Awal puasa menjadi akhir dari upayaku menelanjangi cerita klasik/ dongeng yang mirip-mirip dengan kisah 1001 malam. Ditulis oleh Ramsay Wood, dengan judul Fabel tentang Pertikaian dan intrik; Kalila dan Dimna 2.
Menarik dibaca, karena cukup ringan namun perlu direnungkan dalam-dalam. Menjadi njlimet, karena penuturannya bersambung dan selalu ada cerita di balik cerita. Terkadang, satu dongeng berisi dua sampai tiga dongeng lainnya.
Maka dari itu, jika fokus pada sistematika pendongengan, akan sulit mengambil pesan moralnya. Maka, aku mencoba untuk membacanya perkisah, dengan tetap memperhatikan keterkaitan antar dongeng.
Ini kali kedua aku membaca fabel, setelah Binatangisme-nya Gorge Orwell. Kuakui, lebih gampang memahami Gorge Orwell daripada Ramsay Wood. Aku pikir, perbedaan kesulitan memahami yang aku alami, terletak pada cara penyampaian penulis; Gorge Orwell dengan satu tema utuhnya, sementara Ramsay Wood lebih condong pada "kumpulan dongeng" yang ia rangkai secara berantai. Dan tentu saja, kemampuanku yang terbatas mengikuti alur penceritaannya.
Satu hal yang menarik dalam Fabelnya Ramsay Wood, adalah bahwa dongeng akan selalu dibutuhkan untuk menanamkan nilai moral. Dan berbeda dongeng lisan dengan tulisan. Untuk usia anak, khususnya, amat perlu digalakkan gerakan dongeng. Dan aku sangat bersyukur ada orang-orang yang peduli, untuk menjadi pendongeng bagi anak-anak bangsa; baik melalui lembaga taman al-qur'an, taman baca, maupun inovasi lainnya.
Orang dewasa kita terlalu kanak-kanak, jadi tak memahami kebutuhan anak. Mereka memperlakukan sang anak dengan tanpa pikir panjang; seperti apa dampak yang muncul. Namun, aku yakin, pendidikan akan merubah pandangan hidup orang dewasa agar lebih dewasa. Dan jangan pahami pendidikan di sini sebagai proses belajar di lembaga, dengan gajaran ijazah di akhir episode. Apapun yang berkaitan dengan proses belajar (membaca, diskusi, majelis ilmu, dll) merupakan bentuk 'anti mainstream' dari belajar, yang justru amat diperlukan.
Kembali ke dongeng, muncul pertanyaan di benakku; kok tradisi bercerita mulai ditinggalkan ya? Sewaktu bocah, usia dini, kerap aku dengar cerita dari mulut ke mulut. Meski bernuansa mistis. Sekarang, diganti dengan ngrumpi tentang sinetron.
Aku berangan-angan, jika anak sebelum tidur selalu diceritai dongeng, akan jadi apa dia? Karakter seperti apa yang terbentuk?
Karenanya, aku tidak tahan untuk tidak mengajak kepada kawan, agar memulai investasi dongeng semenjak dini. Sederhana; agar kelak bisa mendidik kader masa depan yang lebih baik. Invesati bacaan, pikirku, jauh lebih penting ketimbang investasi financial.
Ramadhan1 2017