Wednesday, 30 November 2016

Lelaki Angkringan


Sekira pukul 11.00 pm, saya mlipir ke angkringan deket SGM. Saya pesen satu nasi kucing dan satu gorengan, lalu teh anget, dan satu nasi kucing lagi plus gorengan.

"Kayaknya bagus kalau Ahok dibom"

"Yang ngebom teroris aja, yang berani mati"

Lelaki penjual angkringan, nyerocos begitu saja, menghujani pengetahuanku tentang ahok dan aksi-aksi yang anti dengan dirinya. Saya juga melihat, dalam diri lelaki tersebut, penuh dengan amarah lantaran ujaran ahok yang dirasa menghina.

"Sebagai orang Islam ya mas, pasti tersinggung jika agamanya dihina. Apalagi Ahok non-muslim"

Dalam raut wajahnya, saya secara subyektif menilai, seolah-olah mantan pecandu. Entah miras atau narkoba. Ini saya nilai dari gerak-geriknya yang gelisah, dan sorot mata yang redup.

Ia kemudian menjelaskan dengan lihai dan seolah menguasai bahan obrolannya.

"Mas, sebenarnya bukan masalah penistaan agama saja Ahok itu. Tapi bukunya Ahok sudah ada sketsanya. Ada yang membongkarnya"

"Setelah apartemen jadi, akan dijual ke luar negeri. Kemudian dijadikan tempat untuk transaksi narkoba"

Saya hanya pasif saja mendengar apa yang lelaki itu obrolkan. Sembari sekali-kali manggut-manggut dan menguatkan apa yang ia katakan. Seperti murid yang tengah mendengar wejangan gurunya.

"Polisinya yang bodoh. Dikasih duwit, diam. Kemarin kan karena polisi kelelahan, terus disemburkanlah gas air mata itu ke massa aksi. Makanya kemarin yang dibakar kan mobil polisi"

"Yang namanya aksi, menyampaikan aspirasi, ya sah-sah saja. Bukan anarkis"

Ia lagi-lagi merujuk pada aksi 411, yang salah satu tuntutannya adalah memenjarakan Ahok.

"Mas, teh anget satu"

Dari balik punggung saya, muncul seorang laki-laki. Ia duduk sembari menunggu lelaki angkringan yang tengah meracik pesanannya. Ini saya manfaatkan untuk segera membayar apa yang sudah saya makan. Dan, yang paling penting, terbebas dari obrolan soal Ahok dan aksi-aksi tentangnya.

Jogja 2016

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 29 November 2016

Menulis Untuk Keabadian



Masing-masing kita tentu memiliki cerita yang berbeda-beda. Cerita yang muncul dari benturan-benturan kita dengan realitas, yang kadang menyenangkan, dan kerap sekali menyakitkan. Namun, kerap cerita-cerita tersebut membusuk di kepala. Atau mungkin, terlupakan dan tertimbun dengan cerita-cerita lain yang berjubel.

Terlebih, kita yang menyandang status mahasiswa. Selain kerap (merasa) dibuat sakit hati oleh penguasa, juga memiliki  kegelisahan yang meletup-letup di dada dan kepala. Efek darah muda. Punya banyak tawaran solusi, namun mendadak linglung untuk memilih media apa yang harus digunakan untuk menyampaikannya. Melakukan demonstrasi, tidak memiliki massa yang banyak dan jadwal kuliah padat. Memilih media sosial sebagai media penyampaian aspirasi, takut terjerat pasal UU ITE yang telah banyak memakan korban. Lantas, apa yang mesti kita lakukan?

Agaknya, kita bisa meniru apa yang dilakukan oleh Gie. Sederhana. Ia menulis aktivitas keseharian sebagai mahasiswa. Mahasiswa yang gandrung dengan keadilan, dan menceburkan diri dalam dunia aktivis. Juga Che Guevara, sang revolusioner Kuba. Ia membawa buku kecil dan pena, untuk mencatat potongan-potongan pengalaman selama melakukan gerakan revolusi. Meski mereka telah lama mati, pikiran-pikirannya beranak-pinak di setiap batok kepala siapa pun yang membaca karya mereka.

Karena itu, ada benarnya ketika Pram, dalam salah satu Tetralogi Buru-nya menulis: Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh di kemudian hari.”

