Sunday, 20 May 2018

Cuma Membaca Danarto



Judul Buku      : Adam Ma’rifat
Penulis             : Danarto
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : I, November 2017

Tebal               : 112 halaman

Saya merasa putus asa membaca Adam Ma’rifat-nya Danarto. Putus asa dalam konteks memahami maksud dari tulisan belio. Dibaca serius, justru bikin kepala pusing dan mata berkunang-kunang.
Untungnya, Mahfud Ikhwan berbaik hati untuk memberikan pengantarnya. Darinya, saya mendapatkan dua opsi untuk membaca bukunya Danarto; serius atau cuek. Pertama, saya coba baca buku kumpulan cerpen ini dengan cukup serius, tapi hasilnya nol; malah bikin pusing kepala. Ilustrasi yang dibikin langsung oleh penulisnya juga tidak bisa saya pahami. Kedua atau akhirnya, saya memutuskan untuk membacanya dengan cuek; bukan untuk memahami, tapi sekadar menikmati saja.
Oh, ternyata ini karya Manikebuis ...
Saya mulai tertarik membaca sastra setelah melahap buku pinjaman berjudul Bumi Manusia tulisannya Pramudya Ananta (Mas)Toer. Dari Bumi Manusianya, saya mendapatkan ‘pesan moral’ bahwa nilai seseorang adalah pada keberaniannya. Bahwa perempuan, yang digambarkan melalui sosok Nyai Ontosoroh, juga memiliki daya upaya untuk berdikari. Haram bagi perempuan model Ontosoroh untuk hidup berkalang lelaki. Ini sekaligus sebagai bentuk perlawanan terhadap pandangan arus utama, bahwa perempuan selalu dinomorduakan, atau dalam falsafah Jawa, dijadikan sebagai konco wingking (teman belakang) yang tugasnya hanya seputar area domestik; sumur, dapur, dan kasur.
Usai baca Bumi Manusia, saya merasa terpacu untuk mencari karya serupa. Dan dalam pencarian tersebut, saya menemukan dua aliran sastra yang tak bisa akur (medio 60-an), yaitu kelompok yang mempersembahkan sastra untuk tujuan politik, dan satunya mempersembahkan seni untuk seni; atau dalam istilah lain, sastra hanyalah alat untuk menyuarakan aspirasi kaum tertindas (proletar?) dan sastra yang meyakini bahwa bentuk adalah bagian dari isi juga.
Dan, Danarto termasuk pada golongan yang kedua. Keenam cerpen yang terangkum dalam Adam Ma’rifat, adalah cerpen yang bagi saya sulit dimengerti dan memang menampilkan bentuk yang eksperimental. Benar yang dikatakan Mahfud Ikhwan, bahwa bentuk (cerpen) dalam khazanah Danarto adalah bagian dari isi itu.
Dengan maksud hanya menikmati pun, saya masih belum bisa menikmati dengan senikmat-nikmatnya. Saya masih saja terganggu dengan bentuk cerpen yang disajikan Danarto. Satu cerpen yang cukup bisa membuatku terhibur adalah yang berjudul “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat.” Cerpen ini benar-benar bisa membuat saya tertawa, terlebih pada bagian percakapan Malaikat dan anak-anak yang bersuka cita, karena melihat Malaikat itu terjaring. Begitu juga ketika anak-anak itu menantang Malaikat untuk melepaskan diri, yang ternyata juga bisa melepaskan diri, dan membuat anak-anak itu menangis.
Satu hal lagi dalam cerpen ini yang membuat saya tertarik adalah, cara Jibril dalam menjernihkan pikiran anak-anak yang tengah belajar. Ia mematukkan layang-layang ke genting, lalu membuat genting ambruk dan menurunkan hujan melalui lubang atap tersebut, yang memaksa anak-anak sekolah dan gurunya keluar, pindah belajar ke bawah pohon di atas bukit.
Saya memahami ini sebentuk sindiran bagi persepsi arus utama mengenai belajar haru di ruang kelas. Sebaliknya, belajar tidak harus terbatas di runag kelas. Bahwa anak-anak kerap mengalami kejumudan berpikir dan berimajinasi, ketika mereka dikurung dalam gedung bergenting dan berbentuk segi empat. Sebaliknya, mereka (dan juga gurunya) justru bisa lebih leluasa dalam belajar, manakala berada di lingkungan terbuka, dekat dengan alam.
Masih berbicara soal anak-anak, bahwa mereka jauh lebih mudah percaya –ketimbang orang (yang mengaku) dewasa- kepada hal-hal yang secara logika mustahil. Ini dibuktikan dengan berbondong-bondongnya mereka (tanpa didampingi gurunya –karena belio terlalu realistis) untuk menyaksikan upaya seorang lelaki untuk menjaring malaikat. Rasa keingintahuan mereka pun menuai hasil, yakni bisa menyaksikan tertangkapnya malaikat, dan mereka merasa terhibur lalu kecewa.
Ah, ternyata saya juga tergoda untuk coba-coba memaknai cerpen Danarto ini.

