![]() |
| sumber gambar: brilio.net |
Oleh Imron Binsiman
Di suatu siang yang terik,
aku merencanakan untuk berangkat ke Jogja, setelah sehari berada di kampung
halaman. Tak seperti biasanya, aku berangkat menggunakan jasa angkutan umum
jurusan Jogja-Petanahan. Aku naik di terminal Petanahan. Karena jarak antara rumahku
dengan terminal cukup jauh, sekitar 7 kilometer, aku pun diantar ibu.
Sekitar pukul 11.30 WIB,
sampailah diriku di terminal. Di situ, bus sudah menunggu, beserta para
penumpang baik muda maupun tua. Aku melihat, keringat mengalir di pelipis
mereka yang duduk bersandar tak jauh dari bus itu. Duduk di tempat duduk yang
terbuat dari semen dan bata yang disusun. Sungguh, hari ini sangat panas.
Ibu memang tak pernah bisa
diduga sangka. Beberapa detik setelah kakiku turun dari motor, ibu melangkahkan
kaki menuju sebuah bangunan kecil yang penuh sesak dengan berbagai barang.
Sepertinya, ia ingin mencarikan untuk diriku sebotol minuman rasa jeruk, untuk
bekal dalam perjalanan di bus. Aku, karena penasaran, ya ikut saja di
belakangnya. Dan, ternyata benar, ibu memesankan untukku satu botol minuman
rasa jeruk. Karena ibuku juga memiliki toko kecil di rumah, ia juga membeli dua
botol lagi untuk dijual di rumah. “Mintanya lima, tapi adanya dua. Ya sudah,”
katanya sembari menengok ke arahku.
Di sela-sela perhatianku
pada transaksi yang sedang dilakukan ibuku dan pemiliki toko, aku melirik ke
arah bus. Di sana, aku mendapati seorang ibu berparas ayu, mencari-cari
seseorang. Terlihat gelisah di wajahnya. Dengan menenteng kardus berwarna oren
di tangan kanannya.
Setelah beberapa lama ibu
itu mencari-cari, bertemulah pandangan ibu dengan pandanganku. “Oh, Ibunya
latif!!!,” pekikku lirih. Aku bergegas menghampiri dan dalam sekejap kardus itu
pindah tangan.
“Titip buat latif, ya,”
ujar ibu berparas ayu itu diikuti senyuman.
“Oh, iya bu,” timpalku
sedikit kikuk.
“Maturnuwun, ya,” ucapan
terima kasih itu meluncur begitu saja dari arah ibu tadi. Dan, akupun
membalasnya meski entah terdengar apa tidak oleh ibu itu.
###
Deru mesin bus itu mulai
terdengar mengeras. Aku bergegas naik dan memilih tempat duduk tepat di depan
seorang gadis yang tak asing wajahnya. Tapi, segan rasanya diri ini ingin
menyapa, karena tak yakin apakah kenal atau tidak dengan gadis itu. Gadis itu
memakai kacamata. Terlihat anggun memang. Aku merasa pernah bertemu dengannya.
Tapi kapan? Entahlah. Mungkin dulu ketika aku masih memakai seragam abu-abu
dengan baju bagian bawah dimasukkan ke dalam celana.
Tak ingin berlama-lama melamun jauh ke masa
lalu, aku membenarkan posisi dudukku. Tiba-tiba saja, tanpa sepengetahuanku,
aku merasa ada tangan yang menggenggam pundakku. Oh, ternyata Lukman, adik
kelasku yang kini sedang study di UNY, jurusan bahasa dan sastra Indonesia.
“Pulang kapan, Luk”
tanyaku membuka percakapan.
“Jum’at kemarin Mron”
ujarnya.
“Oh, gitu toh”
Mungkin karena ia melihat
aku kerepotan dengan barang-barang bawaanku, ia mengurungkan niatnya untuk
duduk sekursi dengan aku. Dan, ia pun memilih duduk di bagian depan, selangkah
di depan tempat duduk yang aku duduki. Sendirian.
Mesin bus menderu-deru,
seolah tak sabar untuk membawa para penumpang berpetuang. Sopirnya juga
seolah-olah sudah ingin menunjukkan ketrampilan mengemudinya. Dalam sekejap,
bus pun sudah melaju, pelan, pelan, agak cepat, agak cepat, cepat, cepat, dan
stabil dalam kecepatannya. Sesekali memperlambat lajunya, sembari sang kernet
menaikkan penumpang. Begitu sepanjang perjalanan menuju Jogja.
Memasuki kawasan Wates,
bus sudah begitu sesak. Pengap. Dan, tak ada ruang lagi untuk bisa diduduki.
Banyak juga penumpang, nenek-nenek, kakek-kakek, laki-laki, perempuan, terpaksa
berdiri karena tak muat tempat duduk yang disediakan. Sebenarnya aku juga
merasa kasihan melihat nenek-nenek yang renta itu berdiri. Tapi apa mau dikata,
aku mau merelakan tempat dudukku, tapi aku takut diriku tak kuat untuk berdiri.
Di samping aku juga sedang kebelet kencing, yang sudah kutahan sekitar satu jam
belakangan.
