Thursday, 27 October 2016

Cucu jadi Guru untuk Neneknya


Cerita dari desa pesisir, yang masyarakatnya kerap dikenal sebagai badui, jauh dari ajaran agama Islam. Dan memang tuduhan itu tak ada salahnya. Buktinya, di desa saya ini, masyarakat yang sekarang dikategorikan sebagai kakek dan nenek, banyak yang belum mengenal huruf hijaiyah. Sebagian lain juga sebatas KTP islamnya (pandangan subyektif). Dan macam-macam lah.

Nah, yang membuat saya tertarik adalah, perubahan yang terjadi selama empat tahun saya di perantauan. Pulang di bulan Oktober 2016, saya berkunjung ke mushola untuk shalat maghrib, dan setelah shalat, kok banyak ibu-ibu (nenek-nenek) yang pegang buku iqro'. Mereka berkumpul dan saling berlomba mengeja huruf-huruf hijaiyah. Apa sebenarnya yang mendorong mereka mau belajar baca iqra', dan al-qur'an di waktu tua?

Soal ini, saya tanyakan langsung ke ibu, selaku anggota majelis ngaji ibu-ibu tersebut. Saya gali layaknya wartawan partikelir (meminjam istilah warkop DKI). "Yung, kok bisa mereka mau belajar baca iqra? Sebenarnya apa sih yang mendorong mereka?" tanya saya.

Ibu, dengan tiduran, karena seharian kecapean di sawah, menjawab dengan santai, disertai senyuman yang khas nan manis. "Mereka iri dengan Majelis Ngaji Ibu-ibu di Masjid Selatan. Di Masjid Utara, juga ada pengajian khusus ibu-ibu. Nah, dari situ ada kemauan: yuh pada ngaji!"

Tidak hanya mengaji saja, mereka lumuri niat mengaji dengan semangat meletup-letup. Seakan enggan kalah denga dua majelis yang saya sebutkan tadi. Kalau dua majelis tadi hanya ngaji seminggu sekali, di mushala depan rumah saya, atas kesadaran ibu-ibu, mereka rutin tiap usai maghrib mengaji, sampai isya. Mereka kebanyakan ngaji iqra, meski oleh cucu-cucu mereka sering diolok-olok: haha, nini belum bisa baca iqra!

Selain diwarnai olok-olok para cucu, masing-masing juga punya caranya sendiri-sendiri. Menentukan metode mengaji secara mandiri, tidak dipaksa. Ada yang ngajinya lanjut terus meski belum hafal benar huruf-huruf hijaiyahnya. Hafalnya sambil jalan, katanya. Ada juga yang diulang-ulang terus, hingga hafal. Macam-macam lah. Dan yang terpenting, mereka menikmati.

Tentu saja saya sebagai angkatan muda yang kurang visioner, melihat fenomena ini dengan decak kagum. Bayangkan! Mereka, ibu-ibu yang sudah menjadi nenek 'muda', mampu mengalahkan rasa gengsi dalam diri. Mengalahkan egoisme. Saling mendukung. Dan tetap, saling tebar tawa. Jika demikian, nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan?

Ada kejadian menarik yang saya dengar dari ibu. Jadi, ada salah satu nenek yang belum bisa baca iqra. Dengan rendah hati, ia mengakui keterbatasannya kepada cucunya, usia taman kanak-kanak. Kebetulan cucunya ini, dititipkan di TK berbasis kurikulum agama.

Nenek tersebut, setelah mengakui keterbatasannya, lalu meminta bantuan pada cucunya untuk mengajarinya baca iqra. Cucunya, dengan bangga menyanggupi, meski ia juga masih iqra, hanya tingkatannya sudah cukup tinggi.

Di sela cucu ini mengajari ngaji neneknya, ia dipanggil bapaknya: pulang, banyak PR yang harus dikerjakan! Kira-kira begitu. Sebagai anak kecil yang taat, ia turuti kemauan bapaknya. Tapi, dengan muka yang ditekuk.

Di rumah, ia diam seribu bahasa. Ditanyai oleh orang tuanya, tak mau bersuara. Hingga di pagi harinya, ia kembali ditanya, kenapa semalaman tidak mau bicara. Wong lagi asyik ngajari nenek ngaji, malah dipanggil, kata anak kecil tersebut.

Sudahlah coba lepaskan aturan-aturan yang kaku, jika memang dibutuhkan. Belum balig bukan berarti tidak kompeten, bukan? Jika melihat kasus ini.

Dari dulu saya mendambakan kejadian semacam ini, hadir dalam kenyataan. Dan tahun 2016 bulan 10, dambaan saya datang juga. Ada cucu belum akil balig, mengajar ngaji neneknya. Ini membuktikan, betapa harmonisnya hubungan angkatan tua dan muda. Angkatan tua, dengan rendah hati memberi ruang eksperimen untuk angkatan muda. Bagi saya, ini sejarah yang langka. Ini juga, sebagai awal bongkarnya hubungan kaku antara angkatan tua dan muda. Anggapan yang melihat (dari kacamata orang tua) bahwa anak muda belum bisa apa-apa. Anak kemarin sore. Juga anggapan (dari kacamata angkatan muda) bahwa angkatan tua itu kolot, egois, eksklusif dan tidak mau menerima angkatan muda sejajar dengan mereka. Anggapan-anggapa ini, seketika buyar dengan fenomena tersebut.

