Friday, 26 May 2017

Fabel dan Investasi Bacaan



Awal puasa menjadi akhir dari upayaku menelanjangi cerita klasik/ dongeng yang mirip-mirip dengan kisah 1001 malam. Ditulis oleh Ramsay Wood, dengan judul Fabel tentang Pertikaian dan intrik; Kalila dan Dimna 2.

Menarik dibaca, karena cukup ringan namun perlu direnungkan dalam-dalam. Menjadi njlimet, karena penuturannya bersambung dan selalu ada cerita di balik cerita. Terkadang, satu dongeng berisi dua sampai tiga dongeng lainnya.

Maka dari itu, jika fokus pada sistematika pendongengan, akan sulit mengambil pesan moralnya. Maka, aku mencoba untuk membacanya perkisah, dengan tetap memperhatikan keterkaitan antar dongeng.

Ini kali kedua aku membaca fabel, setelah Binatangisme-nya Gorge Orwell. Kuakui, lebih gampang memahami Gorge Orwell daripada Ramsay Wood. Aku pikir, perbedaan kesulitan memahami yang aku alami, terletak pada cara penyampaian penulis; Gorge Orwell dengan satu tema utuhnya, sementara Ramsay Wood lebih condong pada "kumpulan dongeng" yang ia rangkai secara berantai. Dan tentu saja, kemampuanku yang terbatas mengikuti alur penceritaannya.

Satu hal yang menarik dalam Fabelnya Ramsay Wood, adalah bahwa dongeng akan selalu dibutuhkan untuk menanamkan nilai moral. Dan berbeda dongeng lisan dengan tulisan. Untuk usia anak, khususnya, amat perlu digalakkan gerakan dongeng. Dan aku sangat bersyukur ada orang-orang yang peduli, untuk menjadi pendongeng bagi anak-anak bangsa; baik melalui lembaga taman al-qur'an, taman baca, maupun inovasi lainnya.

Orang dewasa kita terlalu kanak-kanak, jadi tak memahami kebutuhan anak. Mereka memperlakukan sang anak dengan tanpa pikir panjang; seperti apa dampak yang muncul. Namun, aku yakin, pendidikan akan merubah pandangan hidup orang dewasa agar lebih dewasa. Dan jangan pahami pendidikan di sini sebagai proses belajar di lembaga, dengan gajaran ijazah di akhir episode. Apapun yang berkaitan dengan proses belajar (membaca, diskusi, majelis ilmu, dll) merupakan bentuk 'anti mainstream' dari belajar, yang justru amat diperlukan.

Kembali ke dongeng, muncul pertanyaan di benakku; kok tradisi bercerita mulai ditinggalkan ya? Sewaktu bocah, usia dini, kerap aku dengar cerita dari mulut ke mulut. Meski bernuansa mistis. Sekarang, diganti dengan ngrumpi tentang sinetron.

Aku berangan-angan, jika anak sebelum tidur selalu diceritai dongeng, akan jadi apa dia? Karakter seperti apa yang terbentuk?

Karenanya, aku tidak tahan untuk tidak mengajak kepada kawan, agar memulai investasi dongeng semenjak dini. Sederhana; agar kelak bisa mendidik kader masa depan yang lebih baik. Invesati bacaan, pikirku, jauh lebih penting ketimbang investasi financial.

Ramadhan1 2017
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Wednesday, 17 May 2017

Dikritik Mimpi




Entah apa yang melatarinya, mimpi itu bisa datang begitu saja, dengan samar-samar. Mimpi itu juga telah mengambil setting moment yang dekat denganku.

Tiga ranah yang masih teringat jelas dalam kepalaku: whatsApp, idealisme-pragmatisme, diriku.

Mimpi itu kurang lebih terjadi pukul 10-an pagi.

Dalam mimpi itu, aku bangun dari tidur lalu melihat whatsApp. Di sebuah grup, ada perbincangan mengenai diriku. Sepintas aku baca, beberapa anggota mengkritisi diriku dengan mengatakan bahwa diriku telah terjangkiti pragmatisme. Ada perdebatan sengit (yang sayangnya samar-samar) di grup tersebut, dan beberapa kubu saling debat.

Satu hal yang aku tangkap, ada seorang anggota yang mengatakan "Imron tetap idealis". Dan satu kata lainnya, samar-samar dan berdasarkan ijtihadku, "kakak yang sudah pragmatis".

Kata "Imron tetep idealis" merujuk pada diriku yang dulu, di pertengahan aktif organisasi. Aku rasai betul memang, dahulu, semangat muda menggelora. Meski tak terlibat di banyak aksi, secara sikap aku terlibat. Apa yang keluar dari mulut birokrat, sampah semua. Jadi, tak ada pemerintahan yang baik. Tiap kebijakan sarat dengan nuansa politis dan bisnis.

Sementara kata "kakak yang sudah pragmatis", merujuk pada diriku di akhir umur sebagai mahasiswa. Memang, di akhir umur ini, aku merasakan betul desakan pragmatisme. Yang awalnya anti proyek, jadi berpikir ulang untuk menerima sebuah proyek. Yang awalnya suka menghadiri forum diskusi dan aksi, kini melentur. Inikah yang dikritik mimpi tadi?

