sampai situ. Perpaduan warna yang Allah ajarkan melalui daun.

Saya juga jadi sadar, bahwa Kecup yang secara tampilan biasa-biasa dan sikapnya kerap tak mencerminkan 'keislamannya' (dalam artian Islam kearab-araban) ternyata memiliki permenungan mendalam. Ia, tentu saja melewati tangga berpikir dan kontemplasi yang panjang, sehingga sampai kepada Hakikat, bahwa satu-satunya sumber ilmu adalah Allah, Sang Khalik. Proses berpikir dan bermenungnya Kecup bahkan sampai pada pola gradasi warna yang ternyata sengaja Allah selipkan dalam karya-karyanya. Dan Kecup berhasil melihat pada dedaunan yang memiliki kekhasan warna. Gradasi daun ini kemudian (seakan-akan) oleh Kecup dijadikan pedoman untuk memadukan warna dalam beberapa hal, seperti pakaian, desain inferior dan ekferior rumah.

Satu pertemuan di hari penuh berkah, yang mampu membuat mataku bisa melihat agak lebar. Terima kasih Gusti Allah. Terima kasih Kecup..

Kebumen 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Thursday, 8 September 2016

Eksistensi


Apa jadinya jika musisi ataupun master of ceremony (mc) dengan ketrampilannya tak mampu membius penonton untuk mengikuti apa yang keluar dari mulutnya. Atau gerakan isyarat yang tak diikuti oleh gerak tubuh maupun suara penonton. Tentu, sakit dan sia-sia ia berdiri di panggung.

Memang benar, hidup soal eksistensi. Sulit, untuk tangan kanan menyembunyikan kebaikan pada tangan kiri. Bahkan kerap, dengan isyarat halus, merangsang tangan kiri agar tahu apa yang telah tangan kanan perbuat.

Eksistensi soal pengakuan. Kau ada karena ada yang mengakui. Dan pengakuan itu ada prasyaratnya. Kata orang, kalau tak bisa berprestasi, maka jadilah berbeda. Agaknya ini prasyarat yang musti dipenuhi siapapun yang tak mau sirna eksistensinya dan tetap diakui sebagai 'yang ada'.

Musisi diakui karena keterampilannya memainkan irama. Merangkai kata menjadi lagu dengan musik sebagai iringannya. Ini artinya, prestasi. Atau mungkin, karena mau tampil beda? Begitu juga dengan MC yang selalu bereksperimen sehingga mampu membuat penonton tertawa bahagia atau geli.

Sementara tokoh-tokoh yang berani tampil beda, justru tak memiliki tarikan napas panjang. Hanya selang beberapa detik saja setelah dirinya menunjukkan eksistensinya sebagai 'yang beda', sebilah pisau, atau peluru atau setrum bahkan sianida, dengan ganas memisahkan nyawa dengan raganya. Ini saya lihat ada dalam diri Udin, Munir, Salim Kancil, dan pahlawan-pahlawan di zaman perjuangan. Mereka tampil beda, maka wajar jika hingga kini, meski raganya sudah mengatu dengan tanah, keberadaannya tetap terjaga. Bahkan diam-diam menjelma jadi manusia baru, yang siap berjuang untuk tampil beda. Beda, saya pikir, di zaman korupsi-kolusi-nepotisme jama'ah, adalah sikap tegas. Karena, begitu sikap itu muncul ke permukaan, segera moncong senapan mengarah tepat di tengah pelipis: headshot!!!

Jadi, silahkan pilih! Berprestasi atau tampil beda, untuk mengukuhkan eksistensi diri. Yang jelas, jika tak punya nyali lebih, jangan coba pilih yang kedua..

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Pantat



Bersama seorang kawan, saya mengunjungi Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ke-28 di Condong Catur. Sebenarnya, saya hanya menemani kawan untuk menyaksikan penampilan Kunto Aji, penyanyi solo yang belum banyak mencipta lagu tapi cukup tenar di kalangan muda. Ini juga saya tahu dari kawan.

Kami menunggu penampilan Kunto Aji cukup lama. Jam 8 malam kamu sudah di tkp. Tapi hingga saya menulis artikel ini, pukil setengah 10, belum juga tampil. Hanya band indhie yang tampil.

Saking pegelnya karena terlalu lama berdiri, kami putuskan untuk duduk. Duduk di belakang para penonton yang berdiri berdesak-desakan. Tentu saja, kami menyaksikan pandangan yang cukup eksotis: pantat!!

Saya mendadak menjadi pengamat pantat. Iya, pantat betina dan jantan. Ini pengalaman baru yang berkesan. Ada pantat dengan beragam bentuk terpampang nyata.