Bisakah ini juga terjadi secara meluas dan massif? Saya yakin, tinggal menunggu waktu. Karena sejarah perubahan di dunia ini, selalu saja bermula dari suatu yang kecil.

Kebumen 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 25 October 2016

Muslim Materialis dalam Masyarakat Industrial



Indonesia yang begitu ‘hijau’, membentuk budaya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan dengan jalur bercocok tanam. Namun, seiring berkembangnya teknologi, sekira di abad ke-20, Indonesia mau tidak mau mendapat gempuran dari perkembangan negara-negara maju (negara industrial) di dunia. Terlebih, menyangkut persoalan ‘pemenuhan kebutuhan hidup’, cukup besar perubahannya

Masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup pada lahan, kian terusik. Sehingga, perlu kiranya untuk membicarakan beberapa hal yang menyangkut masyarakat yang telah mengalami industrialisasi. Sebab, mengatakan bahwa kita tidak berkepentingan mengimplikasikan bahwa kita tidak terkena akibat-akibatnya yang buruk, adalah tidak realistis.
            Nilai-nilai Masyarakat Industrial

Ada perbedaan nilai-nilai mendasar yang berlaku dalam masyarakat non-industrial  dan industrial. Dan secara umum, nilai-nilai tersebut dibagi menjadi dua, yaitu nilai formal dan non formal. Menurut Jock Young, ada tujuh nilai formal yang berkembang dalam masyarakat industrial: (1) kesenangan yang tertunda, (2) perencanaan kerja atau tindakan masa datang, (3) tunduk kepada aturan-aturan birokratis, (4) kepastian, pengawasan yang banyak kepada detail, sedikit kepada pengarahan, (5) rutin, dapat diramalkan, (6) sikap instrumental kepada kerja, dan (7) kerja keras yang produktif dinilai sebagai kebaikan.

Ketujuh nilai tersebut yang mendasari berjalannya masyarakat Industrial. Penekanan pada banyaknya hasil produksi, membikin ‘mesin penggerak’, dalam hal ini manusia, untuk bekerja lebih keras lagi. Sehingga, dalam masyarakat Industri, manusia akan berharga ketika memiliki skill dan kekuatan fisik, untuk menjalankan sebuah produksi di pabrik, misalnya.

Rutinitas kerja buruh yang demikian membentuk imajinasi kebebasan dalam diri buruh. Karena bagaimanapun, jika kita bicara soal manusia yang ideal, maka mereka yang merasa bebas, dalam artian bisa menjadi tuan pada dirinya sendiri, masuk ke dalam kategori tersebut. Maka, kerap terjadi buruh bekerja hanya untuk mengumpulkan modal agar bisa menikmati waktu berlibur di akhir pekan. Menikmati hidup layaknya manusia.

Pembangunan pabrik-pabrik di lahan produktif maupun peralihan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, merupakan indikator yang mudah kita jumpai, untuk sampai pada kesimpulan bahwa Indonesia tengah merangkak, menuju masyarakat Industrial. Ini sebagai konsekuensi dari kemajuan teknologi dan alat produksi, dan kebutuhan manusia yang kian menggunung.

Industrialisasi memang bertujuan untuk kemakmuran. Kemakmuran secara materi, untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.  Namun, kemakmuran tersebut butuh tumbal yang tidak sedikit; yaitu kemanusiaan itu sendiri.
            Keberislaman yang Materialis
Muhammad Al-Fayyadz, dalam islambergerak.com, menuliskan betapa penting peranan agama Islam dalam menyikapi persoalan seperti ini. Terlebih, melihat praktik berislam yang kerap memunggungi rasa keadilan. Menurutnya, ada tiga elemen yang musti diperhatikan dalam kegiatan ekonomi, yaitu produksi, distribusi/transaksi, dan konsumsi.

Absennya perhatian pada ranah produksi sebagai ranah darimana komoditas dan hasil kerja diolah, menjadi suatu ilusi fatamorgana bahwa komoditas itu ada dengan sendirinya, seolah-olah tidak lahir dari perampasan atas tenaga kerja buruh. Yang halal untuk dijualbelikan dan dikonsumsi (ranah distribusi dan konsumsi) tidak pernah ditelusuri sampai ranah produksinya; benarkah produk itu dihasilkan tanpa mengambil hak pekerjanya?

Untuk itu, agar Islam dapat membela kembali kepentingan kelompok yang tertindas dan terpinggirkan, kita membutuhkan keberislaman yang materialis. Ia adalah keberislaman yang bertolak dari kondisi-kondisi sosial yang konkret, yang digugah oleh ketimpangan, kesenjangan, dan kontradiksi antara “yang seharusnya” dan “yang senyatanya”.

 Keberislaman yang materialis adalah bentuk keberagaman yang progresif. Sebagai bentuk keberagaman, ia memiliki pendekatan yang khusus dalam memaknai keimanan dan keislaman –keimanan dan keislaman tak cukup diyakini dan diamalkannya, tapi juga mendorongnya mengubah kondisi keumatan yang obyektif. Seorang Muslim yang materialis tidak puas dengan shalat lima waktu dan berzakat, sampai menyadari bahwa shalat dan zakatnya membawa dampak signifikan bagi perbaikan hidup masyarakat. Dalam menjalankan syariat Islam, ia percaya bahwa syariat itu, jika sungguh-sungguh membawa rahmat, ia tidak akan melibatkan unsur eksploitatif atau merugikan sesama. Ia tidak berhaji dari uang perolehan tunggakan gaji buruh, atau hasil menjual lahan yang menjadi tempat bergantung hidup keluarga miskin. Ia berhaji dengan hasil keringatnya sendiri.

