Friday, 30 December 2016

Grafomania


Grafomania

Istilah baru yang aku dapat dari bukunya Milan Kundera, Kitab Lupa dan Gelak Tawa. Apa itu grafomania?

Begini contoh kasus yang dipaparkan oleh Kundera. Seorang perempuan yang menulis surat empat buah tiap hari untuk kekasihnya, bukanlah grafomaniak, ia hanyalah seorang perempuan yang sedang dimabuk cinta. Tetapi temanku yang memfoto kopi surat-surat cintanya supaya bisa diterbitkan menjadi sebuah buku, ia adalah grafomaniak.

Grafomania bukanlah keinginan kuat untuk menulis surat, diary, atau sejarah keluarga (untuk diri sendiri dan keluarga dekat); grafomania adalah keinginan untuk menulis buku (untuk mendapatkan publik pembaca yang tak dikenal).

Grafomania (obsesi menulis buku) akan pesat perkembangannya, mewabah, ketika sebuah masyarakat berkembang mencapai titik bisa menyediakan tiga syarat:
1. Tingkat kesejahteraan umum yang cukup tinggi yang memungkinkan orang mencurahkan tenaganya untuk kegiatan-kegiatan tak bermanfaat.
2. Tahap atomasi sosial yang maju, dan perasaan umum yang ditimbulkan oleh pengisolasian individu.
3. Tiadanya perubahan sosial penting yang radikal dalam perkembangan internal sebuah bangsa (dalam hubungan ini aku menemukan adanya gejala di Perancis, sebuah negeri di mana tak ada apa pun yang benar-benar terjadi, prosentase penulis dua puluh satu kali lebih tinggi dibandingkan di Israel. Bibi benar waktu menyatakan tidak pernah mengalami apapun 'dari sebelah luar'. Ketiadaan rasa puas inilah, kehampaan inilah, yang memberikan tenaga pada mesin yang mendorongnya untuk menulis).

(Nah penjelasan berikutnya ini yang aku belum benar-benar bisa memahaminya)

Tapi 'akibat' mentransmisikan semacam kilas balik pada 'sebab'. Bila pengisolasian umum menyebabkan grafomania, grafomania massa itu sendiri memperkuat dan memperburuk perasaan atas pengisolasian umum. Penemuan percetakan pada mulanya mempromosikan saling pengertian. Dalam era grafomania, penulis buku mempunyai akibat yang berlawanan: setiap orang mengelilingi dirinya dengan tulisan-tulisannya sendiri, seperti dinding cermin yang memutuskan segala suara dari luar.

Aku jadi teringat perkataan seorang kawan di malam Jum'at minggu terakhir tahun 2016. Ia mengatakan bahwa di era sekarang, masing-masing orang memiliki pandangan masing-masing. Masing-masing orang mengelilingi dirinya dengan apa yang diyakini benar. Forum diskusi tidak bisa membuka lingkaran 'kedirian' itu. Sehingga, sia-sia belaka jika ada seorang yang ingin merubah pola pikir orang lain dengan argumentasinya selogis apapun. Apakah ini gejala grafomania? Oke orang-orang Indonesia tidak menulis buku, tapi ia mengelilingi dirinya dengan pandangan-pandangannya sendiri. Meminjam istilah Kundera, seperti cermin yang memutuskan segala suara dari luar.

Meski ucapan seorang kawan tadi cukup naif, karena aku merasa mudah sekali menerima hal yang baru (artinya tidak melingkari diri dengan dinding cermin). Tapi tetap saja, ini membuat otak berpikir. Pun menjadi sanksi pada pandangan diri bahwa aku bukan grafomania. Bahwa aku tidak melingkari diri dengan dinding cermin...

Diinspirasi dari Milan Kundera, Kitab Lupa dan Gelak Tawa, hal. 154-155.