 Apa yang dikatakan oleh Pram bukanlah isapan jempol belaka. Banyak bukti yang bisa kita temukan. Bayangkan saja, jika tidak ada orang yang bersedia menceritakan sejarah masa lalu dalam bentuk tulisan kepada kita. Tentu kita selamanya tidak akan bisa mempelajari sejarah. Dan, meminjam istilah Eric Weiner (2016: , selamanya kita akan menjadi kanak-kanak, selama tidak mau mempelajari sejarah.

Begitu besar kontribusi tulisan dalam peradaban manusia. Namun, apakah hal ini sudah kita sadari sepenuhnya. Jika iya, apa langkah selanjutnya dari kesadaran tersebut, masih menjadi tugas kita bersama.

Belakangan kita amati, terlebih pasca aksi 411, banyak tulisan berseliweran di media sosial dan portal berita online. Seakan tidak mau ketinggalan, televisi juga mendatangkan pakar-pakar untuk mengupas soal aksi 411. Selalu, baik dalam media sosial maupun televisi, ada dua pihak yang berseberangan pendapat. Dan kedua-duanya, sama-sama memiliki landasan untuk menguatkan argumen masing-masing.

Jika diamati secara mendalam, rasa-rasanya kita tengah berada di medan pertempuran yang sengit. Bukan tempur dengan AK 47 atau tank, melainkan wacana. Ini bisa dibuktikan dengan berjubelnya tulisan pro-kontra terkait sebuah isu atau fenomena. Seakan-akan, masing-masing pihak ingin menggiring publik agar merapat ke barisan mereka. Semakin banyak massa, pastinya, semakin besar kekuatannya. Dan tentu, kuantitas massa sangat diperhitungkan di negara kita ini.

Saya tidak bermaksud untuk mengajak siapa saja untuk memilih satu di antara dua kelompok. Ini bukan persoalan kalah-menang, saya kira. Tapi, kembali kepada pemahaman bahwa setiap orang punya cerita, menulis adalah pekerjaan yang perlu. Di tengah pertempuran wacana tersebut, setidaknya kita memberikan warna baru dengan tulisan kita. Menghasilkan tulisan alternatif, yang lebih menyegarkan dan sarat dengan visi mulia.

Tentu saja, sebagai mahasiswa, menulis adalah kegiatan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Jangan hanya makalah (itu pun kerap hanya copy-paste) yang dikerjakan dengan kesungguhan, untuk mendapat angka tinggi. Tapi, perlu juga kita tuangkan gagasan kita melalui tulisan, baik dalam bentuk tulisan ilmiah maupun populer.

Tokoh-tokoh besar masa lampau telah membuktikan, bahwa mereka tidak bisa mati hanya karena moncong bedil. Tidak binasa oleh racun yang mereka minum. Justru sebaliknya, mereka abadi dan terdengar lebih lantang suaranya, setelah direnggut kematian. Bagai virus, gagasan mereka yang terselip dalam tulisan, menjangkiti siapa saja yang membacanya. Jiwa mereka abadi, bersemayam di dada-dada generasi berikutnya.

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Thursday, 10 November 2016

Cerita dari Angkringan


http://uin-suka.ac.id/
Lelaki itu kurus. Berbaju kemeja warna biru langit bergaris-garis putih. Saat aku mampir ke gerobaknya, ada dua lelaki sebayaku yang sedang berbincang asyik dengan lelaki kurus itu. Soal namanya, aku tidak menanyakan. Apa arti nama jika hanya mengundang kekakuan? Merusak jalinan komunikasi yang telah lama mencair? Toh yang terpenting bukan 'siapa nama dia', tapi dia sebagai manusia, yang mencari nafkah untuk anaknya.

Aku hanya mendengar saja, ia bercerita menggebu-gebu soal anaknya yang genius. Perempuan, dengan skor IQ 115 saat usia taman kanak-kanak. Dan kini usianya sudah menginjak kelas 5 SD, masuk SD di umur 6,5 tahun.

Kesan pertama melihat lelaki kurus itu, aku langsung menyimpulkan: orang cerdas ini, atau alim. Ini aku timbang dari wajah yang ceria dan memancarkan cahaya. Dari penilaianku inilah, aku memutuskan untuk menjadi pendengar setia, sembari menggigit butiran nasi dan gorengan.