Ada yang tertutup kain tipis. Celana berbahan jeans. Ada yang besar-berisi. Kecil-kempet. Dan sebagainya. Tapi, itulah macam-macam pantat Nusantara. Dan entah apa yang menjadi daya tarik. Dimana-mana, pantat menjadi topik hangat. Terlebih, apa yang tersimpan di balik pantat. Dan bagian inilah, yang entah dengan mantra apa, bisa berpindah dan bercokol di dalam batok kepala.

Itu pelajaran yang saya tangkap, dari hasil mengamati pantat-pantat orang yang hadir di FKY 28, menunggu penampilan Kunto Aji yang sialan itu. Karena telah membuat kami berdesak-desakan dan menunggu lama. Anehnya, tak ada yang merasa sedih. Sebaliknya, makin banyak yang mengantri.

FKY September 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Wednesday, 7 September 2016

Serial Wiro Sableng


Semasa SD dulu, saya sangat suka dengan film serial Wiro Sableng 212. Saking sukanya, sampai punya kapak mainan mirip milik Wiro.

Film serial Wiro Sableng bercerita soal kehidupan dunia persilatan. Sangat kental nuansa jawa dan keislamannya. Namun sayang, film-film semacam Anak Jalanan mampu menggeres jam tayang Wiro Sableng. Atau mungkin, memang sudah bukan zamannya lagi film-film yang mengangkat soal persilatan? Masyarakat modern lebih suka hidup hedon, yang akan dimanfaatkan oleh bisnis perfilman sebagai aset berharga. Jadilah, film disesuakan dengan keinginan pasar (masyarakat) yang secara tidak langsung juga mempengaruhi gaya hidup. Film yang bertolak dari kehidupan orang Jakarta, mengisi dunia pertelevisian yang disaksikan di seluruh penjuru Nusantara.

Beberapa hari lalu saya berkunjung ke kos seorang sahabat. Ia tanpa sengaja bercerita soal koleksi buku sisa baksos. Iseng, saya meminta diri untuk memilah-milih buku-buku tersebut sebagai bahan bacaan. Salah satunya, buku tentang Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 karya Bastian Tito. Saya tertarik pada buku ini, untuk bernostalgia masa kecil. Penasaran dengan kehebatan penulisnya, hingga mampu melahirkan karya yang diminati hampir seluruh masyarakat Indonesia kala itu.

Serial yang saya pinjam bercerita soal "balas dendam" seorang pendekar yang ayahnya dibunuh dengan keji, 18 tahun lalu. Pandu namanya, pendekar yang 18 tahun lalu diperebutkan dunia pesilatan, lantaran garis takdirnya. Perebutan tersebut dimenangkan oleh Datuk Perpatih Alam Sati dari Gunung Merapi Andalas.

Pandu di bawah bimbingan gurunya tumbuh menjadi pendekar sakti. Ia semedi begitu lama di dalam gua, yang menetes di atas kepalanya butiran salju cair, hingga membikin rambut panjangnya putih dan basah.

18 tahun sudah umur Pandu, dan oleh gurunya disuruh berkelana. Sebelum pergi, Pandu diberi tahu asal-usul dirinya. Ini membuat dirinya memiliki arah-tujuan jelas dalam kelananya: mencari pembunuh ayahnya.

Dalam penulisan buku memang bayak kecacatan. Dari salah ketik sampai halaman. Namun itu wajar dalam ukuran saya, mengingat tahun penulisannya. Meski demikian, menarik untuk dibaca. Meskipun ceritanya tak jauh-jauh beda dengan cerita serupa: menuntut balas dendam.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 5 September 2016

Cinta Sejati dalam Karya Fredy S



Fredy S memang selalu memukau dengan karya-karyanya. Berhasil mengaduk-aduk emosi pembaca. Dengan cerita yang difokuskan pada konflik keluarga, saya kira, membuat siapapun yang membacanya mendapat pengalaman menyenangkan sekaligus menyeramkan. Dan bagi pembaca yang masih lajang, cukup baik untuk dijadikan pelajaran hidup, kelak setelah berumah tangga.

Dalam roman "Terpaut Di Lain Hati" ini, menceritakan betapa suci cinta dua insan usia 20-an tahun. Kisah cinta suci ini digambarkan melalui tokoh fiksi Henry dan Anita. Sementara antagonis yang selalu menghendaki kehancuran jalinan cinta suci mereka adalah ibu kandung Anita sendiri, Nurmah. Ia lebih menghendaki Anita menikah dengan harun, agar nama baik keluarga tetap terjaga. Sama sekali bukan kebahagiaan Anita yang jadi tujuannya. Dengan dalih "demi masa depan anaknya" Nurmah mengawinkan Anita dengan Harun,  setelah berhasil mencerai-paksa Anita dan Henry yang sebelumnya berstatus suami istri.