Dikliping dari:
Madjid, Nurcholish. Islam dan Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan, 1999.
Artikel berjudul “Membangun Keberislaman yang Meterialis: Arah Perjuangan Ekonomi-Politik Islam Progresif” karya Muhammad Al-Fayyad.
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 24 October 2016

Kesurupan



Minggu, 23 Oktober 2016 di Masjid UNY, sekira pukul 13.30-an, saya bermaksud membasuh tangan untuk shalat. Menjejakkan kaki ke masjid, samar-samar saya dengar suara orang melantunkan ayat al-qur'an dengan dirubung banyak orang. Tertarik dan kebetulan saya juga mau ke situ, saya cari sumber suaranya.

Seorang laki-laki gemuk dijaga dan dipegangi empat laki-laki. Ia berteriak tak karuan. Tubuhnya basah diguyur air kran. Dan waktu itu saya baru pertama kali menyaksikan: orang kesurupan. Ia yang kesurupan berteriak, ini jinnya di ketek. Sontak salah satu di antara empat lelaki yang menjaganya, menusuk-nusuk keteknya dengan dua jari, sembari komat-kamit. Sementara yang ditusuk, menjerit menggelikan dan berhasil membuat yang hadir di situ tertawa dalam ketakutan. Tertawa karena tingkah lucu (teriakannya lucu banget) orang yang kesurupan. Takut, karena mereka sadar, sedang berhadapan dengan jin yang merasuk. Atau lebih tepatnya, mungkin, khawatir atas nasib lelaki yang kesurupan jika jinnya tidak keluar segera.

Ada hal unik yang saya tangkap dari kasus tersebut. Yaitu, bahwa empat orang yang berikhtiar mengeluarkan jin tersebut, secara penampilan sangat 'islami' (arabis?). Mereka memakai gamis, suara pas melantunkan ayat al-qur'an merdu, dan sepertinya fasih. Tapi anehnya, dengan sekian atribut yang ada, tetap saja tidak berpengaruh pada keluarnya jin dalam tubuh inangnya. Adakah yang kurang dari mereka, para pengusir jin dari inangnya?

Saya, pada waktu itu, tersenyum geli (jahat, sinis, meremehkan?) bahwa tidak ada kaitannya apa yang nampak dalam tubuh seseorang, terhadap ampuhnya mantra yang dikeluarkan meski dengan dzikir-dzikir kepada Allah. Seorang awam, ibaratnya, tentu beda kualitas 'makbulnya' doa, dibanding mereka orang-orang shaleh. Saya malah tertarik untuk membandingkan, mereka empat laki-laki tersebut, masih kalah dengan paranormal yang biasa nampang di tivi, dalam hal mengusir jin dari dalam tubuh. Apa mereka, paranormal yang dengan mantra-mantranya mengusir jin, bisa dikata lebih 'shaleh' dari empat laki-laki tersebut? Entahlah, karena yang bisa menilai shaleh tidaknya, hanya Yang Kuasa yang mampu. Sebagai hamba Sang Khalik, kita hanya mampu menilai apa-apa yang nampak.

Sekira 15 menit saya menyaksikan, atau mungkin setengah jam, belum usai bergulatan mereka berempat melawan jin yang merasuk laki-laki gemuk tadi. Saya ceritakan ini pada seorang sahabat, malah ia jawab kira-kira begini: "itu dibohongi jin. Mana ada jin merasuk ke ketek. Adanya ya di punggung. Nggak paham mereka," katanya

Dan saya juga jadi ingat dengan wejangannya Cak Kus, ketua majelis yang konsen mengkaji sufi-nya Jalaludin Rumi. Bahwa empat orang tersebut (dan saya juga termasuk) sepertinya masuk pada maqom seseorang ketika masih bergantian antara nafsu menang dan orang itu yang menang. Sehingga wajar, jika mengeluarkan jin dari dalam tubuh saudarany kewalahan. Karena, tidak ada koneksi yang lancar plus jernih dengan Sang Khalik.

Kejadian tersebut juga membuktikan, betapa kita masih berlomba-lomba mendapat sanjungan dan menghindari celaan, dengan cara jaga penampilan luar dan sering luput memberi nutrisi batin. Ini persoalan kita bersama, dan solusinya ada dalam diri masing-masing individu.

Kasus kesurupan di UNY ini, sungguh berharga untuk dilewatkan atau hanya dijadikan tontonan. Karena, Allah dengan lembutnya, menyelipkan pelajaran berharga dalam kejadian tersebut.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 17 October 2016

Soal Islam dan Penganutnya (lanjutan)


Telah lalu tulisan mengenai kegelisahan saya soal praktik berislam di berbagai penjuru dunia, khususnya di Indonesia atau lebih spesifiknya Jawa, tempat saya lahir dan tinggal. Dalam artikel tersebut, saya memang lebih pada mengritisi umat Islam yang menilai saleh-tidaknya seseorang dari tampilan. Lebih spesifik, dari tumbuh dan dipeliharanya jenggot serta celana yang cungklang. Menurut mereka, jika umat islam memiliki tampilan demikian, otomatis 'sedikit' lebih islami dari orang yang biasa-biasa saja dalam berpakaian.

