Saturday, 20 December 2014

Ceritaku yang Tidak Lucu untuk Negeriku yang Sangat Lucu



Gambar: smpn2amt.blogspot.com
Aku begitu terharu ketika menyimak cerita Pengajar Muda yang bertempat di Bawean. Ia bercerita bahwa ada anak kecil usia SD yang memiliki kemauan tinggi untuk membacakan teks Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Ia mulai bercerita dengan begitu elegan. Icha namanya. Dan murid Bawean memanggilnya, Bu Icha.
Di suatu Pagi yang sejuk. SD di Bawean untuk pertama kalinya melakukan Upacara Bendera. Yang biasanya jam tujuh pagi murid-murid baru sampai di sekolah, waktu itu baru saja jam setengah tujuh, murid-murid sudah banyak yang datang. Mereka sangat menanti-nanti Upacara Bendera dimulai. Upacara Bendera bagi mereka adalah perayaan besar yang sangat jarang dilakukan dan sangat sayang untuk dilewatkan. Maka wajar saja murid-murid sangat antusias menanti-nantikan Upacara Bendera dimulai.
Waktu terus menggelinding. Murid-murid yang ditugasi menjadi petugas upacara, seperti pengibar bendera, pemimpin upacara dan sebagainya sudah berangkat. Tapi ada satu anak yang belum berangkat. Dan ia bertugas membacakan Pembukaan UUD 1945. Ini yang membuat para guru merasa gusar, termasuk Bu Guru Icha.
“Waduh, Mawar belum berangkat ya, padahal sudah hampir jam tujuh,” di sela-sela kegelisahannya, Bu Guru Icha berujar.
“Biar saya aja Bu yang mengganti,” celetuk seorang anak kecil berwajah ayu, berseragam putih merah.
Tak berapa lama, datanglah Mawar yang ditunggu-tunggu. Tepat pukul tujuh. Ia datang dengan wajah murung.
“Kamu kenapa, Mawar?”, tanya Bu Guru Icha dengan penuh kelembutan.
Tapi ia malah menagis. Ia menangis dan terus menangis.
“Ya udah, kalau Mawar sayang gak mau jadi petugas upacara, nanti digantikan sama temannya. Bu Guru gak maksa kok,” hibur Bu Guru Icha pada Mawar.
Apa yang terjadi?
Sebuah jawaban yang tak terduga muncul dari bibir suci seorang murid. Sambil terisak ia akhirnya menjawab pertanyaan Bu Guru Icha.
“Bu, gigi saya sakit. Boleh gak baca Undang-Undang?”
Bu Guru Icha sempat kaget. Tak menyangka muridnya memiliki kemauan tinggi untuk membaca Pembukaan UUD 45.
Murid itu pun akhirnya menceritakan kegelisahannya menjelang Upacara Bendera. Ia bercerita bahwa sepanjang malam ia tak bisa tidur. Ia menangis semalaman karena giginya sakit. Bukan, bukan karena giginya sakit. Ia takut kalau nanti saat Upacara Bendera tidak bisa membaca Pembukaan UUD 45 dengan fasih lantaran giginya yang sakit.
**
Coba bayangkan! Pernahkah kamu menemukan ‘keajaiban’ seperti ini di daerahmu? Atau daerah tempat tinggalmu? Ya, begitulah. Aku sangat terharu dengan ketulusan seorang murid untuk membacakan Pembukaan UUD 45.
Bu Guru Icha pernah bercerita, katanya di daerah Bawean masyarakatnya tidak mengenal Indonesia. Siapa presidennya pun tak tau. Sungguh ironis. Tapi ini kenyataan. Dan tak bisa didapat di perkuliahan.
Masih banyak anak-anak negeri di pedalaman yang memiliki semangat tinggi dalam belajar. Mereka belum terkontaminasi budaya barat yang begitu bebas. Mereka masih sangat menjunjung tinggi asas kebersamaan.
Sekali mereka diberikan pengetahuan tentang Indonesia, selama hayat dikandung badan, mereka mengingatnya. Mereka itu seperti kertas putih yang begitu bersih. Sekali diberikan coretan hitam, atau mungkin titik sekalipun, pasti tak akan hilang. Selalu membekas di benak mereka. Mereka, anak bangsa, yang tidak bisa merasakan kemewahan seperti yang sering kita kufuri.
Tapi ingat! Bisa jadi mereka jauh lebih cerdas daripada kamu yang sudah menyandang gelar mahasiswa.  Mereka lebih bisa menyatu dengan alam.
Aku ingat betul ketika Bu Guru Icha menampilkan beberapa fotonya bersama murid-muridnya di Bawean. Aku melihat murid-murid bergotong royong membangun gedung sekolah, meski hanya sederhana dan semua bahannya terbuat dari kayu. Aku melihat murid perempuan mencangkul, membawa tanah dengan karung. Aku juga melihat gadis cilik berseragam putih merah membawa kayu. Mereka begitu kompak. Meski berseragam, mereka rela ikut membantu pekerjaan orang dewasa yang sangat menguras keringat.
Bu Guru Icha pernah bercerita: Aku, katanya, melihat anak-anak mencangkul kok gampang banget. Aku pun mencoba untuk menggantikan anak itu mencangkul. Tapi tak seperti yang nampak, ternyata mencangkul itu begitu sulit dan sangat menguras tenaga. Ada satu muridku yang mungkin merasa kasihan melihat gurunya kelelahan. “Sini bu biar saya aja yang nyangkul”. Itulah akhir penderitaanku. Lega rasanya ada yang mau menggantikan.
**
Banyak sekali pengalaman menarik yang diceritakan Bu Guru Icha. Membuat mahasiswa-mahasiswa yang ada di ruang kelas tercengang. Karena mereka tidak menyangka bahwa di daerah penugasannya Bu Guru Icha tidak ada listrik sama sekali. Setiap malam menyelimuti, lampion kecil pun banyak yang dinyalakan. Lampion itu terbuat dari kaleng susu diberikan sumbu di atasnya, di dalamnya diisi minyak.
Sinyal hp pun di sana susah. Jadi jangan harap bisa sekadar bersms ria dengan kawan atau keluarga. Di sana, katanya, benar-benar harus bisa hidup mandiri: tanpa alat komunikasi.
Ya, begitulah seulas cerita yang berhasil direkam memori otakku yang agak bermasalah. Setahun Mengajar, Selamanya Meng(Ter)inspirasi. Begitulah jargon mereka yang telah setahun mengajar di berbagai daerah di pelosok negeri.



Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...