Thursday, 19 April 2018

Cinta yang Mengejawantah


 Judul Buku     : Gerimis di Atas Kertas
Penulis            : A. S. Rosyid
Penerbit         : Basabasi,Yogyakarta
Cetakan          : I, September 2017
Tebal              : 199 halaman
ISBN                : 978-602-6651-30-3
Sebagai pustakawan komunitas, A.S. Rosyid telah tepat mengangkat cerita tentang geliat literasi di Lombok.  Selain karena memiliki kedekatan emosional dengan cerita-cerita yang dibangun, juga boleh jadi bagian dari perjuangannya dalam menyorot geliat literasi di luar Jawa. Muluk-muluknya, ini dilakukan untuk menambal ‘catatan sejarah’ nasional yang sampai kini masih didominasi oleh narasi-narasi dari Jawa. Amat sedikit literatur yang menjadikan Indonesia bagian Tengah dan Timur sebagai bahan kajian. Dalam hal ini, A.S. Rosyid berhasil membawa lokalitas menjadi ‘catatan sejarah’ nasional.
Aku meyakini, bahwa tidak ada karya yang muncul dari ruang yang kosong. Semuanya, adalah hasil dari pengindraan penulis atas realitas lalu dalam menarasikannya dikembangkan dengan imajinasi-imajinasinya. Jangankan pegiat fiksi, sejarawan pun –yang terkesan serius- kata Kuntowijoyo membutuhkan daya imajinasi tinggi. Imajinasi tersebut digunakan untuk menarasikan fakta-fakta sejarah menjadi narasi yang sambung menyambung dan enak dibaca. Sehingga pesan sejarah sampai kepada pembaca.
Lagi-lagi, A.S. Rosyid juga berhasil membangun cerita yang mudah dipahami pembaca. Terlebih bagi pembaca-pembaca yang memiliki tingkat kebaperan tinggi, bisa tersedu-sedu ketika membaca cerita tentang cinta tak sampainya Royyan kepada Hasyim dan pendekatan yang dilakukan Tata kepada Fajar. Dan, dua cerita tersebut memiliki keterhubungan yang unik. Royyan dan Tata adalah teman SMA, sementara Fajar kenal Hasyim sebagai teman lintas komunitas.
Bedanya, cinta Royyan pada Hasyim tak sampai, karena tersandung kenangan Hasyim akan masa kecilnya bersama Ayu –yang membuat Royyan patah hati yang kemudian mencoba berdamai dengan keadaan, serta mencari Ayu untuk Hasyim –dan ketemu –dan akhirnya Hasyim dan Ayu menikah. Sementara Tata kisahnya berujung pada pernikahan, setelah berhasil ‘melepaskan’ Fajar dari rasa bersalah atas kematian pacarnya empat tahun lalu –yang kebetulan mirip dengan Tata.
Jika dua cerita pertama mengesankan ketegaran perempuan dalam mengelola cintanya, berbeda dengan cerita ketiga. Mas Bayu (laki-laki), sebagai tokoh utama, dikesankan sebagai sosok yang pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Sebelum bertemu dengan Sastri, penjual Cakwe terenak di Kota Tua, Mas Bayu adalah jurnalis photoghrapy yang ekstrim –membahayakan nyawanya demi hasil foto yang bagus. Begitu bertemu dengan Sastri yang macak sederhana, Mas Bayu langsung jatuh cinta dan segera mengatur siasat untuk tetap bersamanya.