Tergambar jelas dalam roman ini, betapa ironisnya Nurmah yang mengorbankan anaknya demi nama baik. Ia memaksa Anita untuk menikahi Harun dengan segala macam cara. Nurmah juga menjadi figur "pengatur" segala hal terkait dengan Anita, anak semata wayangnya. Suami Nurmah, Darwis seolah tak punya kuasa atas istrinya. Ini yang membuat Wardoyo, mertua Nurmah tak senang dengan dirinya. Merasa kasihan melihat anaknya tak bisa berbuat apa-apa. Lebih-lebih jika melihat kondisi cucunya, menyedihkan.

Hadirnya Kakek Wardoyo dalam roman ini juga menarik. Ia memiliki hubungan dekat dengan Harun, Anita, dan Henry. Henry, sebelum kenal Anita, lebih dulu mengorek bakal istrinya kepada Wardoyo. Anita, sebagai cucu, merasa tentram jika dekat dengan Wardoyo. Segala kegelisahan yang Anita rasakan, diceritakan kepada kakeknya. Hanya kakeknyalah yang mau mengerti perasaan Anita, yang selalu di bawah bayang-bayang kuasa penuh ibunya. Sementara Harun, di akhir cerita juga kerap mengunjungi Wardoyo, untuk menceritakan masalahnya setelah menikah dengan Anita.

Peran Wardoyo dalam roman ini yang membuat saya bertanya-tanya. Siapa Wardoyo? Karena tiap kali Anita atau Henry mengeluh, ia selalu tenang dan berkata: ini sesuai perkiraan saya. Di lain waktu ia juga berkata untuk menghibur cucunya: semua sandiwara ini akan berakhir. Saya curiga, jangan-jangan Wardoyo ini merupakan representasi dari penulisnya, Fredy S?

Ending dari cerita roman ini, kebahagiaan. Sepertinya memang generasi Fredy S, selalu menampilkan konflik bahagia-sedih- bahagia. Seolah ingin berpesan: bahwa semua yang lahir di dunia, bermula dari kebaikan yang akan tercoreng dengan liku perkembangan, namun pada akhirnya akan kembali pada permulaan. Semacam lingkaran.

Bukan bermaksud menjeneralisir. Pasalnya, dalam roman "Terpaut Di Lain Hati" bermula dari rasa ketersiksaan Anita. Bertemu dengan Henry, ia mendapat pengalaman baru. Intensitas dan kualitas pertemuan mereka yang mengantarkan pada pelaminan, dengan Wardoyo sebagai saksi, sementara Nurmah sama sekali tak tahu menahu. Pernikahan mereka berdua juga saya pikir merupakan buah dari ucapan Henry kepada Anita,"Pengalaman mudah dicari, Gadis Manis. Tetapi menentukan sikap itu yang sulit."

Anita telah bersikap bahwa ia berontak. Kuasa ibunya yang mencengkeram kuat, ia lawan dengan perkawinanya bersama Henry. Ini adalah sebuah penentuan sikap yang sulit. Meski ketika Anita dicerai-paksa ibunya, ia tak berkutik selain mengadu dan mengejam-kejamkan ibunya. Tapi tetap, dalam hati Anita bersikap menolak. Apapun yang terjadi, sikap Anita tetap: mencintai Henry.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Sunday, 4 September 2016

Dua Karya Marissa



Roman "Terjebak Rayuan Perempuan" karya Marissa tak jauh beda dengan "Luka Perkawinan". Intinya satu: dalang di balik rusaknya rumah tangga, tak lain adalah orang dekatnya. Kalau dalam 'Luka Perkawinan' adalah ibu mertua, di 'Terjebak Rayuan Perempuan' adalah adik kandung tokoh utama. Kedua roman tersebut sama-sama menjadikan wanita sebagai tokoh utamanya. Bidik latar belakangnya pun, kehidupan orang parlente. Elite Jakarta yang punya kehidupan mewah.

Ceritanya, Tessa menuntut cerai kepada suaminya, Harry. Ini karena sebuah film biru yang aktornya adalah suaminya sendiri dengan orang lain. Film tersebut, didapat dari kado ulang tahun dari orang tak dikenal. Film (baca: video) tersebut dibuat satu malam sebelum malam ulang tahun Tessa.

Satu minggu ia habiskan di Paris untuk menenangkan diri. Rumahnya di Jakarta, dirawat dua pembantu dan adiknya, Linda. Tessa juga memiliki anak angkat bernama Vanda, usia tujuh tahun. Anaknya, ditinggal di rumah dan dirawat Linda.

