Hidup sebagai anak kos yang belum memiliki
pekerjaan sampingan memang menjadi persoalan yang ‘serius’. Apalagi ketika
memasuki bulan ramadhan. Kuliah diliburkan. Tetangga kamar banyak yang pulang
kampung. Sebagian lainnya memenuhi tugas PPL dan KKN di pelosok-pelosok
negeri –yang juga harus meninggalkan kos. Akibatnya, di kos tidak memiliki
teman guyonan.
Kesepian menjadi teman yang paling setia.
Sejak bangun makan sahur sampai berbuka, kesepian selalu setia menemani.
Beginilah nasib anak kos-kosan.
Namun, setelah dipikir-pikir, untuk apa
meyesali keadaan ini. Kesepian bukanlah untuk dinikmati, melainkan untuk
dimanfaatkan. Untuk apa mengutuk kegelapan kalau memiliki lilin kecil yang bisa
dinyalakan? Begitulah kira-kira pesan dari seorang moral
and ethics philosopher, Kong Fu Tsu yang lahir
tahun 551 SM.
Nah, bermodal
pesan inilah, penulis mulai merasakan ada energi baru yang menjalar ke seluruh
tubuh untuk mengusir kesepian. Pesan ini menjadi motivasi kuat untuk terus
bergerak dan bergerak, mengusir kesepian. Pesan ini menjadi sebuah pesan
singkat untuk mengingatkan kepada penulis bahwa hari ini bukan jadwalnya untuk
menganggur. Jadwal menganggur sudah dihapuskan dari agenda ‘kampus pribadi’.
Mahasiswa Tanpa Status
Penulis bukanlah mahasiswa yang
‘berprestasi’ dalam kelasnya. Penulis hanyalah mahasiswa yang memiliki
kemampuan akademik biasa-biasa saja. Di saat teman-teman mahasiswa sejurusan
mendapat nilai 90-an, penulis hanya bisa mendapat 60-an, atau paling tinggi ya
80-an. Maka dari itu, penulis (sebenarnya) sedikit minder ketika duduk bersama
dengan teman-teman kuliah yang (menurut penulis) memiliki tingkat kecerdasan di
atas penulis.
Namun demikian, penulis sangat yakin kalau
setiap manusia yang lahir di dunia ini, pasti dibekali oleh Allah swt
kemampuan-kemampuan unik yang berbeda satu dengan lainnya. Nah, masalahnya
sekarang, penulis belum menemukan kemampuan apa yang dimiliki penulis. Dalam
konteks tipologi mahasiswa, penulis tidak pantas menyandang ‘gelar’ Mahasiswa
akademis, karena memang nilai-nilai akademiknya biasa-biasa saja.
Jika dikategorikan sebagai mahasiswa
aktivis yang organisatoris, sepertinya juga kurang sesuai, karena selama
mengikuti organisasi-organisasi kampus (baik ekstra maupun intra), belum pernah
sekalipun menjadi anggota yang benar-benar aktif dan kontributif. Selain itu
juga belum pernah sekalipun mengikuti demonstrasi.
Sedangkan jika dimasukkan dalam kategori
mahasiswa hedonis, lebih tidak masuk akal lagi. Pasalnya, penulis merasa sama
sekali tidak tertarik dengan kesenangan-kesenangan yang bersifat material.
Terlebih mahasiswa ideal. Mahasiswa yang
mampu mengolaborasikan antara aktivis dan akademis. Penulis merasa masih jauh
dari mahasiswa ideal. Lantas, penulis ini mahasiswa apa? Itulah pertanyaan yang
sampai saat ini terngiang-ngiang di kepala penulis.
Belajar Menulis
Sebenarnya, penulis mempunyai hutang pada
salah seorang teman seorganiasi. Hutang itu ialah menulis tentang Gus Dur. Nah, berangkat
dari sinilah, penulis mulai memakasakan diri untuk menulis. Memang, menulis
tentang Gus Dur yang memiliki pribadi unik, tidaklah gampang. Bahkan penulis
sempat frustasi dan hampir saja putus asa, karena belum menemukan literatur
yang sesuai.
Dengan sedikit kerja keras (dan
membutuhkan waktu lama), akhirnya penulis bisa mendapatkan literatur-literatur
tentang Gus Dur. Ungkapan syukur pun mengalir dari bibir yang kemudian
bermuara di hati –meskipun berlangsung begitu singkat.
Hampir setiap malam, penulis memaksakan
diri untuk merangkum sedemikian kompleks pemikiran-pemikiran Gus Dur. Sampai
akhirnya dalam waktu dua sampai tiga hari, penulis hanya mampu menuliskan (atau
lebih tepatnya mengetikkan) pemikiran-pemikiran Gus Dur sebanyak 13 lembar, itu
pun sudah termasuk biografinya.