Maka diutarakanlah ide untuk membuat Warung Kupi Cakwe, menggandeng Sastri dan pemuda-pemudi setempat yang kebetulan kenal baik dengan Bayu. Adalah Anggik si kutu buku yang putus sekolah, Parid si barista, dan Muhammad Daya si aktivis mahasiswa, pemuda-pemuda yang diajak untuk mendirikan warung kupi tersebut. Dengan keahlian masing-masing, Warung Kupi Cakwe berkembang dengan pesat. Tidak sembarang warung kopi, tapi juga menyediakan cakwe ala Sastri, perpustakaan yang dikelola Anggik, dan tempat berdiskusi yang biasa digunakan Muhammad Daya dan teman-temannya. Dua tahun setelah warung itu berdiri, Bayu dan Sastri akhirnya menikah.
Jika kita membaca bukunya Eric Form yang berjudul Seni Mencintai (2018), akan menemukan betapa cinta –mestinya- berkembang secara produktif. Bahwa cinta itu bukan diawali dengan imbuhan di- (dicinta), melainkan me- (mencinta). Dengan kata lain, cinta selalu bisa membuat orang yang dicinta lebih produktif dan efeknya tidak hanya bisa dinikmati oleh satu-dua orang saja. Tetapi, orang-orang di sekitarnya pun ikut merasakannya. Cerita Cakwe Kota Tua adalah contoh konkrit betapa cinta bisa tumbuh dengan sedemikian produktifnya, sehingga bisa menyalurkan skill kepada sesuatu yang bernilai ekonomi dan (yang terpenting) pendidikan (luar sekolah).
Satu hal yang juga tidak kalah menariknya di sini adalah, bahwa para pegiat komunitas adalah mereka yang tidak terjebak dengan kebaperan yang  melanda remaja usia 20-an,yakni kebelet menikah. Mereka rela menjomblo sedikit lebih lama demi dedikasinya untuk negeri; yakni berjuang menggairahkan literasi. Dalam tiga cerita tersebut selalu dikisahkan anak-anak atau remaja putus sekolah karena ekonomi, tapi bisa mengakses informasi dan bacaan melalui komunitas-komunitas. Secara tidak langsung, A.S. Rosyid bisa dikatakan ingin mengajak kita supaya peduli dengan mereka yang putus sekolah. Seakan-akan, pemaknaan cinta dalam tiga kisah tersebut, tidak bisa lepas dari upaya untuk membantu anak-anak dan remaja putus sekolah untuk mendapatkan haknya.  
Imron Mustofa

Tuesday, 27 March 2018

Entahlah, Katanya Kerasukan

Kemarin, kata teman, mataku merah, wajahku abu-abu, kaku. Sukanya, mengatakan yang tidak-tidak. Arogan. Juga sampai tak mau disalahkan. Mudah tersinggung dan tatapannya kosong. Aku membayangkan diri yang mengenaskan, dan hidup tanpa semangat. Kehilangan arah dan tak tau jalan pulang.