Lelaki kurus itu mengatakan, dirinya akan menuruti segala keinginan anak, asalkan anaknya juga mau menuruti kemauan orang tua. Semacam perjanjian kerja sama jika dalam dunia bisnis.

Ia juga bercerita, bahwa anak gadisnya cerdas, genius. Tapi ada satu kurangnya: terlalu bergantung pada orang tua. Manja. Kemanjaan ini yang membuat lelaki kurus itu konsultasi dengan seorang mahasiswa UAD jurusan psikologi. Ia diberi saran untuk memperlakukan ini itu. "Ya sudah, kamu sampaikan ke ibu. Ke istriku," kata lelaki kurus itu bercerita.

Dan benar, lanjutnya, anak saya sekarang mandiri mas. Kalau mau apa-apa bisa sendiri.

Ia juga bercerita, bahwa anak gadisnya diikutkan kegiatan ekstra: karate.  Prinsipnya, anak harus berprestasi di sekolah, juga di luar sekolah. Ini yang mendorong lelaki kurus itu untuk mendukung penuh apa yang dipilih anak. Seperti perjanjian tadi, anak nurut, orang tua akan turuti apa saja kemauan anak. Dan kemauan orang tua, ingin anaknya berprestasi di dunia sekolah dan luar. Anak menyambut keinginan itu dengan tanpa ada rasa terpaksa. Sempurnalah bagunan komunikasi anak-orang tua yang ideal.

Ini saja ceritaku. Agaknya, penilaianku di awal tidak meleset begitu jauh, jika melihat upaya lelaki kurus itu bersama istrinya dalam memenuhi kebutuhan anak. Karena, sampai kapanpun, menurutku, anak hanya membutuhkan orang tua yang paham kebutuhannya untuk berkembang. Ini akan menjadi kekuatan yang besar untuk menyiapkan generasi cerdas-berprestasi yang mandiri. Meski kalau aku kritisi, lelaki kurus tersebut masih takut jika anaknya jelek nilai ulangan di sekolah. Padahal, tidak melulu angka yang dijadikan patokan prestasi dan perkembangan anak.

Angkringan Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Thursday, 3 November 2016

Kita dan Ahok


Soal Aksi 4 November 2016, saya cukup apresiat dengan siapapun yang bergabung di dalamnya. Artinya, umat Islam masih punya semangat untuk mempertahankan agamanya agar tidak dilecehkan siapapun. Karena, tak lain, aksi 4 November ini sebagai respon dari ketledorannya Ahok mengutip ayat sebagai 'bahan olok-olok', yang dengan mudah menyulut emosi umat Islam. (Umat Islam emosian ya?) Oh, barangkali bukan emosi, tapi lebih kepada mempertahankan harga diri Islam. Tapi benarkah demikian? Lantas kenapa perlawanan ini mencuat mendekati pencalonan Ahok menjadi gubernur DKI?

Soal pelecehan, menurut Kiai Said Aqil Siroj dalam acara Mata Najwa (2/11/2016), ada dua macam, yaitu pelecehan secara lisan dan tindakan. Pelecehan secara lisan, barangkali bisa dicontohkan dari kasus gubernur Ahok. Sementara tindakan seperti pemusnahan umat Muslim Rohingnya di Myanmar, tragedi Allepo, dan sebagainya.

Dari dua bentuk pelecehan ini, sebenarnya mana yang sekiranya lebih tepat untuk kita lawan, untuk kita kubur dalam-dalam pelecehan tersebut. Dengan demikian, perlu kiranya kita menimbang aspek madharatnya. Penghinaan secara lisan atau tindakan yang lebih banyak mudharatnya? Tentu, kamu sudah bisa menimbang, mana yang lebih berbahaya.

Lantas jika sudah menimbang segi madharatnya, apa sikap kita terhadap aksi 4 November ini? Menolakkah, atau mendukung? Atau ada pilihan lain selain opsi hitam-putih ini?