Sehingga dari pandangan semacam ini, saya menarik kesimpulan bahwa nilai Islam yang rohmatan lil'alamin justru tercoreng. Di tubuh umat Islam, justru semakin nampak garis demarkasi (sekat) yang mengotak-kotakan. Karena telah terkotak-kotak sedemikian rupa, kerapkali terjadi gesekan yang tak jarang menimbulkan percik api permusuhan. Klaim kafir juga bisa dengan mudah meluncur dari kotak-kotak tersebut. Kotak satu mengkafirkan kotak dua, sementara kotak dua menilai kotak satu kolot, pekok, dan semacamnya.

Nah, yang ingin saya tuliskan sekarang adalah, pandangan 'muslim biasa' pada muslim berjenggot dan bercelana cungklang.

Saya bercerita berdasar pada pengalaman selama menjadi mahasiswa di Jogja, terkhusus kampus Islam. Saya, yang belakangan baru menyadari mengenyam pendidikan islam (setengah wahabisme; paham wahabi) mengalami beragam gesekan, baik di kampus, organisasi, maupun lingkungan tempat saya tinggal.

Saya hidup dan berinteraksi, seringkali, dengan kawan-kawan nahdlotul ulama. Entah itu di kampus, organisasi, maupun kos/asrama. Juga dengan kawan muda Muhammadiyah, meski tidak seinten seperti dengan kawan NU. Karenanya, sedikit-banyak saya menyimak dan terlibat langsung dalam beragam obrolan, termasuk soal 'ejekan' untuk tetangga sebelah yang hobi memakai pakaian gamis-cungklang dan berjenggot lebat, serta ada dua bekas hitam di jidatnya. Jika obrolan mengarah pada tema tersebut, meriahlah jadinya.

Menurut mereka (tidak bermaksud menjeneralisir), muslim semacam itu tidak pantas untuk tinggal di Nusantara. Kalau memang mau berpenampilan demikian, ya monggo di Arab saja. Terlebih untuk mereka yang sukanya membid'ah-bid'ahkan golongan lain. Wong wajah antum saja sudah bid'ah, tidak ada di masa nabi. Tentu saja, muslim jenis ini menjadi sasaran empuk dan menjadi bulan-bulanan mereka.

Mereka tidak sepakat, atas pandangan yang mengharuskan umat islam meniru segala hal yang lahir di Arab, utamanya pakaian dan budayanya. Hanya karena Islam lahirnya di Arab.

Praktik berislam, tidak bisa lepas dari kebudayaan setempat. Coba bayangkan saja, jika umat seluruh dunia, dalam berislam harus menggunakan budaya Arab? Tentu saja itu akan menyalahi fitrah, bahwa Islam milik semua umat manusia, bukan milik bangsa Arab. Sehingga, semakin jelas bahwa untuk praktik ibadah, selalu membutuhkan warisan budaya dan adat istiadat setempat, selama itu tidak bertentangan dengan semangat Islam.

Berkait kelindan-nya Islam dan budaya tentu tidak bisa ditampik lagi. Sebagai contoh, tahlilan yang awalnya ritual masyarakat Hindu-Budha, oleh wali songo disisipi dzikir-dzikir islam untuk mengganti mantra-mantra. Sesaji yang awalnya ditujukan untuk lelembut, 'dibelokkan' dengan dibagikan pada tetangga atau peserta tahlilan.

Dari tempaan yang demikian, saya mendapat pandangan baru: bahwa tahlilan adalah satu metode wali songo untuk menyebar dakwah Islam. Sama seperti, jika kamu alumni MWI, media drum band sebagai alat penyebar dakwah, agar masyarakat memilih menyekolahkan anaknya di MWI.

Dan dari sini, saya kerap terjebak pada pandangan hitam-putih. Ejekan dan bullyan dari kawan-kawan 'di luar muslim jenggot dan celana cungklang', perlahan saya nikmati. Sehingga di setiap forum diskusi atau sebatas ngobrol santai, sering terlontar guyonan yang menjurus memojokkan muslim 'berjenggot'. Dan tentu, saya juga kerap tergiring untuk mengatakan bahwa muslim yang demikian, adalah muslim yang gagal paham. Maksudnya, memahami teks hadits sebatas teks, tidak memperhatikan sejarah atau fenomena yang menyertai dikeluarkannya hadits tersebut.

Untuk itu --pada siapapun yang membaca tulisan ini-- ada satu hal yang ingin saya minta: ajarkan saya untuk berlaku adil, sejak dalam pikiran!

Adil, dalam menilai berbagai kelompok islam, dengan tatapan kagum sebagai khazanah keilmuan, bukan dengan tatapan nyinyir dan klaim benar pada diri sendiri.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Saturday, 15 October 2016

Soal Islam dan Penganutnya


Soal keislaman, saya memang tidak terlalu paham dan belum mendalami sampai ke akar-akarnya. Keterbatasan kemampuan berbahasa Arab, juga kekurang gairahan dalam mempelajari Islam juga menjadi kendala serius, yang sebenarnya tidak perlu dijadikan alasan untuk tidak belajar.

