![]() |
| dokumen pribadi |
Di suatu malam yang dingin, aku bersama temanku, berdua, berjalan beriringan di Sekaten. Banyak sekali pedagang di sekaten yang sahut-menyahut menjajakan dagangannya. Aku sempat berhenti di gerombolan pemuda di ‘dealer’ kecil yang didalamnya hanya ada beberapa motor.
“Ini tontonannya
lelaki,” kataku pada temanku yang kebetulan berbeda kodrat biologis.
“Maaf, aku gak
tau,” sahutnya begitu polos.
Waktu itu, aku
melihat seorang ‘sinden’ modern berparas cantik sedang melantunkan sebuah lagu.
Pakaiaannya yang seksi, dengan belahan dada yang sedikit turun membuat lelaki
di situ menggerombol: entah apa yang mereka inginkan dan pikirkan! Aku juga
menjadi salah satunya: pandangan pertama, tidak dosa!
Aku berpikir,
tenyata untuk menarik pengunjung agar datang sangat mudah. Hanya bermodal paras
cantik dan tubuh bohai, cukup. Dan ini diterapkan di sebagian besar perusahanan
pemasaran: Supermarket, misalnya.
Pasti kamu
pernah melihat di berbagai pusat perbelanjaan: penampilan para karyawati?
Mereka berlomba-lomba berpenampilan ayu agar banyak pengunjung yang tertarik
dengan dagangan yang ia jaga.
**
Aku menyusuri
tanah lapang yang kini padat manusia ‘nomaden”. Perhatianku justru tertuju pada
sampah yang sangat menganggu pemandangan. Aku melihat sampah berserakan di
mana-mana. Entah, sudah hilang kepedulian orang-orang atau memang sengaja: biar
petugas kebersihan ada kerjaan!
Aku (sok-sok-an)
merasa prihatin. Coba banyangkan! Tanah lapang seluas itu, dengan pedagang dari
berbagai ‘genre’ memenuhi tanah itu, dan berjuta jajanan tidak ada keranjang
sampah sama sekali. Ada hanya beberapa dan itu pun sangat susah dicari. Aku
hampir 30 menit mencari tempat sampah (keranjang sampah, karena mungkin menurut
mereka tanah lapang itu multifungsi bisa jadi tempat sampah).
Keindahan malam
itu seolah ternoda karena sampah. Memang benar, banyak sekali pengunjung
berteriak gembira menikmati wahana yang telah disediakan. Banyak juga pasangan
muda-mudi, bergandeng tangan, berpeluk-pelukan, menikmati keindahan malam itu.
Seolah mereka
tak memedulikan sampah yang terlanjur terserak. Apa mungkin mereka dan aku
berhak tertawa sedangkan sampah mereka injak-injak? Begitu ngerinya negeri ini.
Aku tak
menyangka, negeri sebagus ini (atau menurut orang arab: surganya dunia) harus
pudar hanya karena sampah yang kian menggunung. Sekaten menyumbang sampah 2
ton, tulis Koran ternama di Yogya. Bayangkan! 2 ton, Bung!
Bisakan kamu
membayangkan? Tak sampai hati untukku sekadar membayangkan betapa kota ini
menangis, menangung beban sampah yang begitu banyak. Untung saja ada pemulung
dan tukang sampah yang
bersedia mengangkut sampah-sampah busuk ke gerobaknya: Bagi anda sampah, bagi
kami berkah, begitulah jargon mereka.
Apa kamu masih
merendahkan tukang sampah dan pemulung? Cobalah dipikir dulu dan bayangkan:
kalau tidak ada pemulung dan tukang sampah, mau jadi apa kota ini!
Mereka sungguh
mulia. Jelang subuh, matahari pun masih kedinginan di ufuk timur sana, belum
mau menampakkan keelokan dan memberikan kehangatannya ke hamparan tanah gersang
berpohon batu, mereka sudah berkeliling, mencari-cari sampah yang dikumpulkan
di keranjang-keranjang.
Apa kamu tahu,
mereka sedang menjalankan misi suci! Mereka tak lain pahlawan yang terlupakan.
Tinta sejarah pun mendadak macet, enggan menuliskan kisah mereka.
Mereka hanya menjadi fosil sejarah yang tak terdeteksi radar atau alat
secanggih apa pun. Tapi ingat, jasa mereka sangat nyata bisa dirasakan.
Mereka tak menginginkan
dipatrikan dalam sejarah nama dan kontibusinya terhadap bumi. Mereka hanya
berjuang untuk sesuap nasi. Mencari butir-butir beras di antara tumpukan
sampah-sampah yang kian menggunung. Tak ada yang lain!
Aku sangat
berharap: tolonglah hormati mereka! Jangan hanya karena kota menyediakan jasa
tukang sampah, aku dan kamu jadi apatis terhadap sampah. Asal kamu tahu, sampah
lah yang memisahkan kita. Sampah juga yang membuat aku enggan mendekatimu dan
kamu enggan mendekatiku. Sampah. Dasar sampah!
Aku sangat jijik
melihat orang yang sangat anggun, ber make up beberapa senti, tapi lingkungan
sekitar tak diperhatikan. Apa gunanya paras ayu dan ganteng tapi hatinya penuh
sampah! Sehingga tak tergerak sama sekali memungut sampah yang terserak, meski
hanya bungkus permen yang lumayan steril.
Apa aku dan kamu
sudah merasa suci? Kalau ia, kenapa aku dan kamu masih saja mandi, padahal
sudah suci! Mandi itu hanya untuk orang-orang yang kotor, kamu tau? Jadi,
masihkan merasa diri suci?
Oh, tenang saja!
Aku pun seringkali merasa diri suci. Merasa diri paling berhak menerima rizki
yang lebih melimpah
dibanding orang lain. Aku manusia dan aku bisa sewaktu-waktu menjadi setan atau
malaikat. Setan dan Malaikat tak bisa aku pilih ataupun lepaskan: Mereka bagian
diriku!