Sebagaimana di awal, saya mengapresiasi bagi siapa saja yang ikut andil dalam aksi tersebut (baik yang terjun ke lapangan atau sebatas ganti DP BBM sebagai bentuk dukungan). Namun sebagaimana kebiasaan kita, menilai orang lain lebih mudah daripada menilai diri sendiri. Kita dengan mudah memvonis Ahok sebagai pelaku pelecehan ayat al-Qur'an, tanpa menyadari bahwa, barangkali, di setiap langkah kita ternyata melecehkan ayat al-Qur'an. Segala kedurhakaan kita terhadap perintah Allah, adalah pelecehan. Segala bentuk pelanggaran dari kewajiban, adalah pelecehan. Lantas lebih hina mana kita dengan Ahok? Dia sebagai non-muslim, menista agama Islam dengan ucapan. Sementara kita, dengan tindakan yang dilakukan secara rutin. Sebagaimana hukum rajam yang dicitrakan dalam film 'Son of God', bahwa wanita pezina tidak berhak dirajam oleh orang pendosa. Jadi saya jadi tertarik untuk bertanya: sudah pantaskah kita menghujat Ahok?

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tuesday, 1 November 2016

Buku dan Kebaruan


Buku dan Kebaruan

Mencintai aktivitas baca memang memiliki kelebihan sendiri. Di saat yang sama pula, tertimbun berlapis-lapis kekurangan. Setidaknya, itu yang saya rasakan selama ini.

Semenjak MA, saya suka membaca buku. Waktu itu, Majalah Assunnah di perpustakaan menjadi kegemaran saya. Di rumah, buku kumpulan hadits juga saya bacai. Karena sifatnya praktis dan informatif, jadi tidak perlu banyak perenungan untuk memamahi hadits-hadits tersebut. Seperti disunnahkan membunuh cicak, adalah hadits yang cukup mudah untuk diamalkan. Dan berdasar pada hadits ini pula, saya ketika masih usia belasan, berburu cicak di rumah-rumah tetangga menggunakan jepret karet. Hasil tangkapan saya bawa pulang, untuk dikasihkan ke kucing piaraan.

Di kelas tiga, saya masih samar-samar ingat, saya membaca buku yang ditulis Sirajudin Abbas, soal bid'ah. Saya tanyakan hasil bacaan saya pada Pak Ahmad Marhani. "Pak, saya pernah baca, ada buku yang membagi bid'ah jadi dua; sayyiah dan khasanah. Itu gimana, Pak?" tanyaku waktu itu, di pelajaran fiqih.

"Hati-hati baca buku semacam itu. Bahkan ada yang membagi bid'ah jadi lima macam. Yang namanya bid'ah ya satu" jawabnya. Tentu saja, Pak Marhani mengacu pada hadits yang mengatakan bahwa bid'ah adalah dolalah yang muaranya neraka.

Apa yang dijelaskan beliau kemudian, saya pegang erat-erat sampai kuliah. Hingga di suatu diskusi, dan menyinggung soal bid'ah, saya bersikeras mengatakan bahwa bid'ah itu sesat. Tidak ada pembagian dalam soal bid'ah. Dan untuk meyakinkan forum pada waktu itu, saya mengatakan bahwa ada di al-qur'an ayat-ayat tentang bid'ah. Saya sampai berani mengeklaim bahwa "minkulli bid'atin dholallah wa kulla dholalatin finnaar" adalah salah satu ayat al-baqarah. (Hingga kini belum ada klarifikasi ke teman-teman diskusi, kalau saya khilaf dengan mencatut hadits tersebut bagian dari al-qur'an, semoga diampuni).

Namun lambat laun, dari berbagai bacaan (mengamati, mendengar, diskusi) saya mulai ada pencerahan. Bahwa ada berbagai pandangan soal bid'ah. Dan mereka sama-sama punya dasar kuat. Dan khazanah keilmuan ini lambat laun menggoda saya, untuk berpaling dari pandangan awal soal bid'ah. Ini yang saya sebut sebagai 'kebaruan'.

Sebagai judul tulisan ini, Buku dan Kebaruan, bahwa buku adalah media awal untuk sampai pada kebaruan. Kebaruan di sini bukan dalam artian 'dari yang tidak ada menjadi ada'. Melainkan, dari 'yang tidak tahu menjadi tahu'. Kebaruan di sini, artinya kebaruan dalam berpikir. Ini sebagai bukti bahwa perintah iqra!, bacalah!, bukanlah hoax atau bullshit. Perintah tersebut benar-benar manjur, untuk memecah tempurung pemikiran dalam kepala. Sebagaimana air yang dengan tetesan kecil, mampu menghancurkan batu.