Meski demikian, diri ini tak kuasa untuk menahan agar tidak ikut berkomentar terkait keislaman. Persoalan islam dan penganutnya, serta keberagaman pemahaman soal Islam, membuat gatal mulut ini untuk tetap bungkam. Gatal juga rasanya, tangan ini untuk tetap diam, tidak berbuat apa-apa, sementara perdebatan dan klaim kafir kerap terlontar antar umat Islam. Sungguh tidak mengasyikkan jika ini dibiarkan bergulir begitu saja. Adanya, perpecahan antar umat Islam terus menganga, dan otomatis, cita-cita ukhuwah islamiyah jauh panggang dari api.

Islam, sebagaimana pesannya dalam al-qur'an, adalah agama rahmatan lil'alamin. Diturunkan di Arab lewat perantara Malaikat Jibril kepada nabi yang ummi, Nabi Muhammad saw. Sebagaimana agama-agama sebelumnya, Islam juga memiliki kitab suci bernama al-qur'an. Ia (baca: al-qur'an) merupakan firman Gusti Allah sebagai petunjuk manusia dalam menjalani hidup sebagai makhluk bertuhan, individu, dan sosial. Karena sifatnya yang tak lekang oleh zaman, al-qur'an menjelaskan segala persoalan dan prinsip hidup secara universal.

Ini yang saya tahu tentang Islam. Selain al-qur'an, umat Islam juga diperintahkan untuk mengikuti sunnah rasul. Karena rasul, adalah teladan terbaik umat, maka muslim baik sudah sepantasnya menirunya.

Islam yang awalnya turun di Arab, lambat tapi pasti tersebar di setiap penjuru dunia. Yang tentu saja, secara budaya dan adat istiadat juga beragam. Sehingga, sering kita jumpai meski sesama muslim, tapi beberapa gerakan shalat maupun pakaian 'kebanggaan' yang berbeda. Di Arab identik dengan pakaian jubah atau gamis. Sementara di Indonesia, sarung, peci, dan baju koko menjadi ciri khas. Begitu banyak perbedaan yang terjadi.

Namun yang menjadi pertanyaan saya di sini adalah: apa alasan seseorang mengatakan bahwa yang tidak memakai gamis dan berjenggot, atau berjilbab besar bagi perempuan, kurang Islami? Dan kenapa kesalehan seseorang kerap diukur dari lama atau sering-tidaknya ia ke masjid?

Untuk yang pertama, adalah mereka yang melakukan 'itiba' pada sebuah hadits. Karena ada hadits yang mengatakan demikian, maka dilakukanlah dengan penuh harap mendapat ganjaran atau ridha Allah. Okelah, saya tidak menyalahkan bagi mereka yang demikian. Itu adalah baik, karena niatnya adalah untuk mencari ridha Allah. Akan tetapi yang sama sekali tidak menyenangkan, ketika mereka menyalahkan (atau minimal memandang nyinyir) muslim di luar mereka. Menganggap, muslim yang hanya memakai kaos dan celana jeans kurang islami dibanding mereka yang memakai jubah, jilbab besar maupun berjenggot. Untuk mereka yang demikian, saya mengatakan rasa patut mengingatkan: lebih baik antum hidup di jaman nabi saja sana! Atau di Arab saja!

Bukankah ada beberapa hadits (atau bahkan semuanya?) yang dikeluarkan untuk merespon fenomena yang terjadi saat itu? Yang jika dikaji lebih mendalam, makna dari hadits tersebut bukanlah teks yang disabdakan, melainkan nilai di balik teks tersebut. Ibarat memilih jilbab, bukan bahan atau modelnya yang jadi pertimbangan utama, melainkan fungsinya. Kita juga barangkali masih ingat, bahwa sebaik-baik pakaian muslim bukanlah gamis, atau jilbab besar atau cadar, melainkan takwa. Jelas bukan? Masih (merasa) tidak malu menatap nyinyir atau bahkan menyalahkan muslim yang dengan kaos dan jeans atau semacamnya? Masih manyap untuk mengatakan kurang islami, atau bahkan 'kurang' mengikuti sunnah rasul pada lelaki muslim yang tidak berjenggot?

Sementara untuk pertanyaan kedua, bisa kita jadikan bahan permenungan. Kita juga bisa merenungkan hakikat manusia sebagai 'makhluk yang tiga'. Maksudnya, sebagai makhluk bertuhan, individu, dan sosial. Dan tentu saja, secara logika, ajaran Islam yang begitu sempurna, akan menggarap tiga aspek tersebut.

Sebagai makhluk individu dan bertuhan, manusia diberikan pegangan berupa tuntunan beribadah semacam shalat, puasa, dan setingkatnya, untuk memetik buahnya dalam bentuk pahala di alam akhirat. Sementara manusia sebagai makhluk sosial, adalah tingkatan lanjutan, menurut saya, setelah manusia selesai dengan dirinya dan Tuhan. Di setiap 'ibadah individu', terselip semangat untuk melakukan perubahan di masyarakat. Ibadah puasa, misalnya, merupakan bentuk pelatihan dari Gusti Allah untuk hamba-Nya, agar menahan diri dari perbuatan buruk (misal dalam konteks sosial: korupsi, fitnah, dll) dan menghiasi diri dengan kebaikan (misal: bergabung dengan rakyat memperjuangkan tanahnya dari gusuran konglomerasi yang kejam dan menindas). Bukankah, jika Islam dan ajarannya dipahami demikian, berdampak baik bagi kehidupan di dunia? Menjadi spirit penganutnya untuk tetap berjuang, melawan pemerasan, penindasan, dan perlakuan tidak adil siapapun. Juga, sebagai amunisi penghancur kemiskinan. Tidak hanya menjanjikan ganjaran yang abstrak pada penganutnya: itupun mereka dapat setelah melalui proses kematian dulu.

