![]() |
| sumber gambar: |
Oleh Imron Binsiman
Masih
terasa begitu jelas di telingaku, perjuangan minke (tokoh utama dalam Roman Bumi Manusia) menghadapi bandit-bandit
Eropa. Isterinya yang dirampas secara tidak wajar, membuat sayatan luka semakin
menganga. Bahkan minke sendiri tak kuasa membayangkan keindahan bidadarinya
yang begitu rapuh. Minke, pejuang tak kenal lelah, lantaran suntikan madu yang
selalu mengalir dari mulut seorang Nyai. Nyai yang merasa dirinya tak perlu
menggantungkan diri pada seorang lelaki. Perusahaan pun ia jalankan sendiri,
dibantu istri minke sewaktu hidup, jauh sebelum mengenal minke.
Ancaman
datang silih berganti. Baik dari jalur hukum, psikologis, dan segala ancaman,
mengguyur bak hujan yang tiada hentinya. Yang kemudian menyebabkan banjir. Tapi
untung, minke memiliki perahu layar, meski kecil, untuk mempertahankan diri
agar tetap bisa berlayar, menikmati rasa sakit yang kian menyayat, yang selalu
saja dilakukan pemerintah kolonial waktu itu.
Aku
sempat berpikir: betapa tegar seorang muda yang bernama minke ini. Hanya satu
yang bisa ia lakukan, karena tak memiliki tangan cukup kuat untuk merubah
keadaan: lawan meski hanya dengan mulut. Ya, minke melawan. Itu yang barangkali
ingin ia tunjukkan pada bangsa di mana pun di kolong langit. Ditindas dengan
berbagai aturan hukum yang berbelit-belit: lawan. Selalu saja supremasi Barat
melemahkan langkah-gerak kita: lawan. Lawan. Lawan. Dan lawan. Itu kata yang
sempat terucap, dan selalu saja menjadi kekuatan baru Minke.
Melawan,
itu terjadi berabad-abad lamanya. Lawan juga yang mampu membuat pemerintah
kelabakan. Pemerintah kelabakan? Ya, takut kalau-kalau apa yang sudah
diperjuangkan, harta-benda, kekuasaan, sirna begitu saja hanya karena embrio
Lawan kian tumbuh subur. Lawan, itu pula yang sempat terucap dari bibir seorang
pejuang kebebasan: Wiji Tukul, yang sekarang entah ada di mana pakaian dan yang
terbalut dalam pakaian itu.
Lawan,
begitu sulit lidahku ini mengelukan. Entah apa yang menyebabkan. Atau mungkin
karena aku terlalu taat untuk menjadi seorang lelaki, manusia. Entahlah. Meski
banyak juga yang selalu menggaung—gaungkan, untuk berani mengatakan tidak pada
apa yang aku tidak sukai. Atau apa yang menurut takaran pikirku tak sesuai,
atau tak menguntungkan, atau membahayakan. Entahlah, terlalu lama aku tak
dengar kata ‘tidak’ dari dalam
sanubariku.
Tidak,
telah mampu membuat yang di singgasana sana terusik. Tidak juga yang kerap
membuat yang mapan merasa terancam. Tapi, untuk para pemakai caping dan cangkul
di pundaknya, seolah tak asing lagi dengan kata tidak. Entahlah, mungkin itu
hanya khayalku saja. kenyataanya, toh jarang yang berani mengatakan tidak.
Hanya dengan selembar kertas hijau bergambar pahlawan, sirna sudah ‘tidak’ di
pikiran aku, dan pemakai caping.
“Iya”,
selalu saja yang digembor-gemborkan para penguasa dan yang memiliki akses untuk
berkuasa. “iya” yang telah membuat gunung di Timikia, Papua, berubah menjadi
jurang curam, dengan robot-robot yang digerakan manusia sebagai isinya. Betapa pasir
di daerah pesisir pantai di purworejo, kian menyusut dan membuat warga gelisah,
hanya karena “iya”.
Sakti
memang, “iya” itu. Dan celakanya, aku masih saja mengagung-agungkan “iya”. Apa
yang bisa diharapkan “iya” jika memang itu membuat menderita, bukan hanya diri,
juga orang lain. “iya” begitu terasa tak ada baiknya. Pembunuh massal peradaban
bangsa. Itu “iya” yang biasa digunakan oleh mereka pemilik modal dan jabatan.
Aku juga
sempat berpikir: kenapa kok harus ada kata “iya” ya di dunia ini. Padahal lebih
banyak manfaatnya tidak daripada “iya”. Dengan adanya tidak di tengah-tengah
mereka yang suka berkata “iya”, itu akan memberikan efek positif. “iya” itu
racun, dan tidak itu madunya. Begitu yang dikatakan salah satu band Indonesia.
Yogyakarta, 28/رجب/1436, 12:07:16 ص
Hanya karena kosong kepala yang sebuah
ini, yang membuat aku terdorong untuk membuka tulisan ini. tulisan yang
berbulan-bulan hampir membusuk. Kondisi diri yang kian kehilangan arah,
kebingungan sampai pada keterputusasaan, selalu menjadi bayangan menakutkan. Aku
percaya, setiap orang punya potensinya sendiri-sendiri. Bapak sering berpesan,
dengan mengutip ayat Allah: Inna Ma’al ‘Usyry Yusro. Tentu, aku
mempercayai bahwa tak bakal Tuhan itu tega memikulkan beban ke hamba-Nya
melebihi kemampuannya. Hanya saja, untuk menginternalisasikan nilai tersebut,
dalam kehidupan sehari-hari sangatlah sulit. Bukan mustahil!
Tiba-tiba teringat dengan perkataan
bijak Bahrudin Jusuf Habibie, ketika diundang dalam acara Mata Najwa. Ia, di
tahun 1999 ditolak laporan pertanggungjawabannya oleh MPR. Menghadapi hal
tersebut, BJ Habibie hanya berujar: saya bersyukur, bisa menjalankan tugas
negara sesuai dengan kemampuan saya.
Di tengah-tengah kekosongan, juga
persiapan mendaki Gunung Merbabu, aku sempatkan menulis. Menulis tanpa arah dan
tujuan, hanya ingin mengurangi beban yang berjubel di kepala. Itu saja
sebenarnya, niatku. Putus asa, kecewa, menyesal, takut pada diri sendiri adalah
hal yang wajar. Namun jangan jadikan kewajaran itu sebagai alasan untuk
menyerah dengan keadaan.
“Memang wajar, tapi kurang ajar kalau kau
tak segera beralih dari tempat dudukmu” suara gaib yang lemah, mengingatkan.
Sekian.
Dalam keadaan
lelah, ini kutulis.
Yogyakarta, 15
April 2016

