Saturday, 4 February 2017

Sekali Membaca “Orang Asing”




Otakku cukup terkuras untuk mencerna jalan cerita dan karakter dalam Orang Asing-nya Albert Camus. Di dalamnya diceritakan kehidupan seorang pekerja kantoran bernama Meusult. Sejak pertama aku membaca dan mengamati tokoh pertama, seolah-olah sedang membaca manusia datar-tak berperasaan. Sulit untuk memahami karena aku sebagai pribadi, belum pernah merasakan apa yang dirasakan Meusult. Atau lebih tepatnya, konsepsi tentang hidupku berbeda jauh dengan Meusult.

Jika aku mencari-cari Albert Camus di dunia google, aku dapatkan ia sebagai penganut filsafat absurdisme, yang memandang hidup sebagai aktivitas yang sia-sia. karena pada akhirnya, manusia akan mati, entah kapan. Aku secara pribadi belum memahami betul apa itu filsafat absurdisme. Dengan sedikit pemahaman ini, aku coba pahami penggalan-penggalan cerita dalam novel kecil ini.

Di beberapa ungkapan tokoh utama, bahkan diungkapan yang pertama ketika aku membaca, terlihat bahwa semangat untuk hidup amatlah datar. Tidak ada hal yang ingin ia capai dalam hidup. Menikah sama saja dengan tidak menikah. Menjadi kepala sama saja dengan menjadi karyawan. Karena hidup hanyalah itu-itu saja, tidak lebih.

Ini menjadi wawasan baru untuk diriku. Bahwa di luar sana, ada orang-orang berpandangan semacam ini. Bahkan tidak menutup kemungkinan, Aku dengan tanpa disadari, mengamalkan pandangan absurdisme ketika berada dalam posisi bosan. Bahwa hidup ini hanyalah rutinitas yang tiada berujung, kecuali kematian.

Memang, novel lahir tidak terlepas dari kondisi sosial-ekonomi-politik pada masanya. Pun dengan novel yang baru aku baca ini. Ia lahir berkat Perang Dunia. Di mana tak ada harapan untuk hidup. Nyawa tidak ada harganya sekali. Bangunan-bangunan hancur tak bisa ditinggali. Keporakporandaan selalu mewarnai hari-hari orang-orang tersebut. Maka, dari hidup yang sulit sekali untuk melihat masa depan, muncullah keputusasaan, dan hilang harapan.

Dari sini kemudian aku merasa beruntung, karena lahir dalam rahim Islam. Dibesarkan pula di lingkungan Islam dan pendidikan pun sangat bernuansa Islam. Meski aku bukan ahli dari ilmu-ilmu dan amalan-amalan yang dianjurkan Islam, tapi setidaknya keimananku terhadap hari pembalasan menyelamatkanku dari pandangan absurdisme ini. Di sisi lain, aku menyadari bahwa hidup memang sebatas rutinitas. Akan tetapi, keyakinanku akan adanya kampung abadi setelah dunia, menjadi semacam semangat untuk hidup. Karena (berdasar dogma agama –dan saya meyakini) satu-satunya harapan hidup tanpa rutinitas yang membosankan adalah kampung akhirat.

Maka selama hidup, aku mesti mempersiapkan bekal untuk menikmati indahnya kampung akhirat. Pemberontakan dari rutinitas adalah dengan cara mengisinya dengan apa yang kita senangi. Aktivitas yang ketika dilakukan, akan memunculkan rasa bahagia dalam diri. Ini adalah pemberontakan kecil dari rutinitas hidup. Dan dalam ajaran yang aku percayai kebenarannya, hidup di dunia diistilahkan sebagai aktivitas menanam. Apapun yang aku tanam di dunia, hasilnya nanti akan dipetik di akhirat. Ini yang bisa dipahami bagi orang Islam (meski aku tidak berani dan tidak pantas untuk mengklaim keimananku sudah bagus). Iman yang membuat kita hidup, dan terlepas dari abdsurditas kehidupan di dunia.

