Thursday, 19 April 2018

Cinta yang Mengejawantah



 Judul Buku     : Gerimis di Atas Kertas
Penulis            : A. S. Rosyid
Penerbit         : Basabasi,Yogyakarta
Cetakan          : I, September 2017
Tebal              : 199 halaman
ISBN                : 978-602-6651-30-3
Sebagai pustakawan komunitas, A.S. Rosyid telah tepat mengangkat cerita tentang geliat literasi di Lombok.  Selain karena memiliki kedekatan emosional dengan cerita-cerita yang dibangun, juga boleh jadi bagian dari perjuangannya dalam menyorot geliat literasi di luar Jawa. Muluk-muluknya, ini dilakukan untuk menambal ‘catatan sejarah’ nasional yang sampai kini masih didominasi oleh narasi-narasi dari Jawa. Amat sedikit literatur yang menjadikan Indonesia bagian Tengah dan Timur sebagai bahan kajian. Dalam hal ini, A.S. Rosyid berhasil membawa lokalitas menjadi ‘catatan sejarah’ nasional.
Aku meyakini, bahwa tidak ada karya yang muncul dari ruang yang kosong. Semuanya, adalah hasil dari pengindraan penulis atas realitas lalu dalam menarasikannya dikembangkan dengan imajinasi-imajinasinya. Jangankan pegiat fiksi, sejarawan pun –yang terkesan serius- kata Kuntowijoyo membutuhkan daya imajinasi tinggi. Imajinasi tersebut digunakan untuk menarasikan fakta-fakta sejarah menjadi narasi yang sambung menyambung dan enak dibaca. Sehingga pesan sejarah sampai kepada pembaca.
Lagi-lagi, A.S. Rosyid juga berhasil membangun cerita yang mudah dipahami pembaca. Terlebih bagi pembaca-pembaca yang memiliki tingkat kebaperan tinggi, bisa tersedu-sedu ketika membaca cerita tentang cinta tak sampainya Royyan kepada Hasyim dan pendekatan yang dilakukan Tata kepada Fajar. Dan, dua cerita tersebut memiliki keterhubungan yang unik. Royyan dan Tata adalah teman SMA, sementara Fajar kenal Hasyim sebagai teman lintas komunitas.
Bedanya, cinta Royyan pada Hasyim tak sampai, karena tersandung kenangan Hasyim akan masa kecilnya bersama Ayu –yang membuat Royyan patah hati yang kemudian mencoba berdamai dengan keadaan, serta mencari Ayu untuk Hasyim –dan ketemu –dan akhirnya Hasyim dan Ayu menikah. Sementara Tata kisahnya berujung pada pernikahan, setelah berhasil ‘melepaskan’ Fajar dari rasa bersalah atas kematian pacarnya empat tahun lalu –yang kebetulan mirip dengan Tata.
Jika dua cerita pertama mengesankan ketegaran perempuan dalam mengelola cintanya, berbeda dengan cerita ketiga. Mas Bayu (laki-laki), sebagai tokoh utama, dikesankan sebagai sosok yang pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Sebelum bertemu dengan Sastri, penjual Cakwe terenak di Kota Tua, Mas Bayu adalah jurnalis photoghrapy yang ekstrim –membahayakan nyawanya demi hasil foto yang bagus. Begitu bertemu dengan Sastri yang macak sederhana, Mas Bayu langsung jatuh cinta dan segera mengatur siasat untuk tetap bersamanya.
Maka diutarakanlah ide untuk membuat Warung Kupi Cakwe, menggandeng Sastri dan pemuda-pemudi setempat yang kebetulan kenal baik dengan Bayu. Adalah Anggik si kutu buku yang putus sekolah, Parid si barista, dan Muhammad Daya si aktivis mahasiswa, pemuda-pemuda yang diajak untuk mendirikan warung kupi tersebut. Dengan keahlian masing-masing, Warung Kupi Cakwe berkembang dengan pesat. Tidak sembarang warung kopi, tapi juga menyediakan cakwe ala Sastri, perpustakaan yang dikelola Anggik, dan tempat berdiskusi yang biasa digunakan Muhammad Daya dan teman-temannya. Dua tahun setelah warung itu berdiri, Bayu dan Sastri akhirnya menikah.
Jika kita membaca bukunya Eric Form yang berjudul Seni Mencintai (2018), akan menemukan betapa cinta –mestinya- berkembang secara produktif. Bahwa cinta itu bukan diawali dengan imbuhan di- (dicinta), melainkan me- (mencinta). Dengan kata lain, cinta selalu bisa membuat orang yang dicinta lebih produktif dan efeknya tidak hanya bisa dinikmati oleh satu-dua orang saja. Tetapi, orang-orang di sekitarnya pun ikut merasakannya. Cerita Cakwe Kota Tua adalah contoh konkrit betapa cinta bisa tumbuh dengan sedemikian produktifnya, sehingga bisa menyalurkan skill kepada sesuatu yang bernilai ekonomi dan (yang terpenting) pendidikan (luar sekolah).
Satu hal yang juga tidak kalah menariknya di sini adalah, bahwa para pegiat komunitas adalah mereka yang tidak terjebak dengan kebaperan yang  melanda remaja usia 20-an,yakni kebelet menikah. Mereka rela menjomblo sedikit lebih lama demi dedikasinya untuk negeri; yakni berjuang menggairahkan literasi. Dalam tiga cerita tersebut selalu dikisahkan anak-anak atau remaja putus sekolah karena ekonomi, tapi bisa mengakses informasi dan bacaan melalui komunitas-komunitas. Secara tidak langsung, A.S. Rosyid bisa dikatakan ingin mengajak kita supaya peduli dengan mereka yang putus sekolah. Seakan-akan, pemaknaan cinta dalam tiga kisah tersebut, tidak bisa lepas dari upaya untuk membantu anak-anak dan remaja putus sekolah untuk mendapatkan haknya.  
Imron Mustofa

Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...