Jogja H-1 2017
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Wednesday, 21 December 2016

Selamat Hari Ibu




9 bulan engkau mengandungku, ibu. 2 tahun engkau menyusuiku dengan sabar. 5 tahun, engkau merawatku, dengan penuh harap kelak menjadi anak yang shaleh. 1 tahun engkau kirimkan aku, untuk belajar pengetahuan sederhana tentang garis, bentuk, dan gambar serta warna-warna. 6 tahun, engkau upayakan pendidikan dasar, sebagai bekal untuk ke jenjang selanjutnya. Waktu itu, benar-benar aku merasa bangga denganmu, ibu. Pernah di pertengahan masa 6 tahun, aku berbuat nakal padamu. Sampai aku bilang, "bunuh aku saja, ibu", lalu engkau (tanpa sengaja) membenturkan kepalaku ke tempat wudhu. Aku yakin, waktu itu engkau sangat terpukul dengan perkataan seorang anak kecil ini. Maafkan aku, ibu.

Aku sadar, insiden itu sebagai pelajaran bagiku, seorang anak kecil yang belum tahu artinya pendidikan. Belum tahu sopan santun. Dan waktu itu, aku benar-benar mendapat pelajaran yang berharga.

6 tahun pula, engkau mengirimkanku untuk belajar pendidikan agama di kecamatan sebelah. Tentu saja, dengan harapan agar aku punya pemahaman agama yang baik. Dan itu terlewati sudah.

Hingga akhirnya sampai sekarang, engkau kirimkan aku ke provinsi seberang. Tujuannya tetap sama, untuk memberikan bekal ilmu kehidupan padaku. 4,5 tahun sudah berlalu, dan aku belum juga merampungkan studiku.

Pertama yang aku pikirkan dan tak dibayangkan adalah, perasaan ibu ketika melepaskanku untuk belajar jauh dari rumah. Aku tidak tahu, karena ibu tidak cerita dan aku tidak pernah meminta ibu bercerita. Aku hanya melihat ada asa yang ibu pikulkan pada pundakku, beriring wejangan "jangan sampai tinggalkan shalat berjamaah". Dan yang terpenting, ibu selalu percaya pada apa yang aku lakukan di perantauan. Hingga kerap menerbitkan rasa bersalah dalam diri, karena belum bisa melakukan apa yang dipesankan ibu.

Kedua, perasaan ibu yang barangkali sudah ingin cepat melihat anaknya selesai studinya. Sudah 4,5 tahun, overload. Tapi dengan berbagai alasan, aku yakinkan pada ibu, bahwa aku kuliah lama karena ikut organisasi. Orang-orang yang ikut organisasi, kataku pada ibu suatu kali, lulusnya lama-lama. Yang kutakutkan bu, kataku, setelah lulus aku malah bingung, seperti yang dirasakan beberapa teman kuliah yang sudah lulus.

Selalu saja, organisasi aku jadikan alasan untuk lulus agak terlambat. Dan herannya, ibu selalu mengiyakan. Ibu selalu berada di pihakku. Ketika bapak bilang, setengah tahun skripsi kok tidak selesai-selesai. Ibu bersikap netral, tapi di lain waktu ibu mendukungku. Bukankah itu sikap yang sulit? Ketika ada bapak, untuk menjaga perasaannya, ibu seolah tidak mau ikut campur. Hingga kerap aku dan bapak berdebat.

Entah apa yang bisa aku berikan kepada ibu, untuk balas budi kebaikan ibu padaku. Aku hanyalah seorang anak, yang selamanya tidak akan bisa balas budi baik ibu. Hanya ucapan terima kasih yang bisa aku persembahkan. Dan, ketaatanku padamu yang selalu diupayakan.

Karena jarak, ibu, mengajarkanku arti kerinduan. Mengajarkanku, betapa engkau sangat besar jasanya pada kehidupanku. Sebagai penyejuk ketika hati mulai gersang.

