Monday, 4 September 2017

Perempuan dan Pertanian


Perempuan desa yang baik selalu diidentikan dengan yang lembut dan jika ia seorang istri, menurut pada suami menjadi tanda kemuliaannya. Ini kemudian menimbulkan pembagian kerja; ada yang di ranah domestik, ada pula di ranah publik. Di domestik biasanya perempuan, dan publik bagian laki-laki.
Bagi kita yang lahir dan hidup di desa, tentu sudah mafhum. Bahwa perempuan biasanya merasa tidak pantas ketika menemani suami dalam menjamu tamu. Lebih merasa pantas ketika istri hanya menyediakan minuman dan makanan, jamuan untuk tamu. Selebihnya, ia kembali kepada aktivitas rutinnya, memasak, mencuci atau bahkan mengurus anak yang rewel.
Itu citra perempuan di desa, yang masih kuat tradisi patriarkhinya. Meski, tidak bisa ditampik juga bahwa perempuan desa berkontribusi di ranah publik. Keluarga petani, biasanya suami dan istri sama-sama bekerja di sawah. Si istri masih dibebani dengan tugas rumah, meski oleh mereka dilakukan secara sukarela, karena memang berkeyakinan hal itu sudah menjadi tugasnya dan bukti kesetiaannya kepada suami.
Namun, tahukan kita bahwa di balik diamnya sang istri, tersembul pemberontakan sederhana. Pemberontakan itu urung mereka sampaikan ke kaum lelaki, karena menurut mereka, suara perempuan tidak ada harganya.
Adalah Kasini, perempuan sekaligus istri yang umurnya sudah 50an tahun. Badannya masih kuat dan pecandu kopi. Kopi diminum bukan untuk dinikmati, melainkan sebagai suplemen untuk menjaga agar tubuh tetap tegak seharian, untuk mencari nafkah.
Ia berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan, bahkan sering kekurangan. Kerap ia berhutang kepada tetangga, lalu dibayar dengan tenaga. Atau ia menanam sayuran dan tanaman pertanian lain, dengan modal utang. Jika gagal panen, utang pun belum bisa dibayar. ia harus mondar mandir mencari pinjaman ke tetangga.
Di suatu siang yang cukup terik, ia bersamaku memanen lenca di sawah. Ia tipikal perempuan pencerita, yang selalu update seputar isu tetangga. Waktu itu, ia bercerita tentang jual-beli sawah yang tengah ia panen hasilnya.
Ia bercerita mengenai ‘bodohnya’ lelaki dalam bertransaksi jual beli. Ini bermula dari seorang suami yang menawarkan sawahnya kepada calon pembeli, namun pembeli dibebaskan untuk memilih sawah mana yang mau dibeli. Tentu saja, pembeli yang cerdik memilih sawah yang aksesnya gampang. Maka dipilihlah sawah dekat jalan. Transaksi ini tidak melibatkan sang istri penjual tanah.
Beberapa waktu kemudian, Kasini berkesempatan untuk berbincang dengan istri penjual tanah tersebut. Sang istri komplain mengenai ketidakcerdikkan suaminya dalam transaksi jual beli. Ya jelas saja, yang namanya pembeli ingin dirinya untung, karenanya pilih sawah yang dekat dengan jalan. Coba kalau saya yang jual, kata istri itu kira-kira, tentu tidak aku bebaskan ia memilih. Aku tawarkan sawah yang aku ingin jual.
Dalam hal ide, kata Kasini kepadaku, perempuan memang cerdik. Tapi dalam kehidupan sosial, suara perempuan selalu dinomorsekiankan. Inilah yang diyakini Kasini, sekaligus ia menyadari ketidakberdayaan perempuan desa di hadapan lelaki.
Aku belum menelusuri apa sebab kecerdikan perempuan melebihi laki-laki. Aku hanya mendengar dari analisis sederhana petani perempuan tua yang amat sederhana. Bahwa dia menyadari potensi perempuan, namun memilih untuk menyerah dalam memperjuangkan buah dari potensi tersebut.
Hidup di bawah kuasa lelaki, tidak membuat ia mati. Ketidakberdayaannya menjadi alasannya untuk hidup. Meski hidup dengan gali lobang tutup lobang, selama ada sawah, ia akan tetap hidup. Sawah adalah lambang dari kehidupan, dan petani adalah perawat sekaligus spesies yang amat tergantung dengan tanah.
Aku khawatir rencana menjadikan Kebumen selatan sebagai kawasan industri, akan merenggut banyak lahan hidup para petani. Petani sudah susah, tolong jangan ditambah susah dengan perebutan lahan dengan semena-mena. Perempuan petani juga sudah menderita, jangan buat ia makin menderita dengan direnggutnya lahan pertanian suami-suami mereka. Mereka hidup dalam kemiskinan, hasil taninya hanya untuk mengenyangkan pemilik modal dan kaum kota.

Ini soal perempuan, yang tidak bisa lepas dari pertanian. Pertanian butuh sawah, dan sawah butuh petani untuk merawatnya. 
Philokopi, 00.18 05/9/17
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...