Saturday, 16 August 2014

Hanya Sebatas Celotehan


Gambar: olalavee.wordpress.com

Hidup sebagai anak kos yang belum memiliki pekerjaan sampingan memang menjadi persoalan yang ‘serius’. Apalagi ketika memasuki bulan ramadhan. Kuliah diliburkan. Tetangga kamar banyak yang pulang kampung. Sebagian lainnya  memenuhi tugas PPL dan KKN di pelosok-pelosok negeri –yang juga harus meninggalkan kos. Akibatnya, di kos tidak memiliki teman guyonan.
Kesepian menjadi teman yang paling setia. Sejak bangun makan sahur sampai berbuka, kesepian selalu setia menemani. Beginilah nasib anak kos-kosan.
Namun, setelah dipikir-pikir, untuk apa meyesali keadaan ini. Kesepian bukanlah untuk dinikmati, melainkan untuk dimanfaatkan. Untuk apa mengutuk kegelapan kalau memiliki lilin kecil yang bisa dinyalakan? Begitulah kira-kira pesan dari seorang moral and ethics philosopher, Kong Fu Tsu yang lahir tahun 551 SM.
Nah, bermodal pesan inilah, penulis mulai merasakan ada energi baru yang menjalar ke seluruh tubuh untuk mengusir kesepian. Pesan ini menjadi motivasi kuat untuk terus bergerak dan bergerak, mengusir kesepian. Pesan ini menjadi sebuah pesan singkat untuk mengingatkan kepada penulis bahwa hari ini bukan jadwalnya untuk menganggur. Jadwal menganggur sudah dihapuskan dari agenda ‘kampus pribadi’.
Mahasiswa Tanpa Status
Penulis bukanlah mahasiswa yang ‘berprestasi’ dalam kelasnya. Penulis hanyalah mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik biasa-biasa saja. Di saat teman-teman mahasiswa sejurusan mendapat nilai 90-an, penulis hanya bisa mendapat 60-an, atau paling tinggi ya 80-an. Maka dari itu, penulis (sebenarnya) sedikit minder ketika duduk bersama dengan teman-teman kuliah yang (menurut penulis) memiliki tingkat kecerdasan di atas penulis.
Namun demikian, penulis sangat yakin kalau setiap manusia yang lahir di dunia ini, pasti dibekali oleh Allah swt kemampuan-kemampuan unik yang berbeda satu dengan lainnya. Nah, masalahnya sekarang, penulis belum menemukan kemampuan apa yang dimiliki penulis. Dalam konteks tipologi mahasiswa, penulis tidak pantas menyandang ‘gelar’ Mahasiswa akademis, karena memang nilai-nilai akademiknya biasa-biasa saja.
Jika dikategorikan sebagai mahasiswa aktivis yang organisatoris, sepertinya juga kurang sesuai, karena selama mengikuti organisasi-organisasi kampus (baik ekstra maupun intra), belum pernah sekalipun menjadi anggota yang benar-benar aktif dan kontributif. Selain itu juga belum pernah sekalipun mengikuti demonstrasi.
Sedangkan jika dimasukkan dalam kategori mahasiswa hedonis, lebih tidak masuk akal lagi. Pasalnya, penulis merasa sama sekali tidak tertarik dengan kesenangan-kesenangan yang bersifat material.
Terlebih mahasiswa ideal. Mahasiswa yang mampu mengolaborasikan antara aktivis dan akademis. Penulis merasa masih jauh dari mahasiswa ideal. Lantas, penulis ini mahasiswa apa? Itulah pertanyaan yang sampai saat ini terngiang-ngiang di kepala penulis.
Belajar Menulis
Sebenarnya, penulis mempunyai hutang pada salah seorang teman seorganiasi. Hutang itu ialah menulis tentang Gus Dur. Nah, berangkat dari sinilah, penulis mulai memakasakan diri untuk menulis. Memang, menulis tentang Gus Dur yang memiliki pribadi unik, tidaklah gampang. Bahkan penulis sempat frustasi dan hampir saja putus asa, karena belum menemukan literatur yang sesuai.
Dengan sedikit kerja keras (dan membutuhkan waktu lama), akhirnya penulis bisa mendapatkan literatur-literatur tentang Gus Dur.  Ungkapan syukur pun mengalir dari bibir yang kemudian bermuara di hati –meskipun berlangsung begitu singkat.
Hampir setiap malam, penulis memaksakan diri untuk merangkum sedemikian kompleks pemikiran-pemikiran Gus Dur. Sampai akhirnya dalam waktu dua sampai tiga hari, penulis hanya mampu menuliskan (atau lebih tepatnya mengetikkan) pemikiran-pemikiran Gus Dur sebanyak 13 lembar, itu pun sudah termasuk biografinya.