Selamat hari Ibu... Semoga ibu selalu sehat selalu dan bahagia. Dan semoga aku bisa menjadi salah satu alasan ibu untuk bahagia.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Monday, 19 December 2016

Dalam Binatangisme


Dalam Binatangisme

Sebuah pengantar:
Beberapa hal yang aku temukan dalam karya George Orwell, Binatangisme adalah:

1. Ketertindasan kaum hewan (kelas proletariat) atas manusia (kelas Borjuis pemilik modal).

Bahwa binatang merasa segenap hidupnya hanya diabdikan untuk melayani tuannya. Ia yang bekerja banting tulang, sapi produksi susu, ayam produksi telor, babi menggemukkan dirinya untuk disembelih, dan sebagainya. Mereka memproduksi, tapi hasilnya semata dinikmati tuannya, yang manusia itu..

Dari sini kemudian muncul pemberontakan. Inisoatornya adalah babi, hewan yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Tujuannya, untuk menggulingkan kuasa manusia, lalu menguasai alat produksi untuk dikelola sendiri.

Dan mulailah propaganda dilancarkan. Hingga melahirkan lagu "Binatang-binatang Inggris" sebagai sumplemen penyemangat. Jika dalam komunis, mungkin kita kenal lagu 'kebangsaannya' berjudul "Internasionale".

Si Babi propagandis, karena sudah umur, mati sebelum tercetus lagu "Binatang-binatang Inggris". Namun sudah sempat berpesan, bahwa sesama binatang tidak boleh ada kasta, saling bunuh, dan saling tindas. Egaliter.

Babi Tua mati meninggalkan kader andalan dua babi: babi pertama memiliki kemampuan berpidato dan cerdas. Yang kedua, punya ambisi kuat. Mereka berdualah yang akan memimpin republik binatang, setelah pemberontakan dalam "Pertempuran Kandang Sapi", antara mereka dengan manusia, dimenangkan oleh mereka. Pemberontakan ini juga tidak bisa terlepas dari kontribusi dua babi tersebut.

Maka terbangunlah republik binatang tanpa kelas. Mereka sama-sama bekerja, untuk menggarap ladang, dan hasilnya dinikmati sendiri. Ini pun tersebar sampai ke peternakan tetangga. Sehingga, pemberontakan (meski masih soft) kian terasa. Binatang ternak banyak yang mogok kerja.

Dua babi kader andalan yang dipercaya untuk memimpin republik binatang, pada perkembangannya, banyak silang pendapat. Si cerdas dengan segala wawasannya, selalu melakukan gebrakan untuk mempermudah kerja para binatang. Sehingga, yang awalnya kerja setiap hari, bisa dipangkas menjadi 3 hari dalam seminggu (meski belum terealisasi). Sementara Si Babi Ambisius, merasa iri dan ingin tampil di depan.

Maka sampai suatu momen, ketika Si Cerdas pidato, muncullah Si Ambisius dengan membawa anjing-anjing didikannya. Anjing-anjing tersebut diperintahkan untuk menerkam Si Cerdas. Forum semakin mencekam. Dan Si Cerdas, lari terbirit-birit menghindar dari kejaran anjing. Maka, naiklah Si Ambisius di atas podium jerami, dengan dikawal anjing-anjing, disertai satu babi lagi sebagai jubirnya. Dan jadilah Si Ambisius berkuasa.

2. Manipulasi Sejarah dan Merekasaya Undang-undang
Semenjak Si Ambisius berkuasa, banyak kebijakan yang dirombak. Kian tahun, para binatang selain babi (karena buta huruf) mulai merasa ada yang tidak beres. Namun segera Si Jubir sekaligus Propagandis miliknya Si Ambisius, meredam gejolak ini dengan merekayasa sejarah.

Dengan menjelaskan bahwa apa yang diketahui oleh mereka tentang kisah heroik Si Cerdas, hanyalah siasat licik. Si Cerdas, dikisahkan ulang, sebagai binatang yang ingin sekongkol dengan manusia. Ia merencanakan sesuatu yang keji dengan ditutup-tutupi aksi heroiknya ketika memimpin dan mengatur strategi di "Pertempuran Kandang Sapi". Karena daya ingat lemah, maka para binatang percaya saja.