Dari sini, apa masih berlaku ikon 'muslim taat' adalah mereka yang rajin ke masjid? Coba kita pikirkan bersama-sama. Karena Islam adalah luhur, tentu tidak akan pernah sampai hari kiamat memunculkan penindasan, keegoisan, dan kehancuran di muka bumi. Yang ada hanyalah, penganut yang memahami Islam secara sempit, hanya akan melahirkan kebencian antar golongan, yang muaranya adalah kehancuran.

Dan Bung Karno, dalam hal ini berpesan: gali apinya (Islam), bukan abunya!!!

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Saya dan Srikandi-srikandi Kahyangan


Sehari saya di rumah, sekira dua minggu yang lalu, tidak dilewatkan begitu saja tanpa momen yang berarti. Sehari satu malam, artinya tidak ada banyak waktu yang bisa saya gunakan untuk ngobrol dari hati ke hati dengan keluarga, bapak dan ibu maksudnya. Terlebih, kesibukan bapak sebagai guru kelas di SD, menyita waktu pagi untuk duduk bersama. Pulang jam setengah 2 sore, istirahat sejenak langsung pergi ke sawah, cari makan sapi. Hari itu kebetulan bapak punya tanaman kacang tanah yang sekira seminggu lagi akan panen, namun keburu dilanda banjir, hingga menggenang dan membuat biji kacang tanah muda busuk. Dan pohon yang mulai membusuk dan bau inilah, yang oleh bapak dengan cepat-cepat diselamatkan, untuk pakan sapi. Tentu saja, karena kebetulan saya di rumah, diminta untuk membantu.

Rencana awal saya pulang, sebenarnya, untuk menceritakan sebuah rahasia besar yang saya simpan sejak Mei. Karena alasan menjaga perasaan orang tua, berkali-kali saya urungkan niat untuk menceritakannya. Dan di hari yang saya rencanakan untuk bercerita, gagal, lantaran kondisi bapak yang kecapaian yang dalam ukuran saya kurang tepat untuk mendengar cerita rahasia ini. Jadi, saya putuskan untuk diam, menemani ibu di dapur saat menyiapkan masakan untuk bapak nanti kalau sudah pulang. Dari sini saya mulai bisa bicara dari hati ke hati dengan ibu, meski tetap, rahasia saya di bulan Mei belum dibongkar.

Satu hal yang saya tanyakan kepada ibu: kenapa saya memiliki sifat lembut dan cenderung keperempuan-perempuanan. Dari suara pun, saya lembut. Gerak tubuh juga saya sadari ketika di MA, agak gemulai. Dari sini saya minta 'pertanggungjawaban' ibu untuk menjelaskan: kenapa bisa begini?

Tapi sebelum ibu menjawab dan menjelaskan, saya menebak-nebak bahwa karakter saya ini terbentuk dari lingkungan. Dari orang-orang yang sewaktu saya kecil, secara tidak sadar membentuk karakter anak kecil yang mereka 'emong'.

Dan memang tidak meleset, ibu justru mengamini apa yang saya kira-kirakan. Ia sebut satu per satu orang-orang yang hadir, ikut andil mengasuh saya sewaktu kecil. Ada Yu Yuni, Yu Sri, Yu Nur, Yu Ani, Yu Anti, Yu Turasih, Yu Mar, dan Kang Tri. Dari sekian banyak yang ibu sebut, hanya satu laki-laki yang menebar kasih sayangnya pada saya. Ia adalah Kang Tri. Selain dia, perempuan semuanya. Di rumahpun, saya diasuh oleh Ibu dan nenek, sementara bapak mencari nafkah di luar, dan sekali-kali mengajari ilmu agama. Dari sini, semakin jelas betapa besar pengaruh pengasuh saya di waktu kecil. Srikandi-srikandi yang hadir di masa kecil saya, mewariskan kelembutan mereka pada saya yang kini telah berkepala dua.

Yu Yuni, kini telah memiliki dua anak, satu laki-laki sekolah di SD dan setunya perempuan usia dini. Untuknya, saya sangat berterima kasih. Meski, kata orang, secara agama kurang, tapi bagaimanapun, ia sudah mewarnai dan ikut andil membentuk karakter saya. Saya berhutang budi pada dia. Dan sampai kapan pun, saya optimis tidak bakal bisa membalas budi Yu Yuni. Hanya doa, semoga keluarga kecilnya bahagia dan diberi kemudahan oleh Yang Kuasa.

Yu Sri juga sama. Ia adalah tetangga saya yang rumahnya tepat berada di samping kanan rumah saya. Kini telah berkeluarga dan memiliki satu anak laki-laki. Sehat saya kira anak Yu Sri. Semoga saja, segala yang pernah ia bagikan pada saya saat kecil, dibalas dengan ganjaran baik yang setimpal.

Yu Nur, sudah berkeluarga dan memiliki satu anak perempuan, serta berprofesi sebagai guru di SD depan rumah saya. Apapun yang ia suntikkan saat saya kecil, semoga bermetamorfosa menjadi kebaikan, yang entah mencari inangnya di tubuh anak perempuannya, dirinya, suaminya, maupun keluarganya. Yang jelas, saya yakin bahwa Yang Kuasa, sedikitpun tidak akan menyia-nyiakan kebaikan yang Yu Nur lakukan.

