Wednesday, 10 January 2018

Dapet Buku Bergizi (Gratis) Dari Penulisnya



Judul Buku      : Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini
Penulis             : Eko Triono
Penerbit           : Basabasi, Yogyakarta
Cetakan           : I, Desember 2017
Tebal               : 220 halaman
ISBN               : 978-602-6651-67-9
Ini kali kedua saya mendapat buku gratis, setelah duduk manis sembari mendengarkan ceramah penulisnya yang menggebu-gebu. Bedanya, kali pertama saya mengikuti forumnya Mohamad Sobary di UGM, dan mendapat dua buku kumpulan esai kebudayaannya yang menuruku cukup bergizi. Buku pertama Makamkan Dirimu Di Tanah Tak Dikenal dan kedua Semar Gugat di Temanggung. Dalam ceramahnya di hadapan puluhan audiens, saya jadi tahu bahwa ia memutuskan untuk istirahat di usia tua dari hiruk pikuk keramaian, menikmati pensiunan. Darinya pula saya jadi tahu, dan ada kaitannya dengan buku kedua yang saya sebutkan, bahwa ia memutuskan menghisap kretek setelah mendampingi petani-petani tembakau di Temanggung, yang melawan pemerintah yang dirasa kurang adil dengan jalan kebudayaan. Bagi Sobary, menghisap kretek (bukan pake istilah rokok) adalah sikap politiknya.
Adapun kali kedua, saya mendapat buku gratis setelah menikmati ceramah Eko Triono dipandu gadis muda yang ceria. Saya lalu membayangkan Eko Triono yang kata Anton Kurnia dalam pengantar buku dikatakan “muda dalam arti jalannya masih panjang untuk mengukir lebih banyak karya dan prestasi”, sebagai seorang yang “kepalanya tak cukup untuk menampung imajinasinya”. Terlihat sekali dari gerak-gerik dan senyum yang ditebar ke siapapun, termasuk pada saya yang belum ia kenal. Pun amat kentara jika diamati dari ulasannya yang menggebu-gebu dan indie banget.
Karena telah mengenal penulisnya, sebagaimana dikatakan Daruz (penulis kumcer Sifat Baik Daun) dengan mengutip pendapat seorang penulis, saya  termasuk pembaca yang “tidak bersih” dalam menilai buku. Saya tidak bisa melepaskan penilaian buku Kamu Sedang Membaca Tulisan Ini dengan pribadi Eko Triono yang saya amati beberapa kali.
Saya tentu saja memiliki hubungan yang dekat dengan Eko, karena seusai acara, ia telah membuat cerita baru dengan saya. Eko menulis di halaman 3 buku “u/ Imron, Jangan takut, jangan malu. Kau akan menjadi seseorang”. Cerita itu tidak bisa ditemukan di buku Kamu Sedang Mambaca Tulisa Ini yang ia tulis selain buku yang saya pegang. Sepersekian detik setelah Eko mengukir cerita dengan saya, langsung saja merasa diri ini diseru: Kamu sedang membaca tulisan ini. Dan, kamu akan mengikuti apa saja yang diminta dari pikiranmu.
Buku gratis yang ada tanda tangan penulisnya lalu saya bacai secara acak. Dan memang, semuanya saya baca, tapi beberapa yang panjang tidak diselesaikan, karena sebuah alasan. Dari pembacaan secara acak, lalu disinkronkan dengan ulasan penulisnya, saya memahami bahwa Eko ingin semua orang tidak minder dalam menuliskan sebuah karya, dan juga insaf bahwa yang dikatakan cerita (pendek) bukan hanya tulisan yang terpampang di koran. Karena setiap karya tulis, oleh Eko, adalah cerita. Apapun bentuknya. Termasuk peringatan yang muncul setelah kita membuka konten dewasa di internet, itupun cerita.
Dari 26 judul cerita, ada dua cerita yang saya sukai dalam buku ini. Pertama adalah cerita yang berjudul Cerita dalam Resep Membuat Hantu, kedua Cerita dalam Ulangan Harian Kita. Dua cerita ini pula yang beberapa kali saya kampanyekan kepada teman akrab di forum-forum santai. Dua cerita ini seakan-akan juga akrab dalam kehidupan saya. Yang pertama, saya merasa akrab jika dikaitkan dengan isu 65; dimana PKI dan komunisme berhasil diracik sedemikian rupa sehingga menjadi hantu yang amat menakutkan. Adapun yang kedua, amat akrab dengan lingkungan sekolah saya waktu belum kuliah, yang menurut saya kurang toleran dengan perbedaan, utamanya masalah agama.
Adapun cerita yang paling tidak saya sukai adalah Atirec Malad Mukuh Kilabret. Kenapa? Karena saya kesulitan membacanya. Itu saja alasannya. Jadi, untuk cerita tersebut saya hanya membaca judulnya dan satu-dua kalimat setelahnya. 
Lalu apa hubungannya Mohamad Sobary dengan Eko Triono? Jelas ada bagi saya. Mereka berdua sama-sama memberikan bukunya secara gratis.

Saya juga jadi mengenal perbedaan yang prinsipil antara “rokok” dan “kretek” dari yang pertama. Adapun yang kedua, saya mendapat pencerahan mengenai cerita dan apa yang disebut cerita, dan bagaimana caranya membuat cerita, dan apa saja yang bisa dijadikan cerita. Dan yang terpenting –yang saya tidak mendapatkannya dari yang pertama- adalah jabat tangan dan senyuman dari yang kedua.  [Imron Mustofa]
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...