Pun, aturan-aturan yang telah disepakati bersama, mulai direkayasa. Yang awalnya berbunyi "Setiap binatang tidak boleh membunuh sesama binatang". Dirubah (atau tepatnya diimbuhi) menjadi "Setiap binatang tidal boleh membunuh sesama binatang tanpa sebab".

Pun dengan lagu kebangsaan, yang awalnya dinyanyikan setiap hari Minggu, dilarang keras. Alasannya, karena lagu tersebut mengandung nilai-nilai pemberontakan (bukan lagi nilai perjuangan).

3. Lain-lain

Percaya dengan apa yang aku sampaikan, sesat!!! Maka, bacalah sendiri... Mari diskusikan!

*Disampaikan dalam Garasi 21/12/2016

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Saturday, 17 December 2016

Surga dan Neraka Hanya Ilusi (?)




"Cak, saya rasa surga neraka itu ilusi"
"Misalnya ya cak, saya di surga nikmaaat terus, lama kelamaan bosan saya. Di neraka juga disiksaaa terus, lama kelamaan kebal tubuh saya dari siksaan"

Itu disampaikan oleh seorang laki-laki asal Surabaya, saat mengikuti kegiatan rutinan Mocopat Syafaat di kediamannya Cak Nun, Kasihan, Bantul (17/12/2016). Kegiatan rutinan ini diadakan setiap tanggal 17 setiap bulan. Soal kenapa memilih tanggal 17, saya belum telusuri apa alasannya.

"Saya senang, kamu sampai berimajinasi seperti itu. Teruslah begitu, dan jangan berhenti dalam pencarianmu" kata Cak Nun.

Ia kemudian lanjutkan dengan penjelasan.

"Gini ya, kamu bisa mengatakan begitu kan karena kamu masih hidup dengan sistem nilai di sini. Hidup dengan jiwa dan jasad. Kalau sudah di Surga, nggak bakalan terpikir dalam benakmu pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Karena di sana berlaku sistem nilai yang lain"

"Terus cak, menurut saya di Surga ada batasan-batasannya. Misalnya kalau saya di surga, ingin menolong adik di neraka. Bisa dong kalau memang di Surga, segala keinginan kita dipenuhi" kata arek Surabaya tadi.

"Kamu tidak akan sempat berpikiran: wah kasihan adik saya yang di neraka. Kemudian kamu menolongnya"

Dan sebagaimana kebiasaannya, Cak Nun dengan gaya humornya yang khas, merespon pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Moment yang sungguh membahagiakan ini hadir sekira pukul 01.00 dini hari. Dengan beberapa pertanyaan khas para pencari kebenaran yang kerap berimajinasi liar. Dihantam dengan jawaban Cak Nun yang logis dan khas wejangan orang tua kepada anaknya, dengan dilumuri nilai-nilai kesufian.

*apa yang saya tuliskan, tidak pyur sama dengan perkataan Cak Nun dan laki-laki Surabaya itu. Hanya inti-intinya saja yang berhasil saya rekam.

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Friday, 16 December 2016

Tentang Kehilangan


Tentang Kehilangan

"Merasa kehilangan hanya ada bila..merasa memilikinya" -Letto-

Lengkapnya aku tidak hapal. Tapi sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan Band kenamaan di Indonesia, betul-betul terjadi dan bisa kita rasakan di dunia nyata. Logika sederhananya, bagaimana mungkin kita merasa kehilangan, jika tidak pernah merasa memiliki? Kehilangan hanya ada bagi orang yang punya rasa memiliki. Itu kuncinya.

Bulan 15/12/16 aku beli buku di Shoping, salah satu lapak buku terlengkap di Jogja. Waktu itu aku beli buku "Binatangisme" karya George Orwell. Terjemahan. Yang membikin saya menarik, sebenarnya, adalah judul dan sampul. Sampulnya adalah manusia berjas dan dasi, namun kepalanya babi. Dari sampulnya saja, aku menyimpulkan ada keterkaitan antara babi dan manusia, yang dibahas dalam buku tersebut.