Sepulang dari Paris, ia menghadiri reuni. Kebetulan, di acara tersebut, Tessa berkenalan dengan Ray, pengusaha asal Bali.

Tanpa disangka, sepulang dari acara reuni, di rumahnya yang ditinggali Linda, menunggu Harry. Harry sangat berharap bisa berbicara dari hati ke hati dengan istrinya soal permasalahan mereka. Harry sangat mencintai istrinya, maka ia dengan sekuat tenaga berupaya menjelaskan video biru tersebut. Ia berkeyakinan, bahwa dirinya dijebak. Ada yang ingin rumah tangga Harry dan Tessa berantakan. Namun, berkali-kali ditegaskan, Tessa sama sekali tak percaya.

Tessa merupakan tipikal perempuan yang ramah dan tak pendendam. Ia juga tegar, ditinggal mati ayahnya sejak kecil dan kemudian ibunya saat usia Linda, anaknya, seumuran anak SMU. Untuk menghidupi dirinya dan adiknya, ia bekerja di bagian desain pakaian.

Sebelum insiden video biru tersebut, setengah mati Tessa mencintai suaminya. Video tersebutlah pemicu keretakan rumah tangganya.

Di sisi lain, tanpa sepengetahuan Tessa, Linda memendam dengki kepadanya. Ini lantaran dalam perkembangan Linda menuju dewasa, selalu dinomor duakan oleh ibunya. Juga dalam beberap hal, menjadi nomor dua setelah Tessa. Sebenarnya, suami Tessa tak lain adalah lelaki yang dicintai Linda. Tapi apa daya tangan tak sampai. Harry malah memilih Tessa sebagai pendamping hidupnya.

Tekanan-tekanan inilah yang mengunung, meledak menjadi rasa dengki dan iri. Muaranya, Linda membikin strategi untuk merebut Harry dengan jalan menghancurkan rumah tangga kakak kandungnya itu. Dugaan Harry bahwa dirinya dijebak, di akhir cerita terbukti juga. Belakangan diketahui, bahwa Lindalah yang menyewa perempuan dalam video tersebut untuk bercinta dengan Harry, sementara dirinya yang merekam. Pas momen ulang tahun pernikahan Tessa dan Harry yang kedua, Linda memberi bingkisan berisi kaset rekaman tersebut dengan tanpa nama.

Sama seperti novel Marissa terbitan 2002, Luka Perkawinan. Bahwa pengantar menuju ending cerita adalah terkuaknya strategi licik Linda untuk menghancurkan rumaj tangga kakaknya. Namun tetap, ini novel happy ending.

Dua novel Marissa yang saya baca, menyoroti kehidupan para pengusaha atau keturunan ningrat. Latar diskotik tak pernah hilang, sebagai pelampiasan kejenuhan setelah seharian ngantor. Adegan ciuman (yang sangat tabu di budaya kita) kerap mewarnai jalan cerita. Saya malah merasa, seolah sedang membaca novel karya penulis Barat. Melihat budayanya yang lebih condong kesitu. Atau mungkin, karena kekudetan saya, sehingga tidak tahu sisi lain kehidupan para pengusaha dan eksekutif muda di luar jam kerja dan urusan bisnis?

Entahlah! Saya malah merasa pusing dengan munculnya bermacam pertanyaan setelah membaca dua novel karya Marissa. Saya juga penasaran, seperti apa penulisnya. Yang jelas, dari dulu, Jakarta tetap diunggul-unggulkan dalam berbagai hal. Wajar, jika di akhir tahun 90-an menuju 2000-an, budaya 'kebarat-baratan' sudah lumrah terjadi di Jakarta. Ini merupakan pengetahuan baru.

Terima kasih, Marissa!

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Roman 'Luka Perkawinan' karya Marrisa


Roman "Luka Perkawinan" tulisan Marrisa penuh dengan konflik yang mengaduk-aduk emosi. Darinya, saya menangkap bahwa lingkaran setan itu ada. Maksudnya, dari semua tokoh yang ada dalam cerita, adalah korban. Korban menjadi tersangka, lalu menelan korban berikutnya. Korban perkawinan paksa orang tua, menurun juga ke anaknya. Korban hamil di luar nikah, atau hamil bukan dengan pasangan resminya, menurun ke menantunya (anaknya). Lantas, siapa yang disalahkan dalam hal ini. Karena semuanya adalah korban.