Seperti permintaan sang teman, penulis
dituntut untuk menulis tentang Gus Dur minimal 15 halaman, dan ini baru 13
halaman, kurang dua halaman lagi untuk mencapai standar minimal. Tapi,
lagi-lagi ‘kemalasan’ menimpa penulis. Meski hanya kurang dua lembar, tapi
entah kenapa penulis merasa kesulitan. Atau mungkin memang mindset penulis yang
sudah melihat dua lembar itu sebagai ‘bencana’ yang harus ditakhlukan, dan penulis
tidak bisa menakhlukannya.
Sampai tulisan ini ditulis, tulisan
tentang Gus Dur belum usai. Ini pun sudah molor satu minggu dari dateline yang
penulis buat. Memang benar, pekerjaan yang ditunda membuat kita kesulitan untuk
melanjutkannya kembali. Soalnya, kata para dosen, kreativitas kita dalam
berfikir terputus, dengan adanya ‘hari libur’ menulis ini.
Sebenarnya, penulis ‘menyadari’ tentang
hal itu. Tapi entah kenapa belum bisa sadar dan menyadarkan diri untuk
merampungkan tulisan yang tinggal dua lembar itu. Malah, pindah ke lain hati.
Penulis ada di Jogja dengan ijin orang
tua. Penulis meminta ijin kepada orang tua untuk belajar menulis di Jogja.
Orang tua pun sangat apresiat dengan niatan penulis. Tapi ya itu, penulis belum
sepenuhnya belajar menulis. Bahkan tiap kali seusai shalat subuh, penulis tak
kuasa menahan rasa kantuk. Akhirnya ya terpaksa tidur.
Biasanya, sekitar pukul setengah 8 atau
sembilan, penulis baru bangun tidur. Di sini, penulis pun menyadari kalau tidur
pagi itu tak baik. seorang teman –dengan merujuk ke hadits mungkin- pernah
mengatakan pada penulis bahwa tidur di waktu pagi bisa menyebabkan kita menjadi
fakir. Atau dengan kata lain, bodoh. Ah, betapa celakanya aku yang setiap
paginya tidur satu sampai dua jam.
Tapi memang, namanya juga rasa kantuk ya
tidak ada obatnya, kecuali tidur. Soal baik dan buruk kan tergantung kita
memandangnya seperti apa. Terus, juga tergantung konteksnya. Meski begitu,
penulis juga tetap berpendirian kalau tidur di waktu pagi itu tidak baik.
Terus pertanyaannya kenapa kok sudah tahu
tidak baik masih saja tetap dilakukan? Ya mungkin karena penulis belum sadar
dan menyadarkan diri kalau perbuatan itu berdampak pada masa depan penulis
dalam mencapai target atau cita-cita.
Kembali ke topik. Sebagai usaha penulis
agar menjadi penulis yang sebenarnya, terkadang di malam hari, setelah shalat
tarawih, menulis artikel-artikel sederhana mengenai ramadhan, pendidikan,
keluarga, orang tua, dan sebagainya. Tentu, kegiatan ini sangat membantu
penulis untuk memahami tata bahasa Indonesia yang baik, benar, dan layak untuk
dibaca.
Sebagai penulis yang belum menjadi penulis
sungguhan, penulis tak jarang bertanya ke sana ke mari untuk mendapatkan info
yang berkaitan dengan dunia kepenulisan. Nah, sampai tiba saatnya bertemu
dengan seorang kawan lama yang kini aktif di salah satu persma di kampus.
Menurut penulis, dari segi wacana, ia masuk ke dalam kategori ‘menengah ke
atas’. Banyak buku berat yang sudah ia tamatkan. Entah itu filsafat, ideologi,
politik, budaya ataupun yang memiliki tingkat kesukaran yang kurang lebih sama.
Penulis menanyakan mengenai kiat-kiat
membaca yang ia lakoni. Dan ternyata, penulis sempat kaget karena apa yang ia
lakoni tak jauh berbeda dengan apa yang penulis lakukan. Ia,, katanya, membaca
dengan sekali baca. Jadi, masalah pemahaman tak terlalu ia pikirkan. Yang
penting membaca.
Penulis semakin kagum dengan keputusannya
menggunakan metode seperti itu, scanning. Ia berpedoman pada target yang
memaksanya untuk melahap buku berjumlah banyak. Coba bayangkan jika kita
membaca buku menunggu pemahaman, hanya berapa buku yang bisa kita baca? Dalam
waktu empat tahun, (usia mahasiswa yang ideal) bisakah memenuhi kehausan ilmu
dan pengalaman yang dewasa ini menjangkiti orang-orang tertentu?
Ini ditulis di Bulan Ramadhan saat usiaku 2,5 tahun di Perkuliahan

No comments:
Post a Comment