Seperti permintaan sang teman, penulis dituntut untuk menulis tentang Gus Dur minimal 15 halaman, dan ini baru 13 halaman, kurang dua halaman lagi untuk mencapai standar minimal. Tapi, lagi-lagi ‘kemalasan’ menimpa penulis. Meski hanya kurang dua lembar, tapi entah kenapa penulis merasa kesulitan. Atau mungkin memang mindset penulis yang sudah melihat dua lembar itu sebagai ‘bencana’ yang harus ditakhlukan, dan penulis tidak bisa menakhlukannya.
Sampai tulisan ini ditulis, tulisan tentang Gus Dur belum usai. Ini pun sudah molor satu minggu dari dateline yang penulis buat. Memang benar, pekerjaan yang ditunda membuat kita kesulitan untuk melanjutkannya kembali. Soalnya, kata para dosen, kreativitas kita dalam berfikir terputus, dengan adanya ‘hari libur’ menulis ini.
Sebenarnya, penulis ‘menyadari’ tentang hal itu. Tapi entah kenapa belum bisa sadar dan menyadarkan diri untuk merampungkan tulisan yang tinggal dua lembar itu. Malah, pindah ke lain hati.
Penulis ada di Jogja dengan ijin orang tua. Penulis meminta ijin kepada orang tua untuk belajar menulis di Jogja. Orang tua pun sangat apresiat dengan niatan penulis. Tapi ya itu, penulis belum sepenuhnya belajar menulis. Bahkan tiap kali seusai shalat subuh, penulis tak kuasa menahan rasa kantuk. Akhirnya ya terpaksa tidur.
Biasanya, sekitar pukul setengah 8 atau sembilan, penulis baru bangun tidur. Di sini, penulis pun menyadari kalau tidur pagi itu tak baik. seorang teman –dengan merujuk ke hadits mungkin- pernah mengatakan pada penulis bahwa tidur di waktu pagi bisa menyebabkan kita menjadi fakir. Atau dengan kata lain, bodoh. Ah, betapa celakanya aku yang setiap paginya tidur satu sampai dua jam.
Tapi memang, namanya juga rasa kantuk ya tidak ada obatnya, kecuali tidur. Soal baik dan buruk kan tergantung kita memandangnya seperti apa. Terus, juga tergantung konteksnya. Meski begitu, penulis juga tetap berpendirian kalau tidur di waktu pagi itu tidak baik.
Terus pertanyaannya kenapa kok sudah tahu tidak baik masih saja tetap dilakukan? Ya mungkin karena penulis belum sadar dan menyadarkan diri kalau perbuatan itu berdampak pada masa depan penulis dalam mencapai target atau cita-cita.
Kembali ke topik. Sebagai usaha penulis agar menjadi penulis yang sebenarnya, terkadang di malam hari, setelah shalat tarawih, menulis artikel-artikel sederhana mengenai ramadhan, pendidikan, keluarga, orang tua, dan sebagainya. Tentu, kegiatan ini sangat membantu penulis untuk memahami tata bahasa Indonesia yang baik, benar, dan layak untuk dibaca.
Sebagai penulis yang belum menjadi penulis sungguhan, penulis tak jarang bertanya ke sana ke mari untuk mendapatkan info yang berkaitan dengan dunia kepenulisan. Nah, sampai tiba saatnya bertemu dengan seorang kawan lama yang kini aktif di salah satu persma di kampus. Menurut penulis, dari segi wacana, ia masuk ke dalam kategori ‘menengah ke atas’. Banyak buku berat yang sudah ia tamatkan. Entah itu filsafat, ideologi, politik, budaya ataupun yang memiliki tingkat kesukaran yang kurang lebih sama.
Penulis menanyakan mengenai kiat-kiat membaca yang ia lakoni. Dan ternyata, penulis sempat kaget karena apa yang ia lakoni tak jauh berbeda dengan apa yang penulis lakukan. Ia,, katanya, membaca dengan sekali baca. Jadi, masalah pemahaman tak terlalu ia pikirkan. Yang penting membaca.
Penulis semakin kagum dengan keputusannya menggunakan metode seperti itu, scanning. Ia berpedoman pada target yang memaksanya untuk melahap buku berjumlah banyak. Coba bayangkan jika kita membaca buku menunggu pemahaman, hanya berapa buku yang bisa kita baca? Dalam waktu empat tahun, (usia mahasiswa yang ideal) bisakah memenuhi kehausan ilmu dan pengalaman yang dewasa ini menjangkiti orang-orang tertentu? 
 Ini ditulis di Bulan Ramadhan saat usiaku 2,5 tahun di Perkuliahan 
  



Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...