Banyak yang kena imbasnya. Salah satunya tamu dari jauh, yang di sini sebenarnya mau refreshing malah aku bikin susah tidur. Aku ajak dia ngobrol, tentang agama dan Tuhan. Padahal, aku tidak memiliki pengetahuan cukup buat ngomong agama, terlebih Tuhan. Hanya bermodal bacaan buku yang tak seberapa, dan karenanya aku disarankan mencari guru yang sreg, karena ditakutkan terjerumus. Waktu itu, entah kenapa, aku seakan menolak saran itu dengan cukup arogan, lalu memaklumi tamu tersebut sebagai keluarga santri salaf. Dengan kata lain, dalam hal pemikiran, aku rasai betul arogansiku; betapa celakanya aku.

Sebenarnya bukan kali pertama aku bicara soal agama dan Tuhan. Tapi entah apa soal, pembicaraanku tempo lalu terasa amat berbeda dan cukup nakal. Dan aku mengatakan dengan tidak ada rasa takut sama sekali. Apa aku salah? Entahlah.

Yang jelas, di setiap penjelasanku padanya, selalu terpotong di jalan. Seakan hanya ambisinya saja yang ada, tapi ilmunya nol besar. Jadi wajar jika temen baikku yang semoga bisa jadi pendamping hidup, menilaiku secara blak-blakan sebagai orang yang masih chetek ilmunya. Belum pantas bicara soal Tuhan. Dan satu hal yang membuat aku terhenyak, adalah kesimpulannya yang mengatakan bahwa aku kerasukan jin ifrit. Dia merasainya saat Minggu kita makan bersama; ia melihat diriku bermata merah, nyaris hilang warna putihnya. Pun, pandangannya amat sinis, ke siapapun dan ini jarang terjadi. Pada akhirnya, ia menjauh dan buru-buru mendekat, karena khawatir diriku kelewat batas. Istighfar, katanya menasihati. Kamu nggak usah tanya-tanya tentang Tuhan lagi!

Aku coba ingat-ingat aktivitasku tempo lalu. Mulai dari membaca novel Kain karya Jose Saramago, yang mengolok-olok Tuhan, mulai dari pembicaraanku yang tiba-tiba terpusat pada persoalan ketuhanan. Seorang resensor sebenarnya telah menegaskan, bahwa karya Kain bukan mengikis iman, bahkan sebaliknya, menguatkan iman kita. Tapi kok setelah aku baca itu, ada perubahan besar dan itu dirasakan sangat mengganggu oleh temanku yang sudah kenal 8 tahunan? Semoga ini hanya terjadi sekali saja, dan selanjutnya bisa lebih mantap lagi.

Memang Tuhan punya rencana untuk hamba-Nya, sekalipun si hamba mempertanyakan diri-Nya. Maturnuwun Gusti Pangeran.

Jogja 2018

Monday, 26 March 2018

Memaknai Hijrah Diri

Sore yang muram. Diiringi gitar dan lantunan lagu Iwan Fals. Rasa kantuk diam-diam menggoda untuk memejamkan mata, tapi pikirku menimbang aspek kesehatan dan pesan agama.

Kepeningan yang sedari tadi menempel di jidatku, perlahan terasa panas. Ceracau tak karuan meluncur dari mulut yang sulit dikunci. Entah, kata-kata yang keluar mengarah ke mana. Hanya ada satu rasa dalam menuangkannya; bahwa aku mendadak gelagapan di tengah bicara. Mendadak kehilangan arah pembicaraan.

Itu sudah biasa, dan seakan telah menjadi rutinitas. Di kala pening, semua seolah gelap dan juga suram, lalu untuk lari dari kegelapan itu, berceracaulah aku.

Energi negatif memang kerap jauh lebih tajam cakarnya, ketimbang yang positif. Cakar itu yang telah menghujam dalam, sulit untuk dicabut. Begitu dicabut, masih tetap ada bekas yang ditinggalkan.