Ini yang membuat saya tertarik. Lisa yang sukanya nyabu, tertangkap dan dijebloskan ke penjara. Ini mengancam kemulusan bisnis papanya, Pram. Lalu, papanya menemui kepala sipir untuk menego agar anaknya, Lisa, bisa dikeluarkan.

Berbagai cara dilakukan, hingga sampai pada keputusan bahwa Lisa harus menikah dengan anak si kepala sipir, jika ingin bebas. Inilah awal mula petaka perkawinan. Karena, hanya untuk keperluan bisnis.

Lisa dan suaminya yang buruk rupa akibat kecakaan, Denis, tak bisa merasakan hangatnya pernikahan. Ini karena pernikahan paksa. Sementara ayah Denis, juga mencintai menantunya. Bahkan sampai membuahkan benih cinta.

Benih cinta tersebut, juga ternyata hasil dari kekecewaan ayah Denis, Vito, atas sikap istrinya. Kisah Vito juga sama: dijodohkan dengan anak kepala sipir yang tengah hamil dengan orang lain.

Ini yang saya sebut sebagai lingkaran setan yang harus segera disudahi.  Barangkali, potongan cerita tersebut adalah serpihan fenomena yang ada di Jakarta. Karena settingan tempatnya pun mewah: diskotik, tempat para eksekutif muda. Roman ini ditulis pada tahun 2002. Barangkali, pada waktu itu, tema-tema percintaan dan rumah tangga cukup laris. Sehingga penulis membidik cerita dari aspek tersebut.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Saturday, 3 September 2016

Rindu Kalian


Paling tidak, empat tahun kamu yang mahasiswa bisa menikmati keistimewaan Jogja. Status kemahasiswaa itu yang membikin kamu terlihat keren. Tapi apa iya cuma itu yang mau kamu banggakan: sebatas status?

Hoi, mahasiswa itu status yang mulia. Coba saya carikan status atau profesi apa yang lebih mulia (baca: stategis) untuk mendukung perkembangan skill, karakter, dan pengalaman serta keilmuan selain status mahasiswa!


Kamu mahasiswa yang secara otomatis punya tanggungjawab moral mengabdi ke masyarakat. Bukan cuma berlomba tinggi-tinggian IPK atau nilai! Rugi kamu kalau cuma itu yang dikejar! Ironis, naif, celaka!

Katanya, manusia itu dikatakan baik ketika mau dan mampu memberi manfaat kepada sesama makhluk Tuhan. Apa benar mengejar nilai dan IPK itu bermanfaat bagi sesama? Nilai dan IPK kan bisa dengan mudah dibeli. Kamu datangi saja dosennya, berbaik-baiklah sama dia. Atau kalau perlu, datangi rumahnya. Dapatlah kamu nilai dan IPK tinggi. (Ini berdasar omongan dosen saya di UIN).

Ada hal yang lebih penting dan bermanfaat untuk masa depanmu, bung, nona! Ukhti, akhi!

Kamu dalam usia produktif! 18-25 tahun. Apa iya kamu rela usia produktif ini disia-siakan begitu saja! Saya jamin, jika demikian, tepat setelah kamu memakai toga, artinya kamu menyumbang satu orang pengangguran terdidik. Tidak punya skill, pengalaman, relasi, dan sebagainya. (Paling tidak itu yang kini saya takutkan terjadi pada saya hehe).

Awal mula saya menjadi mahasiswa di Jogja, begitu cupunya tak tahu apa-apa. Pengalaman organisasi di MA belum maksimal. Juga, minim info soal kampus. Seolah, saya katak yang baru keluar dari tempurung.

Ini juga, saya kira, yang akan dialami alumni MA tempat kita belajar, ketika keluar kota untuk kuliah atau kerja. Atau untuk terjun ke masyarakat. Apa kamu tega melihat itu terjadi pada adik-adikmu?

Tentu, ada dua keuntungan yang didapat jika kita ingin berbagi pengalaman dan membimbing mereka. Pertama, untuk kita, sebagai media belajar dan menambah pengalaman. Kedua, untuk mereka, terbekali wawasan dan pengalaman dari kakak-kakak yang kuliah. Bonusnya, tentu kita jadi bisa menjalin silaturahmi dengan sesama alumni dan siswa di barat sana.

Saya kira, alumni Jogja punya keunggulan dalam hal skill dan pengalaman organisasi. Soal agama, biarlah diserahkan ke madrasah. Karena, bagaimanapun kita, tidak cukup membekali hidup dengan ilmu agama. Tapi yang lebih penting, membekali diri agar terampil hidup di masyarakat, agar praktik beragama kita lebih maksimal dan santun.