Aku beli dengan harga 35.000. Plus sampul plastik. Buku mulai aku lahap sekira 2 jam setelah beli, tepatnya setelah sampai di kontrakan. Dan benar yang aku duga, isinya asyik dan bercerita tentang pertanian binatang (karena judul asli bukunya adalah, Animal Farm). Hanya butuh waktu 1x24 jam untuk menyelesaikan buku tersebut.

Tepat di kampus, sekira pukul 13.30, aku rampungkan buku itu. Tamat. Aku taruh buki itu di atas meja. Bersama tas dan berkas-berkas lain milik kawan. Aku campakkan begitu saja buku tersebut, dengan keyakinan tidak akan kemana-mana (baca: hilang).

Karena urusan di kampus sudah selesai, pun kawan-kawan sudah bubar, aku memutuskan untuk ikut bubar. Dan di saat membereskan berkas serta buku yang berserak, baru sadar bahwa buku Bintangisme tidak ada di meja. Aku cari di mana-mana tidak ada. Hingga di tas kawan: hasilnya nihil.

Dalam kepala dan dada, ada gelombang berkecamuk. Ingin marah, tapi sama siapa? Pada akhirnya, ya marah sama diri sendiri. Dengan keteledoran diri. Yang tidak bisa menjaga milik sendiri, terlebih buku sebagai jendela dunia. Buku yang dibeli dari subsidi orang tua. Sial. Tak ada kata terucap, hanya geram. Pikiran melayang-layang, mencari kemungkinan-kemungkinan. Mengingat-ingat, terakhir buku tersebut diletakkan di mana atau dipegang siapa. Tapi tetap, nihil. Aku pun pulang dengan pandangan hampa. Baru satu hari yang lalu beli, kini hilang. Meski, buku sudah ditamatkan, tetap saja kehilangan ini membuatku kecewa, terpukul. Kecewa pada keteledoran diri. Tentu saja, rasa kehilangan makin besar lantaran rasa yang pernah aku miliki, yaitu rasa memiliki buku.

Tapi sudahlah. Semoga ada yang menemukan dan dibaca. Paling tidak, aku sudah melahap isinya, meski baru sekali. Barangkali nanti akan aku tuliskan penilaian terhadap buku tersebut, untuk merawat ingatan. Tentunya, di luar masa berkabung kehilangan buku. Semoga terlaksana. Semoga...

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Saturday, 10 December 2016

Kucing yang Diutus



Hiks hiks...hiks hiks... Hiks hiks

"Jangan minggir-minggir mba tidurannya, nanti jatuh"

"Sudah mba, kucingnya baik-baik saja. Nggak usah kawatir"

"Dia orang mana sih?"

"Kamu bareng sama dia, mas?"

Hiks hiks.... Hiks hiks..

"Oh, ini istrinya Si Anu. Nanti saya panggilkan suaminya"

"Kasihan sekali kucingnya"

"Loh Imron, dari mudik ya?"

***

Aku melajukan motor dari arah timur dan melewati Desa Kewangunan. Sekira 100 meter di depanku, seorang perempuan mengendarai motor dengan kecepatan kurang lebih 40 km/jam.

Bukk.....

Tubuh perempuan itu mental, berguling beberapa kali di atas aspal. Aku mempercepat laju motor, lalu berhenti tepat di samping perempuan itu. Orang-orang seketika berdatangan, laki perempuan, tua muda.

Aku yang sudah berdiri di sampingnya, bingung mau berbuat apa. Mau angkat tubuh perempuan itu, terlalu gemuk: pasti berat. Tidak jauh dari tubuh perempuan itu, tergeletak kaku seekor kucing, dengan mata mendelik.

Dan untungnya, ada dua orang bapak yang sedia mengangkat tubuh itu untuk dibawah ke teras rumah. Dibaringkan. Sementara aku, cukup menggotong helm dan ponselnya yang tergeletak di aspal.


Dan kucing yang kaku itu, digotong dan diletakkan di bawah pohon. Belum mati, sedang sekarat, barangkali. Entah karena syok atau ada persendian yang retak bahkan hancur. Kucing itu hanya diam, mengatur napasnya.