Bacalah! bukan sebatas membaca ayat al-qur'an dan as-sunnah. Melainkan universal, menyeluruh, tidak ada perbedaan antara ilmu agama dan umum. Karena sesungguhnya, secara hakikat, semua yang ada di semesta ini adalah percikan ilmu Allah, dan al-qur'an serta hadits adalah bagian dari percikan ilmu Allah yang terskripta, tercatat.

Namun hati-hati dalam membaca! Membaca, menurut saya, adalah proses yang tiada berujung. Hanya kematian yang menggugurkan proses tersebut. Dengan demikian, berhenti di tengah proses tak berkesudahan, adalah 'kesesatan' yang nyata. Artinya, kalau memang kita (aku dan kamu) sudah membaca, apapun itu, janganlah berhenti. Boleh menengok ke belakang, tapi janganlah berhenti di tengah jalan. Begitu.

Dan satu hal yang tidak bisa saya lupakan adalah perkataan Santriwati Pondok Pesantren Ulul Albab, Jogja. "Kak, jangan sampai baca bukunya mengalahkan baca qur'an. Kalau aku, ada waktu khusus untuk baca qur'an" katanya menasehati.

Karena bagaimanapun juga, membaca adalah pintu kebaruan berpikir, kebaruan dalam bertindak. Dan kebaruan itu, mustinya, mengarah ke hal yang lebih baik. Meski sudah ribuan tahun qur'an diturunkan, selalu saja ada 'kebaruan' di dalamnya. Karena memang, 'buku' umat manusia dan jin sepanjang masa. Bacalah, untuk masuk pada kebaruan-kebaruan!

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Dikoyak Sepi



Dalam sejarah, banyak tokoh bangsa yang berjuang dalam sepi. Mengisi wawasannya dengan buku-buku berbobot dan diskusi berkualitas. Beberapa, bahkan sampai bisa menuangkan karyanya dalam bentuk buku atau gubahan puisi. Mereka berjuang dalam sepi, tapi entah dari mana semangat itu datang bertubi-tubi. Sehingga, kesepian tak mampu mengoyak diri.

Sepi, kamu tahu dan mungkin kerap merasakan, adalah rasa yang paling kejam. Ia bukan hanya menyerang akal, tapi juga hati. Sepi pula, yang barangkali mampu mendorong orang untuk mencabut jiwa dari raganya, dengan cara diperkosa.

Saya tidak bisa bayangkan seperti apa orang-orang dulu, tokoh bangsa, menghadapi sepi. Mereka diasingkan, bukan menjadi terasing, justru malah makin menguak gagasannya. Makin tajam pikir dan pekanya. Sementara saya, dan mungkin kamu juga, merasa terasing dari keramaian. Merasa sendiri di masyarakat yang selalu bergerak. Apa sebenarnya yang kurang dari kita?

Saya punya semangat juang, tapi di waktu lain semangat itu redup sama sekali. Saya juga punya misi untuk mencapai sesuatu, tapi di tengah perjalanan misi tersebut, terkoyak sepi. Sendiri. Tiada tangan yang bisa digandeng dan menggandeng. Lantas apa masalahnya sehingga itu terjadi pada saya?

Katanya, kreatifitas muncul ketika ada tekanan. Meski bisa juga sebaliknya. Apakah, jika demikian, sepi kurang kuat untuk menekan saya? Bukankah sepi sudah cukup kejam, memainkan pikiran dan perasaan? Penyair hebat, katanya lagi, juga lahir dari keadaan yang semrawud. Apakah sepi kurang semrawud untuk melahirkan pribadi-pribadi penuh ambisi dan konsisten pada jalannya? Atau ini persoalan zaman? Dulu karena teknologi internet belum ada, sehingga banyak kesempatan bersinggungan demgan orang lain. Mereka sepi di pengasingan, tapi sekaligus menemukan karib di sana. Sementara hari ini, kita ramai di dunia maya, tapi sepi dalam sosial. Perasaan dan pikiran kita, apakah digadaikan pada dunia maya bernama facebook, ig, dkk?

Jika begitu, mampuslah kau dikoyak-koyak sepi!

Jogja 2016
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...