Aku terpaksa pura-pura tak
tahu. Aku memilih memejamkan mata, sembari menjaga keseimbangan diri, biar tak
jatuh sewaktu bus melaju kencang dan belok-belok. Dan, aku pun tertidur lelap. Tak tahu apa
yang terjadi. Karena yang kurasai hanyalah kenyamanan, dalam tidurku yang pulas
ini.
Tapi, tak selang lama,
kenyamananku terganggu. Cuaca yang terik waktu itu juga menjadi penyebab aku
tak betah berlama-lama untuk tidur. Aku pun terbangun dan mencoba untuk
menebarkan pandangan ke sekitar bus dan melalui jendela, melihat para
pengendara motor, mobil, dan sebagainya. ada juga pejalan kaki.
Perhatianku tertarik
ketika ada seorang lelaki paruh baya masuk bus, ketika bus berhenti. Aneh
memang, karena ia tak seperti pengamen lain: ia tak membawa alat apa-apa. Hanya
bermodal suara dan keberanian.
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Salam
sejahtera bagi yang berbeda agama
Perkenankan
saya, untuk mempersembahkan do’a dan puisi
Semoga
para penumpang terhibur
Laki-laki paruh baya itu
pun memulai dengan shalawat yang dilantunkan begitu merdu. Selanjutnya ia
melantunkan sebuah puisi yang bertemakan ketuhanan
Jika memang hamba ini
Menyembah Engkau
Karena takut neraka-Mu
Maka,
Bakarlah
Aku
.........
..........
Tuhanku,
ampunilah diri ini
Yang
selalu berbuat maksiat
Ampunilah
ibu-bapak kami
Ampunilah
bangsa Indonesia ini
..............
.............
Dan di akhir puisinya, ia
kembali melantunkan doa-doanya. Betapa merdu yang ia lantunkan. Serasa, aku
sedang berada di tengah-tengah jama’ah dzikir, yang dengan segala penghayatan,
melantunkan shalawat dan doa-doa lainnya.
Aku merasa kagum waktu
itu. “Sangat langka,” batinku mengagumi. Aku pun, yang biasanya tak pernah mau
mengulurkan tangan dengan sekeping receh ke dalam bungkusan plastik yang biasa
di bawa pengamen, sekarang luluh. Aku merelakan diri untuk mencari receh di
dalam tas yang terselip berjubel barang. Cukup sulit memang, meski hanya
mengeluarkan sekeping receh, yang tak cukup untuk membeli Es Teh. Aku pun
memberinya dengan rasa sedikit kagum.
Tapi, aku tersentak ketika
ibu-ibu yang sedang duduk di sampingku berceletuk. “Lain kali nyanyi sambil
main gitar aja ya, jangan doa,” katanya. “Gak bisa nyayi bu,” laki-laki paruh
baya itu menyempatkan untuk menanggapinya. “Ya pokoknya besok nyanyi saja,”
ujar ibu di dekatku setengah memaksa.
###
Aku menjadi berpikir;
kenapa ibu tadi mengatakan demikian. Aku menjadi berpikir keras, apa mungkin
dia sedang mencoba untuk memberi peringatan pada laki-laki paruh baya tadi:
Kalau doa itu bukan untuk dimain-mainkan. Bukan untuk sarana mencari uang;
ngamen. Tapi, di satu sisi, aku juga berpikir; kreatif. Laki-laki itu sungguh
kreatif. Di saat yang lain mengamen, dengan melantunkan lagu-lagu tak jelas,
ini malah sibuk dengan doanya. Doa yang ia lantunkan di tengah sesaknya
penumpang di bus yang mulai reot. . . . . . . .
###
Pukul 06.37 WIB di
Perpustakaan Kota, Yogyakarta
Aku kembali membuka-buka
file di folder yang terselip cukup rapi. Aku kembali mencoba, menuliskan
sisa-sisa memori yang beberapa bulan lalu aku simpan. Tapi sayang, hilanglah
sudah.
Kalau aku tak ada waktu
selo, tentu tak mungkin mendapat kesempatan membuka ‘memori lawas’, yang ketika
aku bacai transkripnya, cukup terenyuh.
Kini, setelah beberapa
bulan melukiskan memori melalui tulisan, hilang sama sekali sisa-sisa memori
masa lalu. Padahal, terlalu berharga pengalamanku di Bus Jurusan
Jogja-Petanahan hilang begitu saja tertiup angin ribut, karena tak aku ikat
dengan pena.
Hanya saja, yang aku
dapatkan, setelah membaca ‘rekaman’ ini, aku jadi berpikir: apakah berdosa
pengamen yang kreatif itu, yang mengamen dengan lantunan doa dan shalawat.
Bukankah itu suatu ‘bid’ah’ yang nikmat untuk didengarkan. Atau mungkin, aku
yang tak mampu menangkap apa yang pengamen itu maui. Entahlah, hanya sisa-sisa
kekaguman yang kini tersisa, di batok kepala yang plontos ini. Aku Imron, dan
cukup menyesal tak merekam penggalan skenario Tuhan itu secara utuh.
Yogyakarta,
14 April 2016

No comments:
Post a Comment