Judul Buku : Saat Anak
Harus Diberi Hadiah atau Dihukum
Penerbit : Saufa,
Yogyakarta
Setiap
orang tua memiliki kewajiban mendidik anaknya. Meski anak telah mendapat
pendidikan dalam suatu lembaga, misalnya, bukan berarti orang tua lepas
tanggung jawab mendidik anaknya. Bahkan, didikan orang tua memiliki pengaruh
besar terhadap masa depan anak. Baik-buruknya moral anak, tergantung bagaimana
orang tua menerapkan pendidikan di keluarga.
Dalam
mendidik anak pun, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan. Maka, sebagai
orang tua harus mampu memperlakukan anaknya sesuai dengan kebutuhan. Misalnya,
kapan anak harus diberi hadiah dan kapan anak harus diberi hukuman.
Buku
karya Bunda Novi ini barangkali bisa dijadikan acuan untuk orang tua dalam
mendidik anak. Di dalamnya dijelaskan betapa penting orang tua mengetahui
kebutuhan pendidikan anak. Sehingga, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang
unggul dan cerdas di berbagai bidang.
Perlu
diketahui bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Keunikan ini yang
terkadang kurang mendapat perhatian dari orang tua. Terlebih, bagi anak yang
masih berada pada kisaran usia 0-8 tahun, atau biasa disebut anak usia dini.
Anak usia ini memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan dalam aspek fisik,
kognitif, sosio-emosional, kreativitas, bahasa, dan komunikasi yang khusus
(halaman 15).
Usia
dini juga dikenal dengan istilah golden age atau masa keemasan. Pada
usia ini, hampir seluruh potensi anak mengalami masa peka untuk tumbuh dan
berkembang secara cepat. Hal ini dapat kita lihat dari seringnya anak
melontarkan pertanyaan kritis. Jika pertanyaannya belum dijawab, anak akan
selalu bertanya sampai rasa ingit tahunya terpuaskan.
Selain
aktif bertanya, anak juga sulit diatur. Maka, sebagai orang tua harus mampu
memperlakukan anak sesuai kebutuhan. Jika memang perlu mendapat hukuman, maka
berilah ia hukuman. Dengan catatan, hukuman itu tidak sampai membahayakan
kesehatan fisik dan mental anak. Dan jika memang anak perlu diberi hadiah, maka
berilah ia hadiah, sebagai bentuk apresiasi kita kepada keberhasilan anak
memecahkan sesuatu, misalnya.
Akan
tetapi, memberi hukuman dan hadiah pun ada seninya. Tak boleh dilakukan dengan
serampangan. Untuk itu, Bunda Novi, melalui buku 160 halaman ini memaparkan
seni memberi hukuman dan hadiah yang efektif. Sehingga, bisa menjadi
pembelajaran anak agar menjadi lebih baik lagi di masa mendatang.
Hal
pertama yang harus dilakukan orang tua adalah melakukan perjanjian dengan sang
anak. Perjanjian yang dimaksud adalah kesepakatan bahwa jika anak melakukan
suatu perilaku yang sesuai dengan harapan orang tua, ia akan mendapat hadiah.
Sebaliknya, jika tidak sesuai maka akan mendapat hukuman (halaman 36).
Dalam
pemilihan hadiah, orang tua juga tak boleh asal pilih. Sebab, hadiah tersebut
akan menjadi daya tarik anak untuk menjadi lebih baik lagi. Hadiah yang harus
disediakan orang tua adalah hal-hal yang disukai anak. Bisa berupa barang, hak
istimewa, kebebasan tertentu, atau aktivitas tertentu. Dengan begitu, anak akan
lebih semangat lagi dalam meningkatkan kualitas perilaku baiknya.
Selain
hadiah, anak juga perlu sekali-kali diberi hukuman. Misalnya, ketika anak
berbuat kesalahan, orang tua hendaknya memberi teguran. Jika teguran tersebut
berkali-kali tidak diindahkan, barulah orang tua memberikan hukuman.
Akan
tetapi, orang tua juga harus memahami, tindakan apa saja yang boleh
diberlakukan hukuman. Menurut J. Drost, tindakan yang perlu dihukum adalah
tindakan asosial, yaitu tindakan yang merugikan sesama, orang tua, keluarga,
teman-teman, dan sebagainya. Dalam memilih hukuman pun perlu diperhatikan,
yaitu jangan sampai merusak kesehatan fisik dan psikis anak. Selamat membaca!
Dimuat di Kedaulatan Rakyat, 1 November 2015