Albert Camus, di bukunya juga mengkritik para penegak hukum yang mencampur adukkan agama dengan keputusan yang diambil. Meusult yang tidak percaya adanya Tuhan, dan tidak ingin mendapat capaian-capaian yang lebih baik dalam hidupnya (Hidup dijalani layaknya air mengalir), karena membunuh divonis pancung. Ia divonis sebagai manusia yang berdosa karena jiwanya kosong. Dan di akhir putusannya, Jaksa mengatakan bahwa hukuman pancung Meusult mengatasnamakan rakyat Prancis. Novel ini mengkritik hukuman mati.

4/2/2017 Jogjakarta


Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Multitasking



Satu keyakinan idealis saya, bahwa manusia bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Setidaknya, itu yang saya jadikan sebagai penghibur, untuk menyelesaikan pekerjaan yang amat menumpuk. Meski, dari beberapa orang yang saya temui, menceritakan pengalamannya tentang prinsip idealis mereka, yang berakhir tragis. Mereka bercerita bahwa butuh fokus (melepas satu-dua pekerjaan untuk mengerjakan satu pekerjaan) agar pekerjaan bisa selesai. Butuh totalitas!
Sebenarnya, saya juga punya pengalaman bahwa konsep ideal manusia bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu, kandas di jalan. Hal itu saya dapat dari hidup berorganisasi. Dalam pengalaman itu, saya melepas beberapa organisasi untuk mengurus satu organisasi. Ini pengkhianatan saya kepada diri saya sendiri, yang telah bersusah payah untuk mempertahankan pribadi multitasking.
Akan tetapi, saya tidak cukup yakin bahwa pengalaman itu juga berlaku di masa sekarang, masa yang sedang dan akan saya lalui. Bukankah lubang yang sama jangan sampai menjebak kita? Dan hanya orang-orang terpilih yang mampu melampaui batas dirinya. Apakah kegagalan saya untuk mengerjakan banyak hal dalam satu waktu merupakan batas diri saya? Jika iya, maka tugas saya selanjutnya adalah melampaui batasan itu. Jika saya memang orang terpilih, tentu dengan mudah maupun sulit, bisa melampaui batas diri.
Saya memang butuh fokus untuk menghasilkan sesuatu yang maksimal. Namun, ini persoalan manajemen. Kegagalan saya di masa lalu merupakan kegagalan manajemen. Maka di masa ini dan yang akan datang, manajemen saya harus diupgrade. Dengan demikian, saya bisa melewati rintangan saya yang sebenarnya amat sederhana.
Kelabilan saya juga menjadi tantangan. Manajemen kacau karena pribadi yang labil. Dan jangan mengambinghitamkan “siklus kehidupan” untuk memaafkan diri sendiri. Sama halnya jangan menjadikan proses sebagai alasan lambatnya perkembangan kita.
Saya tidak bisa menghindari kehidupan yang monoton. Akan ada tugas yang menumpuk yang siap menanti saya. Di masa kini telah terlihat tiga sampai empat tugas yang menumpuk. Entah nanti di masa depan. Tentunya itu misteri yang amat menarik. Hadapi atau lari terbirit-birit dari kenyataan. Hadapi, hanya ada dua hal yang bisa saya dapat, kegagalan dan keberhasilan. Dan satu lagi, kenikmatan. Saya lebih suka yang terakhir. Karena kenikmatan akan mengalahkan rasa gagal dan berhasil. Apapun yang membuat saya menikmati, akan membuat saya bahagia.
Dan jika yang saya pilih adalah lari terbirit-birit, hanya akan tersandung di jalanan. Tersandung yang menghinakan. Karena sandungan tersebut sama sekali tiada artinya. Dan tidak menutup kemungkinan, keterbirit-biritan saya akan mengantarkan saya ke dalam lubang kuburan sendiri.
Maka tak ada pilihan lain selain hadapi. Hadapilah, dengan penuh penghayatan. Saya rindu dengan kenikmatan...
4/2/2017 Jogja

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...