Terakhir, saya rindu kumpul dengan kalian. Mendengar cerita, pengalaman, dan ide kreatif yang muncul dari batok kepala kalian. Semoga kalian juga rindu dengan kenangan yang dulu sempat kita ukir bersama.

Jogja, September 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Friday, 2 September 2016

Soal Laki-laki dan Perempuan



Kamu tentu tak asing dengan tuntutan: kamu tak bisa ngertiin aku! Terlebih, bagi kamu yang memiliki kekasih atau mungkin pasangan resmi. Saya kira, ungkapan yang menuntut tersebut menghiasi perjalanan sejoli manusia.

Itu juga saya dapati dari karya Fredy S, Bukan Permainan Sandiwara. Antara lelaki dan perempuan yang suami-istri atas dasar cintapun, tak mampu mengomunikasikan kesenangannya dengan baik, di beberapa aspek.

Yang laki-laki, karena harga dirinya (dan mungkin pandangan patriarkhinya) menganggap upaya sang istri untuk mencari kerja, hanya bermodal kecantikan dan keseksiannya untuk menggoda laki-laki kaya. Agar bisa hidup kaya dan meninggalkan suaminya. Sang suami, karena kelaki-lakiannya, berprinsip bahwa memakan hasil keringat istri adalah penghinaan. Istri yang bekerja sementara suami menganggur, sangat mengancam posisi suami sebagai kepala rumah tangga.

Sementara dari pihak istri, menganggap bahwa apa yang ia lakukan sebagai pecut penyemangat suaminya agar kerja keras. Penampilannya yang elit, untuk menyuntikkan motivasi kepada suami agar semangat mencari nafkah. Keputusannya untuk bekerja agar finansial keluarga bisa diselamatkan, oleh suami dirasa mengancam otoritasnya.

Ini membuat saya sadar, betapa sulitnya mengawinkan harapan dengan kenyataan. Mengawinkan niat mulia dengan efek yang ditimbulkan. Karena, tak selamanya niat baik akan direspon baik pula oleh spesies di luar diri kita.

Artinya, ukuran baik selayaknya dibicarakan dengan kepala dingin secara bersama. Sehingga, tak ada kesalahpahaman dan setiap individu (khususnya yang sudah berpasangan) bisa menempatkan diri sesuai tugas yang disepakati.

Tapi, yang saya lihat dari karya Fredy S ini ada sisi 'uniknya'. Sang suami, Dicky, memang tipikal orang sederhana, bukan mencari kekayaan melainkan kecukupan. Ia juga memiliki gengsi yang begitu tinggi. Emosi yang gampang meletup-letup, sebagai pemicu awal keretakkan rumah tangga. Memiliki pandangan patriarkhi, bahwa perempuan mbok ya di rumah saja (karena takut digoda atau menggoda laki-laki jika kerja di luar).

Sementara istri, Tanti namanya, memiliki pribadi yang simpatik. Setia dan pandai menjaga harga diri sebagai perempuan bersuami. Penyabar menghadapi 'kekanak-kanakan' sang suami. Dan yang cukup mengharukan, mau menerima suami apa adanya, sekalipun sudah banyak borok menempel di hatinya.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Bukan Permainan Sandiwara karya Fredy S


Ditulis tahun 1992 oleh novelis legendaris, Fredy S, Novel "Bukan Permainan Sandiwara" menarik sekali untuk dibaca. Dalam merdeka.com diceritakan bahwa Fredy S meninggal pada Januari 2015 karena stroke. Awal karier kepenulisannya, sekira tahun 1980-an. Beberapa tulisannya juga diterjemahkan dalam bahasa Singapura dan Malaysia. Fredy S, dikenal dengan novelis yang sukanya membidik cerita erotis dan dewasa. Namun, kariernya dalam kepenulisan berakhir dan pindah ke perfilman ketika internet sudah mulai masuk Jakarta. Sebenarnya, Freddy S asli Semarang, namun berkat hasil penjualan novelnya, ia boyong ke Jakarta bersama istrinya. Ia punya empat anak, dan menginginkan empat-empatnya jadi pegawai kantoran, tidak seperti ayahnya yang seniman.

Oke, sesuai rencana awal saya untuk membedah novel "Bukan Permainan Sandiwara". Novel ini selesai saya baca sekira 12 jam setelah saya pinjam dari kawan. Tebalnya 192 halaman.

Ada dua tokoh utama yang cukup kuat karakternya. Tokoh tersebut adalah suami istri yang hidup pas-pasan, terlebih ketika sang suami di-PHK lantaran menjual bahan baku di pabriknya secara ilegal. Sang suami, namanya Dicky. Sementara istrinya, Tanti.

