Monday, 29 December 2014

Alangkah Sucinya Negeri Ini!





dokumen pribadi











Di suatu malam yang dingin, aku bersama temanku, berdua, berjalan beriringan di Sekaten. Banyak sekali pedagang di sekaten yang sahut-menyahut menjajakan dagangannya. Aku sempat berhenti di gerombolan pemuda di ‘dealer’ kecil yang didalamnya hanya ada beberapa motor.
“Ini tontonannya lelaki,” kataku pada temanku yang kebetulan berbeda kodrat biologis.
“Maaf, aku gak tau,” sahutnya begitu polos.
Waktu itu, aku melihat seorang ‘sinden’ modern berparas cantik sedang melantunkan sebuah lagu. Pakaiaannya yang seksi, dengan belahan dada yang sedikit turun membuat lelaki di situ menggerombol: entah apa yang mereka inginkan dan pikirkan! Aku juga menjadi salah satunya: pandangan pertama, tidak dosa!
Aku berpikir, tenyata untuk menarik pengunjung agar datang sangat mudah. Hanya bermodal paras cantik dan tubuh bohai, cukup. Dan ini diterapkan di sebagian besar perusahanan pemasaran: Supermarket, misalnya.
Pasti kamu pernah melihat di berbagai pusat perbelanjaan: penampilan para karyawati? Mereka berlomba-lomba berpenampilan ayu agar banyak pengunjung yang tertarik dengan dagangan yang ia jaga.
**
Aku menyusuri tanah lapang yang kini padat manusia ‘nomaden”. Perhatianku justru tertuju pada sampah yang sangat menganggu pemandangan. Aku melihat sampah berserakan di mana-mana. Entah, sudah hilang kepedulian orang-orang atau memang sengaja: biar petugas kebersihan ada kerjaan!
Aku (sok-sok-an) merasa prihatin. Coba banyangkan! Tanah lapang seluas itu, dengan pedagang dari berbagai ‘genre’ memenuhi tanah itu, dan berjuta jajanan tidak ada keranjang sampah sama sekali. Ada hanya beberapa dan itu pun sangat susah dicari. Aku hampir 30 menit mencari tempat sampah (keranjang sampah, karena mungkin menurut mereka tanah lapang itu multifungsi bisa jadi tempat sampah).
Keindahan malam itu seolah ternoda karena sampah. Memang benar, banyak sekali pengunjung berteriak gembira menikmati wahana yang telah disediakan. Banyak juga pasangan muda-mudi, bergandeng tangan, berpeluk-pelukan, menikmati keindahan malam itu. 
Seolah mereka tak memedulikan sampah yang terlanjur terserak. Apa mungkin mereka dan aku berhak tertawa sedangkan sampah mereka injak-injak? Begitu ngerinya negeri ini.
Aku tak menyangka, negeri sebagus ini (atau menurut orang arab: surganya dunia) harus pudar hanya karena sampah yang kian menggunung. Sekaten menyumbang sampah 2 ton, tulis Koran ternama di Yogya. Bayangkan! 2 ton, Bung!
Bisakan kamu membayangkan? Tak sampai hati untukku sekadar membayangkan betapa kota ini menangis, menangung beban sampah yang begitu banyak. Untung saja ada pemulung dan tukang sampah  yang bersedia mengangkut sampah-sampah busuk ke gerobaknya: Bagi anda sampah, bagi kami berkah, begitulah jargon mereka.
Apa kamu masih merendahkan tukang sampah dan pemulung? Cobalah dipikir dulu dan bayangkan: kalau tidak ada pemulung dan tukang sampah, mau jadi apa kota ini!
Mereka sungguh mulia. Jelang subuh, matahari pun masih kedinginan di ufuk timur sana, belum mau menampakkan keelokan dan memberikan kehangatannya ke hamparan tanah gersang berpohon batu, mereka sudah berkeliling, mencari-cari sampah yang dikumpulkan di keranjang-keranjang.
Apa kamu tahu, mereka sedang menjalankan misi suci! Mereka tak lain pahlawan yang terlupakan. Tinta sejarah  pun mendadak  macet, enggan menuliskan kisah mereka. Mereka hanya menjadi fosil sejarah yang tak terdeteksi radar atau alat secanggih apa pun. Tapi ingat, jasa mereka sangat nyata bisa dirasakan.
Mereka tak menginginkan dipatrikan dalam sejarah nama dan kontibusinya terhadap bumi. Mereka hanya berjuang untuk sesuap nasi. Mencari butir-butir beras di antara tumpukan sampah-sampah yang kian menggunung. Tak ada yang lain!
Aku sangat berharap: tolonglah hormati mereka! Jangan hanya karena kota menyediakan jasa tukang sampah, aku dan kamu jadi apatis terhadap sampah. Asal kamu tahu, sampah lah yang memisahkan kita. Sampah juga yang membuat aku enggan mendekatimu dan kamu enggan mendekatiku. Sampah. Dasar sampah!
Aku sangat jijik melihat orang yang sangat anggun, ber make up beberapa senti, tapi lingkungan sekitar tak diperhatikan. Apa gunanya paras ayu dan ganteng tapi hatinya penuh sampah! Sehingga tak tergerak sama sekali memungut sampah yang terserak, meski hanya bungkus permen yang lumayan steril.
Apa aku dan kamu sudah merasa suci? Kalau ia, kenapa aku dan kamu masih saja mandi, padahal sudah suci! Mandi itu hanya untuk orang-orang yang kotor, kamu tau? Jadi, masihkan merasa diri suci?
Oh, tenang saja! Aku pun seringkali merasa diri suci. Merasa diri paling berhak menerima rizki yang lebih  melimpah dibanding orang lain. Aku manusia dan aku bisa sewaktu-waktu menjadi setan atau malaikat. Setan dan Malaikat tak bisa aku pilih ataupun lepaskan: Mereka bagian diriku!



Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

No comments:

Post a Comment

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...