Sementara energi positif begitu mudah hadir, tapi mudah pula perginya. Mungkinkah hadirnya energi positif itu ibarat jari yang melukiskan gambar hati di atas air? Atau seperti pisau yang mengerik batu dengan pola tertentu, sulit tapi membekas begitu lama.

Benar yang dikatakan seorang ulama yang hadir dari masa lalu; bahwa berhijrahlah, biar nanti mendapatkan banyak pengalaman dan juga pekerjaan. Hijrah seperti apa? Agaknya pertanyaan itu yang mesti diperjelas jawabannya.

Jika hijrah ala Cak Nun yang katanya dari terdampak bandara ke lokasi yang disediakan pemda, agaknya patut dipertanyakan. Dan di sini bukan hijrah model beginian yang mau kurenungkan. Tapi, hijrah yang entah, yang coba aku maknai dengan segenap keterbatasan diri.

Satu hal yang penting dari hijrah, menurutku, adalah perpindahan. Pindah secara fisik dari satu tempat ke tempat lain, kalau begitu, berarti termasuk hijrah?

Tentu bisa dikatakan begitu, tapi masih ada yang kurang. Kalau masa Rasul dulu, kata Al-Fayyadl di fbnya, hijrah itu perpindahan dari suatu kondisi yang buruk ke yang lebih baik. Sebagaimana dicontohkan Rasul, yang hijrah dari Makkah karena selalu diganggu, menuju ke Madinah yang disambut meriah dengan tabuhan rebana.

Hijrah seperti inilah yang menurutku mendesak untuk dilakukan. Dari kondisi awal yang masih kurang kondusif dalam pengembangan diri, menuju kondisi yang lebih subur untuk pengembangan keterampilan.

Musuh terbesar dari hijrah itu ya rasa malas. Kalau malas masih tetap dirawat, jelas, hijrah hanya angan kosong. Tidak ada perbaikan sama sekali dalam diri. Yang jelas, tidak baik buat kesehatan masa depan.

Dari yang bicara tanpa arah, lalu ke obrolan bermakna dengan penyampaian yang sistematis. Jelas tujuan dan arah pembicaraan. Dan tegas dalam menyampaikan argumen.

Sampai sini, aku sudah paham? Tentu. Paham itu satu hal, dan mau mengamalkan itu hal lainnya. Dan itu masalah terbesarku. Lantas, bolehkah aku katakan masalahku juga masalah terbesar manusia, karena aku juga manusia?

Jogja 2018

Sunday, 25 March 2018

Memaknai Kebebasan


Aku rasa, orang dari manapun dan dari zaman apapun, merindukan yang namanya kebebasan. Kerinduan akan kebebasan pula yang menjadi spirit perjuangan manusia, dari waktu ke waktu. Bangsa Indonesia tidak mungkin akan bebas-merdeka, jika mereka tidak mengangankan kebebasan.

Kebebasan adalah spirit, yang bisa melepas belenggu apapun. Tapi, satu hal yang berlaku pada semua hal, tidak boleh melekat pada istilah apapun. Jika satu hal itu melekat, dampaknya jadi buruk. Satu hal yang aku maksud adalah ekstrem atau bisa juga diartikan berlebihan.

Kebebasan, jika telah ditegaskan posisinya dengan imbuhan ekstrim, tentu alamat kiamat bagi kemerdekaan. Kebebasan akan kehilangan nilainya. Pun, akan membawa malapetaka tiada berkesudahan bagi umat manusia.

Kalau menyimak Kahlil Gibran dalam Sang Nabi-nya, jika kita ingin bebas, tak perlu lah bicarakan kebebasan. Pembicaraan tentang kebebasan justru membuat diri kita tak bebas. Definisi adalah belenggu dari hakikat.