Melihat suaminya menganggur dan tak lekas mencari pekerjaan, Tanti tak bisa menahan diri untuk tidak bekerja. Tanti orangnya cantik, seksi, dan idaman para lelaki. Karena anugerah inilah, Dicky khawatir jika istrinya kerja di luar rumah. Khawatir tergoda atau menggoda lelaki lain yang lebih mapan.

Konflik mulai muncul ketika Tanti mendapat kerja kantoran. Sementara suaminya masih tetap menganggur. Tanti, di gaji pertamanya mengajak Dicky makan dan menonton bioskop (film Barat). Karena rasa sayangnya pada suami, sesampai di rumah Tanti memberikan servis luar biasa.

Saya tertarik dengan karakter Dicky yang sangat membenci hal-hal yang berbau Barat: tentu, ini merujuk ke Eropa khususnya Amerika. Ia, ketika diajak nonton film barat oleh istrinya, malah hampir tertidur. Ini sebagai perlawanan Dicky kepada istrinya. Karena, semenjak istrinya punya pekerjaan, kendali rumah tangga seakan berpindah ke istrinya. Yang punya uang pegang kendali. Sebagai bentuk protes, Dicky juga mulai suka berbaur di tempat judo dan lokalisasi. Ia tak sudi, memakan uang hasil keringat istrinya. Inilah, keegoisan Dicky. Semenjak istrinya kerja, tak bisa sama sekali Dicky berpikir positif. Selalu saja, kecurigaan yang muncul, meski niat istri untuk meringankan beban suaminya.

Dicky mulai jarang pulang. Ia meninggalkan istri tanpa kepastian status. Menceburkan diri ke lokalisasi. Menipu, merampok, menodong orang-orang untuk sekadar membeli wanita, yang bernama Marry. Ia pilih Marry dari sekian wanita, karena kesintalan tubuhnya. Ia nikmati malam-malam bersama Marry. Hingga ia baca artikel di koran tentang AIDS, barulah berhenti menyewa pelacur. Seakan birahinya rontok seketika lantaran takut dengan AIDS, penyakit yang belum ditemukan obatnya.

Ia, setelah menodong nasabah bank dan membawa kabur motor tukang ojek, hidupnya glamaur. Mengontrak rumah elite dan menyewa sedan beberapa bulan, lalu memasang iklan di koran di bagian biro jodoh. Ia menyadari, bahwa sebagai laki-laki butuh pendamping perempuan. Ia normal dan tak bisa hidup tanpa perempuan.

Dari iklan yang ia pasang, 5 surat balasan ia dapat. Namun hanya tiga surat yang ia ladeni; dari Lia, Putri, dan Anti. Ia kecewa berat ketika mengetahui bahwa Lia wanita panggilan kelas elite. Kegeramannya memuncak setelah ia tahu bahwa Lia kerap melayani bule. Ia tinggalkan Lia di hotel berbintang dalam keadaan telanjang dan terikat.

Perempuan kedua adalah Putri. Orangnya bersahaja dan kalem, namun punya adik selusin dan hidup bersama orang tua setelah menjanda. Kecewa juga Dicky, mendapati dirinya ditipu Putri. Ia pun tinggalkan Putri.

Sementara perempuan ketiga, Anti tak lain adalah Tanti, istrinya yang ditinggal. Mereka berdua, bertemu di sebuah hotel. Terkejut sekaligus senang, mendapati istringa kembali ke pelukan. Terlebih, ketika tahu bahwa sang istri masih suci, tidak pernah tersentuh lelaki lain sebagaimana yang ia tuduh-tuduhkan. Istrinya setia menunggu sang suami.

Tanti kagum dengan kekayaan suaminya. Ia tak tahan untuk bertanya asal harta tersebut. Dengan sedikit ragu, Dicky menceritakan bahwa semua hartanya, adalah hasil merampok.

Tanti yang ingin kehidupan rumah tangganya baik-baik saja, meyakinkan suami untuk menyerahkan diri ke polisi. Tanti berjanji, selama di penjara ia akan rutin jenguk suaminya. Dan demikianlah akhir ceritanya. Happy ending...

Jogja,2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Thursday, 1 September 2016

Wisuda, Perayaan yang Sepi



Jika dihitung, waktu teman-teman angkatan saya (generasi pertama) wisuda, saya masuk semester sembilan. Artinya, saya, jika diukur dengan lulusan ideal versi kampus, sudah waktunya angkat kaki dari kampus. Tapi, saat saya mengetik tulisan inipun, sama sekali belum ada bayangan judul skripsi seperti apa.

