Istilah baru yang aku dapat dari bukunya Milan Kundera, Kitab Lupa dan Gelak Tawa. Apa itu grafomania?
Begini contoh kasus yang dipaparkan oleh Kundera. Seorang perempuan yang menulis surat empat buah tiap hari untuk kekasihnya, bukanlah grafomaniak, ia hanyalah seorang perempuan yang sedang dimabuk cinta. Tetapi temanku yang memfoto kopi surat-surat cintanya supaya bisa diterbitkan menjadi sebuah buku, ia adalah grafomaniak.
Grafomania bukanlah keinginan kuat untuk menulis surat, diary, atau sejarah keluarga (untuk diri sendiri dan keluarga dekat); grafomania adalah keinginan untuk menulis buku (untuk mendapatkan publik pembaca yang tak dikenal).
Grafomania (obsesi menulis buku) akan pesat perkembangannya, mewabah, ketika sebuah masyarakat berkembang mencapai titik bisa menyediakan tiga syarat:
1. Tingkat kesejahteraan umum yang cukup tinggi yang memungkinkan orang mencurahkan tenaganya untuk kegiatan-kegiatan tak bermanfaat.
2. Tahap atomasi sosial yang maju, dan perasaan umum yang ditimbulkan oleh pengisolasian individu.
3. Tiadanya perubahan sosial penting yang radikal dalam perkembangan internal sebuah bangsa (dalam hubungan ini aku menemukan adanya gejala di Perancis, sebuah negeri di mana tak ada apa pun yang benar-benar terjadi, prosentase penulis dua puluh satu kali lebih tinggi dibandingkan di Israel. Bibi benar waktu menyatakan tidak pernah mengalami apapun 'dari sebelah luar'. Ketiadaan rasa puas inilah, kehampaan inilah, yang memberikan tenaga pada mesin yang mendorongnya untuk menulis).
(Nah penjelasan berikutnya ini yang aku belum benar-benar bisa memahaminya)
Tapi 'akibat' mentransmisikan semacam kilas balik pada 'sebab'. Bila pengisolasian umum menyebabkan grafomania, grafomania massa itu sendiri memperkuat dan memperburuk perasaan atas pengisolasian umum. Penemuan percetakan pada mulanya mempromosikan saling pengertian. Dalam era grafomania, penulis buku mempunyai akibat yang berlawanan: setiap orang mengelilingi dirinya dengan tulisan-tulisannya sendiri, seperti dinding cermin yang memutuskan segala suara dari luar.
Aku jadi teringat perkataan seorang kawan di malam Jum'at minggu terakhir tahun 2016. Ia mengatakan bahwa di era sekarang, masing-masing orang memiliki pandangan masing-masing. Masing-masing orang mengelilingi dirinya dengan apa yang diyakini benar. Forum diskusi tidak bisa membuka lingkaran 'kedirian' itu. Sehingga, sia-sia belaka jika ada seorang yang ingin merubah pola pikir orang lain dengan argumentasinya selogis apapun. Apakah ini gejala grafomania? Oke orang-orang Indonesia tidak menulis buku, tapi ia mengelilingi dirinya dengan pandangan-pandangannya sendiri. Meminjam istilah Kundera, seperti cermin yang memutuskan segala suara dari luar.
Meski ucapan seorang kawan tadi cukup naif, karena aku merasa mudah sekali menerima hal yang baru (artinya tidak melingkari diri dengan dinding cermin). Tapi tetap saja, ini membuat otak berpikir. Pun menjadi sanksi pada pandangan diri bahwa aku bukan grafomania. Bahwa aku tidak melingkari diri dengan dinding cermin...
Diinspirasi dari Milan Kundera, Kitab Lupa dan Gelak Tawa, hal. 154-155.
Jogja H-1 2017