Aku begitu terharu ketika menyimak cerita Pengajar Muda yang bertempat di
Bawean. Ia bercerita bahwa ada anak kecil usia SD yang memiliki kemauan tinggi
untuk membacakan teks Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Ia mulai bercerita
dengan begitu elegan. Icha namanya. Dan murid Bawean memanggilnya, Bu Icha.
Di suatu Pagi yang sejuk. SD di Bawean untuk
pertama kalinya melakukan Upacara Bendera. Yang biasanya jam tujuh pagi
murid-murid baru sampai di sekolah, waktu itu baru saja jam setengah tujuh,
murid-murid sudah banyak yang datang. Mereka sangat menanti-nanti Upacara
Bendera dimulai. Upacara Bendera bagi mereka adalah perayaan besar yang sangat
jarang dilakukan dan sangat sayang untuk dilewatkan. Maka wajar saja
murid-murid sangat antusias menanti-nantikan Upacara Bendera dimulai.
Waktu terus menggelinding. Murid-murid yang
ditugasi menjadi petugas upacara, seperti pengibar bendera, pemimpin upacara
dan sebagainya sudah berangkat. Tapi ada satu anak yang belum berangkat. Dan ia
bertugas membacakan Pembukaan UUD 1945. Ini yang membuat para guru merasa
gusar, termasuk Bu Guru Icha.
“Waduh, Mawar belum berangkat ya, padahal sudah hampir jam
tujuh,” di sela-sela kegelisahannya, Bu Guru Icha berujar.
“Biar saya aja Bu yang mengganti,” celetuk
seorang anak kecil berwajah ayu, berseragam putih merah.
Tak berapa lama, datanglah Mawar yang
ditunggu-tunggu. Tepat pukul tujuh. Ia datang dengan wajah murung.
“Kamu kenapa, Mawar?”, tanya Bu Guru Icha dengan
penuh kelembutan.
Tapi ia malah menagis. Ia menangis dan terus
menangis.
“Ya udah, kalau Mawar sayang gak mau jadi petugas
upacara, nanti digantikan sama temannya. Bu Guru gak maksa kok,” hibur Bu Guru
Icha pada Mawar.
Apa yang terjadi?
Sebuah jawaban yang tak terduga muncul dari bibir
suci seorang murid. Sambil terisak ia akhirnya menjawab pertanyaan Bu Guru Icha.
“Bu, gigi saya sakit. Boleh gak baca
Undang-Undang?”
Bu Guru Icha sempat kaget. Tak menyangka muridnya
memiliki kemauan tinggi untuk membaca Pembukaan UUD 45.
Murid itu pun akhirnya menceritakan
kegelisahannya menjelang Upacara Bendera. Ia bercerita bahwa sepanjang malam ia
tak bisa tidur. Ia menangis semalaman karena giginya sakit. Bukan, bukan karena
giginya sakit. Ia takut kalau nanti saat Upacara Bendera tidak bisa membaca
Pembukaan UUD 45 dengan fasih lantaran giginya yang sakit.
**
Coba bayangkan! Pernahkah kamu menemukan
‘keajaiban’ seperti ini di daerahmu? Atau daerah tempat tinggalmu? Ya,
begitulah. Aku sangat terharu dengan ketulusan seorang murid untuk membacakan
Pembukaan UUD 45.
Bu Guru Icha pernah bercerita, katanya di daerah
Bawean masyarakatnya tidak mengenal Indonesia. Siapa presidennya pun tak tau.
Sungguh ironis. Tapi ini kenyataan. Dan tak bisa didapat di perkuliahan.
Masih banyak anak-anak negeri di pedalaman yang
memiliki semangat tinggi dalam belajar. Mereka belum terkontaminasi budaya
barat yang begitu bebas. Mereka masih sangat menjunjung tinggi asas kebersamaan.
Sekali mereka diberikan pengetahuan tentang
Indonesia, selama hayat dikandung badan, mereka mengingatnya. Mereka itu
seperti kertas putih yang begitu bersih. Sekali diberikan coretan hitam, atau
mungkin titik sekalipun, pasti tak akan hilang. Selalu membekas di benak
mereka. Mereka, anak bangsa, yang tidak bisa merasakan kemewahan seperti yang
sering kita kufuri.
Tapi ingat! Bisa jadi mereka jauh lebih cerdas
daripada kamu yang sudah menyandang gelar mahasiswa. Mereka lebih bisa
menyatu dengan alam.
Aku ingat betul ketika Bu Guru Icha menampilkan
beberapa fotonya bersama murid-muridnya di Bawean. Aku melihat murid-murid
bergotong royong membangun gedung sekolah, meski hanya sederhana dan semua
bahannya terbuat dari kayu. Aku melihat murid perempuan mencangkul, membawa
tanah dengan karung. Aku juga melihat gadis cilik berseragam putih merah
membawa kayu. Mereka begitu kompak. Meski berseragam, mereka rela ikut membantu
pekerjaan orang dewasa yang sangat menguras keringat.
Bu Guru Icha pernah bercerita: Aku, katanya,
melihat anak-anak mencangkul kok gampang banget. Aku pun mencoba untuk menggantikan
anak itu mencangkul. Tapi tak seperti yang nampak, ternyata mencangkul itu
begitu sulit dan sangat menguras tenaga. Ada satu muridku yang mungkin merasa
kasihan melihat gurunya kelelahan. “Sini bu biar saya aja yang nyangkul”.
Itulah akhir penderitaanku. Lega rasanya ada yang mau menggantikan.
**
Banyak sekali pengalaman menarik yang diceritakan
Bu Guru Icha. Membuat mahasiswa-mahasiswa yang ada di ruang kelas tercengang.
Karena mereka tidak menyangka bahwa di daerah penugasannya Bu Guru Icha tidak
ada listrik sama sekali. Setiap malam menyelimuti, lampion kecil pun banyak
yang dinyalakan. Lampion itu terbuat dari kaleng susu diberikan sumbu di
atasnya, di dalamnya diisi minyak.
Sinyal hp pun di sana susah. Jadi jangan harap
bisa sekadar bersms ria dengan kawan atau keluarga. Di sana, katanya,
benar-benar harus bisa hidup mandiri: tanpa alat komunikasi.
Ya, begitulah seulas cerita yang berhasil direkam
memori otakku yang agak bermasalah. Setahun Mengajar, Selamanya
Meng(Ter)inspirasi. Begitulah jargon mereka yang telah setahun mengajar di
berbagai daerah di pelosok negeri.
No comments:
Post a Comment