Tapi, aku rasa benar yang dikatakan Kahlil Gibran. Aku memaknai ungkapannya sebagai pesan untuk mencapai kebebasan yang sebenarnya tidak ada, tapi bisa dinikmati. Bahwa baiklah oleh sebagian orang, tidak perlu memaknai kebebasan, cukup merasakan kebebasan itu. Tapi bagi sebagian lainnya, perbincangan tentang kebebasan sampi membuat diri berpeluh dan juga merasa resah.

Aku termasuk golongan kedua, yang mencoba untuk membicarakan tentang kebebasan. Diriku yang lebih menggunakan logika dan sulit menggunakan rasa, perbincangan tentang kebebasan menjadi menarik.

Tiga batasan dalam kebebasan yang aku baca dari buku Fikih Tata Negara adalah: (1) kebebasan itu tidak menodai harkat dan martabat manusia sebagai makhluk terhotmat, (2) tidak mengganggu hak orang lain, dan (3) tidak melawan aturan, baik aturan syariat ataupun hasil kesepakatan bersama, selama bernilai baik dan tidak bertentangan dengan syariat. (hal 57)

Aku coba meraba-raba pesan yang ingin disampaikan tiga batasan kebebasan tersebut. Yang pertama, otakku langsung tertuju pada praktik feminisme Barat, utamanya yang gemar telanjang dada sebagai bentuk ekspresi kebebasan. Bagiku yang lahir dan tumbuh di lingkungan dan kebudayaan Islam, ekspresi tersebut keterlaluan. Islam telah mengajarkan kepada perempuan untuk menutu bagian vital tersebut. Jangankan bertelanjang, terlihat gundukannya di balik bajunya saja dilarang. Dan inilah yang menurutku dikatakan "menodai harkat dan martabat manusia". Contoh lain belum aku temukan.

Yang kedua, ini jauh lebih mudah untuk mencerna. Kebebasan kita dibatasi dengan kebebasan orang lain. Bukan merupakan kebebasan jika ekspresi kita melanggar hak orang lain. Kita tak dibebaskan untuk menyakiti orang lain, karena orang lain berhak hidup aman.

Nah, yang ketiga, jauh lebih mudah untuk menemukan contohnya. Justru, contoh itu ada dalam diriku. Yaitu, kegemaran menerobos lampu merah, dan segera tancap gas jika lampu sudah kuning. Ini contoh paling sederhana, dalam pemaknaan "melawan aturan".

Yang jelas, jika memang kita memosisikan kebebasan untuk kepatuhan diri kepada Ilahi, tak perlu susah-susah mendefinisikan batasan-batasannya. Setiap ekspresi kebebasan yang itu sesuai dengan hati, sreg jika dilakukan, sudah cukup untuk menjadi rem dari kebebasan yang ekstrim. Nah, persoalannya, kita memang tahu di luar kepala aturan-aturan itu, tapi punya seribu dua cara pula untuk melanggar aturan itu. Yah, manusia... manusia... ya cukup ditertawakan saja.

Jogja 2018

Saturday, 24 March 2018

Dongeng Sebelum Tidur


Pada suatu pagi dini hari, di kafe yang ramai dikunjungi mahasiswa, tergeletaklah dua sosok bayangan di pojok. Mereka berdua duduk layaknya manusia, berhadap-hadapan. Yang satu memegang handphone, satunya lagi digenggam handphone. Entah kesepakatan apa yang membuat keduanya sama-sama melepas dan melepaskan diri dari handphone, atau lebih mudahnya gawai lah. Mulailah, bercerita.

Suatu hari yang muram, muncullah sekelompok minoritas yang merasa diri memiliki kuasa. Mereka coba menyebarkan virus yang bisa meluluhlantakkan negara dalam sekedip mata. Virus bagi mereka jauh lebih mulia dibanding obat penuh bahan kimia, apalagi antibodi yang juga hasil dari rekayasa virus agar bisa saling menyerang.

Awalnya penyebaran virus itu dikekang, tapi semenjak antibodinya tumbang, menyebarlah ia. Ia mulai menjalar ke semua tubuh, dan mulai menginfeksi antibodi yang ada. Maka jadilah tubuh itu penuh luka.

