Monday, 30 January 2017

Beda Istilah, Beda Respon





Merubah sistem budaya yang telah mengakar amat sulit. Karena, sebuah budaya sudah meresap ke alam bawah sadar, dan akan ditentang habis-habisan bagi siapa saja yang ingin merubahnya. Seakan terusik batin dan akalnya.

Ini yang terjadi pada lembaga pendidikan di almamater saya. Sebenarnya, perubahannya tidak terlalu besar, tapi cukup mendasar. Yaitu, memisah antara siswa laki-laki dan perempuan, menjadi dua kelas yang berbeda. Jika dalam dunia pendidikan ada model klasifikasi siswa berdasarkan kemampuan akademiknya. Kira-kira, seperti itulah yang diterapkan dalam almamater saya. Yang berbeda hanyalah, klasifikasi yang termaktub dalam referensi-referensi berdasar pada kemampuan akademik. Sedangkan di almamater saya dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Alasannya, yang berhasil memunculkan kontroversi, adalah persoalan agama; haram hukumnya bercampur antara laki-laki dan perempuan. Dan langkah yang diambil ini, menurut saya, merupakan bagian dari langkah preventif agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Akan tetapi, seperti yang saya sebutkan tadi, alasan bernuansa agamis justru menimbulkan pro kontra dari wali siswa dan siswanya. Alasan halal-haram terbukti tidak mampu meredam kekhawatiran dan memuluskan misi almamater saya; misi untuk mendidik siswanya agar lebih “Islami”. Hal ini memberikan pelajaran bagi kita, bahwa bukan persoalan nilai-nilai kebaikan yang disampaikan, melainkan metode penyampaiannya, yang menjadi pertimbangan masyarakat apakah mau menerima atau tidak. Penjelasan yang logis amat dibutuhkan, untuk meyakinkan masyarakat terkait misi kita. Dan tentu, menurut saya, ini juga yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw. dalam menyebarkan agama Islam; Beliau dakwah bilhikmah.

Agaknya ini yang dilakukan oleh pimpinan generasi berikutnya. Atau saya lebih senang menyebut sebagai generasi muda. Muda dalam artian mampu membaca situasi dan kondisi yang terjadi. Melalui kondisi tersebut, beliau coba membuka pikiran untuk mencari solusi untuk memuluskan misi. Agama, tidak disampaikan secara dogmatis, melainkan penjelasan yang logis. Beliau menggunakan istilah pendidikan; meski menurut logika saya pribadi kurang tepat. Beliau menjelaskan, bahwa pemisahan kelas berdasar jenis kelamin semata untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif. Menurut beliau, pemisahan ini bisa membantu siswa lebih fokus dalam belajar; tidak ada tuntutan berdandan agar terlihat lebih cantik atau tampan, karena dorongan untuk menarik perhatian lawan jenis.

Melalui penjelasan yang (menurutnya) logis, ternyata tidak ada yang melakukan penolakan.  Guru dan siswa sepakat diperlakukannya pemisahan antara laki-laki dan perempuan. Tapi, saya juga belum melakukan konfirmasi ke siswa-siswanya. Karena, ketika saya mengisi sebuah acara di salah satu lembaga pendidikan yang masih satu naungan Yayasan. Bahwa mereka sebenarnya merasa keberatan. Hanya saja, mereka tidak berani untuk mengungkapkan keberatannya.

Terlepas dari itu, saya melihat bahwa strategi yang dilakukan kepala madrasah amat menarik. Sama halnya dengan perdebatan apakah pancasila itu islami atau tidak. Strateginya ibarat pancasila, sementara isinya adalah nilai-nilai keislaman.

Jogja, Akhir Januari 2017
Binsiman Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Cuma Membaca Danarto

Judul Buku      : Adam Ma’rifat Penulis             : Danarto Penerbit           : Basabasi Cetakan           : I, November 201...