Jajanan yang perempuan cantelkan di motor, hancur. Gula pasir tumpak. Susu kotak pun pecah.

Hiks hikss.. Hiks hikss

Air bening mengalir dari kedua sudut mata perempuan itu. Baju bagian belakang tersingkap, memperlihatkan gempal punggungnya. Tapi itu tidak jadi persoalan, apalagi bahan tontonan. Tidak sempat, barangkali, orang-orang memperhatikan punggung yang penutupnya tersingkap. Toh, sama-sama punya punggung.

Justru, orang-orang kemudian berbondong-bondong ke arah kucing. Memeriksa kondisi kucing yang memprihatinkan.

Semakin ramai orang berdatangan, sementara perempuan itu masih juga menangis, dengan terus berbaring. Entah dia kesakitan, ketakutan, atau malu karena disaksikan banyak orang.

Yang jelas, aku jadi berimaji: kalau aku di posisinya, apa yang aku rasakan?

Dan yang terpenting, berhati-hatilah dalam berkendara. Karena di depan mata kita, tersimpan banyak misteri yang tidak kasat mata. Termasuk, kucing yang dikirimkan Tuhan untuk memberi peringatan!!!

Kebumen 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Satpam Kampus


Ada yang menarik dari bapak satpam yang aku temui. Aku kenal baik dengan dia, tapi tidak tahu siapa namanya. Yang jelas, semenjak obrolan di parkiran motor di kampus, aku jadi tahu bahwa dia memiliki empat orang anak.

Anak pertama usia smp, kedua kelas 4 sd, ketiga sd entah kelas berapa, dan terakhir masih taman kanak-kanak.

Berawal dari cerita kami tentang motor, ia mulai membuka diri untuk cerita tentang dirinya.

"Saya mas, setiap harinya habis 27 ribu untuk sangu anak-anak sekolah. Yang smp 10 ribu, sd kelas empat 7 ribu, adiknya lagi 6 ribu. Dan yang di tk 4 ribu"

Belum lagi, lanjutnya, saya memelihara burung, per hari habis 5 ribu untuk pakan.

Aku, yang mencoba jadi pendengar baik, justru pusing. Dan berpikir: banyak ya kebutuhan pak satpam itu, sebagai suami sekaligus ayah.

"Kalau dipikir-pikir tidak cukup gajinya untuk penuhi kebutuhan sehari-hari. Gaji saya UMR Sleman, 1,5 jutaan. Tapi ya alhamdulillah mas, ada saja rejekinya"

Ia juga menceritakan, kurang lebih 50 ribu dalam sehari, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Belum termasuk kebutuhan mendadak anak-anaknya. Yang terkadang, barangkali, lebih besar dari uang jajan.

Aku sesekali melihat air mukanya, terlihat ceria. Seakan tidak ada beban hidup, justru masih mampu menebar tawa. Sungguh kalau dipikir, tidak masuk akal.

"Wah emang bener pak, enak jadi mahasiswa" kataku sembari terbahak.

Dan satpam itupun ikut tertawa. Mungkin karena aku singgung soal kampus, dia mendadak teringat masa lalunya saat masih bocah. Ia sering dan betah main di kampus UIN.

"Dulu sini sejuk mas. Banyak rumputnya. Banyak mahasiswa diskusi di rumput-rumput. Empuk mas rumputnya. Kalau haus bisa petik kelapa yang tumbuh di lingkungan kampus. Pepaya, mangga. Banyak dulu pohon buahnya."

Dan sejenak aku merasakan hawa panas di lingkungan uin. Pohon-pohon beton kini telah kokoh berdiri. Tidak ada ruang terbuka, yang bebas dari beton.

Demikian... Banyak yang ingin aku sampaikan, tapi sulit untuk merangkainya dalam cerita. Jadi, nikmatilah sepenggal cerita dariku ini. Meski sederhana, paling tidak bisa menjadi bukti, bahwa aku masih peduli untuk menulis. Karena itu adalah salah satu cara untuk menjaga kewarasan.

Kebumen 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...