Suatu kali, si penebar virus juga bercerita. Mereka bersemangat menebar virus, karena dengan virus itu, mereka semakin eksis. Mereka lalu dianggap berjasa menernak virus. Tubuh yang sakit karena virus mereka jauh lebih disukai ketimbang tubuh hari ini yang masih cukup bugar.

Suatu kali yang sama dengan obrolan virus tadi, si antibodi juga sedang berunding. Mereka sadar diri mereka ternyata melemah, dan membuat tubuh mudah ambruk. Karena kaget dengan perubahan yang begitu terasa mendadak, untuk memusnahkan virusnya dengan jalan yang sama seperti virus itu mematikan tubuh secara perlahan. Jadilah tidak ada bedanya antibodi dengan virus.

Di pojok kafe, bayang-bayang yang dua itu lamat-lamat mulai dengan rutinitas masing-masing. Yang satu menggenggam hape, satunya digenggam gawai.

Lalu, tamat....

Jogja 2018

Tuesday, 20 March 2018

Ambisi Membunuh tuhan



Judul Buku      : Kain
Penulis             : Jose Saramago
Penerbit           : Basabasi, Yogyakarta
Cetakan           : I, 2017
Tebal               : 190 halaman
“Aku membunuh habel karena aku tidak bisa membunuhmu, maka, dalam niat, kau juga telah mati.”
“Ya, aku paham maksudmu, tapi ajal itu dilarang untuk para allah.”
“Oh, aku tahu, tapi kalian para allah masih dapat dipersalahkan atas semua kejahatan yang dilakukan atas nama kalian atau karena kalian”
Kutipan percakapan tersebut menunjukkan bahwa Kain membunuh saudaranya, Habel, tak lain adalah upaya untuk membunuh tuhan. Kain mempersalahkan tuhan karena telah membuat hubungan mereka berdua tidak harmonis, lantaran perintahnya untuk mempersembahkan hasil bumi dan ternaknya, dan milik habellah yang diterima. Habel yang merasa lebih unggul dari Kain, lalu menyombongkan diri dan sikap inilah yang membuat Kain sakit hati. Berawal dari sinilah, Kain lalu amat benci kepada tuhan, dan karena tak menemukan cara untuk membunuh tuhan, maka ia membunuh orang yang dikasihi tuhan (yang korbannya diterima), yakni habel.
Kain, pendosa yang membunuh habel, saudaranya, menggelandang melewati setiap masa yang berbeda-beda. Ia telah dikutuk tuhan menjadi buron dan menggelandang di muka bumi. Di keningnya, ada tanda hitam yang diberikan tuhan sebagai bentuk perlindungannya sekaligus celaannya.
Dalam setiap masa, ia bertemu dengan kejadian-kejadian aneh yang justru semakin membuatnya benci kepada tuhan. Ia bertemu dengan orang bernama abraham yang diperintahkan tuhan untuk membunuh putranya sendiri, lalu tentang sebuah menara besar yang dibangun manusia yang berharap menjangkau langit dan bagaimana tuhan meratakannya dengan tanah oleh badai, tentang kota dimana laki-laki lebih suka tidur dengan laki-laki dan hukumannya berupa api serta belerang yang ditimpakan tuhan kepada mereka, tanpa memikirkan anak-anak sama sekali, tentang kerumunan besar orang di kaki gunung sinai dan pembuatan patung seekor anak sapi emas, yang dipuja orang-orang itu dan mereka dibantai karenanya, tentang kota yang berani membunuh tiga puluh enak prajurit dari sebuah pasukan israel dan pendudukannya disapu bersih hingga anak yang terakhir, dan tentang kota jericho yang dinding-dindingnya dilumat oleh gelegar sangkakala yang terbuat dari tanduk lembu jantang dan kemudian bagaimana semuanya di dalamnya dihancurkan, laki-perempuan, tua-muda, bahkan binatang ternaknya (halaman 127-138).