Aku jadi teringat klasifikasi dalam penulisan atau penilaian sejarah dalam kaitannya pemikiran tokoh. Ada dikotomi dalam hal itu; pemikiran Muda dan Tua. Benarkah aku masuk ke dalam dikotomi itu? Kalau iya, betapa naifnya diriku. Sampai mimpipun mencibirku dari dimensi yang berbeda.

Untuk selanjutnya, memang menjadi tugasku dalam merespon mimpi itu; akankah aku jadikan bunga tidur (angin lalu), pesan (instrumen instropeksi), atau Wahyu (seperti mimpinya para nabi). Tapi tentu, untuk kemungkinan ketiga tidaklah mungkin, karena siapalah diriku bisa memiliki mimpi sedemikian mulianya. Toh, kenabian sudah ditutup.

Jogja 2017 Mei 18
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Gara-gara Orang Baik




Tak selamanya menjadi baik itu baik pula efek yang ditimbulkan. Sebagai misal, lelaki desa yang selalu rajin beribadah, lalu masyarakat generasi tua menjadikanya teladan. Sehingga para orang tua di desa gemar membandingkan anaknya dengan anak yang baik tadi.

Pembandingan memang menyakitkan. Bayangkan saja, kita dibandingkan dengan orang lain, sementara setiap kita punya kelebihannya masing-masing. Contoh, anak yang baik itu rajin ibadah, tapi apakah iya sosialnya baik? Belum tentu.

Ini yang tidak disadari oleh orang tua. Pembandingan yang dilakukan terus menerus, justru akan membuat sekat antara anaknya dan anak yang baik itu. Lebih lanjut, menumbuhkan dengki dalam diri anak. Dampaknya, sikap si anak kepada anak baik itu, yang mengarah pada kejelekan.

Lantas ini salah siapa? Atau dengan bahasa lain, apa yang harus dilakukan?

Tentu kita tak bisa menyalahkan satu di antara ketiganya. Mari kita korek satu-satu.
Orang baik: motif ia berbuat baik tentu tak bisa disalahkan. Ia berbuat baik karena tahu, bahwa hanya dengan kebaikan dia bisa mencapai kebahagiaan. Bahagia dunia dan akhirat. Dengan kebaikan pula, ia bisa puas. Jadi antara dirinya dan kebaikan seakan sudah menyatu. Ibadah yang ia lakukan, membuatnya nyaman dan jika ditinggalkan membuat gelisah.

Lantas ketika ia dijadikan teladan, lalu justru membuat orang (anak) yang 'dipaksa' meneladani oleh orang tuanya, apa yang harus ia lakukan? Aku pikir tak ada yang bisa dilakukan, kecuali terus melakukan kebaikan. Menyambung silaturahmi dengan orang yang benci dengan kita, kualitasnya lebih baik. Tapi kalau belum bisa, cukup dengan tampakkan wajah berseri atau senyum, ketika bertemu dengan orang yang benci kita.

Orang tua: aku yakin, motif orang tua pasti baik. Ia ingin memberikan motivasi ke anaknya agar bisa lebih baik lagi, dengan menampilkan teladan tadi. Namun perlu disadari, seringkali motivasi dari luar justru menjadi tekanan luar biasa bagi siapapun. Apalagi anak, dan orang tua yang menekan.

Perlu diingat juga, bagi orang tua, bahwa setiap anak dilahirkan berbeda. Sekali-kali lihatlah sisi putihnya si anak, jangan melulu titik hitamnya.

Ketika sampai kepada pemahaman bahwa setiap anak berbeda dan memiliki kekurangan-kelebihan masing-masing, baru dialog sehat bisa berjalan. Kalaupun si orang tua ingin menghadirkan si teladan tadi, maka hadirkanlah dalam suasana dialog, bukan ceramah. Misalnya dengan pertanyaan "Menurutmu si Anu kayak apa si orangnya?"

Dengan demikian, bukan penilaian orang tua yang dijadikan teladan, melainkan penilaian anak itu sendiri. Orang tua akan tahu, penilaian anaknya terhadap sosok teladan. Dan tentu, jika demikian, anak akan berpikir lebih sehat untuk mengambil sikap; melawan atau menerima dengan menyaring dulu.

Anak yang dibanding-bandingkan: pembandingan memang menyakitkan. Tapi anak perlu tahu bahwa tak ada orang tua waras yang ingin kejelekan buat anaknya. Prinsip ini, jika dipegang, kita akan lebih bijak dalam merespon apa pun perkaan orang tua.

Dalam kasus pembandingan di atas, kita memang harus 'lebih dewasa' dari orang tua. Artinya, jangan mudah tersulut emosi dan nilailah orang tua atas dasar positive thinking; barangkali orang tua luput, kalau setiap anak itu beda.

Dan bagi kita, yang berada di posisi luar lingkaran, bisa menyaksikan layaknya sinetron. Sinetron yang mencerdaskan tentunya.. Begitu...

Jogja 2017 Mei
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...