Yu Ani, adalah anak dari kakak laki-laki ibu saya. Ia saudara kembar Yu Anti. Potongan memori yang masih saya ingat adalah, kerap di akhir pekan, mereka berdua berkunjung ke rumah saya naik sepeda. Jarak rumah mereka dengan rumah saya adalah 7 km. Sungguh mengagumkan, bukan, perjuangan mereka?

Kini, mereka berdua telah berkeluarga dan masing-masing memiliki dua anak laki-laki. Yu Anti, membuka kursus bahasa inggris di rumahnya dan menjadi kepala sekolah di SMP Muhammadiyah di daerahnya. Suaminya, menjadi tukang kredit perabotan rumah tangga.

Sementara Yu Ani, juga sama membuka les bahasa inggris di rumahnya. Dalam perkembangannya, ia buka les baca-tulis untuk anak usia dini dan SD kelas bawah, kalau saya tidak salah. Dan suaminya, Taung, punya usaha jualan kambing. Mereka berdua sama-sama berkarya untuk menegakkan bangunan rumah tangga agar bertambah kokoh. Bukan dari segi materi saja, aspek spiritual juga mereka bangun, dengan ikut majelis ataupun menitipkan anaknya di lembaga pendidikan Islam. Ini yang membuat mereka berdua hidup dalam keharmonisan.

Yu Turasih, adalah anak dari kakak perempuan bapak saya. Ia memiliki (kalau tidak salah) empat anak. Tiga laki-laki, satu perempuan yang merupakan anak pertama. Kepribadiannya bagus, selalu diwarnai dengan kelemahlembutan. Peka dan peduli dengan nasib saudara. Persis sekali dengan ibunya, kakak perempuan bapak, yang menangis ketika melihat bapak terbaring di rumah sakit lantaran kecapean selama kurang lebih 15 hari. Saya berterima kasih pada Yu Turasih, karena kelembutan hatinya sedikit banyak berpengaruh pada kepribadian saya.

Yu Mar, adalah anak dari kakak perempuan bapak yang nomor dua. Bapak adalah tiga bersaudara, dan ia adalah anak terakhir. Kini, Yu Mar telah bersuami dan memiliki satu anak perempuan. Namanya Eza dan cukup dekat dengan saya. Rumahnya, sekira delapan rumah di samping kanan rumah saya. Jadi kerap bertemu jika saya sedang di rumah. Suaminya, Mijan, mencari nafkah di Negeri Jiran, di perkebunan bunga. Sementara Yu Mar, merangkai bulu mata untuk disetor ke pabrik. Entah dulu ketika saya masih kecil apa yang Yu Mar 'ajarkan' pada saya. Yang jelas, saya berterima kasih pada dia karena telah mengisi masa kecil saya.

Terakhir, adalah Kang Tri. Ia adalah satu-satunya orang laki-laki yang dekat dengan saya di waktu kecil. Kata Ibu, dari sekian tetangga laki-laki, Kang Tri lah yang paling suka dengan anak kecil. Maka wajar, jika ia mengisi masa kecil saya dan menghabiskan waktu untuk bermain dengan saya.

Lantas ketika Ibu telah selesai menceritakan orang-orang yang pernah mengasuh saya di masa kecil, spontan saya bertanya: kok bisa, ya, bu mereka mau meluangkan banyak waktu untuk mengasuh saya?

"Soalnya di masa kamu kecil, di lingkungan sini belum banyak anak kecil" kata ibu kemudian.

Saya pun merenung-renungkan, betapa menyedihkannya diri saya jika tidak ada mereka. Benar memang, di lingkungan saya, teman sejawat jarang sekali. Kalau tidak di atas saya umurnya, ya jauh di bawah saya. Sehingga, tidak ada teman bermain kecuali dengan mereka. Baru menginjak usia SD, saya punya beberapa teman; yang kebanyakan jauh di bawah saya umurnya.

Karenanya, saya sangat berterima kasih pada siapapun yang pernah singgah dan mengukir kenangan di waktu kecil. Saya yakin, mereka adalah 'lingkungan' yang membentuk kepribadian saya. Hingga kini saya baru menyadari, betapa tersiksanya belum bisa memberikan apa-apa kepada mereka. Saya dengan sifat malunya, jarang sekali mengunjungi mereka dan menghibur putra-putri mereka, menjadi teman bermain bagi anak-anak mereka sebagaimana mereka menemani saya dulu. Menyapapun saya canggung, dan merasa kecil hati. Entah apa yang sekarang ada di pikiran mereka. Semoga saja, mereka mau memaafkan saya meski secara langsung saya belum mengutarakan permohonan maaf. Saya hanya bisa berharap dan (semoga bisa) berdoa untuk mereka: semoga diberi kebahagiaan. Untuk siapapun yang pernah mengasuh saya juga, yang belum saya ketahui, semoga kalian bahagia. Terima kasih, karena kalian telah membekali saya bekal untuk merespon tantangan hidup yang kian berat. Semoga saja, entah kapan waktunya, saya bisa mengabdikan diri pada kalian, atau keturunan kalian agar bisa hidup bahagia layaknya manusia. Juga, bisa membahagiakan siapa saja yang punya hubungan dengan kalian. Semoga...