Kilatan kejadian itu datang begitu saja, dari masa kini ke  masa kini yang lain. Semakin hari, Kain merasa semakin benci kepada tuhan, dan membulatkan tekad untuk membunuhnya. Saat bertemu dengan malaikat yang datang terlambat untuk menggagalkan upaya abraham membunuh anaknya, Kain dituduh seorang rasionalis (halaman 86). Oleh Lilith, istri bangsawan kota yang terpikat dengan keterampilan Kain dalam memanjakannya di ranjang, dikatakan penghina tuhan (halaman 70).
Penilaian tokoh malaikat dan Lilith inilah yang menjadi dasar penilaianku atas pribadi Kain. Sebagai rasionalis, Kain dalam segala kelakuannya selalu mengedepankan akal, dan segala bentuk kejadian atau keputusan tuhan yang tidak sesuai dengan pikirannya, akan ditentangnya habis-habisan. Sebagai penghina tuhan, Kain memang cukup berani untuk menentang atau mempertanyakan letak keadilan tuhan, manakala melihat berbagai kejadian yang tidak masuk akal –terutama berkaitan dengan keputusan tuhan yang (dalam pikir kain) bertentangan dengan kemanusiaan.
Kain melihat tuhan sebagai sosok yang cacat. Dan kecacatan terbesar dari tuhan adalah rasa cemburu, ketimbang bangga kepada anak-anaknya. Ia tunduk pada rasa iri dan ia jelas tidak mau melihat siapapun bahagia (halaman 92).
Kain terus merawat kebencian itu dari waktu ke waktu, yang sebenarnya tidak bergerak maju atau mundur, melainkan silih berganti. Tidak ada masa lalu juga masa depan, yang ada hanyalah masa kini dan masa kini yang lain. Hingga akhirnya ia bertemu dengan keluarga Nuh yang tengah membuat bahtera di perbukitan. Nuh mendapat perintah dari tuhan untuk menerima Kain di bahtera tersebut, karena boleh jadi bisa memberikan manfaat. Aku lalu menggambarkan scene pertemuan Kain dengan nuh seperti yang ada dalam film Noah (2014) –yang kontroversi karena ketidakmaksuman tokoh Nuh di situ. Sebagaimana di novel Kain, film tersebut juga menggambarkan bagaimana malaikat tuhan membantu pembuatan bahtera.
Nuh mendapatkan mandat dari tuhan untuk menyelamatkan keluarganya dan tiap-tiap binatang sepasang-sepasang di bahteranya –mengingat akan didatangkannya air bah dari langit dan bumi, untuk memusnahkan umat manusia yang telah rusak dan merusak bumi. Jika di film Noah, keluarga Nuh dikaruniai dua puteri kembar yang lahir dari istri anaknya yang pertama, sehingga regenerasi umat manusia bisa berjalan, amat berbeda dengan kisah dalam Kain. Bahwa satu persatu, keluarga nuh dibunuhi oleh Kain dengan cara licik. Giliran tinggal Nuh sendirian yang masih hidup, Kain memprovokasinya untuk bunuh diri, dan terbujuklah nuh.
Setelah air bah surut dan bahtera berlabuh ke daratan, tuhan memanggil-manggil nuh –dan tak ada jawaban. Justru yang muncul dari bahtera adalah Kain seorang diri. Kain mengakui telah membunuh keluarga nuh dan berhasil membujuk nuh untuk menenggelamkan diri ke air bah. Kain telah berhasil menggagalkan rencana tuhan.
Kau memang Kain, kata tuhan, yang keji dan licik, si pembunuh saudaranya sendiri. Tak sekeji dan selicik dirimu, kata Kain membalas, ingatkah anak-anak sodom?

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...