Perempuan
desa yang baik selalu diidentikan dengan yang lembut dan jika ia seorang istri,
menurut pada suami menjadi tanda kemuliaannya. Ini kemudian menimbulkan
pembagian kerja; ada yang di ranah domestik, ada pula di ranah publik. Di
domestik biasanya perempuan, dan publik bagian laki-laki.
Bagi
kita yang lahir dan hidup di desa, tentu sudah mafhum. Bahwa perempuan biasanya
merasa tidak pantas ketika menemani suami dalam menjamu tamu. Lebih merasa
pantas ketika istri hanya menyediakan minuman dan makanan, jamuan untuk tamu.
Selebihnya, ia kembali kepada aktivitas rutinnya, memasak, mencuci atau bahkan
mengurus anak yang rewel.
Itu
citra perempuan di desa, yang masih kuat tradisi patriarkhinya. Meski, tidak
bisa ditampik juga bahwa perempuan desa berkontribusi di ranah publik. Keluarga
petani, biasanya suami dan istri sama-sama bekerja di sawah. Si istri masih
dibebani dengan tugas rumah, meski oleh mereka dilakukan secara sukarela,
karena memang berkeyakinan hal itu sudah menjadi tugasnya dan bukti
kesetiaannya kepada suami.
Namun,
tahukan kita bahwa di balik diamnya sang istri, tersembul pemberontakan
sederhana. Pemberontakan itu urung mereka sampaikan ke kaum lelaki, karena
menurut mereka, suara perempuan tidak ada harganya.
Adalah
Kasini, perempuan sekaligus istri yang umurnya sudah 50an tahun. Badannya masih
kuat dan pecandu kopi. Kopi diminum bukan untuk dinikmati, melainkan sebagai
suplemen untuk menjaga agar tubuh tetap tegak seharian, untuk mencari nafkah.
Ia
berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan, bahkan sering kekurangan. Kerap
ia berhutang kepada tetangga, lalu dibayar dengan tenaga. Atau ia menanam
sayuran dan tanaman pertanian lain, dengan modal utang. Jika gagal panen, utang
pun belum bisa dibayar. ia harus mondar mandir mencari pinjaman ke tetangga.
Di
suatu siang yang cukup terik, ia bersamaku memanen lenca di sawah. Ia
tipikal perempuan pencerita, yang selalu update seputar isu tetangga. Waktu
itu, ia bercerita tentang jual-beli sawah yang tengah ia panen hasilnya.
Ia
bercerita mengenai ‘bodohnya’ lelaki dalam bertransaksi jual beli. Ini bermula
dari seorang suami yang menawarkan sawahnya kepada calon pembeli, namun pembeli
dibebaskan untuk memilih sawah mana yang mau dibeli. Tentu saja, pembeli yang
cerdik memilih sawah yang aksesnya gampang. Maka dipilihlah sawah dekat jalan.
Transaksi ini tidak melibatkan sang istri penjual tanah.
Beberapa
waktu kemudian, Kasini berkesempatan untuk berbincang dengan istri penjual
tanah tersebut. Sang istri komplain mengenai ketidakcerdikkan suaminya dalam
transaksi jual beli. Ya jelas saja, yang namanya pembeli ingin dirinya untung,
karenanya pilih sawah yang dekat dengan jalan. Coba kalau saya yang jual, kata
istri itu kira-kira, tentu tidak aku bebaskan ia memilih. Aku tawarkan sawah
yang aku ingin jual.
Dalam
hal ide, kata Kasini kepadaku, perempuan memang cerdik. Tapi dalam kehidupan
sosial, suara perempuan selalu dinomorsekiankan. Inilah yang diyakini Kasini,
sekaligus ia menyadari ketidakberdayaan perempuan desa di hadapan lelaki.
Aku
belum menelusuri apa sebab kecerdikan perempuan melebihi laki-laki. Aku hanya
mendengar dari analisis sederhana petani perempuan tua yang amat sederhana. Bahwa
dia menyadari potensi perempuan, namun memilih untuk menyerah dalam
memperjuangkan buah dari potensi tersebut.
Hidup
di bawah kuasa lelaki, tidak membuat ia mati. Ketidakberdayaannya menjadi
alasannya untuk hidup. Meski hidup dengan gali lobang tutup lobang, selama ada
sawah, ia akan tetap hidup. Sawah adalah lambang dari kehidupan, dan petani
adalah perawat sekaligus spesies yang amat tergantung dengan tanah.
Aku
khawatir rencana menjadikan Kebumen selatan sebagai kawasan industri, akan
merenggut banyak lahan hidup para petani. Petani sudah susah, tolong jangan
ditambah susah dengan perebutan lahan dengan semena-mena. Perempuan petani juga
sudah menderita, jangan buat ia makin menderita dengan direnggutnya lahan pertanian
suami-suami mereka. Mereka hidup dalam kemiskinan, hasil taninya hanya untuk
mengenyangkan pemilik modal dan kaum kota.
Ini
soal perempuan, yang tidak bisa lepas dari pertanian. Pertanian butuh sawah,
dan sawah butuh petani untuk merawatnya.
Philokopi, 00.18 05/9/17