Saya amati, dari wisuda ke wisuda, para wisudawan/wisudawati selalu 'memaksa' kawan atau kekasih untuk menghadiri. Juga beberapa ada yang mengharap bingkisan. Ada juga yang memanfaatkan momen tersebut sebagai awal mula bangunan rumah tangga. Yang jelas, setiap individu yang diwisuda, selain keluarga, sangat mengharap ada yang mendampingi, paling tidak untuk foto kenangan.

Kegembiraan pecah semenjak mereka keluar dari gedung seremoni. Sanak-saudara-kerabat dan kawan-kawan serta calon pendamping hidup, dengan 'lelehan air mata' bahagia, menyambut mereka. Mereka, dikelilingi oleh siapapun yang peduli dengan capaiannya sebagai wisudawan.

Saya mulai berpikir wisuda adalah momentum seremonial yang sepi. Sepi, karena setiap yang diwisuda selalu saja menginginkan ada kerabat atau kawan atau kekasih sekalipun untuk mendampingi. Sepi, karena saya pikir, orang yang diwisuda merasa bahwa ini adalah akhir dari status kemahasiswaan, yang berarti, predikat 'istimewa' juga sudah hilang seiring disematkannya toga. Juga, sudah menunggu di benak masa depan antah barantah, sehingga membuat ia merasa sepi dari optimisme (saya tidak maksud menjeneralisir). Maka untuk menyiapkan diri sabut status baru, di momen wisuda coba untuk melepas cengkraman sepi dengan melibatkan keluarga dan kawan-kawan untuk menemani. Meski sesaat, tapi itu sangat berarti. Karena, kesepian yang panjang sudah menanti, tepat setelah seremonial wisuda usai.

Jadi, memang benar, bahwa wisuda adalah perayaan yang sepi. Perayaan, untuk meruwat diri dari kesepian. Menuju kesepian 'abadi'.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Kubu Barat Kubu Timur


"Kubu Barat itu satu perspektif. Wajar jika mereka bisa bergerak bersama, karena memiliki satu tujuan dan misi yang sama. Selain itu, mereka juga cukup (bahkan sangat) berhasil menempatkan misionarisnya ke institusi. Kader mereka mengisi bagian-bagian strategis. Ini meresahkan!"

Saya tidak sedang berbicara Barat sebagaimana kita pahami: Negara Barat. Ini hanya istilah saja, untuk segembong misionaris yang membawa misi besar untuk ditanamkan ke masyarakat. Media awalnya, melalui institusi pendidikan.

(Mohon kalau saya salah diperingatkan!)

Karena mereka punya 'kuasa' atas institusi tersebut, maka dengan membabi buta mulai menyebarkan doktrin secara halus dan kasar. Memang, secara kasat mata, doktrin itu terlihat baik. Namun jika diamati efeknya, luar biasa. Sebagai contoh, doktrin soal berpenampilan saja sudah mampu membikin seseorang membenci bahkan me-neraka-neraka-kan orang lain.Memangnya Anda Tuhan po me-neraka-neraka-kan orang lain? Ini baru doktrin (yang dipaksakan dan sistematis) soal penampilan, bung! Belum yang lain-lainnya.

Selain itu, arogansi para misionaris juga membuat sebagian orang melipir, mundur teratur agar tidak terpapar radiasi doktrin mereka yang kian kuat. Ini membuktikan, bahwa doktrin yang mereka tanamkan ke batok kepala setiap individu dalam institusi tersebut, tidak diterima semua orang.

Sementara di sisi lain, kubu Timur juga memiliki misi yang menurut mereka mulia. Misi, yang bisa membikin warga institusi tersebut memahami potensi diri serta posisinya dalam hidup bermasyarakat. Bahwa dirinya bukanlah Tuhan, yang merasa paling benar, dan me-neraka-neraka-kan orang lain.

Namun, kendala muncul ketika tidak ada kesepahaman antar anggota dalam kubu. Tidak seperti kubu Barat, kubu Timur tak memiliki basis masa yang banyak. Selain itu, juga tidak memiliki orang dalam yang punya posisi strategis. Lengkaplah sudah penderitaan kubu Timur.

Tapi begitulah adanya. Paling tidak, beberapa anggota kubu Timur, sedikit demi sedikit mampu melepas doktir yang pernah diterimanya secara bertahan. Tentu, ke-legowo-an diri yang membikin banyak perubahan dalam diri. Saat ini memang kalah, tapi entah besok atau lusa, ketika ada figur dalam institusi tersebut, mau dan mampu berontak. Ditambah, perlawanan dari masyarakat sekitar institusi yang tak sreg dengan doktrin-doktrin tersebut. Tentu, muara dari prediksi yang saya utarakan jika menjadi kenyataan, adalah kehancuran..

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...