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Thursday, 13 October 2016

Telah Lama Terbengkelai


Memulai pekerjaan yang telah lama terbengkelai adalah sesuatu yang sulit. Ibarat mengecat dinding rumah, yang tidak selesai lantaran catnya habis, lalu beberapa waktu kemudian diselesaikan dengan membeli cat sejenis di toko cat. Meski secara kasat mata sama, tapi setelah dioleskan ke dinding, dengan jelas tampak perbedaannya. Karena, kode cat yang berbeda.

Demikian juga yang saya rasakan setelah sekian lama tidak bersinggungan dengan dunia tulis menulis. Sekira satu bulan sudah berhenti menulis. Selain laptop yang raip diambil pencuri, juga lingkungan kurang mendukung. Ini cukup berhasil mengintimidasi semangat saya dalam menulis untuk tetap bertahan.

Sekira 3 hari yang lalu, saya diminta kawan untuk mengisi rubrik buletin yang ia terbitkan. Judulnya sederhana: pers mahasiswa sebagai penunjang akademik. Namun hingga ini saya tulis, belum rampung bahkan tersentuh pun tidak judul tersebut. Saya masih bingung mau mulai dari mana. Juga outline tulisan tersebut, sama sekali belum ada bayangan. Ini yang membuat tulisan belum digarap, selain fasilitas pribadi yang kurang memadai: tidak ada laptop. Padahal, dateline tinggal sehari lagi: tanggal 14 Oktober 2016.

Atau mungkin tawaran saya untuk diri sendiri soal alur tulisan yang kelak digarap begini saja: nilai-nilai plus yang didapat mahasiswa yang ikut lembaga pers mahasiswa. Sebelum bagian ini, perlu juga dilengkapi dengan sedikit seluk beluk dan heroisme pers mahasiswa dalam sejarah gerakan mahasiswa dari waktu ke waktu. Kemudian, sebagai penutup, diulas keuntungan yang didapat untuk mereka yang sudah menjadi alumni pers mahasiswa: misalnya di dunia kerja punya daya tawar tinggi, di masyarakat bisa lebih terbuka melihat kompleksitas problem sosial-ekonomi, atau mungkin, di kampus dulu, menjadi dikenal oleh dosen dan dianggap 'lebih' dari mahasiswa lain. Di samping dijelaskan juga fungsinya, sebagai agent of change...

Ya, ya, mungkin tawaran ini bisa segera saya garap. Menarik. Terima kasih, diriku. Semoga Tuhan selalu memberi petunjuk padamu wahai diriku. Semoga!

Bujang 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 11 October 2016

Demisioner


Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Demisioner adalah keadaan tanpa kekuasaan. Misalnya pengurus yang telah menyerahkan segenap tugas-tugasnya pada organisasi hingga dilantik pengurus baru. Itulah arti demisioner dalam kbbi.

Namun yang ingin saya tulis bukan makna dari kata. Malainkan, lebih kepada kebiasaan organisasi yang menyebut mantan pengurus sebagai demisioner hingga habis masa jabatan pengurus baru. Ini juga sebagai salah satu fenomena salah kaprah, yang tentu dalam budaya masyarakat kita merupakan hal biasa dan lumrah.

Sebelum pengurus baru dilantik, ada tahapan yang perlu dilalui. Dan sejauh pengetahuan saya, setelah pimpinan terpilih dalam forum kongres, segera membentuk struktur organisasi. Ini agae tidak terjadi kekosongan kinerja anggota begitu lama. Bentukan struktur organisasi, diikuti dengan pengajuan surat keputusan (SK) kepada fakultas (jika organ intra fakultas). Biasanya, memakan waktu satu bulan lebih. Bahkan pernah saya mengajukan SK bulan Mei, September baru bisa diambil.

Setelah SK jadi, lagi-lagi agar organisasi tidak terlalu lama dengan kekosongan kegiatan, segera diadakan pelantikan, disusul dengan rapat kerja (raker) yang anggotanya merupakan seluruh pengurus. Dalam forum raker ini, satu periode kepengurusan dipertaruhkan. Semakin matang penggodogan raker, semakin berpotensi organisasi bisa berjalan dengan baik, tanpa tumpang tindih jobdes antar divisi.

Namun perlu diingat, sebelum pelantikan dan raker, ada satu tahapan lagi yang perlu diselesaikan, yaitu upgrading. Upgrading bertujuan agar tiap-tiap pengurus tahu nilai-nilai yang diperjuangkan organisasi, serta pola kerja dan hubungan antar divisi. Tentu saja, ini akan efektif ketika struktur organisasi sudah terbentuk (meski SK belum turun).

Sebagaimana saya sebutkan bahwa salah kaprah penyebutan demisioner sudah mendarah daging di beberapa organisasi. Meski demikian, tidak berarti fungsi demisioner sia-sia begitu saja. Di satu sisi memang salah kaprah, tapi di sisi lain ada tuntutan untuk mengawal pengurus baru sampai pada pelantikan. Dan tahapan-tahapan di atas, adalah bagian dari tanggung jawab demisioner juga untuk mengawal agar secepatnya organisasi bisa difungsikan sesuai fungsi dan tujuannya. Selamat berproses, kawan!!!

Ini coretan sederhana, yang sama sekali jauh dari kata sempurna. Selain kbbi, tidak ada refrensi yang dijadikan rujukan, selain pengalaman pribadi.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...